Meski dihujat sana-sini, mulai dari kader militan, tokoh partai, tokoh parlemen, sampai sebuah lembaga – yang dianggap memiliki otoritas keagamaan mengeluarkan fatwa soal apapun – mengkodifikasi hukum agama mengenai soalan ini, nampaknya golput akan tetap berjaya dalam pemilihan anggota legislatif 9 April 2009. Tanpa mengeluarkan ongkos kampanye yang besar atau bersusah-susah sosialisasi ke masyarakat, golput kemungkinan besar akan keluar sebagai pemenang. Salah satu pemicunya adalah tidak fokusnya visi misi para caleg menyentuh hajat masyarakat banyak, bahkan beberapa caleg norak alih-alih mampu merebut dan meluluhkan suara masyarakat, poster nya membikin bungah dan mual para (calon) pemilih. Hal ini semakin menguatkan itikad para golput-er untuk tetap istiqamah di jalur ideologinya.
Pilihan Politik Seumpama Menu Makanan; tergantung selera
Pilihan politik itu seumpama selera makan. Sekiranya menu ‘janji politik’ yang disampaikan oleh para caleg itu mengundang ’selera’ para calon pemilih, maka beruntunglah caleg itu. Ini dengan catatan bahwa para calon pemilih mampu mengingat nama caleg yang menyajikan menu yang berselera tersebut. Karena dengan ratusan nama caleg yang terpapar di kertas suara seukuran A1 – kertas kalkir tersebut, maka rada susah dan makan waktu bagi para pemilih untuk memerhatikan nama caleg idamannya. Slogan ‘1 menit di kotak suara menentukan nasib 5 tahun ke depan’ bakal direvisi menjadi mungkin 30 menit.
Seberapa banyak caleg atau partai yang menyajikan menu janji politik yang berselera, di tengah masyarakat yang sudah mual akan janji-janji membosankan? Kalau kita mau berhitung statistik, seberapa banyak janji pemilu 2004 yang sudah tertunaikan? Alih-alih memenuhi janji-janjinya, berkunjung ke daerah pemilihan pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Para legislator malah sibuk dengan urusan lainnya; studi banding ke luar negeri, lobi-lobi di luar parlemen, sibuk menyusun strategi berkoalisi, atau yang tiba-tiba jadi selebritas ‘hitam’ lagi sibuk menyusun alibi di depan penyidik KPK sambil menyeret semuanya baik sekondang maupun seterunya.
Memang tidak semua legislator sedemikian, masih banyak yang idealis, santun dan tidak tercemari oleh ambisi kekuasaan dan kesejahteraan. Mereka yang sudah tergolong mapan secara rohani dan merasa cukup dengan kondisi finansialnya sebelum menginjak senayan, sudah menyiapkan mental dan idealisme untuk tetap berjuang sesuai amanah. Banyak diantara mereka yang boleh dibilang tidak terlalu kaya, tapi menolak untuk menjadi kaya dengan jalan mengebiri amanah. Untuk beberapa legislator itu, sayang jarang dipublikasikan media, kita pantas mencatat namanya untuk kita contreng lagi di pemilu tahun ini. Ada yang masih menggunakan angkot untuk transportasi harian – kendaraan dinas hanya dipakai untuk dinas, ada yang memilih nge-kos di tempat sederhana, ada yang seluruh gajinya disumbangkan untuk membangun prasarana di dapilnya, dan lainnya. Beberapa gelintir itu tentu saja tidak terjangkau pemberitaan media yang umumnya menganut “bad news is a good news”.
Peluang Golput dan Fakta Pilkada
Lantas, bagaimana peluang golput nanti? Mari kita lihat statistik beberapa pilkada yang bisa menjadi tolak ukur kesuksesan pemilu nasional kali ini. Dengan asumsi bahwa pilkada adalah benchmark terbaik mengingat tingkat kepemahaman atau garis singgung kepentingan masyarakat terhadap visi misi calon pemimpin daerahnya masih lebih tinggi dibanding partai atau calegnya yang kadang gak begitu jelas.
Hasil pilkada di berbagai tempat menunjukkan bahwa golput menjadi pemenang. Pilkada Jawa Tengah, angka golput mencapai lebih dari 45.3%. Pilkada putaran pertama di Jatim mencatatkan angka 39.2% untuk Golput. Kalau ada putaran kedua, semestinya yang maju adalah pasangan bodong plus Karsa sebagaimana sering diadakan di desa-desa.
Berikut data Golput di masing-masing Pilkada, baik Pilbup, Pilwalkot, sampai Pilgub:
- Golput di Pilgub Jateng 45.3%
- Golput di Pilgub Jatim 39.2%
- Golput di Pilgub Kaltim 42.07%
- Golput di Pilgub DKI Jakarta 36.2%
- Golput di Pilgub Sulsel 33%,
- Golput di Pilgub Jawa Barat 34,67%
- Golput di Pilgub Kalbar 37.69%
- Golput di Pilgub Banten 39,28 %
- Golput di Pilgub Sumatera Utara 41%,
- Golput di Pilgub Kalsel 40%
- Golput di Pilgub Sumbar 37%
- Golput di Pilgub Jambi 34 %
- Golput di Pilgub Kepri 46%.
- Golput di Pilbup Cirebon 38.22%
- Golput di Pilwalkot Bandung 30.19%
- Golput di Pilbup Pati 50%,
- Golput di Pilbup Bogor 45%,
- Golput di Pilbup Wajo 32%,
- Golput di Pilbup Sukoharjo 42,33%,
- Golput di Pilbup Wonogiri 39,05%
- Golput di Pekalongan dan Solo masing-masing 50%
- Angka golput tertinggi tercatat di Pilwalkot Pontianak yang mencapai 61%.
Data diatas menunjukkan bahwa angka Golput di seluruh Indonesia rata-rata sekitar 35%-45%. Sebuah angka partisipasi negatif yang cukup tinggi. Memang tidak semua angka golput ini tinggi, terhitung di beberapa pilkada; Ambon, Sidrap, Bali dan NTB angka Golputnya rata-rata ‘hanya’ 25%, dan yang paling rendah adalah di pilgub NTT yang angka golputnya hanya 20%. Statistik pemilu nasional juga menunjukkan penurunan tingkat partisipasi pemilu. Data Kompas menunjukkan bahwa partisipasi pada Pemilu 1999 mencapai 92,74 persen. Pada pemilu legislatif tahun 2004 tingkat partisipasi turun menjadi 84,07 persen. Adapun tingkat partisipasi pada Pemilu Presiden 2004 di putaran I dan putaran II masing- masing sebesar 78,23 persen dan 77,44 persen. (Kompas; 17/06/2008).
Kenapa Golput?
Angka Golput yang tinggi ini tidak bisa dipandang remeh. Ibaratnya bahwa kepada setiap pemenang pemilihan, ada pesan bahwa dukungan terhadap mereka tidaklah bulat. Ada suara-suara yang sungguh sangat besar dari sisi kuantitatif yang tidak berada di garis yang sama dengan para pemimpin terpilih itu. Meskipun tidak semuanya mengambil jalan golput sesuai ideologisnya.
Beberapa pembicaraan di sejumlah media menyebutkan bahwa ada tiga alasan munculnya Golput; yang pertama alasan administratif karena tidak terdaftar oleh KPU, kedua alasan teknis karena saat pemilu tidka berada ditempat sehingga kehilangan kesempatan memberikan suara dan yang terakhir adalah yang memiliki alasan ideologis, yang memang tidak berniat menggunakan hak pilihnya dikarenakan tidak adanya figur yang dianggap layak untuk dijadikan pilihan politik. Sebahagian golput-er ideologis ini semakin sadar bahwa demikian banyak pemilu yang telah berlangsung tidak memberi pengaruh positif apa-apa kepada kepentingan mereka; baik ekonomi maupun sosial-politik. Malah cermin yang diberikan para calon terpilih sebagaimana ditayangkan di media adalah cermin yang retak. Tidak jauh-jauh dari korupsi, kolusi, suap, kekerasan politik, sikap pongah dan tinggi diri, bahkan di beberapa tempat para legislator ini merasa wajib untuk didahulukan kepentingannya. Selain itu ada juga yang berpandangan jauh lebih filosofis; pemilu adalah prasarana sekularisme yang ditengarai akan menyingkirkan peran agama dalam kehidupan; terutama ketika mereka melihat banyak aturan yang dihasilkan parlemen menabrak rambu-rambu agama. Meski dalam parlemen sendiri tidak sedikit legislator yang berasal dari partai berbasis agama. Alasan lainnya menyebutkan bahwa pemilu telah melahirkan dampak negatif: masyarakat terkotak-kotak dan hubungan sosial menjadi renggang. Yang lebih parah, Pemilu/Pilkada bahkan sering melahirkan konflik sosial, yang tidak jarang mengarah pada bentrokan fisik dan tindakan anarkis. Sejumlah konflik berbau kekerasan di berbagai daerah Indonesia tidak jarang dipicu oleh perebutan kekuasaan pada proses Pilkada.
Siapa yang paling rentan mengidap ideologi golput ini? Kayaknya semua lapisan masyarakat; level atas yang kecewa dengan elit, kaum menengah yang gelisah dan apatis dengan kebijakan pemerintah dan masyarakat bawah yang merasa kehidupannya tidak mengalami perubahan meski memilih berkali-kali.
Siapa yang paling diuntungkan dengan adanya golput ini? menurut penalaran saya, yang paling diuntungkan adalah partai yang punya simpatisan atau kader yang militan dan mengakar tidak peduli soal kinerja atau program kerja partainya. Meski janji-janji tidak tertunaikan, mereka masih punya ikatan emosional dan ideologis dengan partai tersebut. Kalau para kader dan simpatisan ini solid maka raihan suara partai ini akan lumayan mengantar calegnya ke kursi parlemen. Salah satu partai ini adalah PKS dan Golkar. Sebagaimana dikatakan oleh bekas presiden PKS Hidayat Nur Wahid, “PKS sementara ini yang paling solid dalam menghadapi Pemilu mendatang dan apabila dari pemilih banyak yang Golput partai ini yang paling diuntungkan, tetapi demi kepentingan nasional Golput harus diminimalkan, agar wakil-wakil rakyat yang dipilih itu berkualitas,” katanya.
Ketua MPR Hidayat Nurwahid: ‘Golput akan menjadi sangat kontraproduktif. Sebab, Pemilu menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar’ (Detik.com, 24/7/08)
Megawati mengatakan; “Orang golput tidak boleh menjadi WNI.” Ketua KPU Abdul Hafiz juga pernah mengatakan : “golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik” (detik.com, 17 Juli 2008).
Apapun kata para pemimpin itu, melihat fenomena di Pilkada sebagai benchmark terbaik pemilu kita, kelihatannya Golput akan tetap keluar sebagai pemenang. Paling minimal mencapai 30% dari total pemilih. Karenanya, Golput Insya Allah menang!
Golput will get nothing! It’s true, man! Ketika berbicara soal kontribusi politik, kasat mata memang tidak ada sumbangan atau perolehan dari para Golput-ers. Namun suara golput merupakan manifestasi sebuah pemberontakan dari keadaan stagnan yang masif, suara yang memberi peringatan kepada pemimpin atau caleg terpilih bahwa keterpilihan mereka tidaklah bulat bundar. Ada bopeng sana-sini yang siap-siap menggerus sekiranya tidak amanah sesuai janji. Golput pun bukanlah suara ancaman untuk anarkis, ia hanya anarkis dalam memendam hak yang dimilikinya. Dan tentu saja Golput juga adalah pilihan halal warga negara.
