Gaza dan Goliath

Posted: January 16th, 2009 | Author: Muhammad Ruslailang Noertika | Filed under: Opini | Tags: , | No Comments »

Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath. Merujuk pada kitab Bibel, saat perang melawan bangsa Yahudi di Socoh Judah, dikisahkan Goliath yang perkasa setiap dua hari sekali dalam masa empat puluh hari berkoar-koar sesumbar tanpa henti. Ia menantang segenap bangsa Yahudi itu untuk bertarung duel satu lawan satu. Saul, pemimpin Yahudi saat itu sungguh tak mampu menghadapi tantangan Goliath hingga kemudian Daud remaja datang menawarkan diri. Di hadapan Daud, Goliath perkasa itu mampus seketika hanya dengan sebuah lemparan batu kecil tepat di kepala besarnya.

Namun kini ketika ribuan tahun berbilang, keadaannya kini sungguh berbalik. Palestina kini adalah Goliath yang kerempeng, pias dan mengiba. Keperkasaannya terserak bersama puing bangunan yang luluh lantak diterkam buldozer kebiadaban sebuah rezim Setan Kecil. Suara raksasa yang dulu lantang menantang Daud kini tenggelam oleh desing peluru atau hentakan mortir mengarah kepada penduduk Gaza yang seperti sibuk berhitung waktu menunggu ajal menjemput, tak peduli usia, jenis kelamin, bahkan agamanya. Goliath, petarung legendaris Palestina itu kini seperti berada di ujung ring, terdesak dan hanya berusaha bertahan agar tak jatuh. Jatuh, juga mungkin akan berarti punah. Sebuah nasib yang terbilang, dan karenanya kini dipertaruhkan.

Kalau dulu Daud yang kecil hanya memerlukan batu sebesar jempol untuk menundukkan Goliath, maka kini, sebuah pemerintahan yang berdiri di atas tanah yang dirampas paksa, mengirimkan rudal pembunuh massal berton-ton beratnya, ditembakkan lewat pesawat tercanggih atau dilesakkan oleh pelontar rudal darat yang (kabarnya) sangat akurat ke bangunan-bangunan yang disesaki oleh tubuh-tubuh ringkih yang menggigil menahan lapar dan dahaga akibat blokade berbulan-bulan.

Gaza, kota berbentuk garis kecil di pesisir Laut Mediterania sejak Oktober 2008 menjadi penjara raksasa bagi 1,5 juta penduduknya. Di utara, barat dan timur, Israel mengarahkan moncong senjatanya untuk setiap bantuan logistik yang mencoba masuk. Di selatan, Mesir – negara yang di tahun 1967 mengobarkan perang melawan Israel dan takluk – menutup perbatasannya bahu membahu beriringan dengan sekondang Zionisnya.

Mereka, penduduk Gaza itu mungkin sudah kehilangan rasa takut akan kematian, meski masih memiliki harapan yang kuat untuk sekedar bernapas tidak dalam suasana mencekam seperti saat ini. Kematian sungguh telah menjadi karib yang menemani sejak tahun 1948, ketika teror mulai ditanam bersama pendirian sebuah negara kecil Israel di sebahagian wilayahnya atas dasar sebuah beleid yang ditandatangani oleh pemerintah kolonialis Inggris melalui menteri Luar Negerinya, Arthur James Balfour pada tahun 1917.

Palestina, sejak Goliath takluk oleh batu kecil itu, sejatinya tak pernah lagi mampu bangkit membebaskan tanahnya sendiri. Terjepit oleh sejarah 12 suku Israel, silih berganti penakluk luar datang mengembalikan miliknya dari bangsa Yahudi. Nebukadnesar dari Babylonia (586SM), Hyrcanus dari Romawi (140SM), Constantine dari Byzantium (330M), Khalifah Umar bin Khattab (638M), Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah (700M), Harun al-Rasyid dari Bani Abbasyah (800M), Sultan Saladin dari Kurdi (1187M), Sultan Baibar dari Mamluk (1270M), hingga Dinasti Ottoman Turki sebelum Inggris menaklukkan Turki di tahun 1870M.

Pada tahun 1948 dan sekali lagi dan yang terakhir kalinya pada tahun 1967, tanah Palestina hendak dibebaskan oleh kompanion negara-negara Arab; Mesir, Yordania, Syiria, Irak, Saudi Arabia, Sudan, Tunisia, Maroko dan Aljazair dari tangan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya. Alih-alih membebaskan Palestina, Israel bahkan berhasil merebut Sinai, Gaza, Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan dataran tinggi Golan. Sejak itu, tak pernah lagi bangsa Palestina berhasil merdeka dalam arti sesungguhnya. Tepi Barat dan Jalur Gaza kemudian di’hibah’kan menjadi tanah air resmi Palestina pada tahun 1988. Tanah air ini, ibarat sebuah kampung taklukan, bisa sewaktu-waktu digagahi oleh Israel dengan alasan yang palign tidak masuk akal sekalipun. Hari-hari ini kita seperti menyaksikan akrobat atau semacam pameran mesin perang di langit Gaza, mulai dari bom cerdas, bom curah, hingga bom Fosfor Putih.

Kini, bangsa yang dikenang abadi dalam semua kitab suci ini sedang mempertaruhkan nasibnya sendiri. Hamas, penguasa Jalur Gaza yang didukung mayoritas rakyat Palestina melalui proses demokratis di tahun 2006 namun dicap teroris oleh Israel dan Amerika Serikat, kini mati-matian membela setiap jengkal tanahnya. Sejak serangan awal di penghujung tahun 2008, sampai nyaris dua minggu sampai saat ini, hampir 900 warga Palestina telah menjadi korban. Hampir 300 diantaranya adalah anak kecil yang lugu dan polos, dan tentu saja tak mampu melawan. 100 wanita juga menjadi korban keganasan mesin perang Israel. Sementara, tentara Israel yang tewas tercatat hanya berjumlah belasan saja. Sebuah perbandingan yang asimetris, terutama soal keimbangan mesin tempur. Negara-negara Arab yang dulu rela jadi palang pintu agresi Israel, kini seperti tak bertaji. Hanya bersuara, sama seperti PBB, tapi suara selantang apapun tak bisa mengendalikan Israel yang jumawa.

Lupakan soal agama, kebiadaban yang sedang berlangsung ini sesungguhnya adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Pembiaran atas keberingasan mesin perang Israel pun merupakan pengkhianatan yang luar biasa atas semua bentuk piagam kemanusiaan. Sikap sebagian Arab, Asia, Eropa, terlebih Amerika Serikat adalah sebuah sikap tragis. Kita yang nun jauh dari bising suara mesiu, mungkin hanya bisa bersimpati dengan menggenangkan airmata dan lirih memanjatkan doa kepada Sang Maha Pemilik Keputusan.

Palestina sedang bertaruh dengan nasib, dan tidak serta merta menjadi kerdil hanya oleh gempuran senapan. Semangat untuk terus melawan mempertahankan tanah air sudah seperti darah yang mengalir setiap saat, karenanya tak akan berhenti hingga jantung-jantung mereka tercerabut dari badannya. Kemenangan mungkin sulit untuk dicapai, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Kalau dulu Goliath yang raksasa bisa takluk di tangan Daud yang kecil, mengapa kali ini Goliath yang kerempeng dan lemah tak mampu bangkit melawan Daud yang sedang sehat-sehatnya. Lewat serangan beringas tentara Israel Defense Forces, Goliath baru sedang dibangunkan. Atau mungkin ia berganti peran menjadi Daud yang sedang menanti saat yang tepat. Bukan untuk menghancurkan Goliath baru, tapi untuk tujuan yang lebih mulia. Membebaskan tanah airnya sendiri, tanah harapan. Palestina.


INFORMASI ASIMETRIS TRAGEDI JALUR GAZA

Posted: January 13th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: , | 1 Comment »

Sudah hampir beberapa minggu ini, setiap saat informasi tragedi Gaza hadir di dalam ruang keluarga. Isi informasi bisa dikatakan seragam, kecanggihan mesin perang Israel yang meluluhlantakan setiap nurani yang menyaksikannya. Jet-jet tempur F-16I dan Helikopter serang AH 64-Apache menembakkan peluru kendali ke sasaran yang telah ditentukan dengan akurat.

Di darat, arteleri IDF (Israel Defence Force) menembakkan peluru penghancur ke seluruh bagian kota Gaza. Untuk mengkoreksi kordinat tembakan, dipastikan Israel menempatkan pointer di Gaza. Dipastikan pointer dapat berupa helikopter maupun mata-mata Israel yang bergerilya di Gaza. Akibat pemboman yang masif, baik dari serangan udara, darat maupun dari kapal perang Israel, menghasilkan puing-puing kota dan asap hitam kehancuran yang memenuhi udara.
Sementara dari pihak Hamas, tanpa ada payung udara berupa radar dan peluru kendali darat ke udara yang memadai, menyebabkan pesawat-pesawat tempur Israel merajalela dalam menghancurkan target di darat dengan leluasa. Rudal darat ke darat yang dilepaskan pihak Hamas tidak memberikan hasil yang menghancurkan karena hanya bersifat psikologis.

Di layar kaca, disuguhkan hampir setiap waktu di ruang keluarga selain menampilkan kisah sukses proses penghancuran kota Gaza, juga memperlihatkan lembaran hitam tragedi kemanusiaan yang membuat trenyuh dan menggedor rasa solidaritas. Coba simak apa yang ditampilkan : tentang anak-anak korban perang yang menangis dengan wajah bersimbah darah, atau tentang seorang Bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarga karena rumahnya hancur terkena bom Israel. Mayat-mayat penduduk kota yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan kehancuran gedung-gedung disepanjang sisi jalan itu. Rumah sakit yang sibuk menerima korban-korban baru, tanpa ada support obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.

Kondisi Gaza memang mirip kondisi : kehancuran Hirosima dan Nagasaki yang di bom atom oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II ditambah dengan tragedi kemanusian Ethiopia beberapa tahun lalu digabung dijadikan satu.

Sehingga logis, bila respon dari sebagian besar penduduk dunia adalah sama. Memprotes serbuan tentara Israel yang menimbulkan korban di pihak sipil, memprotes blokade Israel karena rumah sakit-rumah sakit tidak memiliki tenaga medis dan obat-obatan yang memadai untuk mengobati korban perang, hingga pada respons untuk membuka pendaftaran jihad bertempur melawan tentara Israel di tanah Palestina. Apakah ini tidak berlebihan ?

Untuk mengalahkan tentara Israel di medan perang Gaza tidak cukup dengan semangat. Keberhasilan pejuang Hezbollah mengalahkan tentara Israel di Lebanon, karena mereka mendapat pelatihan yang ketat dan disiplin, boleh dikatakan sebagai pelatihan pasukan komando. Pejuang Hezbollah membentuk unit-unit tempur yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang independen. Mereka menguasai medan tempur dan dengan mental juang yang kuat, sehingga dengan modal senjata serbu dan senjata anti tank, mereka berani berhadapan dengan pasukan komando Israel yang didukung oleh persenjataan canggih seperti Main Battle Tank Merkava, tank paling handal di dunia. Padahal dalam setiap pergerakan tempurnya, tentara Israel selalu didukung oleh tembakan bantuan baik dari satuan alteleri maupun tembakan dari pesawat tempur secara on call.

Minggu pertama Januari 2009
Tulisan ini bisa dilihat di www.dimastidano.wordpress.com