<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rising News &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/tag/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>news - articles - hot info</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 02:48:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Apa kabar Indonesia dalam ekonomi 2015 ?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 16:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ilhamdi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia dalam 2015]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[<p>Menarik untuk mencermati tulisan di kompas pada tanggal 22 November 2008 hari sabtu dalanm sebuah tulisan tentang tren global yang menyatakan pendapat dari National Inteleige&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik untuk mencermati tulisan di kompas pada tanggal 22 November 2008 hari sabtu dalanm sebuah tulisan tentang tren global yang menyatakan pendapat dari National Inteleigence Council ( NIC ) yang menceritakan tentang global trend 2015 .</p>
<p>Dalam hal ini dikatakan Amerika akan mengalami perubahan dan pergeseran ekonomi dalam  2 tahun yang akan datang.Yang mengejutkan kawasan Asia disebut sebagai hal yang kan bisa menjadi tumpuan ekonomi di masa depan.Asia dikabarkan akan menjadi pusat manufaktur dan juga akabn berpengaruh terhadap sektor jasa.Jasa? Hal ini yang selalu gw tulis di setiap permaslahan <a title="franchise marketing " href="http://www.franchisewaralaba.com">marketing</a> dan uniknya jasa adalah senjata ampuh dalam perkebangan ekonomi sekarang.Teknik marketing integrated communication yang berkembang sangat pesat saat ini menjadi acuaanya.</p>
<p>Hal menarik lainnya adalah Indonesia bersama Iran termasuk negara yang sedang mencoba merebut pengaruh untuk persaingan kompetisi ekonomi .</p>
<p>Indonesia ….. ? Menarik juga.</p>
<p>Satu pertanyaan dasar yang emang selalu akan diucapkan .Emangnya bisa apa Indonesia ? Kondisi dalam negrinya aja masih kacau balau kayak gini.Ok mari kita coba bahas.Indonesia sejak dipimpin oleh duet SBY-JK secara keseluruhan memang tampil bagus.Kepercayaan public muncul disini meskipun secara tidak keseluruhan juga,berbagai aliran kritik berdatangan ke Istana negara untk dibahas.Tapi bagaimana akhirnya kritik itu dibalas dengan reaksi yang positif,mendidk dan buat saya …sangat-sangat pintar.Feedbacknya nama SBY tetap masuk pada calon pemimpin ini di pemilu 2009,kabar yang berkembang ( meskipun saya belum tahu secara keseluruan ) SBY bersama Megawati dan Sri Sultan Hamengkubuwono adalah orang-orang yang diinginkan untuk memimpin negara ini di 2009.SBY disebut pertama.Diakah pilihan nmor 1? Buat saya “ Ya” .</p>
<p>Salah satu cara terbak pemerintah adalah saat harga kenaikan bbm beberapa waktu ayng lalau ,tak henti-hentinya demonstrasi dari mahasiswa atau berbagai kalangan organisasi masyarakat “mencoba untuk menentang “.Kerusuhan yang disebabkan aksi demonstrasi di balas dengan layanan iklan dari pemerintah yang disampaikan melalui beberapa mentrinya tentang bagaimana,kenapa dan apa sebab kenaikan bbm.Telvisi tidak bisa dipungkiri lagi sebagai sebuah medium “komunikasi” yang ampuh.Akhirnya …demosntrasi seperti selesai begitu saja.Yang paling baru soal kebijakan SKB 4 mentri yang buat resah para saudara-saudara kita yang dinamakan sebagai buruh.Demonstrasi dilakukan.Sayangnya tempat dan waktu demonstrasi dilakukan salah.SKB itu diantaranya menjelaskan bahwa masing-masing daerah berjhak menentukan batas  pendapatan yang diperoleh .Dari informasi dan data yang saya peroleh karena saya mencoba untuk tidak bermulut besar melalui sebuah media online ada beberapa prpoinsi yang membuat kenaikan upah dan bukan malah membuatnya turun.Dan rata-rata itu adalah kota besar.Kota yang sebenarnya buat saya memang punya kehidupan yang layak mendapatkan reward lebih jika hidup dihargai dalam bentuk materil.Tapi disnilah penjelasan pemerintah ,bahwa hal ini justru yang akan mencegah terjadinya PHK besar-besaran.Ini dilakukan untuk menjaga keseimbangna sebuah perussahaan,usaha,unit bisnsi atau apa lah sebutannya.Menari ditunggu karena kabar terakhir yang say adapt adalah BPP HIPMI memberikan sebuah tanda bahaya dengan mengeluarkan sinya bahaya bahwa tahun 2009 13.000 naker se Indonesia bisa terkena PHK,dan hal ini bisa terus bertambah.Setiap daerah harus pintar dalam memanfaatkan segala strukutrnya termasuk ekonomi .Apa yang akan dilakukan pemerintah,jika hal ini mengarah ke pada hal yang positif,setiap daerah tentunya akan berusaha mengoptimalkan setiap potensi daerahnya.Dan bukan tak mungkin bahwa Indonesia sedang “merebut pengaruh “,sepertui yang dilaporkan oleh ( NIC ) dalam sektor jasa akan memang jadi kenyataan.Hal ini yang bisa dioptimalakan oleh Indonesia jika ingin “membuat pengaruh dan “merebut pengaruh”.</p>
<p>Sekarang tinggal permaslahan klasiknya ,jika tren poisitf ini terus berlangsung mempertahankannya Indonesia akan “diincar”banyak negara sebagai “ladang pertumbuhan mereka”.Mampukah Indonesia “secara Indonesia dalam keseluruhannya”,mempertahankan apa yang mereka miliki? Terlalu pagi untuk mengatakan “ya”.Situasi di tahun 2009 belum menentu.Kondisi social pun per detiknya akan selalu berubah.Laporan dari NIC ini pun patut ditanggapi.Impian duet SBY-JK yang secara perklahan ingin membagun Indonesia sebagai negara maju bisa jadi bukan lagi sebuah impian,tapi realita.Siapa yang akan berkorban ? Dan siapa yang akan dikorbankan ?</p>
<p>Apa kabar Indonesia ?</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="apakabar indinesia com">apakabar indinesia com</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="apakabarindonesia">apakabarindonesia</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="gaya hidupnegara arab">gaya hidupnegara arab</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="kabar ekonomi di indonesia sekarang ini">kabar ekonomi di indonesia sekarang ini</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="kabar indonesia">kabar indonesia</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="kabar indonesia terbaru">kabar indonesia terbaru</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="pertumbuhan ekonomi indonesia 2015">pertumbuhan ekonomi indonesia 2015</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="www apa kabar indonesia com">www apa kabar indonesia com</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/" title="www apakabar indonesia com">www apakabar indonesia com</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.705 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/11/24/apa-kabar-indonesia-dalam-ekonomi-2015/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silence Of The &#8220;Ryan&#8221;</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 23:47:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmonadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mutilasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan berantai]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikopat]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[<p style="30px;"><em>Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you</em>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="30px;"><em>Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you seek?<br />
Clarice Starling: He kills women&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No. That is incidental. What is the first and principal thing he does? What needs does he serve by killing?<br />
Clarice Starling: Anger, um, social acceptance, and, huh, sexual frustrations, sir&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No! He covets. That is his nature. And how do we begin to covet, Clarice? Do we seek out things to covet? Make an effort to answer now.<br />
Clarice Starling: No. We just&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No. We begin by coveting what we see every day. Don&#8217;t you feel eyes moving over your body, Clarice? And don&#8217;t your eyes seek out the things you want? </em></p>
<p style="30px;"><em>(kutipan dari salah satu dialog di Film <a title="Film Silence Of The Lams" href="http://www.imdb.com/title/tt0102926/quotes" target="_blank">Silence Of The Lambs</a>, 1991)</em></p>
<p>Masih ingat kan film &#8220;Silence Of The Lambs&#8217; (SOTL, thn. 1991)? Itu novel Thomas Harris yang dibuat jadi film dan dibintangi artis keren yang sangat populer beberapa tahun yang lalu. Bahkan saking populernya, film SOTL yang tidak membosankan itu masih sering di putar di TV Swasta Indonesia yang memang hobi mengulang-ulang film lama. Sekuel paling baru dari film itupun sudah beredar belakangan ini yaitu Hannibal Rising yang mengisahkan sosok lahirnya tokoh Hannibal Lecter yang mempunyai latar belakang tragis Perang Dunia ke-2.</p>
<p>Dengan menggunakan search engine anyar <a title="Resensi Cuil.Com" href="http://atmoon.blogdetik.com/2008/07/28/cuil-dot-com/" target="_blank">CUIL.COM</a>, saya coba menelusuri  konteks dan arti &#8220;Silence Of The Lambs&#8221; yang beberapa tahun yang lalu novel maupun filmnya sangat laris di AS sana . Hasilnya tidak begitu menggembirakan, meskipun memberikan informasi juga yang erat kaitannya dengan terminologi Silence Of The Lamb secara sosial -psikologis.</p>
<p>Ada beberapa artikel yang ditampilkan resumenya saja berhubung kita harus berlangganan kalau ingin mengakses artikel lengkapnya . Namun, dari beberapa tulisan itu tersirat kalau Silence Of The Lambs erat kaitannya dengan suatu simbolisme keadaan psikologis seseorang, keluarga atau masyarakat yang terpinggirkan, sampai akhirnya mencapai suatu   kondisi ektreem yang memaksanya melakukan suatu tindakan tanpa nilai sama sekali kecuali absolusitas dari keinginan dan hasratnya sendiri yang condong berlebihan dan egosentris. Anehnya, pribadi maupun keluarga demikian nampak secara lahir mempunyai kecondongan yang berlebihan untuk &#8220;nampak&#8221; tampil baik  di  permukaan, baik dengan kamuflase sosial maupun keagamaan.</p>
<p>Dalam film SOTL, kiasan Silence Of The Lambs nampaknya justru dilekatkan kepada hampir semua tokohnya, baik agen FBI yang diperankan Jodi Foster, sosok psikopat yang gemar menguliti wanita gemuk dengan julukan Buffalo Bill, maupun Hannibal Lecter yang sengaja berperan sebagai guru dari tokoh Agen FBI dan tokoh psikopat yang menjadi &#8220;public enemy number one&#8221; setelah menculik anak seorang senator yang terkenal yg menjadi ikon  keberhasilan masyarakat secara umum. Peran Hannibal Lecter sebagai Mahaguru Psikopat justru menjadi kunci pembuka dan penutup dari masalah yang muncul dalam diri masing2 tokoh, baik yang elitis seperti Agen FBI maupun Si Pembunuh  (dalam film SOTL digambarkan sebagai  mantan pasien Hannibal Lecter) yang ternyata keduanya merupakan produk tipe keluarga yang sama, yaitu keluarga  yang dimarjinalkan namun mempunyai lintasan pemecahan masalah yang berbeda.</p>
<p>Yang satu menjadi Agen FBI dengan pendidikan baik, yang serius dan ambisius, dan yang lainnya menjadi sosok pembunuh berantai yang mencoba menggugat wujud dirinya sendiri sebagai lelaki yang mempunyai cita-cita &#8220;ingin menjadi&#8221; wanita justru dengan menghianati kaum  &#8220;wanita sebenarnya&#8221; (di film seluruh korbannya adalah kaum wanita). Sedangkan Hannibal justru digambarkan dengan cara yang lebih elitis lagi sebagai psikolog yang <a title="Psikopat" href="http:http://atmoon.blogdetik.com/2008/07/23/psikopat///" target="_blank">psikopat</a> dan tidak segan-segan memangsa siapa saja, termasuk orang yang dikenalnya dengan baik. Karakter Hannibal Lecter adalah simbolisasi dari kelompok elit  intelektual yang akhirnya &#8220;menghianati idealisme dan wacananya&#8221;  sebagai produk perkembangan nilai etis dan moral yang dikembangkannya. Ia pun muncul menjadi penghancur nilai etis dan moral itu sendiri dengan menjadi &#8220;kanibal&#8221;. Sosok Hannibal mewakili keputusasaan egosentris intelek yang justru gagal ketika berada di puncak ketinggian ketika hendak mengenali keterbatasannya sebagai manusia yang berpikir dan berperasaan. Hannibal bukan ingin tetap berada di dalam sistem, ia justru menganggap jadi pembuat dan pemilik sistem sehingga menjadi geer dan jatuh dalam egosentrisme  absolut dengan menjadi pemangsa yang cerdik seperti serigala berbulu domba. Ia adalah tipe penggembala sekaligus pemangsa.</p>
<p>Kedua tokoh utama di film tersebut bagi Hannibal Lecter tidak lain adalah anak-anak domba yang setengah putus asa dan berupaya mengatasi keputusasaan itu dengan ketangguhan dan kelemahan  karakter dirinya masing-masing yang notabene dipengaruhi oleh pendidikan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Yang satu (tokoh agen FBI) berhasil masuk ke sistem yang diyakini kebenarannya yaitu menjadi Agen FBI yang tangguh  dan yang lainnya terperosok dalam ilusi dan ketidakberdayaannya sampai akhirnya melampaui batas dan dengan sadar memutuskan diri berada di luar sistem yang diakui secara umum dengan melakukan pembunuhan berantai kepada gadis-gadis yang berciri sama, tubuh montok, punya cukup lemak dan kulit bagus , untuk dibunuh, dikuliti dan kulit tubuhnya dibuat menjadi jubah kebesaran dirinya yang berilusi di hadapan cermin menjadi  &#8221; wanita tulen&#8221;.</p>
<p>Lantas, apa yang dimaksud Silence Of The Lambs sebenarnya? Kalau dilihat dari konteks psikologis yang mewarnai film SOTL tsb, penulisnya nampak memang sangat akrab dengan kondisi masyarakat dan perkembangannya di AS, yang boleh jadi sebenarnya kondisi yang bisa ditemukan dimana saja di dunia, termasuk di Indonesia. SOTL adalah simbologi pergulatan dan perjuangan hidup dengan atau tanpa norma sama sekali untuk mencapai apa yang diinginkan. Disini yang dipertentangkan sebenarnya dua keluarga yaitu keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar adalah aturan hukum positif yang berlaku dimana semua orang yang tinggal didalam keluarga tersebut harus patuh. Keluarga kecil adalah keinginan diri atau cita-cita dan impian yang hendak dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang, misalnya suatu keluarga normal didalam masyarakat untuk diakui eksistensinya. Jadi ada suatu kewajiban dari suatu cita-cita atau harapan dari keluarga kecil jika ingin diakui sebagai bagian suatu keluarga besar yaitu harus patuh. Namun, ketika keluarga kecil atau keinginan diri itu berbenturan dengan sistem karena kelemahan wataknya sendiri, maka yang muncul adalah pembangkangan dan pemberontakan total dimana titik ekstremitasnya adalah tidak adanya norma dan nilai yang harus dipatuhi, baik kepada diri sendiri , orang lain, aturan keluarga besar, maupun kepada Tuhan. Individu atau keluarga kecil itupun menjadi Sang Pembangkang.</p>
<p>Sang Pembangkang sendiri  menyadari (jadi ia tidak gila dalam arti tidak waras, namun waras dan sadar ketika melakukan perbuatannya), untuk bisa eksis didalam sistem keluarga besar, sementara ia sendiri sudah tidak mengakui hukumnya, ia harus melakukan penyelabuan, kamuflase, ataupun penyamaran umum sehingga apa yang ingin dikehendakinya tercapai tanpa harus punya kewajiban maupun tanggung jawab untuk mematuhi hukum keluarga besar itu yang tak lain adalah hukum positif, sosial kemasyarakatan, maupun keberagamaan. Bagi orang lain, maka ia akan nampak bagai  domba jinak yang elok karena nampak tidak bermasalah dengan hukum-hukum itu. Namun bagi dirinya, hukum itu hanya sekedar wacana semata, sedangkan aktualisasinya nol besar. Kondisinya akan semakin parah bilamana asumsi absolusitas mutlak dirinya  itu mempunyai pembenaran, misalnya karena tidak adanya kejujuran dan keadilan, banyaknya penyelewengan maupun ketidaksesuaian antara wacana dan praktek dari individu ataupun masyarakat umum dimana ia hidup yang mestinya patuh dengan hukum keluarga besar (misalnya hukum negara RI) (di film SOTL sipembunuh menemuikan hal ini justru di sosok Hannibal yang notabene konsultan psikologisnya).</p>
<p>Kondisi demikian nampaknya menjadi kondisi yang bisa dialami  oleh siapa saja, dari kalangan mana saja. kasus Pembunuhan Berantai Ryan yang menghebohkan Indonesia belakangan ini nampaknya dapat kita pandang dengan cara yang lebih terperinci dan luas, bukan sekedar kriminalitas biasa ataupun sekedar perilaku seksual yang menyimpang, hiburan dadakan semata atau sekedar berita  bagus yang dapat diblow-up oleh media masa.</p>
<p>Apa yang terjadi belakangan ini dengan kehebohan yang diperbuat oleh &#8220;Silence Of The Ryan&#8221; hanyalah suatu gejolak liar yang muncul dari sudut2 gelap kehidupan Bangsa Indonesia. Hal ini dapat menjadi tanda kebolehjadian bahwa banyak kalangan masyarakat di Indonesia yang mengalami suatu gejala psikologis yang kronis dimana nilai etis dan moral hanya sekedar menjadi pajangan semata atau sekedar teori semata.</p>
<p>Kasus Ryan sebenarnya dapat dijadikan suatu pijakan bagi masyarakat Indonesia untuk mulai bercermin. Jangan-jangan apa yang dilalukan Ryan sejatinya bayangan dari hasrat &#8220;Silence Of The Lambs&#8221; dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang disodori oleh berbagai distorsi realitas mulai dari bencana Tsunami Aceh, Kasus Lapindo, Kerusakan LIngkungan, Korupsi yang nampak semakin nyata dan terbuka melibatkan kelompok elit masyarakat , hasrat ini berkuasa dan merasa pantas jadi &#8220;Satrio Piningit&#8221; yang memimpin RI, dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya yang sudah menyentuh keadaan psikologis masyarakat yang semakin ektrim dan kurang memiliki nurani. Kondisi ini kalau dibiarkan memang akan menyebabkan lahirnya bangsa Yajou dan Majou alias Yajuj Majuj alias Bangsa Yang Gemar Menunggangi Kuda Hawa Nafsunya sendiri.</p>
<p>Dari kasus &#8220;Silence Of The Ryan&#8221; ini, di lingkup keluarga dan masyaraklat kecil hendaknya masyarakat harus lebih mulai jujur, lebih kritis, membuka diri dgn membangun empati dan nurani yang lebih peka. Karena kepekaan nurani adalah radar pertama yang akan mengungkapkan adanya ketimpangan sosial dan perilaku didalam masyarakat yang tidak wajar, baik secara individual maupun berkelompok. Tidak sadarnya masyarakat di sekitar rumah Ryan tentang keganjilan keadaan Ryan dan Keluarganya nampak sangat jelas dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan ini (misalnya: dimana bapak dan ibu Ryan sampai-sampai rumahnya bisa menjadi kuburan masal dalam rentang bulan juli 2007 sampai Juli 2008?). Kepolisian, seperti dikutip Koran Tempo hari ini (29/7) , malah menengarai kalau Ryan tidak sendirian. Kecurigaan Polisi saat ini terfokus pada orang tua Ryan yang nampak tidak shock serta kakak Ryan yang menggunakan motor korban Ryan tanpa merasa aneh. Bahkan di Koran Tempo, Ryan mengaku &#8220;Ada keluargaku yang melakukan itu semua. Aku hanya melindungi mereka&#8221;.</p>
<p>Mudah-mudahan kasus yang &#8220;lagi-lagi&#8221; menggemparkan Bangsa Indonesia ini bukan sekedar jadi berita besar ataupun gosip simpang siur yg numpang lewat. Tapi menjadi pelajaran bagi kita semua supaya tetap sadar, jujur, dan memiliki keadilan untuk menjalani kehidupan ini tanpa mengabaikan apa yang kiya yakini sebagai kebenaran yang harus dipatuhi.</p>
<p><em>&#8220;Semua manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitri, ibu bapak dan lingkungannyalah yang akan menjadikannya jahat atau taqwa&#8221; (kata gue, menurut suatu hadis Rasulullah Muhammad SAW dan Al Qur&#8217;an, see QS 91:7-10)</em></p>
<p>Bks, 28/29/7/2008</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="film kanibal women">film kanibal women</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hanibal lecter adalah">hanibal lecter adalah</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter">hannibal lecter</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="Hannibal Lecter qoutes">Hannibal Lecter qoutes</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter quotes">hannibal lecter quotes</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter wujud dalam filam">hannibal lecter wujud dalam filam</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 36.315 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Call Center 123: Unsur Kompetitif PLN Yang Belum Berdaya</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 08:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tika Sinaga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[call center]]></category>
		<category><![CDATA[pelayanan listrik]]></category>
		<category><![CDATA[PLN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pelayanan terbaik, dalam bidang apapun, dalam industri apapun adalah alat kompetitif  ampuh untuk bersaing. Lalu dapatkah PLN sebagai pemain tunggal memberikan pelayanan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pelayanan terbaik, dalam bidang apapun, dalam industri apapun adalah alat kompetitif  ampuh untuk bersaing. Lalu dapatkah PLN sebagai pemain tunggal memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat penguna jasa PLN? <em>Mestinya harus!</em> Atau, mungkin sudah saatnya Pemerintah membuka peluang pada pemain lain untuk memacu PLN? <em>Mungkin!</em></p>
<p>Perkembangan teknologi, seperti <em>call center</em> memacu perusahaan diseluruh dunia untuk berlomba memberikan kemudahan-kemudahan bagi pelanggan mereka dengan penyediaan pelayanan terbaik. Secara umum perkembangan <em>call center</em> di Indonesia didukung oleh ketersediaan jaringan telekomunikasi secara luas yang penggunaannya pada tahun lalu saja telah mencapai lebih dari 9,5 juta sambungan telepon tetap dan 35 juta sambungan telepon selular.</p>
<p>Call-Center123, milik PLN, seharusnya bisa menjadi salah satu komponen krusial PT PLN yang kompetitif jika dikelola secara profesional.</p>
<p>Pada beberapa ensiklopedi teknologi, <em>call center</em> didefinisikan sebagai: <em>“a centralized office of a company that answers incoming telephone calls from customers or that makes outgoing telephone calls to customers (telemarketing). Such an office may also respond to letters, faxes, e-mails and similar written correspondence.”</em>  (http://en.wikipedia.org/wiki/Call_center).   Dikatakan bahwa <em>call center</em> adalah “suatu sentralisasi pelayanan dari sebuah perusahaan/organisasi yang mengelola telephone masuk dan keluar dari dan untuk pelanggan termasuk memberikan respon lewat surat, fax, email, dan korespondensi perusahaan dengan pelanggan&#8221;.</p>
<p>Definisi ini menunjukan lalu lintas interaksi <em>sebuah call</em> center adalah dua arah; dari dan kepada pelanggan. Persepsi keliru yang sering kali terjadi pada banyak manajemen <em>call center</em> di Indonesia adalah bahwa <em>call center</em> hanya tempat menampung informasi dan bukan merespon informasi.</p>
<p>Secara teknologi, sebuah <em>call center</em> baru dapat dikatakan “call center”, jika interaksi perusahaan dengan pelanggan dapat disentralisasikan di dalam suatu pusat pelayanan dengan kelengkapan data dan informasi, yang terhubung langsung dengan tenaga manusia yang mengelolanya. Pengelola data dan informasi tersebut harus dihubungkan oleh peralatan teknologi (komputer, telephone, headseat, fax dll) yang terkoneksi dengan sistem telekomunikasi terpadu lewat jaringan data di perusahaan sesuai dengan fungsi dan definisi call center tersebut. Aspek teknologi tersebut harus dilengkapi dengan pengelolaan yang profesional, akurat dan terpercaya, oleh sumber daya yang terlatih dan mengerti betul makna “kepuasan pelanggan” atau <em>“customer satisfaction”.</em> Sebagai sebuah produk teknologi, esensi utama dari sebuah <em>call center</em> seperti Call Center123 seharusnya adalah meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja perusahaan dalam melayani pelanggannya, dan tentunya, memberikan kemudahan pada pelanggan untuk mendapatkan pelayanan yang layak atas harga yang telah pelanggan bayar.</p>
<p>Call-Center123, saat ini belum merupakan <em>“house of information”</em> atau “sentra informasi” PLN. Belum menjadi <em><strong>contact point</strong></em> bagi pelanggan untuk mengakses informasi PLN, apalagi mampu atau <em>capable </em>menangani permasalahan yang pelanggan hadapi.</p>
<p>Lihat saja kasus ini. Beberapa waktu yang lalu penulis menghadapi suatu masalah yang berhubungan dengan tagihan listrik di kantor, untuk itu penulis mencoba menelpon Call-Center123. Setelah mendengar penjelasan detail mengenai problem yang sedang penulis hadapi, petugas <em>call center</em> <em>(agent),</em> menganjurkan penulis untuk menghubungi Kantor PLN Bandengan, sebagai kantor yang membawahi area dimana penulis memiliki masalah, dan memberikan 3 buah nomor telepon untuk dihubungi. Karena tak satupun nomor telpon yang diberikan itu diangkat, maka Penulis kembali menghubungi Call-Center123, dan <em>agent call center</em> memberikan 2 nomor telepon tambahan. Di Kantor PLN Bandengan, setelah telepon berdering beberapa puluh kali, penulis menerangkan kembali permasalahan yang sama kepada <em>agent </em>pertama di kantor itu, dan kemudian disambungkan ke <em>agent </em>ke 2. Setelah Penulis kembali menerangkan detail permasalahan yang sama kepada <em>agent </em>ke 2, sang <em>agent</em>  mengatakan bahwa, dia bukan orang yang berwenang atas permasalahan yang sedang penulis hadapi, dan menyarankan untuk menelpon ulang kembali esok hari, karena yang bersangkutan sedang bertugas di luar kantor. Sia-sia membuang  pulsa, waktu, dan energi.</p>
<p>Kasus di atas, ditinjau dari perspektif penulis sebagai pelanggan, menunjukkan bahwa Call-Center123, belum memberikan interaksi yang berkualitas, yang seharusnya dapat ditunjukkan dengan kemudahan akses terhadap sumber daya PLN melalui pelayanan yang cepat, konsisten, mudah, tidak bertele-tele, serta tingkat kenyamanan yang pantas. Untuk itu fungsi <em>“hanya sebagai jembatan”</em>  bahkan hanya sebagai &#8220;<em>operator telepon&#8221;</em> ini harus segera direformasi oleh PLN, agar fungsi <em>call center</em> yang sesungguhnya dapat diterapkan dan diberdayakan menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas pelayanan PLN. Penulis yakin Call-Center123 yang berkualitas adalah salah satu faktor kompetitif yang sangat krusial bagi kemajuan PLN.</p>
<p><strong>Call-Center123 PLN masa depan, seharusnya dapat memberikan nilai kompetitif sbb;</strong></p>
<p><em><strong>Sebagai kanal sentral komunikasi dan informasi PLN dengan pelanggan;</strong></em></p>
<p>&#8211;Call Center123 seharusnya memperoleh persepsi sebagai “sentra informasi dan solusi PLN” dimata pelanggannya, dan bukan semata  tempat pengaduan listrik padam. Pelanggan membutuhkan informasi dan pelayanan lebih dari sekedar jawaban “sedang ada perbaikan” ketika pelanggan melaporkan listrik mati.</p>
<p>&#8211;Call Center123 seharusnya memungkinkan pelanggan PLN  berinteraksi dengan sumber daya PLN yang <em>capable </em>menyediakan pelayanan dan informasi secara profesional, sehingga pelanggan dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi PLN tanpa harus pergi ke Kantor PLN.</p>
<p>&#8211;Call Center123 seharusnya memiliki kerangka strategi yang mendefinisikan seluruh produk dan layanannya lewat prosedur operasi standar yang terukur, terencana dan konsisten sesuai <em>blue print</em> PLN.</p>
<p><strong><em>Call-Center123, sebagai citra dari “brand” PLN yang terbangun;</em></strong></p>
<p>&#8211;PLN dapat membangun “brand” perusahaan yang kuat lewat pelayanan Call-Center123, dengan lebih serius memaksimalkan fungsi <em>call center</em> tersebut yang artinya memberikan peningkatan pelayanan terhadap pelanggan.</p>
<p>&#8211;PLN dapat menjadikan Call-Center123 menjadi standar ukur yang handal dalam menangani keperbedaan kualitas pelayanan penanganan pelanggan selama ini yang diberikan oleh kantor-kantor wilayah PLN diseluruh Indonesia.</p>
<p>&#8211;Kualitas sumber daya manusia PLN juga tercermin lewat <em>performance</em> Call-Center123 ini, sehingga persepsi PLN “lama” dapat terkubur dengan “<em>image”</em> yang dibentuk melalui kualitas manusia yang mengelola dan melayani pelanggan lewat Call-Center123. Kesan ‘lemes’ dan ‘lambat’ sewaktu mengangkat telpon, digantikan dengan kesan ‘tegas’, ‘ramah’ ‘efisien’ dan ‘sigap’, serta &#8216;<em>passion&#8217;</em> ingin melayani. Penyebutan nama <em>Agent</em> sewaktu mengangkat telpon, menunjukkan tanggung jawab moral PLN berada di setiap individu yang terlatih dengan baik. Kecerdasan petugas <em>call center</em> yang profesional akan terlihat berbeda dari sekedar “tukang angkat telepon&#8221;.</p>
<p><strong><em>Call-Center123, sebagai pintu gerbang marketing PLN:</em></strong></p>
<p>&#8211;<em>Image </em>PLN, lewat Call Center123 akan “menjual” sendiri, tanpa harus berusaha meyakinkan pelanggan lewat kalimat-kalimat retorika iklan promosi yang hanya menjanjikan.  Pelayanan yang berkualitas dan profesional adalah merupakan komponen yang amat penting, agar rasa percaya pelanggan terhadap PLN dapat terbangun dengan kokoh.</p>
<p>Kenyataanya, pada hampir semua industri, kerap kali manajemen <em>call center</em> menemui kesulitan dalam menyediakan kebutuhan paling mendasar dari sebuah <em>call center</em> yaitu kapabilitas untuk memberikan aksesibilitas terhadap informasi secara konsisten. Ketimpangan ini menyebabkan keberadaan pelayanan <em>call center</em> di banyak perusahaan di Indonesia masih amat sangat  jauh dari <em>excellent</em>.</p>
<p>Manajemen Call-Center123 masa depan harus dirombak dan direorganisasikan dengan lebih baik sehingga PLN dapat lebih memberikan pelayanan berkualitas. Sentralisasi Call-Center123, tidak harus diterjemahkan secara kuantitatif dengan besarnya cakupan area <em>call center</em> tersebut, akan tetapi harus dilihat secara kualitatif. Artinya, jika Call-Center123 yang efektif dan profesional dapat diaplikasikan di tiap kantor wilayah tertentu, <em>yah</em> itu saja dulu diaplikasikan, dari pada mencoba melakukan sentralisasi informasi dalam skala propinsi namun tidak mencapai hasil yang diinginkan. Jadi, targetnya tidak terlalu muluk muluk<em>.</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="call centre 123">call centre 123</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="pengertian call center">pengertian call center</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="apa pengertian call centre??">apa pengertian call centre??</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="pengaduan pln bandengan">pengaduan pln bandengan</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="Pengertian call centre">Pengertian call centre</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="PERKEMBANGAN CALL CENTER DI MALAYSIA">PERKEMBANGAN CALL CENTER DI MALAYSIA</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="pln bandengan@yahoo com">pln bandengan@yahoo com</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="pln contact center dikelola oleh">pln contact center dikelola oleh</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="sistem customer call center PLN">sistem customer call center PLN</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/" title="udinus call cebter pln 123">udinus call cebter pln 123</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.699 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/06/16/call-center-123-unsur-kompetitif-pln-yang-belum-berdaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis untuk &#8220;Kompas&#8221;</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 01:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pepih Nugraha, wartawan Kompas, menuliskan beberapa tips bagaimana seharusnya sebuah opini ditulis agar bisa dimuat di koran tempat dia bernaung saat ini. Di blognya “Beranda&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pepih Nugraha, wartawan Kompas, menuliskan beberapa tips bagaimana seharusnya sebuah opini ditulis agar bisa dimuat di koran tempat dia bernaung saat ini. Di blognya “Beranda t4 Berbagi”, Kang Pepih membuat daftar 17 “dosa” kenapa sebuah opini tak layak muat di koran Kompas. Yaitu:</p>
<p>1. Topik atau tema kurang aktual<br />
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru<br />
3. Cara penyajian berkepanjangan<br />
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal<br />
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung<br />
6. Konteks kurang jelas<br />
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer<br />
8. Uraian Terlalu sumir<br />
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah<br />
10. Sumber kutipan kurang jelas<br />
11. Terlalu banyak kutipan<br />
12. Diskusi kurang berimbang<br />
13. Alur uraian tidak runut<br />
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru<br />
15. Uraian ditujukan kepada orang<br />
16. Uraian terlalu datar<br />
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.</p>
<p>Tetapi, dalam pengamatan Satrio Arismunandar, yang juga pernah bekerja sebagai wartawan di harian yang sama, syarat atau preferensi itu masih perlu dikasih catatan lain.</p>
<p>Menurutnya, si penulis artikel harus bersiap juga menerima kenyataan, artikelnya dikembalikan, bukan karena tak layak atau tak memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas, tetapi karena Kompas kekurangan space untuk memuatnya.</p>
<p>Selain itu, ada hal-hal subyektif dan pertimbangan “kemanusiaan” (kasihan) kepada penulis artikel. Namun, dua alasan subyektif tersebut baru bisa dilaksanakan, jika kualitas artikel yang dikirimkan “tidak parah banget.” Jika kualitasnya terlalu buruk, ya tentu saja sulit dimuat, karena akan merusak citra Desk Opini suratkabar bersangkutan.</p>
<p>Sementara berdasarkan pengalaman saya pribadi, beberapa kriteria itu sebenarnya ada yang fleksibel. Misalnya, soal atribusi alias identitas penulis yang kerapkali dikaitkan dengan kepakaran. Meski hal ini penting, tetapi bukanlah harga mati.</p>
<p>Jika substansi tulisannya dianggap penting, masalah identitas ternyata masih bisa dinegosiasikan. Saya pernah ditelepon staf Desk Opini Kompas untuk mengganti identitas “pemerhati politik dunia Islam” yang saya cantumkan ketika menulis soal Banglades. Di beberapa opini lainnya, identitas saya (dan banyak penulis lainnya) hanya tertera sebagai “pemerhati sosial ekonomi”.</p>
<p>Meski Kompas sering mengembalikan sebuah tulisan dengan alasan pengungkapannya tidak mendukung (baca: gaya bahasanya tidak pas), tetapi sekali lagi, asal kandungan tulisannya dinilai penting, biasanya Redaksi akan berbaik hati mengedit kata atau memotong beberapa paragrafnya supaya lebih enak dibaca. Saya masih ingat, opini pertama yang lolos seleksi diganti subjudulnya. Bahkan saya pernah diminta untuk memendekkan tulisan hingga 600 kata.</p>
<p>Jadi, saran saya, ketika hendak menulis ke koran mana pun, jauhkanlah mitos-mitos yang seringkali mematahkan semangat itu. Selamat menulis!</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="menulis di kompas">menulis di kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="Menulis Opini">Menulis Opini</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="opini kompas">opini kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="cara menulis di kompas">cara menulis di kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="kolumnis kompas">kolumnis kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="artikel opini kompas">artikel opini kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="opini di koran kompas">opini di koran kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="syarat agar dimuat di harian kompas">syarat agar dimuat di harian kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="syarat artikel opini ke harian kompas">syarat artikel opini ke harian kompas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/" title="syarat menulis artikel di koran kompas">syarat menulis artikel di koran kompas</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.826 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/01/29/menulis-untuk-kompas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
