Posted: February 20th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: krisis, obama | No Comments »
Bangsa Amerika Serikat ternyata masih belum belajar dari kasus subprime mortgage yang kemudian menjadi tragedi tsunami ekonomi yang terus meluas melanda dunia.
Keserakahan dengan membuat persyaratan yang demikian mudah untuk mendapatkan kredit perumahan (mortgate), sehingga kredit sejenis KPR ini masuk dalam rating subprime. Kredit yang berkatagori resiko tinggi tersebut kemudian dikemas sedemikian menariknya untuk mendapatkan fasilitas hedging (lindung nilai). Selanjutnya, dilepas di pasar bursa. Akibatnya, begitu kredit menjadi macet, bencana menyebar kemana-mana. Amerika Serikat sendiri kemudian menuai krisis ekonomi yang demikian parah. Negara adi daya tersebut tenggelam ke dalam resesi ekonomi.
Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi di negara Paman Sam. Entah apa pula yang ada dalam pikiran Gubernur Illinois Milorad “Rod” R. Blagojevich, kursi senat yang kosong yang ditinggalkan oleh Barack Obama kemudian “dijual”. Keserakahan telah menutup mata hati seorang Blagojevich yang sebenarnya telah memimpin Illinois sejak tahun 2003.
Hanya dalam hitungan hari, Rod Blagojevich tersungkur dari jabatannya. Impeachment yang dilakukan oleh House of Representatif -nya Illinois tanggal 8 Januari 2009 menghasilkan dukungan suara 114 – 1 untuk mencopotnya dari kursi gubernur, dilanjutkan dengan dukungan penuh oleh Senat Illinois dengan mendapat 59 suara melawan 0 pada tanggal 29 Januari 2009. Akibatnya, Rod Blagojevich terpental dari kedudukannya sebagai Gubernur Illinois. Nama dan foto Blagojevich dihapus dari website pemerintah negara bagian tesebut. Blagojevich harus menyerahkan kursi jabatan gubernur Illnois karena telah melakukan tindakan yang dikatagorikan “alleged abuses of power and alleged abusses attempt to sell gubernatorial appointment and legislative authorization and/or veto to the higgist bidder”. Lebih jauh lagi, pemerintah Federal sedang menyusun tuntutan dugaan korupsi terhadap Blagojevich.
Kasus ini mendapat perhatian serius dari Presiden terpilih Barrak Obama, mantan Senator Illinois. Presiden Barrack Obama sempat berkomentar tentang kasus ini setelah impeachment diberlakukan : ” Hari ini adalah akhir dari hari-hari yang menyakitkan bagi Illinois. Beberapa bulan lalu pemerintahan (di Illinonis) telah mengalami krisis kepemimpinan. Tetapi sekarang kebenaran telah terungkap”.
Di Indonesia, kasus korupsi dengan cara men-jual kursi legislatif seperti kasus di Amerika Serikat mungkin sangat jarang terjadi. Yang mungkin terjadi di Indonesia adalah menjual kursi, meja bahkan mungkin bangunan kantornya sekalian…..
Posted: January 16th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: AS, krisis ekonomi, obama | 1 Comment »
Banyak orang terlalu berharap dengan terpilihnya Obama menjadi Presiden AS. Harapan yang tinggi tergantung di langit. Obama diharapkan dapat menuntaskan masalah krisis ekonomi dengan segera.
Pada hari Obama mengumumkan kemenangannya, pemerintah AS sedang kelimpungan mencari pinjaman sebesar AS $ 550 milyar untuk menutupi pengaruh krisis yang harus dipenuhi dalam 3 bulan kedepan.
Sementara gelombang pemutusan hubungan kerja terus mengguncang negara Paman Sam. Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa tingkat pengangguran diatas angka prediksi yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 478.000 orang jauh diatas prediksi 475.000 orang.
Chrysler LLC telah memotong 1.825 pekerjaan akibat jatuhnya angka penjualan yang mencapai 25 % pada 9 bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama pada tahu lalu. Dilaporkan Chriysler merugi sebesar AS $ 570 juta pada bisnis otomotif. Bisnis otomotif merupakan bisnis yang paling terkena dampai krisis, figure penjualan pada bulan Oktober menunjukkan angka yang menyedihkan : penjualan mobil di General Motor terjungkal sebesar 45 %, Ford Motor turun sebesar 30 %, Honda Motor Co mencatan penurunan 25 % sedangkan Toyota Motor Corp turun 23 %, sedangkan penjualan Nissan Motor Co terjun di angka 33 %. Ini berarti penjualan mobil merupakan terendah selama 17 tahun terakhir.
Circuit City Store yang memiliki 700 outlet di 28 negara bagian telah menutup 155 outletnya. Ini berarti telah menghapus pekerjaan 17 % tenaga kerjanya atau mencapai 7.300 orang dari total 43.000 orang tenaga kerja.
Goldman Sach Groups Inc. melaporkan telah menghapus 3.260 pekerjaan atau 10 % dari total tenaga kerja. Yahoo memotong 10 % tenaga kerja atau mem-phk 1.500 orang. Perusahaan obat Merck & Co menghapus 7.200 posisi dan Lembaga keuangan National City Corp turut menutup 4.000 pekerjaan. Sedangkan Xerox Corp melakukan hal yang sama dengan jumlah 3.000 pekerjaan. Fidelity National Financial Inc. mengumumkan 1.000 phk, menutup sebagian kantor, mengurangi 10 % gaji dan memangkas 50 % dividen.Populan Inc. induk dari Banco Popular akan memangkas 600 karyawannya.
Pengaruh dari tingginya angka pengangguran menyebabkan hilangnya kemampuan membayar cicilan mortgate (cicilan kredit perumahan). Kasus kredit mortgate yang macet melonjak mencapai 70 % pada kuartal ke tiga.
Commerce Department melaporkan pembiayaan sektor konstruksi turun sebesar 0.3 % pada September. Sementara sektor perumahan jatuh sebesar 1.3 % sedangkan realisasi proyek pemerintah turun sebesar 1.3 %.
Seperti dalam pidato kemenangannya, Obama hanya memerlukan dua hal, yaitu : waktu untuk bisa keluar dari krisis dan “menteri-menteri bintang” dalam kabinetnya yang bisa membawa Amerika Serikat keluar dari bencana.
Itupun kalau Obama selamat dari incaran para pembunuh. Pada masa kampanye saja, pihak keamanan AS sudah berhasil membongkar rencana pembunuhan yang dilakukan oleh dua pemuda kulit putih neo-Nazi, Daniel Cowart (20) dan Paul Schlesselman (18). Selain itu, Thomas Robb, direktur nasional Knights of the Ku Klux Klan juga mengirimkan ancamannya melalui rekaman video yang menyatakan perang rasial bila Obama menjadi presiden. Dinas Rahasia AS mencatat selusin ancaman pembunuhan yang serius terhadap Obama – Presiden AS terpilih ke 44 yang nota bene merupakan presiden berkulit hitam pertama.
Nopember 2008
Incoming search terms for the article:
Posted: November 6th, 2008 | Author: Muhammad Ruslailang Noertika | Filed under: Opini | Tags: obama, USA Canada | No Comments »
Hari ini, pemilu di Amerika Serikat telah menentukan bakal pemimpinnya, negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Dialah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) yang berhasil mengungguli John McCain III (72thn). Kedua-duanya sebenarnya berpotensi untuk menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.
Sejak enam bulan lalu, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.
Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.
Euforia Obama berjangkit dimana saja. Bukan cuman di Amerika, tapi di hampir semua belahan dunia. Australia, karib si Polisi dunia itu bahkan mencondongkan keberpihakannya ke Obama dengan 55% berbanding 45%, meski kita tahu bahwa Australia adalah pendukung utama politik unilateralisme Bush. Di Kenya, negeri leluhur ayah kandung Obama, rakyat disana sedang mempersiapkan pesta dan, ini yang luar biasa, rencana pembangunan bandara besar yang katanya bakal dipersiapkan untuk pesawat kepresidenan, Air Force One. Di Jepang, desa yang kebetulan bernama sama dengan Obama, juga bersiap-siap berpesta. “Kami sudah menari untuk kemenangan Obama selama 6 bulan lebih,” ungkap Yuko Shirayama, remaja putri yang membentuk grup cheer Obama Girls di desa Obama, Jepang. Grup Shirayama pernah berangkat ke Hawaii awal tahun ini untuk merayakan kemenangan Obama saat konvensi Partai Demokrat melawan Hillary Clinton. Di Indonesia, bekas-bekas teman SD nya di Menteng pada mendadak mengadakan reuni untuk mengenang masa kecil mereka bersekolah bersama Obama. Beberapa diantaranya malah diundang untuk menjadi bintang tamu dalam beberapa talkshow yang diadakan di stasiun TV.
Obama, dengan segala kekurangannya, memang menjanjikan harapan yang besar buat dunia. Harapan ini tentu saja diharapkan akan membawa perubahan yang lebih baik, jauh lebih baik daripada pemerintahan Bush sekarang yang banyak disebut sebagai The Worst Ever American President – presiden AS terburuk sepanjang masa. Slogan Change, We Need membius semua orang. Politikus lulusan Harvard yang memulai karirnya dari sangat bawah – menjadi pekerja sosial perbaikan selokan di Ohio – juga sangat meyakinkan dalam semua perdebatan yang dijalaninya, semenjak awal konvensi demokrat yang berhadapan dengan Hillary Clinton yang buas, sampai ke babak akhir melawan McCain, sang pahlawan perang yang kerap kali menolak dikaitkan dengan GW Bush.
Mari berharap perubahan akan datang, perubahan yang lebih baik. Yang saat ini mungkin sedang diusung oleh Obama, terutama keinginannya untuk me’nyelesaikan Irak dengan elegan. Meski, Obama punya kebijakan membingungkan soal Afghanistan, tapi mudah2an saat berkuasa nanti nurani Obama, sama ketika melayani penduduk Ohio soal selokan mampet, bisa menjadi putih sesuai harapan kita semua.
Posted: March 26th, 2008 | Author: Khasan Ashari | Filed under: Opini | Tags: demokrat, obama, pemilu AS | No Comments »
Pengalaman dan perubahan menjadi isu sentral pemilihan kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat yang saat ini tengah berlangsung.
Hillary Clinton mengusung tema pengalaman. Maklum, Hillary sudah lebih dari tujuh tahun menjadi anggota Senat. Sebelumnya, Hillary menjadi Ibu Negara selama delapan tahun dan istri Gubernur selama sekitar sepuluh tahun. Sederet pengalaman ini yang dijualnya ke pemilih. Untuk mengatasi persoalan domestik AS dan memulihkan citra negeri Paman Sam tersebut di mata internasional diperlukan sosok presiden yang berpengalaman. Calon yang paling tepat adalah Hillary.
Sebaliknya Barack Obama, yang kalah dari segi pengalaman, lebih mengangkat isu perubahan. Dibanding Hillary, pengalaman Barack terhitung sedikit. Pengalaman politik Barack adalah menjadi anggota Senat Negara Bagian Illinois selama tujuh tahun dan menjadi anggota Senat AS sejak tahun 2005. Barack berpendapat untuk mengatasi masalah AS diperlukan keberanian untuk berubah. Untuk itu diperlukan sosok presiden yang pro-perubahan. Sosok tersebut dapat ditemukan pada diri Barack.
Dari sini, saling serang kemudian muncul. Hillary menyangsikan kemampuan Barack yang minim pengalaman. Memiliki pengetahuan yang luas tentang seluk-beluk perpolitikan AS, Hillary lebih suka memilih forum debat. Karena di situlah dia dapat memberi bukti kepada khalayak, jika dia lebih pintar dari Barack.
Sebaliknya, Barack lebih suka berpidato dengan kalimat-kalimat puitis yang memberikan inspirasi. Dia juga kerap mengatakan bahwa pengalaman bukanlah jaminan. Meski punya segudang pengalaman, toh Hillary memberikan suara yes pada saat pemungutan suara di Senat tentang rencana penyerangan Irak. Terbukti, kebijakan AS menyerang Irak tidak tepat. Dan, bukankah pada saat mencalonkan diri menjadi presiden, Bill Clinton (suami Hillary) juga minim pengalaman? Jadi kenapa sekarang pengalaman kemudian dipersoalkan?
Lalu, mana yang lebih unggul? Pengalaman atau perubahan?
Saat tulisan ini dibuat, CNN melaporkan bahwa Barack telah mendapatkan 1.621 anggota delegasi dan Hillary 1.479anggota delegasi. Delegasi adalah perwakilan yang akan menentukan calon tetap presiden dalam konvensi Partai Demokrat medio tahun ini. Jumlah minimal yang diperlukan oleh Barack maupun Hillary adalah 2.024 anggota delegasi.
Jadi, bagaimana kelanjutannya?
Masih harus menunggu hasil pemilihan pendahuluan di negara-negara bagian lain. Kekuatan keduanya masih imbang. Peluang mereka tidak berbeda jauh. Menarik untuk ditunggu.
Posted: February 6th, 2008 | Author: Bimo Ario Tejo | Filed under: Bimo Ario Tejo, Kolom | Tags: caucus, Clinton, indonesia, obama, pemilu, politik | 1 Comment »
Siapa yang sanggup antri selama 30 menit melawan hujan dan suhu udara -5 derajat Celcius? Lima ribu pendukung Partai Demokrat!
Tadi malam di Lawrence (Kansas), kota kecil di jantung Amerika tempat saya tinggal, digelar caucus untuk memilih kandidat presiden Amerika Serikat yang akan dicalonkan oleh Partai Demokrat dalam pemilu presiden tanggal 4 November 2008. Presiden baru Amerika akan resmi dilantik pada 20 Januari 2009 menggantikan George W. Bush yang telah menjabat selama 2 periode.
Dalam sistem caucus, suara yang diperoleh oleh masing-masing kandidat akan menentukan berapa orang delegasi yang akan berangkat ke Konvensi Nasional Partai Demokrat pertengahan tahun ini. Katakanlah ada kandidat A dan B, masing-masing memperoleh 1000 dan 100 suara. Jika 100 suara bermakna satu delegasi, kandidat A akan mendapat 10 delegasi dan B hanya mendapat satu. Dalam konvensi nanti akan ditentukan calon tunggal presiden Amerika berdasarkan siapa kandidat yang berhasil mengumpulkan delegasi terbanyak, yang kemudian akan menghadapi calon tunggal dari Partai Republik.
Hasil finalnya: Barack Obama mendapat dukungan dari 80% penduduk Lawrence. Hillary Clinton mendapat sisanya. Ini tak jauh berbeda dengan hasil caucus untuk State of Kansas secara keseluruhan: Obama (74%, 23 delegasi) dan Clinton (26%, 9 delegasi).
Proses pemilu presiden Amerika kali ini boleh dikatakan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Tampilnya figur muda berkulit hitam (Obama) dan wanita (Clinton) menunjukkan keinginan publik Amerika untuk melihat perubahan signifikan di Washington. Semangat perubahan ini juga ditunjukkan dengan melimpahnya jumlah pemilih dalam caucus tadi malam. Bahkan, salah satu gedung tempat berlangsungnya caucus di Lawrence sempat ditutup oleh petugas pemadam kebakaran karena jumlah orang yang berjubel di dalamnya telah melewati batas maksimum yang diizinkan. Di Amerika, atas sebab-sebab keamanan, setiap bangunan publik mempunyai batasan jumlah maksimum orang yang boleh berada di dalamnya.

Massa yang memenuhi pusat caucus Douglas County Fairground, Lawrence, tadi malam (LJWorld.com)
“Saya pikir rakyat sangat haus dengan perubahan menuju arah yang mereka inginkan, dan ini yang memotivasi para pendukung Partai Demokrat untuk berkumpul hari ini, ” demikian ujar Charles Jones, ketua panitia caucus di Lawrence, mengomentari membludaknya jumlah partisipan.
Yang mengejutkan, banyak wajah-wajah muda di antara massa yang berkumpul. Kaum muda Amerika yang sebelumnya identik dengan sikap apatis terhadap politik, malam tadi justru menjadi kunci kemenangan Obama. Di South Carolina misalnya, 67% pendukung Obama adalah kaum muda. Para pemuda yang sudah muak dengan arogansi Bush dan ingin melihat Amerika yang lebih terbuka, toleran, dan lebih mengurusi problem dalam negeri ketimbang cawe-cawe urusan negara lain.
* * *
Proses pemilu di Amerika memberi banyak pelajaran kepada kita, rakyat Indonesia, bahwa perubahan tidak harus selalu disuarakan melalui revolusi jalanan. Tiga presiden Indonesia: Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid, dipaksa meletakkan jabatan melalui peristiwa luar biasa yang menyimpang dari kenormalan. Hal ini bisa menjadi preseden bahwa presiden Indonesia nanti bisa seenaknya diturunkan di tengah-tengah masa jabatannya.
Rakyat Indonesia harus belajar banyak untuk memiliki kesabaran politik. Kesabaran untuk memberi waktu kepada presiden, siapapun dia, untuk mengimplementasikan program-programnya tanpa dihantui oleh kecemasan untuk dilengserkan sewaktu-waktu.
Jika rakyat tidak puas dengan pemerintahan yang ada, pemilu memberi jalan untuk mengubah pemerintahan. Bisa dipahami bahwa sebagian rakyat Indonesia, termasuk saya, bersikap apatis dengan proses pemilu akibat praktik rekayasa politik Orde Baru selama tiga dasawarsa. Dengan proses perbaikan mekanisme pemilu yang telah dan akan terus berlangsung saat ini, diharapkan revolusi jalanan tidak lagi menjadi pilihan rakyat kita di masa depan.
Proses perubahan politik yang tertib tentu jauh lebih sedikit biayanya ketimbang proses yang penuh huru-hara dan gejolak.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 16th, 2008 | Author: Renji Betari | Filed under: Opini | Tags: AS, hillary clinton, obama, pemilu | No Comments »
“They said.. They said.. This day will never come..!”
Inilah kalimat pertama saat Barrack Obama mengejutkan seluruh dunia dengan memenangkan suara terbanyak di partai Demokrat, di Kaukus Iowa, babak kick-off PEMILU Amerika.
“I dreamed about the president who will stop the war in Iraq!”
“I dreamed about the president who will provide jobs for everyone!”
“I dreamed about the president who will provide free medicine for the poor!”
“and if You give me the same chance in New Hampshire and beyond..,
I will became that president for You.
Mendengarkan pidato Obama, memang secara sepintas muluk-muluk dan naif, namun dapat terlihat niat tulus dan determinasi seorang pahlawan muda yang penuh semangat untuk membawa perubahan yang sangat didambakan Amerika. Banyak pengamat mengatakan, jarang sekali muncul kandidat yang mampu membuat pendukung nya terbawa emosi dan menitikkan air mata, seperti yang dilakukan Obama dalam setiap kampanye nya.
Pertama kalinya dalam sejarah Iowa, kemarin, negara bagian Amerika yang 95% penduduknya kulit putih konservatif, memenangkan seorang kandidat berdarah Afrika-Amerika. Obama secara ajaib meleburkan perbedaan bangsa kulit hitam dan kulit putih menjadi satu tujuan nasional, ini membuktikan bukan masalah baginya menyatukan partai republik dan democrat, dalam rally panjang PEMILU Amerika.
Kemenangan ‘kuda hitam’ ini adalah pukulan telak bagi Hillary Clinton, yang dalam kampanye-nya seringkali menjatuhkan Obama dengan berkata “Anak muda itu tidak punya cukup modal dan pengalaman untuk maju ke PEMILU”. Hillary bahkan berkata dalam jumpa pers, jika ia harus kalah, ia memilih kalah dari John Edward, yang sudah memiliki pengalaman lebih lama sebagai senator, dibanding Obama. Keyakinan Hillary ini pun di dukung oleh banyak kitikus yang memandang Obama sebelah mata.
Hillary yang sebelumnya optimis, femininisme akan membuat dirinya lebih popular diantara pemilih wanita kini harus memikirkan strategi lain, karena dari pemilih wanita di Iowa ternyata paling banyak menjatuhkan pilihan pada Obama. Suatu polling yang dibuat CNN, mengenai kadar popularitas para kandidat, menghasilkan angka mengejutkan. 70 % Voters democrat mengatakan tidak mendukung Hillary. Ini tentu beralasan, karena jika melihat rombongan pejabat di baris belakang kampanye Hillary, mereka adalah wajah-wajah lama dari jaman Clinton berkuasa yang sudah tidak mendapat simpati pendukung Demokrat.
Dari pemungutan suara di Iowa, CNN menemukan 57 % suara untuk Obama berasal dari pemilih muda berusia 17-29 tahun, dan hanya 18 % berasal dari pemilih diatas 65 tahun, angka yang sangat jarang ditemukan. Bagi generasi muda yang belum dewasa di masa kepemimpinan Clinton, kontribusi masa lalu Clinton tidak berarti banyak, karena ketika itu mereka masih sibuk dengan pekerjaan sekolah.
Kekalahan Hillary ini lebih banyak disebabkan karena dalam kampanyenya, ia begitu menekankan pengaruh pengalaman dan modal yang dibutuhkan oleh seorang kandidat presiden, ada pada dirinya, yang secara telak menyerang ‘kemudaan’ Obama. Namun yang luput dari perhatian Hillary adalah bagaimana menyentuh sisi emosional masyarakat, yang saat ini sangat terpukul dan terluka karena berbagai konflik di Iraq, masalah ras, harga tinggi, kemiskinan, kesehatan dan masih banyak lagi.
Meski demikian masih ada harapan bagi Hillary untuk memenangkan PEMILU. Jika Obama menggunakan strategy menarik simpati, Hillary Clinton terpaksa menggunakan cara taktis. Bagi Clinton yang sudah berpengalaman dengan kampanye dan modal berlimpah, kekuasaan mungkin dapat menambah suara baginya melalui beberapa negara bagian.
Kaukus Iowa secara kuantitas hanyalah porsi kecil dari putaran panjang yang akan berlangsung di seluruh negara bagian Amerika. Namun efek psikologis sering muncul, pemenang pada putaran kick-off ini langsung mendapat simpati masyarakat karena mendapatkan ‘momentum’, suatu energi besar yang menggerakkan massa. Kick off ini juga menjadi babak prediksi bagi setiap kandidat untuk melanjutkan keikutsertaannya dalam PEMILU hingga November 2008 yang menguras waktu, tenaga dan biaya jor-joran.
Sebuah langkah yang patut dicontoh, dua kandidat yang memperoleh kurang dari 5 % suara, Joe Biden dan Chris Dood, langsung mengundurkan diri dari putaran berikutnya, setelah mengetahui hasil suara di kaukus Iowa.
Masih banyak suara sumbang menggema di belakang Obama yang meragukan apakah ia akan punya cukup modal untuk meneruskan hingga PEMILU putaran terakhir. Ini adalah penilaian pesimis yang sudah jelas telah dipatahkan Obama. Jika ia mampu menyedot jutaan suara dari pengalaman nol sebagai kandidat Presiden, masa kah ia tidak mampu menarik lebih banyak modal, yang nota bene sudah dan akan dialirkan oleh pendukung nya sendiri.
Tantangan besar yang ada di hadapan Barrack Obama adalah, jika pada akhirnya ia berhasil mewujudkan ambisi besarnya menjadi Presiden Amerika Serikat, negara terbesar di dunia, dengan beragam ideologi, suku dan kepentingan. Negara yang berhasrat dan mau tidak mau campur tangan dalam urusan rumah tangga setidaknya separuh negara yang ada di dunia. Apakah ia mampu mengubah kata-kata indah menjadi perbuatan??
Renji Betari, 5 Januari 2008.