Posts Tagged ‘mudik’

Mudik: Tradisi Tahunan Yang Melelahkan

Monday, October 6th, 2008
Siapa pun tak bisa menyangkal, lebaran atau hari raya Idul Fitri adalah moment istimewa, khususnya bagi umat Islam. Saking istimewanya, sesibuk apa pun aktivitas seseorang, dia akan menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Aktivitas pulang kampung menjelang lebaran inilah yang populer dengan sebutan mudik.
Tak ada yang salah dengan mudik. Sekedar ekspresi keriaan yang dilakukan setahun sekali, setelah terkungkung dalam kesibukan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Maka, libur lebaran benar-benar dimanfaatkan untuk menata kembali hubungan sosial kekeluargaan yang sekian lama terabaikan.
Masalahnya adalah, aktivitas mudik ini dilakukan serempak dan melibatkan sekian ratus juta penduduk Indonesia yang mayoritas merayakan lebaran. Maka, muncullah berbagai masalah – kalau saya boleh menyebutnya demikian – mulai dari soal kemacetan, energi yang terkuras, hingga besarnya jumlah rupiah yang harus dibelanjakan dalam aktivitas mudik ini.
Pergerakan arus manusia secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman secara bersamaan tak pelak lagi menimbulkan kemacetan di banyak tempat. Kondisi ini diperparah dengan tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan, gara-gara tidak adanya kontrol pemerintah soal kepemilikan kendaraan. Lihatlah betapa mudahnya orang memiliki kendaraan (mobil, sepeda motor) di Indonesia, jauh berbeda dibanding negara-negara lain yang sangat ketat dalam hal kepemilikan kendaraan.
Pertimbangan memiliki kendaraan saat ini lebih banyak didasarkan pada soal prestise ketimbang soal fungsi penunjang aktivitas. Belum lagi soal polusi gas buang kendaraan bermotor yang belakangan semakin menggila, bahkan sampai ke pelosok pedesaan yang dulu boleh dikatakan bebas polusi. Polusi suara? Mungkin sama sekali tidak pernah terpikirkan.
Kemacetan, apalagi di saat mudik, sudah pasti mengakibatkan extra cost yang sangat besar. Pada H+3 saja kemacetan sepanjang 8 kilometer terjadi di salah satu titik rawan kemacetan arus balik, Nagreg. Bisa dipastikan bahan bakar yang dihabiskan jauh lebih besar dibandingkan kondisi biasa. Belum lagi kelelahan mental yang dialami pengemudi kendaraan dan penumpangnya, termasuk kerugian waktu yang jika dirupiahkan pasti akan mencapai jumlah yang sangat fantastis.
Kemacetan memang bukan hanya pada saat mudik, terutama di kota-kota besar. Barangkali sudah saatnya pemerintah mulai memikirkan hal ini secara serius. Harus segera dicari solusi dan penanganan yang menyeluruh dan tidak hanya bersifat parsial, seperti yang terjadi selama ini. Ketika Jalan tol Cipularang difungsikan misalnya, yang terjadi hanyalah pemindahan kemacetan dari Jakarta ke Bandung, karena penanganannya hanya bersifat parsial. Mungkin, seperti yang sudah saya singgung di atas, perlu dipikirkan juga soal pengendalian kepemilikan kendaraan bermotor, plus berbagai kebijakan lain yang melibatkan multi disiplin keilmuan.
Kita semua percaya bahwa tidak ada masalah yang tidak disertai dengan jalan keluarnya, sepanjang ada kemauan dan niat untuk memperbaikinya. Semua pihak harus terlibat dalam mencari solusi terbaik, termasuk warga masyarakat, agar menghasilkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak dan bukannya memperparah kondisi yang sudah ada. Jika ini dilakukan dengan serius dan penuh rasa tanggung jawab, kita masih boleh berharap bahwa aktivitas mudik di masa mendatang akan lebih menyenangkan. Mudah-mudahan.

Merasakan Indahnya Kebudayaan yang Sama.

Thursday, September 25th, 2008

Sudahkah kita melihat berita-berita yang ditayangkan oleh media baik cetak ataupun elektronik beberapa hari ini? Peristiwa apakah yang menjadi sorotan utama untuk diberitakan kepada publik selain berita tentang korupsi, kasus kriminal ataupun berita politik? Bila mengingat apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan, kita pasti menyadari bahwa Idul Fitri atau lebaran dan persiapan menjelang ke sana menjadi berita yang menarik untuk diburu oleh para wartawan, kemudian diolah dan disajikan kepada masyrakat. Mengapa Hari Raya Idul Fitri menjadi hal yang sangat istimewa, sehingga mengakibatkan banyak orang mau melakukan suatu ritual tahunan yang sering kita kenal dengan istilah lebaran.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat dan menyadari berapa hari yang telah kita gunakan untuk beraktifitas baik itu bekerja, kuliah, atau aktifitas lainnya. itu merupakan hal yang lumrah, ada orang yang bekerja untuk mendapat penghasilan demi menyambung hidup, ada pelajar dengan kesibukan belajar di sekolah atau perguruan tinggi demi mendapat ilmu pengetahuan, dan banyak pula orang dengan segala aktifitas dan segala kesibukan untuk mencapai tujuan yang beragam. Tapi tiap manusia juga memiliki suatu aktifitas yang ditujukan tidak hanya untuk kepentingan pribadinya namun juga dapat dirasakan kebahagiannya oleh orang-orang disekitarnya yang mereka cintai, tidak lain adalah keluarga.

Banyak cara yang mereka lakukan untuk memperoleh hal tersebut, tidak jarang diperlukan banyak pengorbanan baik tenaga, waktu, bahkan materi dalam jumlah yang tidak sedikit, namun hal itu tidak menyurutkan sedikit pun niat untuk berkumpul bersama sanak saudara, apalagi untuk mereka yang selama ini sudah terpisah jauh. Momen seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.

Lucu, aneh, heran, sedih, bahagia atau masih banyak perasaan yang lain bila kita melihat berita yang menayangkan tentang mudik dan peringatan Hari Raya Idul Fitri. Lucu karena ada saja hal-hal menarik yang pasti terjadi pada peristiwa mudik dan menjelang lebaran, salah satu contoh adalah betapa lucunya ketika setiap orang punya aktifitas yang sama, pasar ramai dengan mereka yang berbelanja menjelang perayaan Idul Fitri, pusat perbelanjaan pakaian ramai dengan mereka yang juga sibuk berbelanja, demi membuat hari raya menjadi lebih indah dengan penampilan baru. Terkadang juga merasa aneh, kenapa? Bukankah bangsa ini sedang mengalami inflasi? Bukankah negara ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi? Lalu mengapa hal tersebut tidak mengurangi animo masyarakat utnuk membuat hari raya nanti menjadi lebih meriah dengan suguhan makanan khas lebaran, yang mungkin hanya dapat dijumpai setahun sekali, ditambah kebahagian anak-anak kecil dengan pakaian barunya yang dibelikan oleh kedua orang tuanya, tanpa perlu mengetahui bahwa mungkin untuk membeli pakaian tersebut orang tuanya harus rela berhutang ke orang lain?

Segala pertanyaan tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk memunculkan kesan negatif terhadap mereka termasuk saya yang merayakan Hari raya Idul Fitri. Coba kita lihat dari sisi lain yang berbeda bahwa nyatanya masyarakat Indonesia dengan segala keragaman budayanya, ternyata masih dapat disatukan dalam satu kebudayaan yang sama yaitu lebaran. Mengapa dikatakan budaya? Pengertian budaya sendiri beragam, ada yang mengatakan budaya adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Perayaan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang selama ini ada di masyrakat kita adalah hasil budaya, karena muncul dari pemikiran yang dipadukan dengan kepercayaan serta moral dan adat istiadat, yang kemudian dijalankan dan diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya.

Namun demikian tidak sepantasnya kita memberi penilaian negatif tentang budaya lebaran yang ada di masyarakat Indonesia, karena dibalik hiruk pikuknya melakukan persiapan menyambut lebaran, masyrakat seolah diberi motivasi tidak langsung untuk melupakan segala kesulitan yang ada. Tanpa bermaksud untuk mengajarkan agar masyarakat menjadi egois, tapi kenyatannya masyarakat Indonesia memang perlu untuk sedikit melupakan kejadian yang membuat sulit hidup mereka. Harga gas yang melambung tinggi, isu tercemarnya produk makanan, partai dan tokoh politik yang saling berebut melakukan kampanye, kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan di DPR, dan kasus kriminal lain yang belum terpecahkan bahkan terus bertambah.

Biarlah masyarakat Indonesia merasakan sedikit kebahagian dengan adanya budaya lebaran, budaya yang mengajarkan kita untuk saling memaafkan kesalahan orang lain dan juga meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan, budaya yang mengajarkan agar kita kembali bersih di hari yang suci, budaya yang mengajarkan kita betapa indahnya silaturahmi, budaya yang mengajarkan kita agar menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta, budaya yang mengingatkan kita, untuk tetap hidup dan berjuang agar dapat merayakan budaya ini pada tahun berikutnya, budaya yang meleburkan si kaya dan si miskin, tua dan muda dan sebagainya dalam satu perayaan megah yang memberi kebahagian. Semoga budaya ini tetap terjaga dan tidak dirampas oleh pihak asing layaknya hasil kebudayaan kita yang lain.