Petaka Mobil Sejuta Umat

Posted: February 27th, 2008 | Author: Ardhi Ridwansyah | Filed under: Ardhi Ridwansyah | Tags: , | 5 Comments »

Kecil itu indah? Entahlah. Tapi yang jelas, bagi Tata, produsen mobil asal India, kecil berarti murah. Bulan lalu, sebuah gebrakan yang inovatif dilakukan perusahaan ini dengan meluncurkan Nano, sebuah mobil mungil seharga $2,500.

Mobil seharga sebuah laptop benar-benar revolusioner. Revolusioner karena ini menjadi semacam trendsetter yang membuat produsen-produsen mobil lain gerah dan latah. Berbondong-bondong mereka melakukan competitior intelligence ke New Delhi Motor Show januari lalu, mengambil gambar si mungil sekaligus mencoba mengorek-ngorek rahasia di balik bengkel.

Mobil-mobil mini sebenarnya sudah cukup banyak membanjiri pasar. Namun Nano jelas beda. Tepatnya, harganya yang beda. Konsep mobil murah Nano memaksa para produsen mobil lainnya untuk memutar otak guna memangkas biaya produksi mereka. Beberapa bahkan sudah mulai ambil ancang-ancang. Renault-Nissan bekerjasama dengan produsen motor Bajaj asal India rencananya akan mengembangkan mobil mini seharga $3,000 sebagai tandingan.

Efek revolusioner yang sesungguhnya dari Nano justru akan dirasakan oleh pihak lain di luar industri automotif. Para konsumen? Itu sudah hampir pasti. Dalam waktu tak lama bisa jadi mereka akan dijejali dengan berbagai pilihan mobil dengan harga yang “di bawah lumrah”. Namun bukan mereka yang saya maksudkan.Efek terdahsyat dari kemunculan mobil mungil ini bisa jadi akan di rasakan oleh entitas yang jauh lebih besar. Ya, warga bumi seluruhnya.

Berdasarkan pengakuan sang pembuat, Nano adalah mobil hemat energi yang bisa melaju sejauh 20 km hanya dengan bermodalkan bahan bakar 1 liter. Dilihat dari parameter ini, Nano memang tergolong “hijau”. Namun kemunculannya dengan harga yang fenomenal bisa menjadi katalisator bagi era baru mobil murah. Dan ini berarti akan ada lebih banyak lagi mobil-mobil berseliweran di atas bumi.

Berdasarkan prediksi Boston Consulting Group, pada tahun 2015 akan ada 100 juta rumah tangga di negara berkembang yang mampu membeli mobil. Dengan tren mobil murah yang diusung Nano, bisa jadi angka ini akan membengkak. Inilah yang akan mengkonsumsi lebih banyak minyak, sekaligus melepaskan lebih banyak gas buangan. Minyak yang saat ini saja sudah dilahap habis-habisan sebanyak 1,000 barel per detk, entah akan tersisa sampai kapan. Minyak punah, bumi makin gerah.

Mobil memang masih menjadi simbol status sosial, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Seorang partner konsultan bahkan pernah berkomentar, “orang Indonesia rela ndak makan asal bisa beli mobil”. Tak heran banyak yang bermimpi ingin punya mobil meski gaji pas-pasan. Maka bisa dibayangkan apa jadinya jika latent demand semacam ini bertemu dengan mobil murah yang ditawarkan para produsen.

Rajendra K. Pachauri, penerima Nobel Perdamaian tahun lalu bersama Al Gore, tak ayal ikut mengomentari Nano. “Sebelum kita melepas binatang ini ke jalanan India, seharusnya kita telaah dulu transportasi umum sebagai pilihan (yang lebih baik)”.

Namun saran dari ahli klimatologi asal india ini serasa jauh panggang dari api untuk negeri ini. Ketidaklayakan transportasi umum serta infrastrukturnya memang masih menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan. Wajar kalau orang lebih betah menyusuri kemacetan dalam mobil ber AC dibanding dalam angkot butut yang penuh aroma keringat.

Meski demikian, sistem transportasi bukan satu-satunya permasalahan. Meski kita punya busway dan kereta ternyaman di dunia, volume mobil di jalanan akan tetap bertambah selama manusia masih berlomba-lomba untuk memamerkan status sosialnya. Kecuali mungkin, ketika mobil tak lagi menjadi simbol yang bisa dibanggakan.

Ah, memang tak mudah hidup sederhana, terutama saat “menengah ke atas” telah menjadi segmen demografi yang kita huni. Terlebih lagi dalam aransemen kehidupan yang serba memuja materi seperti saat ini. Tak heran Allah begitu cintanya kepada mereka yang mampu meletakkan dunia di tangannya, bukan di hati.

Akhir kata, semoga tulisan ini bukan sekedar bentuk kecemburuan sosial dari seseorang yang tiap pagi-petang baru bisa naik KRL listrik yang penumpangnya berdesakan layaknya ikan pindang.

Incoming search terms for the article:


Minyak dan Gaya Hidup

Posted: January 23rd, 2008 | Author: Zainal A. Hidayat | Filed under: Opini | Tags: , , , | No Comments »

Gaya hidup bermobil adalah aspirasi hampir setiap orang. Mobil berbahan bakar minyak dipilih untuk berbagai keperluan. Dari pergi ke tempat kerja, mengantar anak sekolah, pelesir tiap akhir pekan, hingga mengantar jenazah ke kuburan.

Era kejayaan mobil berlangsung sejak lama. Daniel Yergin– dalam The Prize; The Epic Quest for Oil, Money, and Power – menulis, the automobile is the idol of modern age. Pada awal abad ke-20, mobil merupakan simbol status, memberi sensasi berkendara, mengundang decak kagum, dan bagus untuk menarik perhatian wanita. Saat itu, registrasi kendaraan di AS meningkat dari 8000 pada 1900 menjadi 902.000 pada 1912.

Di negara kita, pertumbuhan industri otomotif amat fenomenal. Penjualan mobil tetap laris manis meski harga BBM naik berkali-kali. Kemacetan yang makin menggila, juga tak melepas orang dari gaya hidup bermobil. Satu abad berlalu, namun aspirasi orang terhadap mobil tetap sama.

Mengundang Petaka
Mobil adalah contoh betapa wajah dan adat istiadat masyarakat modern, amat bergantung pada produk minyak. Hanya dalam semalam, Winston Churchill berubah pikiran. Untuk meningkatkan daya sergap kapal perang Inggris, dia mengganti batu bara dengan minyak.

Tak diragukan, minyak memang menghasilkan kecepatan dan kepraktisan. Namun di lain pihak, minyak juga menimbulkan dominasi dan distrosi. Pulau Jawa telah lama memiliki infrastruktur kereta api dan jumlah penduduknya yang padat cocok untuk transportasi jenis ini. Namun, sejak Orde Baru perkembangannya mengalami stagnasi berkepanjangan.

Sebaliknya, transportasi darat yang rakus BBM dinomorsatukan. Lebih tiga dekade, penduduk menikmati insentif agar menganut gaya hidup ke mana pun dengan mobil. Harga BBM terus dipertahankan murah. Orang bisa pergi dari ujung barat Sumatera hingga Nusa Tenggara dengan melintasi jalan raya. Malang tak bisa ditolak, ketika kini dihadapkan pada realitas harga minyak tinggi, jalanan sudah kelewat sesak sedangkan moda transportasi lain tak terurus.

Petaka akibat minyak ada di mana-mana. Timur Tengah pada abad pertengahan, merupakan pusat ekonomi dan ilmu pengetahuan selama ratusan tahun. Tetapi ketika minyak dalam jumlah besar ditemukan di sana, negara-negara Arab justru mengalami kemunduran peran. Meminjam istilah Fareed Zakaria, minyak telah menghambat inovasi dari dalam (homegrown inovation).

Oil Rich, Science Poor. Demikian bunyi laporan majalah sains bergengsi Nature (November 2006). Negara Teluk mengimpor semua know how yang dibutuhkan agar minyak terus mengalir dari perut bumi. Riset tak dikembangkan, bahkan sekadar untuk mencari teknologi desalinasi yang dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan air. Begitupula dengan riset reproduksi unta sebagai olahraga favorit di tanah Arab.

Dengan alasan ini, usulan delegasi Indonesia agar negara-negara yang tergabung dalam OPEC menyisihkan rezeki minyak untuk pendidikan (oil for education), sebenarnya ibarat menggantang asap. Bagi negara kaya minyak, “emas hitam” dipandang menjamin kemakmuran dan tak mensyaratkan kecerdasan.

Di negara Teluk, minyak cukup dipakai untuk “membeli” rakyat dengan secuil kesejahteraan. Sebagian lagi untuk membayar polisi dan tentara agar selalu siaga menggebuk mereka yang menuntut perubahan. Dan porsi terbesar, dipakai mendanai proyek mercusuar dan membiayai gaya hidup para pangeran, seperti memesan “Istana Terbang” Airbus A380.

Mengubah Gaya Hidup
Aeilko Jans Zijlker adalah orang yang pertama kali menemukan dan mengeksploitasi minyak di Sumatera pada 1880. Sejak itu, pencarian dan pengeboran minyak di Indonesia terus menerus mengandalkan kecerdasan dan modal bangsa lain.

Di sisi lain, kini pemerintah tampak mereduksi persoalan krisis minyak terbatas pada beban subsidi. Indikasinya, pemerintah akan memaksakan “kenaikan harga” dengan meniadakan pasokan premium dari pompa bensin di jalur padat serta jalan protokol Jakarta dan Surabaya.

Tak ada jaminan cara ini akan berjalan mulus dan efektif. Apalagi, langkah itu sama sekali tidak menyentuh akar masalah sesungguhnya. Konsumsi minyak akan tetap tinggi jika industri otomotif tidak pernah diarahkan memproduksi dan memasarkan mobil berbahan bakar non-minyak (hibrid).

Pilihan bagi Indonesia memang kian sedikit. Cadangan minyak bumi diketahui semakin menipis. Dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan ditambah gaya hidup masyarakat yang belum lepas dari pengaruh emas hitam itu, cadangan tersisa di perut bumi tak akan cukup memenuhi kebutuhan domestik.

Namun demikian, sedikit minyak seharusnya membuka peluang Indonesia lebih makmur. Banyak bukti, sumber daya alam bukanlah faktor kunci yang menentukan kinerja ekonomi. Episode pembangunan di negara-negara Asia Timur secara tegas menunjukkan hal itu.

Saatnya, pemerintah dan masyarakat menanggalkan gaya hidup dan alam pikiran yang terdistorsi oleh minyak.

Incoming search terms for the article: