AKU: Sim Card Canggih Multifungsi Sebuah Inovasi Value Added Service yang Lengkap dan Terdepan

Posted: December 10th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | Tags: , | No Comments »

Dampak negatif dari adanya perang tarif adalah memburuknya pendapatan operator telekomunikasi dan menurunnya kualitas layanan (sinyal) komunikasi yag dialami masyarakat selaku konsumen. Padahal, kedua hal itu merupakan parameter penting dalam mengukur kinerja sebuah perusahaan. Untuk itu, agar dapat memenangkan persaingan, sebuah operator telekomunikasi harus cepat-cepat keluar dari perang tarif dan menemukan cara yang lebih ampuh dari sekedar menurunkan tarif.

Menurut penulis, cara yang paling tepat adalah dengan menerapkan blue ocean strategy atau strategi “samudera” biru. Strategi ini fokus untuk menciptakan ceruk pasar baru melalui inovasi dan penciptaan produk yang luar biasa. Yaitu produk yang tidak hanya memiliki nilai tambah baru, tetapi juga dapat menjadi standard setter, price maker, dan value innovator di kategori industrinya.

Salah satu implementasi dari blue ocean strategy adalah dengan menciptakan sebuah inovasi layanan nilai tambah (value added service) yang mampu mendobrak pikiran dan merubah perilaku dalam berkomunikasi sehingga menjadi lebih efektif, positif, dan sangat efisien. Karena memang, di era yang serba canggih dan maju, masyarakat selalu menuntut berbagai kemudahan kepada perusahaan penyedia jasa seperti operator telekomunikasi.

Untuk itu, penulis mengusulkan AKU, sebuah sim card canggih multifungsi yang berorientasi masa depan. Artinya, sim card ini mampu memberikan value added service (VAS) yang banyak dan siginifikan dalam mempermudah segala aktivitas kehidupan manusia.

Sebenarnya, ide AKU ini berawal dari terlalu banyaknya kartu atau identitas diri yang harus selalu dibawa dalam dompet penulis. Mulai dari kartu tanda penduduk (KTP), kartu ATM, kartu JAMSOSTEK, kartu kredit, sura izin mengemudi (SIM), kartu asuransi, kartu nomor pokok wajib pajak (NPWP), dan sebagainya. Nah, jika ada sebuah sim card yang dapat membantu atau mewakili semua fungsi dari kartu pribadi tersebut, maka berbagai kemudahaan dan kesederhanaan akan terjadi.

Untuk langkah awal, peluncuran Sim Card AKU ini dapat memberikan beberapa layanan utama yang dapat mewakili fungsi dari KTP (misal daerah Jakarta terlebih dahulu), SIM, NPWP, dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Keempat fungsi tersebut dapat lebih mudah untuk direalisasikan mengingat masyarakat yang memilikinya sudah berkategori dewasa dan memiliki handphone berikut sim card-nya. Dan juga, keempat fungsi tersebut dapat lebih cepat dirasakan manfaatnya.

Keuntungan
Setidaknya, ada tiga keuntungan besar yang dapat dirasakan dengan menerapkan AKU. Pertama, karena sejak awal sim card telah bersifat elektronik dan memiliki data base yang terintegrasi, maka langkah untuk menjadikannya sebagai single identity number tidak membutuhkan effort besar dari awal. Apalagi, sim card (bersama handphone) telah teruji dapat digunakan untuk keperluan perbankan yang menuntut tingkat keamanan yang tinggi. Sehingga, tinggal melakukan pengembangan saja.

Kedua, banyaknya kemudahaan yang dapat dihasilkan dari efektivitas dan efisiensi penggunaan sim card sebagai single identity number. Kemudahaan ini tidak hanya dirasakan masyarakat sebagai pengguna, tetapi juga pemerintah dengan berbagai unsur di bawahnya. Seperti misalnya kepolisian ketika ingin mengecek pengurusan SIM dan status kendaraan bermotor. Atau, bagi departemen keuangan (pajak) ketika mengecek nomor pokok wajib pajak dan statusnya. Bahkan bagi para mahasiswa ketika ingin melakukan daftar ulang di kampus.

Ketiga, kesederhanaan. Dengan adanya satu nomor handphone (AKU), maka akan banyak terjadi kesederhaaan dalam berbagai hal. Semua yang sifatnya kompleks menjadi lebih simple. Karena memang hanya satu nomor yang dapat mewakili seseorang. Alhasil, semuanya akan menjadi lebih mudah dan berbagai kejahatan penipuan melalui handphone pun akan tereduksi.

Tantangan
Namun tetap ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai tantangan. Pertama, faktor keamanan jika sim card AKU bersama handphone-nya hilang. Solusinya, tentu setiap orang dapat melaporkan ke galeri operator (misal XL) yang terdekat dengan mudah. Dan setiap kali penggunaan handphone dengan sim card AKU, selalu dilindungi oleh password yang hanya diketahui oleh pemiliknya. Sehingga, menjadi sangat aman seperti halnya dalam penggunaan kartu ATM ketika ingin bertransaksi.

Tantang kedua adalah teknologi handphone yang mendukung. Namun hal ini jangan terlalu dirisaukan. Karena saat ini, ketika teknologi pembuatan handphone semakin canggih dan tidak lagi mahal, maka setiap handphone dapat dibuat dengan mendukung berbagai layanan nilai tambah ini.

Tantangan ketiga, cakupan layanan (VAS) yang dimiliki AKU perlu diperbanyak lagi. Sehingga, dengan adanya AKU, mayarakat akan menjadi lebih dimudahkan dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Tindak Lanjut
Ketika berbagai manfaat telah diketahui dan tantangannya telah diukur, tinggal bagaimana bersama-sama menindaklanjutinya. Karena memang, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Seperti misalnya dengan pemerintah daerah, pihak universitas, kepolisian, dan departemen keuangan (pajak). Kerjasama ini tentu dilakukan berdasarkan dengan tujuan yang akan dicapai.

Dan terakhir, ketika sebuah operator telekomunikasi dapat memulai strategi ini lebih awal (pionir) dibandingkan pesaingnya, bukan tidak mungkin akan menjadi yang terdepan dalam hal inovasi dan penguasaan di pangsa pasar baru. Operator telekomunikasi ini pun jelas akan menjadi pemenang dengan berbagai kelebihannya yang tidak dimiliki semua pesaingnya.***


“Mengawinkan” Marketing dan Politik

Posted: April 9th, 2008 | Author: Veri Nurhansyah Tragistina | Filed under: Resensi Buku | Tags: , | 2 Comments »

 

Marketing Politik

Sejatinya marketing dan politik adalah dua disiplin ilmu yang bertolak-belakang. Rasionalitas marketing mengacu pada persaingan dengan tujuan memenangkannya secara efektif. Pada titik ini marketing menjadi media untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin. Sebaliknya rasionalitas politik bergerak pada tataran poses menciptakan tatanan masyarakat yang ideal melalui sistematisasi perebutan kekuasaan.

Kini, diakui atau tidak “perkawinan” diantara keduanya telah melahirkan suatu disiplin ilmu baru yang kontroversial bernama “marketing-politik”. Semenjak kelahirannya marketing-politik telah menghembuskan angin perdebatan antara pihak yang pro dan kontra. Kelompok pro menganggap aplikasi marketing dalam konteks politik bergerak pada tataran kontekstual, bahwa person pun termasuk kategori produk yang membutuhkan marketing untuk “menjualnya”. Selain itu, berdasarkan catatan Wring (1996) aktivitas marketing-politik telah digunakan sejak Pemilu di Inggris pada tahun 1929. Ketika itu, Partai Konservatif menggunakan agen biro iklan (Holford-Bottomley Advertising Service) dalam membantu mendesain dan mendistribusikan poster (h.160).

Pada sisi lain, kelompok kontra menganggap aplikasi marketing pada konteks politik justru menimbulkan kegamangan normatif dalam konteks komersialisasi politik. Mereka mendasarkan pada filosofi marketing yang bergerak pada aras pengejaran keuntungan belaka. Kondisi ini pada akhirnya akan membuat kerusakan sistem sosial yang seharusnya terdiri dari spesialisasi fungsi (Parson, 1971).

“Transdiciplinarity”

Buku ini mencoba memberikan pemahaman secara filosofis maupun teknis mengenai marketing-politik sebagai suatu disiplin ilmu. Firmanzah nampaknya ingin mengabarkan jika sekarang adalah eranya transdiciplinarity seperti yang didengungkan Nicolescu. Karena benarlah jika suatu ilmu akan lebih cepat berkembang manakala terjadi proses tarnformasi pengetahuan antar ragam disiplin ilmu. Pragmatisnya, perkawinan ini akan menciptakan proses simbiosis mutualisme antara marketing dan politik itu sendiri.

Kekhawatiran akan rusaknya sistem sosial akibat perkawinan ini tampaknya ingin disanggah oleh Firmanzah dengan mengutip statement A. O’Cass yang berkisar pada kontekstualitas marketing. Marketing—kata O’Cass secara filosofis menjadi suatu tools untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat (baca: pemilih). Dengan demikian, aplikasi marketing dalam politik justru membantu para kontestan ataupun partai politik untuk mengetahui aspirasi masyarakat secara komprehensif. Hal ini pada akhirnya akan memudahkan parpol atau kontestan untuk menyusun platform- nya ketika berkampanye ataupun setelah berkuasa.

Kontribusi Marketing

Senada dengan O’Cass, Scammel berpendapat bahwa marketing sangatlah kontributif dalam dunia politik praktis. Marketing justru menjadi strategi (laiknya riset pasar) dalam memahami dan menganalisis keinginan atau kebutuhan pemilih. Dalam konteks ini, marketing berguna bagi parpol untuk melakukan riset pra-pemilu sehingga apa yang disuarakan dan diperjuangkannya kelak akan tepat sasaran.

Pada titik lain, marketing juga membuat politik—tepatnya jargon-jargon politik menjadi down to earth. Pada konteks ini, marketing menjadi alat “penyambung lidah” kontestan dengan pemilih. Marketing berkontribusi merumuskan kebijakan-kebijakan politik ke dalam bahasa-bahasa ringan maupun pemanfaatan ragam media sehingga informasi tersebut dapat sampai ke benak pemilih. Dengan demikian, tidak ada cerita memilih “kucing dalam karung” dalam proses pemilihan umum.

Tidak hanya sisi filosofis saja yang dibahas dalam buku ini, tapi juga sisi teknis seperti aplikasi bauran marketing (marketing mix) dan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (S-T-P) dalam politik. Penulis buku ini menjelaskan alur pemikirannya secara terstruktur dan rinci, walaupun kemudian terlihat banyak bahasan yang masih berada pada tataran permukaan saja tanpa menyentuh substansinya.
Judul Buku : Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas

Penulis : Firmanzah, Ph.D.

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Halaman : xii+358 halaman; 14,5 x 21 cm

Incoming search terms for the article:


Sports, Marketing dan Entertainment

Posted: March 28th, 2008 | Author: Ilhamdi | Filed under: Opini | Tags: , , , | 2 Comments »

Salah satu kegiatan pemasaran yang cukup kuat dalam merebut hati konsumen dengan mengendarai olahraga. Jika digarap serius maka daya tarik sport marketing amat ampuh bagi pemasar dalam memperkuat brand awareness. Apakah kegiatan ini juga cukup efektif dalam membangun emotional relationship yang kuat?

Kompetisi Liga Djarum Indonesia, Copa Indonesia, Indonesian Basket ball League, Tennis Commenwealth WTA, Piala Coca-Cola dan kegiatan olahraga lain yang masih berjalan adalah bukti nyata bahwa perkembangan sport marketing di Indonesia terus meningkat, dari sisi kualitas maupun kuantitas. Gairah masyarakat dalam menonton sebuah kompetisi olahraga, terutama pada cabang olahraga populer sangatlah besar. Lonjakan penonton pada setiap momen olahraga tentunya menjadikan makin besarnya kisaran bisnis di lahan ini. Sebut saja PT Djarum dan PT HM Sampoerna Tbk yang berani mensponsori pertandingan Liga Indonesia dan Copa Indonesia. Untuk satu putaran Liga, Djarum mengelontorkan dana sekitar Rp 35 miliar hingga Rp 50 miliar. Bayangkan untuk dua putaran, setidaknya Djarum memasok anggaran sekitar Rp 70 miliar- Rp 100 miliar. Bila Djarum mensponsori lima kegiatan olahraga di cabang berbeda, paling tidak bujet Djarum dalam menggelar kegiatan sport marketing antara Rp 300 miliar-Rp 500 miliar. Belum lagi dana yang dipasok dari sponsor pendukung dari sebuah event, juga TV partner, merchandise dan sebagainya. Bisnis yang fantastik !
Copa Indonesia dan Indonesia Basketball League (IBL) yang digelar di beberapa kota.

“Menjual Daya Tarik Sport Marketing” .majalah cakram edisi September 2007.

Itulah kutipan informasi yang ada di majalah cakram ,Tapi ada yang memilki nilai lebih dari semua itu adalah impian agar olahraga kita mampu menjadi profesionalisme lagi baik dari sisi bisnis atau pun juga dari sisi teknis olahraga itu sendiri.Lihat saja premier league liga inggris yang mampu membangun fondasi bisnis dan membuat area sport marketing untuk tim olahraga mereka sendiri.Meskipun akirnya dikenal ” rakus ” tapi itulah point plus yang ditawarkan pengelola tim tim liga inggris bersama FA ( PSSI -nya Inggris ) dan juga sponsor utama mereka sebuah perusahaan asuransi Barclayd.Sport marketing sekarang tidak hanya menjadi milik sebuah perusahaan yang berkepentingan saja.Tetapi mulai milik tim – tim atau klub peserta.Cara ini sudah mulai ditunjukkan PSSI dengan membangun format liga super yang membuat klub tidak lagi mendapat dana dari pemerintah melainkan mereka berorganisasi sendiri untuk mendapatkan dana dan mengelola tim mereka lebih dari sekedar bermain di lapangan. IBL sebagai kompetisi kasta tertinggi basket tanah air sudah mulai melakukan hal tersebut dampaknya di beberapa kaos tim terpampang beberapa sponsor entah itu untuk sponsor utama atau pun sponsor apparel.Sport marketing tidak hanya berbicara tentang megelola marketingnya tapi bagaimana mengelola entertainment menjadi sebuah produk marketing baik itu secara teknis atau non teknis.
NBA ,liga basket terkenal di dunia melakukannya ,dari sisi teknis mereka menampilkan permainan tim yang menghibur yang bahkan keluar dari pakem basket ” text book “.Semuanya untuk menghibur dan memilki daya jual agar timnya digemari oleh para fans .Dari sisi non teknis basket itu sendiri bagaimana kita melihat gerakan cheerleaders yang menghibur di sela – sela waktu istirahat pemain juga memiliki nilai jual sehingga secara keseluruhan NBA memiliki daya jual yang bagus di mata para beberapa perusahaan agar menananmkan investasi mereka di Liga basket Tertinggi di Amerika tersebut.
Entertainment lainnya dapt dilihat di liga Inggris selain secara permainana mereka telah berubah dari kick and rush yang membosankan ala Inggris sekarang mereka berhasil mendatangkan pemain – pemain bintang untuk menjual daya tarik klub mereka bahkan diantaranya ada yang melaukkan ” ekspansi ” ke Asia,untuk memperoleh market yang besar dengan entertainment yang tinggi .Dari sisi non teknis lihat para supporteer mereka yang begitu hormat akan sebuah pertandingan sepakbola meskipun para fans tidak begitu senang dengan hasil akhirnya.Yang ada malahan dukungan tiada henti meski pun mereka harus terus tenggelam dalam sebuah hal yang tidak disukai oleh fans mana pun dalam mendukung timnya.
Kita semua tentunya sebagai bangsa Indonesia memang harus belajar banyak akan hal ini tanpa meruntuhkan cultur kita sebagai bangsa dalam kegiatan olahraganya ,Sepakbola ,Bulutangkis, Basket atau pun Voli adalah olahraga yang merakyat di Indonesia.Sekarang mereka sedang mencoba untk berporses ke arah sana dimana marketing dan gabungan atara sports dan entertainment manjadi satu sehingga semua elemen yang ada di dalam oalhraga menjadikan kita sebagai sebuah bangsa yang mampu dihormati,disegani dan dihargai lebih dari sebuah sekedar konfrontasi atau perang psikologis politik.

Incoming search terms for the article: