Posted: January 25th, 2008 | Author: Tengku RV | Filed under: Opini | Tags: idealisme, intelektual, mahasiswa, peradaban | 1 Comment »
Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia
SUASANA politik tanah air tetap memanas. Dialektika politik kian hari kian merasuki semua sendi kehidupan rakyat Indonesia di segala lapisan. Dari semua itu, geliat pergerakan mahasiswa melahirkan fenomena menarik dan patut diperhatikan. Bukan apa, mahasiswa dengan kekuatan moralnya telah terbukti menjadi kekuatan berpengaruh sejak zaman pra kemerdekaan sampai saat ini.
Bagi mahasiswa dengan segudang idealismenya, mencapai sebuah kemajuan tidak mengenal kata akhir. Untuk itu, sikap kritis dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada harus selalu melekat pada diri mahasiswa. Dengan sikap tersebut sama artinya mahasiswa telah menempatkan diri sebagai oposisi nonstructural(oposisi yang jauh dari politisasi) yang bisa mendatangkan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan jika sikap oposisi ini dilakukan secara bersama-sama, pasti bisa mendatangkan kekuatan berlipat ganda untuk mempercepat perbaikan bangsa.idealnya sperti itu.
Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa — sebagai perpanjangan aspirasi rakyat —- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan.
Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.yang pada akhirnya kita dapat menganalogikan gerakan mahasiswa tersebut sebagai pergerakan seorang koboi ,dimana ketika terjadi distorsi ditengah masyarakat yang melibatkan pemerintah, sang koboi yang datang dari daerah antah barantah berjuang berlandaskan hati nurani dan kemudian setelah perjuangannya usai dalam artian mencapai tuntutan masyarakat sang koboi akan balik kekandang tanpa mengharapkan balasan dari new govermens atau masyarakat setempat.
Jadi merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa untuk berjuang ketika terjadi pembodohan dan penindasan oleh penguasa karena mahasiswa adalah ikon sekaligus motor pergerakan dalam menghadapi kesewenang wenangan,hal ini mengingat bahwa mahasiswa diberi kelebihan berfikir melalui pola pola yang lebih intelektual dalam konteks memulai dan mengakhiri pergerakan dengan cara yang indah dalam upaya mengurangi distorsi kepentingan pribadi dan kelompok menuju kepentingan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 14th, 2008 | Author: Wanda Listiani | Filed under: Opini | Tags: analisis, berpikir, buku, kritis, mahasiswa | 1 Comment »
Masih melekat dalam ingatan saya, pertanyaan adik sepupu yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas tentang berpikir kritis, ”Mba, kalau menjadi mahasiswa harus kritis ya?” atau ”Kalau sambil kerja kita boleh kritis ngga mba?”. Waktu itu saya tidak tahu jawaban apa yang tepat untuknya. Apa yang dimaksud dengan kata kritis dalam pikirannya?. Dan kritis terhadap apa?.
Saya seorang mahasiswa perguruan tinggi terkenal di kota Bandung, saya juga pernah sekolah menengah tapi waktu itu saya tidak pernah bertanya macam-macam. Saya hanya bisa mengangguk apa yang bapak atau ibu guru katakan. Saya tidak pernah bertanya kenapa begitu dan mengapa begini?.
Berbeda dengan dulu, saya tidak bisa berdiam diri. Berbagai buku telah meracuni pikiran saya. Buku-buku itu mengajak saya untuk berpikir tentang apa yang telah dan akan terjadi. Di sebuah perpustakaan, saya menemukan arti kritis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989:466), kritis merupakan sifat yang tidak dapat lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; tajam di penganalisisan.
Tidak lekas percaya, berusaha menemukan kesalahan dan tajam dalam menganalisis apakah hanya itu?. Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (2006:339), menyebut kritis sebagai tajam, teliti, peka, perseptif, responsif, tanggap dan vokal. Kata kritis sangat dekat dengan keras, ketus, menusuk, menyakitkan, pedas dan sederetan kata yang mengandung makna negatif lainnya. Saya pun mengangguk-angguk setuju tentang kedekatan kata itu. Sikap kritis kadang membuat diri kita harus mengorbankan studi, karir, nyawa seperti yang ada di koran-koran. Seorang buruh ditemukan tewas mengenaskan, kegiatan mahasiswa harus dibekukan untuk sementara, atau seorang karyawan diberhentikan secara mendadak karena kekritisan mereka terhadap berbagai aturan-aturan yang berlaku.
Kata kritis juga dekat dengan seseorang yang suka meneliti. Seseorang yang tidak jauh dengan kegiatan mengamati, menekuni, mengobservasi, mempelajari dan sebagainya.
Kegiatan yang selalu saya jumpai dalam kuliah, di setiap tugas-tugas desain atau pun tugas akhir; mempelajari fenomena desain, mengamati terbatasnya ruang bermain anak, menekuni teori estetika, mengobservasi tekstil majalaya dan berbagai kegiatan yang menuntut saya bertanya, mengapa, dimana, kapan, bagaimana, siapa menjadi subyek dan obyeknya. Atau kadang saya berpikir struktural mencari kata-kata yang bermakna seperti siang-malam, baik-buruk, untung-rugi, pintar-bodoh, kaya-miskin. Tidak hanya berhenti pada satu kata melainkan apa relasi antara satu kata dengan kata lain, satu istilah dengan istilah lain, terus berulang-ulang sampai saya menemukan jawaban dalam keterulangan yang menurut saya sebagai tanda atau simbol.
Menurut J.S. Badudu (2005:20) kata kritis termasuk dalam kata-kata serapan. Kata-kata yang memberi penawaran makna. Ketika membaca definisi kritis adalah keadaan krisis, gawat atau genting. Saya akan membaliknya pada sebuah pengalaman sebagai mahasiswa atau pun sebagai seorang karyawan, keadaan krisis, gawat atau genting itulah yang membuat saya berpikir kritis. Dengan kata lain, saya akan berpikir kritis ketika saya merasa terdesak atau dalam keadaan genting. Sikap kritis itu begitu saja muncul seperti ide atau mood yang begitu saja menggerakkan semua organ tubuh untuk merespon keadaan tersebut.
Sampai disini, saya pun semakin penasaran dengan kata kritis itu. Apalagi yang ditawarkan darinya?.
Bahan Bacaan :
Badudu, J.S., 2005. Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia, Jakarta : Buku Kompas
Endarmoko, Eko, 2006. Tesaurus Bahasa Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka
Incoming search terms for the article: