Dibalik Kesuksesan Moodle

Posted: March 15th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso | Tags: , , , , , | No Comments »

“I’m committed to continuing my work on Moodle and on keeping it Open and Free. I have a deeply-held belief in the importance of unrestricted education and empowered teaching, and Moodle is the main way I can contribute to the realisation of these ideals.” – Martin Dougiamas

Siapa tak kenal Moodle? Rata-rata orang yang berkecimpung dalam bidang e-Learning khususnya dari bidang pendidikan, psikologi, serta ilmu komputer mengenal Moodle. Moodle sendiri merupakan singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment. Learning Management System (LMS) ini merupakan salah satu LMS papan atas berbasis open source. Statusnya yang berbasis open source membuat banyak orang tertarik menggunakannya.

Dalam sehari Moodle di-download ribuan kali dari berbagai penjuru dunia. Hingga saat ini tercatat Moodle telah di-download ratusan ribu kali. Itu artinya bila kita berasumsi 40% saja yang berhasil diimplementasikan, saat ini sudah ada puluhan ribu situs e-Learning berbasis Moodle yang dimanfaatkan untuk pelatihan maupun pendidikan (formal dan nonformal). Data statistik resmi Moodle menyatakan bahwa sekitar 40.000 situs teregistrasi dari 196 negara, terdapat 84 situs dengan pengguna lebih dari 20.000 orang dimana pengguna terbanyak dipegang Facolt dengan 582 mata ajar dan 81665 pengguna, total pengguna yang register di Moodle sebanyak 403169 pengguna, dan total download bulanan paling fenomenal terjadi pada bulan November 2007, yaitu sebanyak 96414 kali. Fantastis bukan?

Terkait implementasi Moodle, ada pihak yang benar-benar mengimplementasikan 100 persen apa adanya tanpa perubahan, namun ada pula yang mengimplementasikan dengan melakukan kustomisasi terlebih dahulu. Biasanya kustomisasi dilakukan pada tataran disain antarmuka serta integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki atau berjalan sebelumnya. Sifatnya yang modular semakin mempermudah pengguna dalam melakukan kustomisasi.

Sang Arsitek Dibalik Kesuksesan Moodle

Kita tahu bahwa sebenarnya Moodle bukanlah pemain pertama dalam LMS. Sudah lumayan banyak LMS yang telah eksis sebelum kemunculannya. Berdasarkan data dari EduTools saat ini tercatat sudah puluhan LMS yang eksis dengan berbagai platform. LMS berbasis proprietary tercatat ada ANGEL LMS juga BlackBoard. LMS berbasis open source tercatat ada Moodle, Sakai, Claroline, ATutor, Dokeos, dll.

Dengan melihat apa yang sudah dicapai Moodle saat ini, wajar rasanya bila kita ingin mengetahui siapa ‘arsitek’ Moodle. Siapa gerangan yang memiliki ide cemerlang ini. Dialah Dr. Martin Dougiamas. Martin merupakan seorang doktor berlatar belakang pendidikan dengan kemampuan ilmu komputer yang sangat bagus.

“My strong beliefs in the unrealised possibilities of Internet-based education led me to complete a Masters and then a PhD in Education, combining my former career in Computer Science with newly constructed knowledge about the nature of learning and collaboration. In particular, I am particularly influenced by the epistemology of social constructionism – which not only treats learning as a social activity, but focusses attention on the learning that occurs while actively constructing artifacts (such as texts) for others to see or use.” – Martin Dougiamas

Filosofi pembelajaran yang diadopsi Martin dalam LMS-nya ini adalah Social Constructionist Pedagogi. Ada empat konsep utama di belakang istilah pedagogi tersebut, yaitu Constructivism, Constructionism, Social Constructivism, dan Connected & Separate.

Pertama, Constructivism. Pandangan ini berpendapat bahwa manusia secara aktif membangun (construct) pengetahuan baru saat berinteraksi dengan lingkungannya. Apapun yang seseorang lakukan baik membaca, melihat, mendengar, merasakan, dan menyentuh selalu dihubungkan dengan pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya (prior knowledge). Pengetahuan dapat diperkuat bila seseorang dapat menggunakannya dengan sukses dalam lingkungan yang lebih luas. Seseorang bukanlah hanya bank memori yang secara pasif menyerap informasi, ataupun pengetahuan dapat ditransmisikan pada seseorang hanya dengan membaca sesuatu atau mendengarkan seseorang berbicara.

Namun hal ini bukan berarti seseorang tidak dapat belajar apa-apa dari membaca sebuah halaman web atau mengikuti pelajaran, tentu seseorang tersebut bisa, tetapi lebih menekankan bahwa ada interpretasi lebih dari pada hanya sekadar transfer informasi dan satu otak ke otak yang lain.

Menurut Mohamed Ally (Athabasca University) pada bab Foundations of Educational Theory for Online Learning dalam buku Theory and Practice of Online Learning, implikasi teori pembelajaran Konstruktivisme pada pembelajaran online antara lain sebagai berikut: (1) proses pembelajaran berlangsung secara aktif; (2) pembelajaran mampu mengkonstruksi pemahamannya sendiri daripada menerima apa adanya apa yang disampaikan pengajar. Konstruksi pengetahuan difasilitasi menggunakan instruksi online interaktif yang baik (Murphy & Cifuentes, 2001); (3) pembelajaran berbasis kolaboratif dan kooperatif ditantang untuk memfasilitasi pembelajaran konstruktivisme (Hooper & Hannafin, 1991; Johnson & Johnson, 1996; Palloff & Pratt, 1999); (4) pembelajar diberikan kontrol atas proses pembelajaran; (5) pembelajar diberi waktu dan kesempatan untuk melakukan refleksi dan internalisasi informasi; (6) pembelajaran dibuat agar mampu menghasilkan makna bagi pembelajar; dan (7) pembelajaran perlu dilakukan secara interaktif untuk menciptakan higher-level learning dan social presence, serta membantu dalam mengembangkan pemaknaan pribadi (personal meaning).

Kedua, Constructionism. Constructionism menyatakan bahwa belajar sangat efektif dilakukan pada saat menjelaskan suatu konsep/hal bagi orang lain dalam rangka membangun pengalaman (experience). Hal ini dapat berupa apapun baik dari kalimat pernyataan atau postingan internet, hingga pada artifacts seperti lukisan, sebuah rumah atau sebuah paket perangkat lunak.

Sebagai contoh misalnya seseorang membaca halaman tertenu dari buku hingga beberapa kali namun tetap saja lupa pada keesokan hari- namun jika seseorang mencoba untuk menjelaskannya ide-ide yang ada dalam halaman buku tersebut pada orang lain dalam format improvisasi bahasa sendiri, atau menghasilkan sebuah slideshow yang menjelaskan konsep-konsep, akan dapat dijamin bahwa seseorang akan memiliki pemahaman yang lebih baik dimana pemahaman yang diperoleh lebih terintegrasi dalam pemikiran seseorang. Hal inilah mengapa seseorang yang mencatat pada saat kuliah, walaupun dia tidak pernah membaca catatannya kembali.

Ketiga, Social Constructivism. Social Constructivism akan memperluas ide-ide di atas ke dalam sebuah kelompok (social group), secara kolaboratif menciptakan budaya kecil dalam membagi artifacts dengan membagi meanings. Ketika seseorang ‘membenamkan’ atau melibatkan diri dalam dalam budaya seperti ini, seseorang akan belajar sepanjang waktu bagaimana cara menjadi bagian dari budaya tersebut, pada banyak level.

Contoh yang sangat sederhana adalah obyek seperti sebuah cangkir. Obyek tersebut dapat digunakan untuk banyak keperluan, namun bentuknya telah memberikan sugesti beberapa pengetahuan mengenai penampung cairan. Contoh yang lebih kompleks adalah sebuah sebuah online course – yang tidak hanya bentuk dari perangkat lunak yang mengindikasikan sejumlah cara bagaimana seharusnya online courses bekerja, namun aktivitas-aktivitas dan teks yang dihasilkan dalam grup secara keseluruhan akan membantu bagaimana tiap orang bertingkah laku dalam sebuah grup.

Keempat, Connected and Separate. Ide ini melihat lebih dalam berbagai motivasi dari individu dalam sebuah diskusi. Perilaku yang terpisah (separated behaviour) ketika seseorang cenderung untuk mempertahankan ide masing-masing menggunakan logika untuk menemukan celah pada ide yang berseberangan dengannya. Perilaku terhubung (connected behaviour) merupakan pendekatan yang lebih empatik dalam menerima subjektivitas, mencoba untuk mendengarkan dan bertanya sesuatu sebagai upaya untuk memahami sudut pandang yang berbeda. Perilaku terkonstruksi Constructed behaviour adalah ketika seseorang sensitif pada kedua pendekatan dan mampu memilih diantara keduanya pada situasi yang sesuai.

Secara umum, connected behaviour dalam sebuah komunitas pembelajaran adalah sangat powerful, tidak hanya membawa kedekatan antar sesamanya tetapi juga menawarkan refleksi yang lebih mendalam dan pengecekan kembali atas pemahaman-pemahaman yang diyakini.

Moodle dengan berbagai macam fitur yang dimiliki mampu merealisasikan berbagai implikasi yang perlu diperhatikan sebagaimana tersebut di atas. Secara umum, kekhasan LMS ini adalah kemampuan mengkombinasikan fasilitas Resources dan Activities dengan manajemen yang terstruktur di masing-masing topik pembelajaran.

Daya Saing dan Masa Depan Moodle

Dengan makin banyaknya pemain LMS baik yang berbasis vendor maupun open source, tentu bukanlah hal mudah bagi Moodle untuk terus mengokohkan eksistensi diri. Walaupun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi dengan berbagai inovasi dan sumber daya yang dimiliki.

Selain memiliki situs resmi untuk komunitas, yaitu moodle.org, Moodle juga memiliki situs resmi untuk layanan jasa, yaitu moodle.com. Situs resmi komunitas digunakan untuk membangun komunitas dan maintain perkembangan sistem dari segi teknis. Sementara situs layanan jasa digunakan untuk menggaet kustomer. Layanan yang diberikan Moodle diantaranya adalah penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi, dll.

Paradigma berorientasi layanan yang digunakan Moodle akan semakin memantapkan langkah LMS ini untuk menjadi pemain utama. Dengan paradigma ini, pengguna dapat dengan leluasa melakukan pengaturan atas fasilitas yang ada dalam mendukung proses belajar mengajarnya. Tercatat saat ini sudah ada banyak modul dalam Moodle di antaranya assignment, chat, choice, data, forum, glossary, journal, label, LAMS, lesson, quiz, resource, SCORM, survey, wiki, workshop, dll. Belum lagi ‘plugins’ buatan non-core developer-nya yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Lengkaplah sudah. Saat ini tinggal kemauan masyarakat kita dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia ini untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di Indonesia sendiri sudah banyak individu maupun institusi yang memanfaatkan Moodle. Andakah salah satunya?

Incoming search terms for the article:


Makin Kokohnya Open Source LMS

Posted: January 16th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso, Kolom | Tags: , , | 1 Comment »

Bingung. Itulah perasaan saya yang sempat hinggap ketika membuka situs WebCT. Ya, kini situs tersebut sudah dialihkan ke Blackboard. Kok bisa? Rupanya mereka merger.

Sebenarnya mergernya perusahaan kenamaan ini sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Oktober 2005. Salah satu keputusannya perusahaan akan menggunakan bendera Blackboard. Dampaknya perusahaan akan memiliki lebih dari 3.700 klien, memiliki sekitar 800 pegawai, dan 7 kantor yang tersebar baik di Amerika Serikat dan luar negeri. Tentunya data ini nampaknya sudah berubah berhubung saya menggunakan data lama dari press release merger.

Blackboard dan WebCT memang bukan perusahaan kemarin sore. Blackboard sendiri merupakan salah satu perusahaan terdepan dalam enterprise software dan layanan di industri bidang pendidikan. Produknya terdiri dari beberapa aplikasi software yang dikemas dalam dua suites: Blackboard Academic Suite dan Blackboard Commerce Suite. Selain memiliki kantor utama di Washington, Blackboard memiliki dengan kantor dan staff yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia (blackboard.com).

Sementara itu, WebCT memberikan lingkungan pembelajaran online yang sangat fleksibel. Banyak institusi pendidikan termasuk universitas di berbagai belahan dunia, baik dari komunitas maupun universitas skala besar menggunakan WebCT untuk memfasilitasi proses belajar mengajar.

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah apa yang menjadi motivasi sehingga dua perusahaan besar ini mengambil langkah besar pula untuk melakukan merger?Adakah faktor kompetisi yang sedemikian hebatnya saat ini? Boleh jadi ya!

Pada dasarnya merger akan menambah ’kekuatan’ bagi yang melakukannya. Tambahan sumber daya, tambahan klien, juga makin kencangnya realisasi riset. Tentunya ini secara tidak langsung menunjukkan pada kita bahwa tantangan di luar semakin keras. Salah satu tantangan yang sedemikian jelas adalah semakin menjamurnya pemain-pemain lain yang berada di jalur open source.

Tidak dapat dipungkiri penelitian di bidang e-Learning adalah penelitian lintas bidang. Penelitian inilah yang menjadi ujung tombak berkembangnya e-Learning. Bidang ilmu yang dominan adalah ilmu komputer, psikologi, serta pendidikan. Walaupun memang tidak menutup kemungkinan ikut sertanya bidang-bidang lain. Kini sudah tidak bisa lagi domain e-Learning diklaim milik bidang pendidikan saja. Begitu pula bidang-bidang yang lain.

Open Source vs Proprietary LMS

Secara umum dalam mempersiapkan sistem e-Learning dalam suatu organisasi, katakanlah institusi pendidikan, terdapat beberapa pilihan yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, mengembangkan sendiri. Dengan menjatuhkan pilihan pada pilihan ini, institusi perlu memiliki tim untuk pengembangan sistem. Disini benar-benar akan digunakan konsep manajemen proyek dimana alokasi sumber daya manusia (mulai dari manajer proyek, system analyst, business analyst, system architect, system developer, tester, hingga documentator), alokasi biaya dan waktu diatur sedemikian rupa sehingga requirements dapat dicapai sesuai target. Pilihan metodologi pengembangan dan teknologi yang akan digunakan merupakan ‘hak prerogratif’ tim pengembang dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada.

Kedua, membeli sistem yang sudah ada. Salah satu hal yang bisa digunakan untuk menebak mengapa suatu organisasi membeli aplikasi perangkat lunak atau perangkat keras adalah tersedianya anggaran yang dimiliki serta berbagai pertimbangan seperti kemudahan, khususnya pendeknya waktu implementasi serta layanan pascaimplementasi. Namun yang perlu diperhatikan dari pilihan ini adalah seringkali fasilitas yang ada terlalu kompleks dari apa sebenarnya yang dibutuhkan organisasi yang bersangkutan.

Ketiga, menggunakan open source e-Learning system. Saat ini telah terdapat beberapa sistem e-Learning berbasis open source seperti Moodle, Dokeos, Sakai, Claroline, ATutor dan yang lainnya. Jelas, bagi organisasi yang akan memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Lisensi yang digunakan biasanya adalah GPL atau GNU. Effort yang perlu kita lakukan ketika memutuskan menggunakan sistem ini adalah, kita perlu mempelajari dokumentasi program, bahkan kalau perlu algoritma-algoritma yang digunakan. Tidak adanya layanan pascaimplementasi berarti menuntut penggunanya untuk terlibat aktif dalam milis-milis atau memperhatikan bug-bug yang mungkin ditemukan dibelakang hari.

Keempat, melakukan kustomisasi. Melakukan kustomisasi artinya memanfatkan kembali modul-modul yang tersedia, baik itu dikembangkan sendiri, dari software open source ataupun dengan cara membeli dengan tujuan untuk dapat dimodifikasi sesuai requirements yang dibutuhkan organisasi.

Dari keempat pilihan di atas, pilihan kedua dan ketigalah yang paling banyak diambil. Menjatuhkan pilihan pada yang pertama, sama artinya masih perlu mempertimbangkan landasan pengembangan, sumber daya yang akan dilibatkan, waktu, tak terkecuali biaya. Begitu pula pada pilihan keempat, walaupun disini skalanya lebih kecil.

Open Source: Tak kalah canggih

Rata-rata perusahaan besar yang tertarik mengimplementasikan e-Learning menggunakan proprietary LMS. Selain karena tersedianya dana yang cukup untuk investasi di bidang ini, vendor memberikan layanan maintenance yang sangat memuaskan. Apalagi fitur-fitur yang disediakan. Namun bukan berarti bahwa LMS berbasis open source kalah saingan. Tinjauan kelengkapan fitur hingga perbandingan fitur antar LMS bisa kita lihat di situs EduTools.

Konon Moodle, salah satu open source LMS, sudah di-download puluhan ribu kali di seluruh dunia. Beberapa LMS diantaranya bahkan ada yang di-download ratusan bahkan ribuan kali sehari. Bisa dibayangkan. Saat ini Moodle juga sudah memiliki pengguna teregister sebanyak ratusan ribu yang tersebar di 196 negara. Penggunaannya tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi hingga universitas dengan jumlah siswa 200.000an! Tak hanya itu, sistem ini juga tidak dikembangkan ala kadarnya. Ada landasan teori maupun tinjauan pedagogi yang cukup kental. Selain Moodle, Anda bisa membandingkannya dengan open source LMS lain.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak institusi pendidikan dan komunitas yang menggunakan opensource LMS. Selain gratis, implementasinya terhitung cepat. SMU 1 Muhammadiyah Yogyakarta adalah salah satu contoh bagaimana e-Learning sudah diimplementasikan di tingkat sekolah menengah berbekal open source LMS. Selain SMU 1 Muhammadiyah, pastinya ada sekolah-sekolah lain yang punya sistem semacamnya.

Model bisnis bagi yang bergerak di open source LMS pun bermacam-macam. Mulai penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi. Sangat menggiurkan bukan?

Anda ingin menerapkan e-Learning di lingkungan institusi Anda? Pilihannya sudah di tangan, apakah akan menggunakan proprietary software atau cukup yang berbasis open source. Semuanya kembali pada tingkat kebutuhan kita tentunya.

Incoming search terms for the article: