Merasakan Indahnya Kebudayaan yang Sama.
Posted: September 25th, 2008 | Author: M. Isya | Filed under: Opini | Tags: budaya, idul fitri, lebaran, masyarakat, mudik, ramadhan | No Comments »Sudahkah kita melihat berita-berita yang ditayangkan oleh media baik cetak ataupun elektronik beberapa hari ini? Peristiwa apakah yang menjadi sorotan utama untuk diberitakan kepada publik selain berita tentang korupsi, kasus kriminal ataupun berita politik? Bila mengingat apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan, kita pasti menyadari bahwa Idul Fitri atau lebaran dan persiapan menjelang ke sana menjadi berita yang menarik untuk diburu oleh para wartawan, kemudian diolah dan disajikan kepada masyrakat. Mengapa Hari Raya Idul Fitri menjadi hal yang sangat istimewa, sehingga mengakibatkan banyak orang mau melakukan suatu ritual tahunan yang sering kita kenal dengan istilah lebaran.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat dan menyadari berapa hari yang telah kita gunakan untuk beraktifitas baik itu bekerja, kuliah, atau aktifitas lainnya. itu merupakan hal yang lumrah, ada orang yang bekerja untuk mendapat penghasilan demi menyambung hidup, ada pelajar dengan kesibukan belajar di sekolah atau perguruan tinggi demi mendapat ilmu pengetahuan, dan banyak pula orang dengan segala aktifitas dan segala kesibukan untuk mencapai tujuan yang beragam. Tapi tiap manusia juga memiliki suatu aktifitas yang ditujukan tidak hanya untuk kepentingan pribadinya namun juga dapat dirasakan kebahagiannya oleh orang-orang disekitarnya yang mereka cintai, tidak lain adalah keluarga.
Banyak cara yang mereka lakukan untuk memperoleh hal tersebut, tidak jarang diperlukan banyak pengorbanan baik tenaga, waktu, bahkan materi dalam jumlah yang tidak sedikit, namun hal itu tidak menyurutkan sedikit pun niat untuk berkumpul bersama sanak saudara, apalagi untuk mereka yang selama ini sudah terpisah jauh. Momen seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
Lucu, aneh, heran, sedih, bahagia atau masih banyak perasaan yang lain bila kita melihat berita yang menayangkan tentang mudik dan peringatan Hari Raya Idul Fitri. Lucu karena ada saja hal-hal menarik yang pasti terjadi pada peristiwa mudik dan menjelang lebaran, salah satu contoh adalah betapa lucunya ketika setiap orang punya aktifitas yang sama, pasar ramai dengan mereka yang berbelanja menjelang perayaan Idul Fitri, pusat perbelanjaan pakaian ramai dengan mereka yang juga sibuk berbelanja, demi membuat hari raya menjadi lebih indah dengan penampilan baru. Terkadang juga merasa aneh, kenapa? Bukankah bangsa ini sedang mengalami inflasi? Bukankah negara ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi? Lalu mengapa hal tersebut tidak mengurangi animo masyarakat utnuk membuat hari raya nanti menjadi lebih meriah dengan suguhan makanan khas lebaran, yang mungkin hanya dapat dijumpai setahun sekali, ditambah kebahagian anak-anak kecil dengan pakaian barunya yang dibelikan oleh kedua orang tuanya, tanpa perlu mengetahui bahwa mungkin untuk membeli pakaian tersebut orang tuanya harus rela berhutang ke orang lain?
Segala pertanyaan tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk memunculkan kesan negatif terhadap mereka termasuk saya yang merayakan Hari raya Idul Fitri. Coba kita lihat dari sisi lain yang berbeda bahwa nyatanya masyarakat Indonesia dengan segala keragaman budayanya, ternyata masih dapat disatukan dalam satu kebudayaan yang sama yaitu lebaran. Mengapa dikatakan budaya? Pengertian budaya sendiri beragam, ada yang mengatakan budaya adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Perayaan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang selama ini ada di masyrakat kita adalah hasil budaya, karena muncul dari pemikiran yang dipadukan dengan kepercayaan serta moral dan adat istiadat, yang kemudian dijalankan dan diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya.
Namun demikian tidak sepantasnya kita memberi penilaian negatif tentang budaya lebaran yang ada di masyarakat Indonesia, karena dibalik hiruk pikuknya melakukan persiapan menyambut lebaran, masyrakat seolah diberi motivasi tidak langsung untuk melupakan segala kesulitan yang ada. Tanpa bermaksud untuk mengajarkan agar masyarakat menjadi egois, tapi kenyatannya masyarakat Indonesia memang perlu untuk sedikit melupakan kejadian yang membuat sulit hidup mereka. Harga gas yang melambung tinggi, isu tercemarnya produk makanan, partai dan tokoh politik yang saling berebut melakukan kampanye, kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan di DPR, dan kasus kriminal lain yang belum terpecahkan bahkan terus bertambah.
Biarlah masyarakat Indonesia merasakan sedikit kebahagian dengan adanya budaya lebaran, budaya yang mengajarkan kita untuk saling memaafkan kesalahan orang lain dan juga meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan, budaya yang mengajarkan agar kita kembali bersih di hari yang suci, budaya yang mengajarkan kita betapa indahnya silaturahmi, budaya yang mengajarkan kita agar menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta, budaya yang mengingatkan kita, untuk tetap hidup dan berjuang agar dapat merayakan budaya ini pada tahun berikutnya, budaya yang meleburkan si kaya dan si miskin, tua dan muda dan sebagainya dalam satu perayaan megah yang memberi kebahagian. Semoga budaya ini tetap terjaga dan tidak dirampas oleh pihak asing layaknya hasil kebudayaan kita yang lain.