Politisi Berbasis Riset

Posted: January 27th, 2009 | Author: Dhorifi Zumar | Filed under: Opini | Tags: , , | No Comments »

Beberapa bulan terakhir, para anggota dewan kita (legislatif) menjadi sorotan publik. Bukan karena kinerjanya yang makin bagus dan sesuai dengan harapan rakyat, melainkan lantaran perilaku menyimpang dan berbagai skandal yang mereka lakukan. Mulai dari skandal menerima suap, gratifikasi, melakukan kebohongan publik, suka melancong ke luar negeri tanpa hasil yang jelas, hingga yang lebih hina lagi yaitu melakukan skandal seksual dengan sekretaris pribadinya atau wanita panggilan.

Berbagai perilaku menyimpang dan skandal tersebut tak pelak menampar dan mencoreng institusi parlemen kita. Akibatnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut turun drastis. Rakyat kini semakin apatis dan skeptis dengan institusi yang dulunya terhormat tersebut. Parpol pun tak ayal menerima getahnya. Dikhawatirkan, gara-gara kasus tersebut tingkat golput (golongan putih) pada Pemilu 2009 mendatang makin meningkat.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jika kita urai, di samping faktor mentalitas mereka yang bobrok, pengawasan yang lemah dari institusi parlemen, serta kebiasaan buruk parpol menjadikan anggota dewannya sebagai sapi perah dan mesin ATM untuk membiayai operasional partai juga ikut andil. Namun yang tak kalah penting lagi adalah karena lemahnya aktivitas riset dan penelitian yang dilakukan para anggota parlemen tersebut selama ini.

Lho kok, apa korelasi antara perilaku menyimpang dan aktivitas riset? Tesis penulis adalah bahwa berbagai perilaku menyimpang itu terjadi akibat minimnya aktivitas riset yang dilakukan anggota parlemen kita. Jika seandainya mereka rajin melakukan riset dan penelitian, mereka akan mendapatkan data-data primer dan informasi serta masukan yang konstruktif dari masyarakat, di mana itu bisa dipakai sebagai bahan untuk meningkatkan kinerjanya.

Politisi busuk melakukan berbagai perbuatan amoral lantaran mereka menganggap bahwa tidak ada feed back (umpan balik) dari masyarakat mengenai kinerjanya karena minimnya mereka turun ke bawah (turba) untuk melakukan riset (survei, observasi, polling, depth interview). Mereka menganggap bahwa masyarakat sudah menaruh kepercayaan 100% sehingga mereka bisa bebas berbuat apa saja untuk menyalahgunakan kepercayaan itu.

Selain itu, dengan melakukan aktivitas riset, konsentrasi pikiran anggota dewan akan tersedot pada objek yang sedang diteliti tersebut sehingga tidak ada celah lagi di pikiran mereka untuk melakukan perbuatan naif dan perilaku menyimpang dari akal sehat, semacam kongkalikong dan korupsi. Sebab setan itu biasanya suka memengaruhi pikiran orang yang sedang kosong dari aktivitas yang bermanfaat.

Dengan rajin melakukan aktivitas riset, para anggota parlemen itu akan mendapatkan banyak manfaat. Pertama, kinerja mereka akan makin terukur, terstruktur, dan terarah, sehingga tidak asal-asalan dan semau gue. Kedua, berbagai pernyataan dan tulisan yang dilontarkan ke publik akan makin berbobot dan komprehensif lantaran berbasis riset dan penelitian sehingga tidak asal ngomong atau bunyi (asbun) dan common sense belaka. Ketiga, membangkitkan etos dan tradisi riset di tengah masyarakat sehingga ketika mereka perlu data sudah tersedia minimal data sekunder, yaitu data yang berbasis publikasi media massa, seperti koran, majalah, buletin, televisi, radio, dan lembaga riset swasta, maupun pemerintah semisal BPS.

Kalau selama ini ada keengganan menggunakan jasa riset dari lembaga-lembaga riset yang telah ada lantaran faktor biaya yang besar dan mahal, sebenarnya itu bisa disiasati dengan membentuk tim kecil (ad hoc) dari staf mereka yang melakukan tugas layaknya lembaga riset ternama, kalau memang mereka tidak bisa turun sendiri ke lapangan. Hasil riset itu nantinya menjadi bank data yang akan menyokong tugas-tugas legislasi mereka, yang memang sangat memerlukan ketersediaan data yang valid, reliable, dan representatif.

Di banyak negara maju, Eropa dan Amerika, aktivitas riset yang dilakukan anggota parlemen, baik dilakukan sendiri atau tim ad hoc-nya (staf ahli), menjadi fenomena yang biasa. Itulah sebabnya kinerja mereka sangat kredibel dan akuntabel di mata rakyat lantaran didukung ketersediaan data yang reliable.

Idealnya, di samping masing-masing anggota parlemen kita memiliki tim riset sendiri, setiap partai politik juga mesti membuat departemen riset yang tugasnya mengumpulkan data-data sekunder maupun primer, yaitu data yang didapat dengan melakukan riset langsung di lapangan. Memang, saat ini mayoritas parpol telah memiliki departemen riset atau penelitian dan pengembangan (litbang), tetapi kerjanya tidak pernah jelas dan terukur sehingga hasilnya pun jauh dari harapan.

Tidak cukup itu saja, Sekretariat DPR/DPRD plus LSM-LSM di bidang politik juga sebetulnya wajib membuat departemen/divisi riset, yang bertugas menyuplai data dan informasi yang dibutuhkan para politisi. Dengan demikian, suatu saat nanti akan terbentuk suatu komunitas “politisi berbasis riset”.

Sejatinya, aktivitas riset itu tidak hanya jadi dominasi politisi yang telah berhasil melenggang ke gedung DPR/DPRD. Mereka yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk Pemilu 2009 juga bisa melakukannya. Dengan riset, memungkinkan para caleg bisa memahami perilaku masyarakat atau calon pemilih, pesaing, dan tren-tren terbaru dalam bidang politik. Alhasil, mereka akan mampu mendekati dan memengaruhi para pemilih sehingga kelak mau memilihnya.

Pendeknya, jikalau tradisi riset berhasil menembus ranah politik sehingga tidak hanya menjadi dominasi masyarakat kampus, peluang terciptanya politisi yang intelek, rasional, dan kapabel sebagai antitesis dari politisi busuk dan amoral akan semakin menjadi kenyataan. Semoga!***

[Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2008]


Refleksi Koboy dan Idealisme Mahasiswa

Posted: January 25th, 2008 | Author: Tengku RV | Filed under: Opini | Tags: , , , | 1 Comment »

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

SUASANA politik tanah air tetap memanas. Dialektika politik kian hari kian merasuki semua sendi kehidupan rakyat Indonesia di segala lapisan. Dari semua itu, geliat pergerakan mahasiswa melahirkan fenomena menarik dan patut diperhatikan. Bukan apa, mahasiswa dengan kekuatan moralnya telah terbukti menjadi kekuatan berpengaruh sejak zaman pra kemerdekaan sampai saat ini.

Bagi mahasiswa dengan segudang idealismenya, mencapai sebuah kemajuan tidak mengenal kata akhir. Untuk itu, sikap kritis dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada harus selalu melekat pada diri mahasiswa. Dengan sikap tersebut sama artinya mahasiswa telah menempatkan diri sebagai oposisi nonstructural(oposisi yang jauh dari politisasi) yang bisa mendatangkan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan jika sikap oposisi ini dilakukan secara bersama-sama, pasti bisa mendatangkan kekuatan berlipat ganda untuk mempercepat perbaikan bangsa.idealnya sperti itu.

Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam. Kehadiran gerakan mahasiswa — sebagai perpanjangan aspirasi rakyat —- dalam situasi yang demikian itu memang amat dibutuhkan sebagai upaya pemberdayaan kesadaran politik rakyat dan advokasi atas konflik-konflik yang terjadi vis a vis penguasa. Secara umum, advokasi yang dilakukan lebih ditujukan pada upaya penguatan posisi tawar rakyat maupun tuntutan-tuntutan atas konflik yang terjadi menjadi lebih signifikan.

Dalam memainkan peran yang demikian itu, motivasi gerakan mahasiswa lebih banyak mengacu pada panggilan nurani atas keperduliannya yang mendalam terhadap lingkungannya serta agar dapat berbuat lebih banyak lagi bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya.yang pada akhirnya kita dapat menganalogikan gerakan mahasiswa tersebut sebagai pergerakan seorang koboi ,dimana ketika terjadi distorsi ditengah masyarakat yang melibatkan pemerintah, sang koboi yang datang dari daerah antah barantah berjuang berlandaskan hati nurani dan kemudian setelah perjuangannya usai dalam artian mencapai tuntutan masyarakat sang koboi akan balik kekandang tanpa mengharapkan balasan dari new govermens atau masyarakat setempat.

Jadi merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa untuk berjuang ketika terjadi pembodohan dan penindasan oleh penguasa karena mahasiswa adalah ikon sekaligus motor pergerakan dalam menghadapi kesewenang wenangan,hal ini mengingat bahwa mahasiswa diberi kelebihan berfikir melalui pola pola yang lebih intelektual dalam konteks memulai dan mengakhiri pergerakan dengan cara yang indah dalam upaya mengurangi distorsi kepentingan pribadi dan kelompok menuju kepentingan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Incoming search terms for the article: