Sports, Marketing dan Entertainment

Posted: March 28th, 2008 | Author: Ilhamdi | Filed under: Opini | Tags: , , , | 2 Comments »

Salah satu kegiatan pemasaran yang cukup kuat dalam merebut hati konsumen dengan mengendarai olahraga. Jika digarap serius maka daya tarik sport marketing amat ampuh bagi pemasar dalam memperkuat brand awareness. Apakah kegiatan ini juga cukup efektif dalam membangun emotional relationship yang kuat?

Kompetisi Liga Djarum Indonesia, Copa Indonesia, Indonesian Basket ball League, Tennis Commenwealth WTA, Piala Coca-Cola dan kegiatan olahraga lain yang masih berjalan adalah bukti nyata bahwa perkembangan sport marketing di Indonesia terus meningkat, dari sisi kualitas maupun kuantitas. Gairah masyarakat dalam menonton sebuah kompetisi olahraga, terutama pada cabang olahraga populer sangatlah besar. Lonjakan penonton pada setiap momen olahraga tentunya menjadikan makin besarnya kisaran bisnis di lahan ini. Sebut saja PT Djarum dan PT HM Sampoerna Tbk yang berani mensponsori pertandingan Liga Indonesia dan Copa Indonesia. Untuk satu putaran Liga, Djarum mengelontorkan dana sekitar Rp 35 miliar hingga Rp 50 miliar. Bayangkan untuk dua putaran, setidaknya Djarum memasok anggaran sekitar Rp 70 miliar- Rp 100 miliar. Bila Djarum mensponsori lima kegiatan olahraga di cabang berbeda, paling tidak bujet Djarum dalam menggelar kegiatan sport marketing antara Rp 300 miliar-Rp 500 miliar. Belum lagi dana yang dipasok dari sponsor pendukung dari sebuah event, juga TV partner, merchandise dan sebagainya. Bisnis yang fantastik !
Copa Indonesia dan Indonesia Basketball League (IBL) yang digelar di beberapa kota.

“Menjual Daya Tarik Sport Marketing” .majalah cakram edisi September 2007.

Itulah kutipan informasi yang ada di majalah cakram ,Tapi ada yang memilki nilai lebih dari semua itu adalah impian agar olahraga kita mampu menjadi profesionalisme lagi baik dari sisi bisnis atau pun juga dari sisi teknis olahraga itu sendiri.Lihat saja premier league liga inggris yang mampu membangun fondasi bisnis dan membuat area sport marketing untuk tim olahraga mereka sendiri.Meskipun akirnya dikenal ” rakus ” tapi itulah point plus yang ditawarkan pengelola tim tim liga inggris bersama FA ( PSSI -nya Inggris ) dan juga sponsor utama mereka sebuah perusahaan asuransi Barclayd.Sport marketing sekarang tidak hanya menjadi milik sebuah perusahaan yang berkepentingan saja.Tetapi mulai milik tim – tim atau klub peserta.Cara ini sudah mulai ditunjukkan PSSI dengan membangun format liga super yang membuat klub tidak lagi mendapat dana dari pemerintah melainkan mereka berorganisasi sendiri untuk mendapatkan dana dan mengelola tim mereka lebih dari sekedar bermain di lapangan. IBL sebagai kompetisi kasta tertinggi basket tanah air sudah mulai melakukan hal tersebut dampaknya di beberapa kaos tim terpampang beberapa sponsor entah itu untuk sponsor utama atau pun sponsor apparel.Sport marketing tidak hanya berbicara tentang megelola marketingnya tapi bagaimana mengelola entertainment menjadi sebuah produk marketing baik itu secara teknis atau non teknis.
NBA ,liga basket terkenal di dunia melakukannya ,dari sisi teknis mereka menampilkan permainan tim yang menghibur yang bahkan keluar dari pakem basket ” text book “.Semuanya untuk menghibur dan memilki daya jual agar timnya digemari oleh para fans .Dari sisi non teknis basket itu sendiri bagaimana kita melihat gerakan cheerleaders yang menghibur di sela – sela waktu istirahat pemain juga memiliki nilai jual sehingga secara keseluruhan NBA memiliki daya jual yang bagus di mata para beberapa perusahaan agar menananmkan investasi mereka di Liga basket Tertinggi di Amerika tersebut.
Entertainment lainnya dapt dilihat di liga Inggris selain secara permainana mereka telah berubah dari kick and rush yang membosankan ala Inggris sekarang mereka berhasil mendatangkan pemain – pemain bintang untuk menjual daya tarik klub mereka bahkan diantaranya ada yang melaukkan ” ekspansi ” ke Asia,untuk memperoleh market yang besar dengan entertainment yang tinggi .Dari sisi non teknis lihat para supporteer mereka yang begitu hormat akan sebuah pertandingan sepakbola meskipun para fans tidak begitu senang dengan hasil akhirnya.Yang ada malahan dukungan tiada henti meski pun mereka harus terus tenggelam dalam sebuah hal yang tidak disukai oleh fans mana pun dalam mendukung timnya.
Kita semua tentunya sebagai bangsa Indonesia memang harus belajar banyak akan hal ini tanpa meruntuhkan cultur kita sebagai bangsa dalam kegiatan olahraganya ,Sepakbola ,Bulutangkis, Basket atau pun Voli adalah olahraga yang merakyat di Indonesia.Sekarang mereka sedang mencoba untk berporses ke arah sana dimana marketing dan gabungan atara sports dan entertainment manjadi satu sehingga semua elemen yang ada di dalam oalhraga menjadikan kita sebagai sebuah bangsa yang mampu dihormati,disegani dan dihargai lebih dari sebuah sekedar konfrontasi atau perang psikologis politik.

Incoming search terms for the article:


“Katrok” Tapi Pakai Laptop

Posted: January 29th, 2008 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: , , , | No Comments »

Tukul memang lucu dan menghibur. Itu yang membuat orang mau menonton acara Empat Mata.

Sebenarnya siapa sih yang mau menonton wajah “ndeso”, tapi nekad mewawancarai artis cantik ? Tapi justru, kontradiksi ini yang menjadi magnet bagi penonton setia-nya.

Tapi Tukul memang cerdas, format acara Empat Mata dibuat serba kontradiktif dan paradoksal.  Tukul “menentertawai diri sendiri” , sementara artis yang menjadi tamu-nya berpenampilan glamor dan intelek.

Konsep acara Empat Mata adalah membuat kontradiktif ini menjadi komedi. Mungkin sudah menjadi trademark acara ini. Tukul memerankan dirinya sebagai orang dari desa yang lugu, tetapi harus mengimbanginya tamu-tamu acaranya dengan berusaha mengaktualisasikan sebagai pria metroseksual. Tukul nampak selalu berusaha menjadi “pria yang selalu menjaga estetika penampilan, imaje dan gaya hidup”.

Yang terjadi adalah komedi yang meng- eksploitasi keluguan Tukul sebagai orang “ndeso” versus Tukul yang “berusaha gaul”. Usaha ini yang menjadi titik sentral dari kelucuan-kelucuan yang timbul dan memancing penonton untuk tertawa.

Superiority Theories

Teori ini kemukakan oleh seorang profesor philosopy, D. H. Monro dari Monash University. Orang sering tertawa karena melihat ketidak beruntungan orang lain (disandvantage atau misfortune).  Dalam teori ini, orang tertawa karena merasa  berada dalam posisi “superior”.

Teori ini dikembangkan dari teori yang pertama kali dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes mengatakan bahwa :”kita mentertawakan atas ketidak beruntungan (misfortunes)  orang lain”.

Bila dikaitkan dengan acara Empat Mata, maka penonton dikondisikan pada posisi “Superior”, sedangkan Tukul Arwana pada posisi ”misfortune”.  Menurut teori ini, penonton tertawa karena “misfortune” yang “diperankan” oleh Tukul. Penonton menjadi terhibur karena melihat “ke-sial-an” yang menimpa Tukul.

Kembali ke Laptop

“Masak sih, Tukul saja punya laptop, kita nggak punya. Tapi pertanyaannya apakah betul masing-masing anggota bisa mengoptimalkan itu dengan baik. Saya sangsi,” cetus seorang anggota DPR, sepertiyang dikutip oleh Detikcom pada bulan Maret 2997 lalu.

Pernyataan diatas bukan bagian dari acara Empat Mata. Tetapi benar-benar sebuah pernyataan seorang anggota DPR ketika muncul gonjang-ganjing rencana pemberian laptop seharga Rp 21 juta ke setiap anggota Dewan. Rencana ini kemudian dibatalkan akibat tekanan dari masyarakat.

Masyarakat akan meng-kaitkan masalah laptop dengan acara Empat Mata dengan salah satu ” trademark-nya” adalah Laptop.  Wajar saja dalam menentang program pembagian laptop ke anggota DPR, masyarkat akan membandingkan Tukul sebagai seorang komedian dengan anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat yang terhormat. Masyarakat telah melihat kontradiktif : sementara kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, anggota DPR akan mendapat Laptop dengan harga yang sangat mahal.

Contoh diatas adalah suatu keberhasilan dari suatu pementasan sebuah acara komedi, selain keberhasilan untuk menghibur masyarakat.  Sebuah acara komedi seperti Empat Mata dikatakan berhasil bila berhasil melakukan pendidikan kepada masyarakat, selain membuat penontonnya tertawa dan terhibur.

Mudah-mudahan Tukul Arwana tidak berubah. Mudah-mudahan acara Empat Mata tetap dalam format yang sama. Mudah-mudahan penonton tetap terhibur. Mudah-mudahan rejeki-nya Tukul tetap lancar. Amin.

******

(artikel ini bisa dilihat di www.greenlinerancage.com )