Gelar: Reinkarnasi Feodal Gaya Baru
Posted: February 12th, 2008 | Author: Ria Fariana | Filed under: Ria Fariana | Tags: feodalisme, gelar, manusia | 2 Comments »Pramoedya Ananta Toer sangat membenci feodalisme Jawa berkedok priyayi yang menurutnya sangat menghinakan martabat kemanusiaan seorang anak manusia. Bahkan karena menyuarakan kebenciannya dalam bentuk karya-karya sastra, ia rela mendekam di penjara bertahun-tahun lamanya. Menginjak zaman kekinian, akankah ‘perjuangan’ Pramoedya menemukan bentuknya?
RM singkatan dari Raden Mas dan Rr kepanjangan dari Raden roro adalah ciri mudah untuk dikenali. Pada zaman feodal dulu, wong cilik akan langsung tertunduk-tunduk di depan mereka yang menyandang gelar tersebut. Jangankan membantah kata-katanya, memandang mata si empunya gelar pun wong cilik tidak mungkin berani melakukannya. Posisi darah biru dengan embel-embel gelar ini merajai jagad nusantara dengan cukup digdaya.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, zaman pun tak lagi sama. Gelar RM dan Rr di depan nama seseorang, menjadi bahan lelucon di sekolah ketika nama yang bersangkutan tercantum di presensi siswa. Bukan segan yang ada, panggilan Pak Raden dan Bu Raden menjadi fenomena jamak mulai tingat SD hingga bangku kuliah. Sebagian kecil dari mereka masih bangga dengan panggilan tersebut, meskipun nadanya sang pemanggil sangat mencemooh. Namun sebagian besar berlalu dengan wajah merah karena tempelan gelar tersebut pada namanya.
Feodalisme tak lagi laku di masyarakat kita. Benarkah? Bila feodalisme adalah diartikan sebagai sebuah kekuasaan yang bercokol di tengah masyakarat kita dan mendapatkan pengagungan, maka kita akan mendapati fenomena baru dalam hal ini.
Undangan pernikahan, mulai dari sampul hingga isi, semua memberi unsur feodalisme baru ini. ‘Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama gelar’ sudah kita dapati di bagian depan kartu undangan. Jangan menganggap enteng masalah ini. Karena ada sebuah kejadian seseorang tidak menghadiri undangan karena si pengundang salah menulis gelar yang diundang. Bagian dalam berupa isi, juga tak lepas dari fenomena ini.
Seorang teman memberi saya undangan yang sangat sederhana. Sederhana karena saya tahu keduanya mempunyai deretan gelar yang cukup bergengsi dan tak terhitung banyaknya. Tapi saya jadi bingung ketika mendapati undangan yang mirip sekali dengan undangan yang ditujukan pada saya namun berbeda di panjang baris nama mempelai wanita dan pria. Aha, ternyata saya tahu bahwa ada deretan gelar tercantum di undangan tersebut yang berbeda dengan yang saya pegang. Ternyata undangan itu tidak sesederhana yang saya duga. Hanya memang bagian yang diberikan pada saya, entah dengan memakai pertimbangan apa, berbeda dengan yang diberikan pada teman saya yang isi dalamnya full gelar panjang bak semut sedang berbaris.
Karena cintanya dengan gelar, ada seorang teman yang sangat mensyaratkan calon istrinya bergelar minimal dokter. Ia hanya bisa jatuh cinta dengan perempuan bergelar dokter. Teman yang satu lagi tak kalah dahsyat, ia mensayaratkan calon suaminya minimal harus S2. Ternyata cinta pun harus tunduk pada gelar. Begitu pun para calon mertua lebih sering bertanya pada sang calon menantu dengan pertanyaan ‘punya gelar apa berani melamar anak saya?’
Saya pun menoleh pada bangku universitas. Dari namanya saja sudah menggambarkan sebuah keindahan akan makna, universe. Pola pikir juga seyogyanya mengikut keagungan sebuah nama. Tapi jangan salah. Teryata di salah satu kelas, terdapat seorang mahasiswi yang kurang setuju dengan pendapat salah satu dosen. Ia pun memberikan argumen dengan beberapa bukti data ilmiah. Sebuah diskusi sehat seharusnya terjadi di ruang kelas bernama universitas. Tapi faktanya, mahasiswi tersebut sempat mendapat ancaman nilai degan feodalisme gaya baru dimunculkan ‘siapa anda coba-coba mau mendebat profesor seperti saya.’
Ternyata masyarakat kita masih dilingkupi feodalisme meskipun dengan gaya baru berupa gelar. Sehingga tak heran, calon bupati, gubernur hingga caleg ramai-ramai belanja gelar untuk dicantumkan di baliho ketika saat pemilihan tiba. Lalu bermunculanlah program-program pendidikan tingkat tinggi yang memberi hadiah gelar bergengsi dengan imbalan sejumlah nilai nominal tertentu. Kuliah di hotel mewah, datang pun dengan mobil serta busana kelas wah, dan Cuma beberapa jam pertemuan saja. Itu pun lebih sering diinterupsi oleh dering telepon karena banyak klien yang telah menanti.
Melihat fenomena di atas, tak bisa dipungkiri ada rasa bangga sekaligus prihatin menjadi campur aduk. Bangga ketika banyak lapisan masyarakat telah menyadari pentingnya pendidikan ditandai dengan laris manisnya deretan gelar menempel pada sebuah nama. Mulai dari undangan pernikahan hingga selebaran untuk pencoblosan. Tapi pada saat yang sama, keprihatinan pun meruyak di hati ketika gelar tersebut bisa dibeli dengan mudah serta bea murah. Gelar menjadi sebuah prestis untuk menempati posisi tertentu dalam masyarakat dengan menafikkan kualitas. Bahkan gelar juga menjadi alat penjajahan baru bila ia dipakai untuk membungkam suara kebenaran bila yang menyampaikan adalah seseorang nihil gelar. Bila begini kondisinya, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Pram bila ia hidup kembali?