Posts Tagged ‘ekonomi’

Apa kabar Indonesia dalam ekonomi 2015 ?

Monday, November 24th, 2008

Menarik untuk mencermati tulisan di kompas pada tanggal 22 November 2008 hari sabtu dalanm sebuah tulisan tentang tren global yang menyatakan pendapat dari National Inteleigence Council ( NIC ) yang menceritakan tentang global trend 2015 .

Dalam hal ini dikatakan Amerika akan mengalami perubahan dan pergeseran ekonomi dalam  2 tahun yang akan datang.Yang mengejutkan kawasan Asia disebut sebagai hal yang kan bisa menjadi tumpuan ekonomi di masa depan.Asia dikabarkan akan menjadi pusat manufaktur dan juga akabn berpengaruh terhadap sektor jasa.Jasa? Hal ini yang selalu gw tulis di setiap permaslahan marketing dan uniknya jasa adalah senjata ampuh dalam perkebangan ekonomi sekarang.Teknik marketing integrated communication yang berkembang sangat pesat saat ini menjadi acuaanya.

Hal menarik lainnya adalah Indonesia bersama Iran termasuk negara yang sedang mencoba merebut pengaruh untuk persaingan kompetisi ekonomi .

Indonesia ….. ? Menarik juga.

Satu pertanyaan dasar yang emang selalu akan diucapkan .Emangnya bisa apa Indonesia ? Kondisi dalam negrinya aja masih kacau balau kayak gini.Ok mari kita coba bahas.Indonesia sejak dipimpin oleh duet SBY-JK secara keseluruhan memang tampil bagus.Kepercayaan public muncul disini meskipun secara tidak keseluruhan juga,berbagai aliran kritik berdatangan ke Istana negara untk dibahas.Tapi bagaimana akhirnya kritik itu dibalas dengan reaksi yang positif,mendidk dan buat saya …sangat-sangat pintar.Feedbacknya nama SBY tetap masuk pada calon pemimpin ini di pemilu 2009,kabar yang berkembang ( meskipun saya belum tahu secara keseluruan ) SBY bersama Megawati dan Sri Sultan Hamengkubuwono adalah orang-orang yang diinginkan untuk memimpin negara ini di 2009.SBY disebut pertama.Diakah pilihan nmor 1? Buat saya “ Ya” .

Salah satu cara terbak pemerintah adalah saat harga kenaikan bbm beberapa waktu ayng lalau ,tak henti-hentinya demonstrasi dari mahasiswa atau berbagai kalangan organisasi masyarakat “mencoba untuk menentang “.Kerusuhan yang disebabkan aksi demonstrasi di balas dengan layanan iklan dari pemerintah yang disampaikan melalui beberapa mentrinya tentang bagaimana,kenapa dan apa sebab kenaikan bbm.Telvisi tidak bisa dipungkiri lagi sebagai sebuah medium “komunikasi” yang ampuh.Akhirnya …demosntrasi seperti selesai begitu saja.Yang paling baru soal kebijakan SKB 4 mentri yang buat resah para saudara-saudara kita yang dinamakan sebagai buruh.Demonstrasi dilakukan.Sayangnya tempat dan waktu demonstrasi dilakukan salah.SKB itu diantaranya menjelaskan bahwa masing-masing daerah berjhak menentukan batas  pendapatan yang diperoleh .Dari informasi dan data yang saya peroleh karena saya mencoba untuk tidak bermulut besar melalui sebuah media online ada beberapa prpoinsi yang membuat kenaikan upah dan bukan malah membuatnya turun.Dan rata-rata itu adalah kota besar.Kota yang sebenarnya buat saya memang punya kehidupan yang layak mendapatkan reward lebih jika hidup dihargai dalam bentuk materil.Tapi disnilah penjelasan pemerintah ,bahwa hal ini justru yang akan mencegah terjadinya PHK besar-besaran.Ini dilakukan untuk menjaga keseimbangna sebuah perussahaan,usaha,unit bisnsi atau apa lah sebutannya.Menari ditunggu karena kabar terakhir yang say adapt adalah BPP HIPMI memberikan sebuah tanda bahaya dengan mengeluarkan sinya bahaya bahwa tahun 2009 13.000 naker se Indonesia bisa terkena PHK,dan hal ini bisa terus bertambah.Setiap daerah harus pintar dalam memanfaatkan segala strukutrnya termasuk ekonomi .Apa yang akan dilakukan pemerintah,jika hal ini mengarah ke pada hal yang positif,setiap daerah tentunya akan berusaha mengoptimalkan setiap potensi daerahnya.Dan bukan tak mungkin bahwa Indonesia sedang “merebut pengaruh “,sepertui yang dilaporkan oleh ( NIC ) dalam sektor jasa akan memang jadi kenyataan.Hal ini yang bisa dioptimalakan oleh Indonesia jika ingin “membuat pengaruh dan “merebut pengaruh”.

Sekarang tinggal permaslahan klasiknya ,jika tren poisitf ini terus berlangsung mempertahankannya Indonesia akan “diincar”banyak negara sebagai “ladang pertumbuhan mereka”.Mampukah Indonesia “secara Indonesia dalam keseluruhannya”,mempertahankan apa yang mereka miliki? Terlalu pagi untuk mengatakan “ya”.Situasi di tahun 2009 belum menentu.Kondisi social pun per detiknya akan selalu berubah.Laporan dari NIC ini pun patut ditanggapi.Impian duet SBY-JK yang secara perklahan ingin membagun Indonesia sebagai negara maju bisa jadi bukan lagi sebuah impian,tapi realita.Siapa yang akan berkorban ? Dan siapa yang akan dikorbankan ?

Apa kabar Indonesia ?

Menuntaskan Lingkaran Setan Kemiskinan

Thursday, January 24th, 2008

TAHUN 2007 kemarin, bangsa ini menutup buku kerja penuntasan kemiskinan dengan menyisakan pekerjaan rumah yang masih sangat banyak. Seolah tidak akan pernah selesai, kemiskinan di Indonesia dari tahun ke tahun malah semakin meningkat. Menurut data dari World Bank, dengan kriteria miskin adalah orang dengan penghasilan kurang dari 2 dolar Amerika per hari, maka di Indonesia terdapat sekitar 100 juta lebih orang miskin. Berbagai program pun telah diluncurkan oleh pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) hingga Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Lalu, sebenarnya apa yang salah dengan usaha bangsa ini untuk mengentas dirinya dari belenggu kemiskinan?

Belenggu itu adalah lingkaran setan kemiskinan

Apabila ditinjau lebih jauh lagi persoalan kemiskinan ini, setidaknya akan didapati beberapa akar masalah yang harus segera dituntaskan. Dengan dituntaskannya akar masalah kemiskinan ini, akan tuntas pula semua permasalahan yang ditumbuhkan dari pangkal segala pangkal kemiskinan ini.

Akar masalah kemiskinan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: Karena miskin, seseorang pasti memiliki pendapatan yang kecil. Karena pendapatannya kecil, daya beli informasi dan pengetahuannya, pastilah juga kecil. Daya beli pengetahuan dan informasi yang rendah ini, akan menyebabkan si miskin tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Pengetahuan yang kurang, akan menyebabkan produktivitas seseorang menjadi kecil. Karena produktivitasnya yang kecil inilah, ia akan jatuh miskin lagi.

Karena miskin, seseorang pasti hanya akan memiliki tabungan yang kecil. Tabungan yang kecil, akan membuat kepemilikan modal seseorang menjadi kecil pula. Kepemilikan modal yang kecil akan mengakibatkan produksinya rendah serta pendapatannya kecil. Karena pendapatannya kecil, ia akan jatuh miskin lagi.

Karena miskin, seseorang pasti hanya akan memiliki kemampuan konsumsi yang rendah. Kemampuan konsumsi yang rendah ini akan membuat seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan papan, sandang, dan pangannya secara layak. Hal ini juga akan berdampak pada buruknya status gizi seseorang. Seseorang dengan status gizi yang buruk hanya akan memiliki produktivitas kerja yang buruk pula. Dari rendahnya produktivitas inilah, produksinya juga akan rendah, dan sekali lagi ia akan jatuh miskin.

Bagaimana seharusnya?

Makna dari lingkaran setan kemiskinan tersebut adalah keharusan semua pihak terutama pemerintah untuk memiliki keinginan yang kuat memutus alur itu. Lingkaran itu tidak akan pernah terpotong apabila tidak ada satu bagian saja dari lingkaran tersebut yang dihilangkan. Dari pemikiran awal inilah, untuk menuntaskan problem kemiskinan di Indonesia setidaknya harus ada kebijakan-kebijakan sebagai berikut dari pemerintah.

1. Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan.

2. Menggratiskan dan memajukan pendidikan.

3. Jaminan atas terpenuhinya kebutuhan primer masyarakat (papan, sandang, pangan).

4. Menggratiskan fasilitas kesehatan.

5. Pemberian modal gratis bagi usaha rakyat miskin.

Semua poin pengentasan kemiskinan di atas adalah hal yang sangat applicable atau sangat mungkin untuk direalisasikan. Buktinya adalah kejadian-kejadian nyata pada masa Rasulullah saw., para sahabat, dan khalifah-khalifah sesudahnya mengenai realisasi poin-poin di atas. Misalnya saja, Umar bin Khattab yang pernah memberikan sebidang tanah secara gratis kepada seseorang yang tidak memiliki tanah untuk bercocok tanam. Atau, pembiayaan pendidikan gratis yang diberikan oleh Rasulullah saw. dengan mengganti uang jaminan bebas para budak perang dengan pengajaran baca tulis gratis kepada kaum Muslimin.

Semuanya itu telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan juga orang-orang sesudahnya secara nyata. Pesimisme bahwa sekolah gratis dapat terwujud adalah hal yang tidak berdasar sama sekali. Begitu juga pemberian modal gratis tanpa cicilan bunga tiap tahun adalah hal yang sama sekali bukan mustahil. Permasalahannya adalah apakah pemerintah memang benar-benar memiliki keinginan yang kuat untuk menuntaskan kemiskinan ini? Sebab, selama tidak ada keinginan dan tekad yang kuat dari pemerintah, selama itu pula problem kemiskinan ini akan senantiasa ada.

Tantangan Putinomics

Thursday, January 10th, 2008

Setelah nyaris menjadi negara gagal, dalam tempo sewindu Rusia bangkit dengan meyakinkan. Ekonomi tumbuh rata-rata 6,7 persen per tahun serta utang luar negeri dibayar lebih cepat. Rakyat pun tak lagi dicekam kesengsaraan dan Rusia kini muncul kembali dalam radar geopolitik dunia.

Hampir semua prestasi itu tercatat atas nama Vladimir Vladimirovich Putin. Sosok yang mengutamakan stabilitas ketimbang kebebasan. Atas pencapaiannya, Putin terpilih sebagai “Person of the Year 2007” versi majalah Time.

Seperti Soeharto di masa Orde Baru, Putin adalah “pahlawan pembangunan” bagi Rusia. Sulit menyangkal keberhasilan itu, namun tak sedikit yang sangsi atas keberlanjutannya. Akankah “jalan” Putin membawa kejayaan negaranya secara permanen?

Putinomics
Vodka adalah bisnis besar di Rusia. Tiap tahun, Stolichnaya –merek kesukaan James Bond– terjual senilai 2 miliar dolar AS di seluruh dunia. Stolichnaya dan 42 merek lainnya diprivatisasi pada 1992. Sejak awal berkuasa, proyek renasionalisasi — dari vodka hingga minyak – digencarkan oleh Putin.

Jalan zig-zag “Putinomics” bertumpu pada gerakan menghindar dari fundamentalisme pasar. Nasib Rusia pascaruntuhnya Uni Soviet tak kalah terpuruk dengan Indonesia sesudah reformasi. Pada periode ini terjadi instabilitas yang diikuti –meminjam Naomi Klein–“shock therapy” aneka kebijakan ekonomi yang menyakiti raga dan hati rakyat. Subsidi dikurangi dan aset kebanggaan bangsa diprivatisasi.

Prestasi terbesar Putin sejak tahun 2000 adalah memastikan windfall minyak mengalir ke kas negara – ketimbang ke kantong segelintir konglomerat. Manisnya, harga minyak melonjak sepuluh kali lipat selama dua periode kepresidenannya.

Ekspor minyak tak terganggu karena pemenuhan kebutuhan energi domestik lebih mengandalkan gas alam. Dari rezeki minyak, pemerintah mempertahankan surplus anggaran dan sukses menumpuk cadangan devisa yang kini mencapai 450 miliar dollar AS. Pemerintah pun leluasa menaikkan pensiun dan gaji pegawai negeri, meningkatkan dana pendidikan serta membangun jalan.

Produk domestik bruto meningkat enam kali lipat dari 200 miliar dolar AS pada 1999 menjadi 1,2 triliun dolar AS tahun ini. Angka pengangguran menciut dari 12 persen pada 1999 menjadi 6 persen pada 2006. Angka kemiskinan berkurang dari 41 persen pada 1999 menjadi 14 persen di 2006. Tak hanya penduduk yang lebih makmur, karena magnet ekonominya Rusia juga menjadi tujuan migrasi dari Eurasia.

Putin telah belajar dari kegagalan Uni Soviet sekaligus Rusia pada masa pendahulunya Boris Yeltsin. Dalam ungkapan Fiona Hill, oil wealth has been transformed more into butter than guns. “Putinomics” telah menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya tidak ada jalan tunggal (one size fit for all) dalam mengelola ekonomi.

Tantangan
Banyak analis Barat enggan mengakui dan mengkreditkan semua prestasi ini pada Putin. Mantan intelejen KGB ini dinilai hanya reformis pada awal kekuasaannya saja, seperti memberlakukan tarif pajak penghasilan flat sebesar 13 persen (terendah di dunia).

McFaul dan Weiss dalam artikelnya The Myth of the Authoritarian Model; How Putin’s Crackdown Holds Russia Back di Foreign Affairs edisi Januari/Februari 2008 (www.foreignaffairs.org), berargumen bahwa capaian itu justru berkah liberalisasi pada 1990-an. Bahkan secara spekulatif keduanya menyatakan ekonomi Rusia akan lebih hebat lagi seandainya memakai jalan demokrasi.

Pertumbuhan ekonomi Rusia akan berlanjut seiring harga minyak yang meroket. Karena itu, kini perhatian lebih tertuju pada prospek jangka panjang di mana terdapat tiga bentuk tantangan yang setidaknya akan dihadapi Rusia.

Pertama, negara kaya dengan sumber daya alam selalu dibayangi kutukan; merebaknya korupsi, pemborosan, dan pandangan pendek (shortsightedness). Putin diperkirakan mengincar posisi perdana menteri setelah habis masa jabatannya. Kekuasaan yang terpusat, dikhawatirkan kian lama akan bergeser orientasinya dari membangun kesejahteraan rakyat menjadi memperkaya keluarga dan kroni. Orde Baru contoh nyata dalam hal ini.

Kedua, dari total ekspor Rusia, 80 persennya didominasi komoditas alam yang lebih separuhnya disumbang migas. Pada 2004, dengan arif Rusia membentuk stabilization fund  guna mengisolasi anggaran negara dari gejolak harga minyak dunia. Namun, dominasi minyak dapat menghambat pertumbuhan ekonomi karena kerap mengundang Dutch Disease, yaitu suatu kondisi dimana sektor manufaktur tak kompetitif akibat apresiasi nilai tukar mata uang.

Ketiga, banyak negara gagal tatkala scope pemerintahnya diperbesar. Menurut Brett D. Schaefer (2005), ekspansi pemerintah dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi melalui inefisiensi dan cara pembiayaannya.

Apapun risikonya, rakyat Rusia telah menjatuhkan pilihan pada “ekonomi” seperti ditunjukkan pada pemilu 2 Desember lalu. Aspirasi semacam ini muncul pula di Korea Selatan dan Thailand. Akankah hal sama terjadi di Indonesia pada 2009?