Sinergi Perbankan Syariah dan UMKM

Posted: March 13th, 2009 | Author: Dhorifi Zumar | Filed under: Opini | Tags: , | 2 Comments »

Dengan tidak tercapainya target pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah sebesar 5 persen pada tahun 2008, sudah selayaknya kalangan perbankan syariah di Indonesia membuat langkah teroboson, agar pertumbuhan itu bisa dicapai pada masa mendatang.

Atas kegagalan itu, Bank Indonesia (BI) telah meresponsnya dengan mematok angka pertumbuhan 5 persen itu pada tahun 2010. Diundurnya pencapaian target tersebut mengingat ekonomi diprediksi akan melambat tahun 2009, sehingga yang paling mungkin pertumbuhan 5 persen baru akan tercapai pada tahun 2010.

Data BI menyebutkan, hingga November 2008 pangsa pasar yang diraih perbankan syariah baru 2,08 persen dengan total aset Rp 47 triliun. Sedangkan jumlah nasabah hingga November 2008 baru 3,799 juta nasabah. Kondisi pembiayaan bahkan lebih mengenaskan karena penyaluran kredit hanya naik dari 512 ribu pada 2007 menjadi 589 ribu nasabah pada November 2008.

Ada banyak faktor penyebab kegagalan pencapaian target tersebut, antara lain masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang bank syariah. Adapun langkah terobosan yang strategis dalam rangka mendongkrak pertumbuhan pangsa pasar bank syariah adalah dengan membidik pangsa pasar dari kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jika selama ini kalangan perbankan syariah terlalu asyik membidik calon nasabah emosional dari masyarakat umum, maka mereka sekarang mesti mengarahkan sasaran bidiknya ke nasabah rasional dari kalangan UMKM.

Mengapa UMKM? Sebab, mereka adalah pangsa pasar potensial dan akan terus tumbuh pada masa-masa mendatang. Kalau kalangan perbankan konvensional saja begitu antusias membidik mereka mengingat daya tahannya terhadap krisis dan tingkat kredit macet yang relatif kecil, mengapa kalangan perbankan syariah tidak mengambil langkah yang sama?

Pangsa pasar UMKM cukup besar karena sekarang di Indonesia terdapat sekitar 50 juta unit UMKM, terdiri dari 47.702.310 unit usaha mikro, 2 juta unit usaha kecil, dan 120.000 unit usaha menengah. Namun, sebagian besar usaha ini menghadapi kesulitan mendapatkan kredit dari perbankan nasional. Dari total semua UMKM, hanya 18,9 juta pengusaha yang menjadi nasabah bank. Sisanya, sekitar 31 juta tidak punya akses ke bank.

Memang, sejak awal 2008 pemerintah telah meluncurkan program pembiayaan baru bagi UMKM dan koperasi, yaitu kredit usaha rakyat (KUR). Dana yang disediakan sebesar 14,5 triliun disalurkan melalui enam bank pelaksana, yaitu BRI, BNI, BTN, Bukopin, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Mandiri. Pagu kredit yang diberikan mulai Rp 5 juta hingga Rp 500 juta dengan bunga maksimal 16 persen per tahun.

Cuma, sejauh ini banyak yang menilai bahwa penyaluran KUR belum berjalan efektif karena banyak terjadi penyimpangan (anomali) di lapangan. Selain tidak tepat sasaran, juga tidak merata ke seluruh daerah di Indonesia. Belum lagi adanya bank pelaksana yang masih mematok bunga di atas 16 persen serta mensyaratkan jaminan tambahan, padahal KUR telah dijaminkan pemerintah melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha sebesar Rp 1,45 triliun.

Memang benar bahwa tidak semua pelaku UMKM memerlukan kredit perbankan. Seperti para pelaku usaha gerabah atau keramik hias di daerah Kasongan, Yogyakarta dan para produsen tenun ikat parengan di Lamongan, Jawa Timur. Mereka rata-rata mencari sumber pendanaan bukan dari bank, melainkan dari DP (uang muka) calon pembeli.

Namun, tidak semua kondisi usaha UMKM sama persis seperti kasus di Yogya dan Lamongan. Sebaliknya, lebih banyak lagi yang memerlukan bantuan pendanaan baik dari perbankan maupun nonperbankan. Seperti yang dialami para perajin anyaman serat lontar di Takalar, Sulawesi Selatan dan perajin anyaman keladi air di Pontianak.

Pelaku UMKM tipe demikian sebetulnya bisa dijadikan pangsa pasar baru oleh kalangan perbankan syariah. Dari populasi 50 juta pelaku UMKM itu, jika saja 10 persennya dapat diraih bank syariah, akan ada penambahan nasabah baru sekitar 5 juta orang dari nasabah lama yang berjumlah hanya 2 juta orang. Itu berarti akan terjadi pertumbuhan hingga 150 persen lebih pada nasabah bank syariah.

BI selama ini sejatinya sudah mendorong kalangan perbankan syariah membantu UMKM untuk mengembangkan usaha. Data BI menyebutkan, dari seluruh pembiayaan bank syariah, yang mendekati Rp 20 triliun pada 2007, sekitar 70 persen disalurkan ke sektor UMKM.

Jika kalangan perbankan syariah serius akan menjadikan pelaku UMKM sebagai pangsa pasar potensialnya, diperkirakan mereka bakal menyambutnya dengan positif. Alasannya cukup simpel, selama ini para pelaku UMKM enggan berhubungan dengan bank konvensional karena faktor suku bunga (interest rate) yang terlalu tinggi untuk ukuran mereka dengan rata-rata dipatok di atas 12 persen. Padahal, suku bunga kredit yang layak bagi UMKM maksimal 8 persen setahun.

Sementara itu, bank syariah dalam operasionalisasinya memakai prinsip bagi hasil (profit-sharing) atau mudarabah, yaitu akad kerja sama usaha di antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal, sedangkan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudarabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Sedangkan apabila rugi, ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pihak pengelola.

Dengan menempatkan dana dalam prinsip mudarabah, pemilik dana tidak mendapatkan bunga seperti halnya di bank konvensional, tetapi nisbah bagian keuntungan. Dalam praktiknya, nisbah untuk tabungan berkisar 55 persen-56 persen dari hasil investasi yang dilakukan oleh bank. Dalam hal bank konvensional, angka tersebut kira-kira setara dengan 11 persen-12 persen.

Inilah sisi keuntungan bagi para pelaku UMKM jika mereka menggunakan transaksi syariah yang tidak didapatkan pada transaksi bank konvensional. Bak gayung bersambut, kedua pihak dipastikan saling menangguk keuntungan (simbiosis mutualisme), di mana kalangan perbankan syariah bakal mendapatkan pangsa pasar potensial, sementara para pelaku UMKM memperoleh pembiayaan perbankan dengan bunga rendah dan lunak, serta layanan cepat dan tidak berbelit-belit. Semoga!

[Dimuat di Suara Karya, 11 Maret 2009]

Incoming search terms for the article:


5 Langkah Strategis Meningkatkan Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Posted: September 10th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Yoki Kuncoro | Tags: | 2 Comments »

Bank Indonesia, data pada Juni 2008, mempublikasikan bahwa total asset perbankan syariah masih sebesar 2,11 persen dibandingkan dengan total asset perbankan nasional. Hasil ini menunjukan bahwa perkembangan perbankan syariah masih cukup lambat bila melihat rentang waktu sejak bank syariah (Bank Muamalat) berdiri. Bahkan, target pangsa pasar 5 persen sampai akhir 2008 yang telah dicanangkan Bank Indonesia terancam gagal.

Karena itu, tema utama yang selalu menjadi perbincangan hangat bagi pelaku perbankan syariah adalah bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah. Ada lima langkah strategis yang coba saya usulkan sebagai sebuah solusi.

Pertama, bank syariah harus berani masuk ke pasar rasional dan mengakuisisi nasabah bank konvensional dengan strategi yang fokus mengkomunikasikan keuntungan fungsional.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bank syariah harus fokus pada keuntungan fungsional atau mendasar seperti keamanan, ragam layanan produk, dan kemudahan. Ini berarti, perhatian bank syariah jangan tersita hanya sebatas mengkomunikasikan keuntungan emosional seperti terhindar dari riba. Mengapa? Karena kenyataannya, mayoritas masyarakat menganggap keuntungan fungsional juga sangat penting.

Contoh bank syariah yang sudah mulai fokus mengkomunikasikan keuntungan fungsional adalah Bank Muamalat. Hal ini dapat dilihat pada berbagai tayangan iklan produk Share saat bulan puasa ini.

Kedua, bank syariah jangan lagi hanya mengalokasikan seluruh sumber dayanya untuk melakukan komunikasi yang ditujukan untuk meningkatkan awareness. Karena awareness bank syariah telah tinggi. Yang masih rendah adalah pengetahuan nasabah akan produk-produk bank syariah.

Sesuai dengan tahapan pada hierarchy of effect model, bahwa setelah awareness, perusahaan perlu meberikan pemahaman (knowledge) yang jelas akan produk-produknya. Hal ini ditujukan agar masyarakat tidak lagi bertanya-tanya akan perbedaan produk bank syariah dengan produk bank konvensional. Sayangnya, masih sangat banyak masyarakat yang belum memahami produk bank syariah. Bahkan yang lebih fatal, ada masyarakat yang masih mempersepsikan sama antara bagi hasil dan bunga bank.

Ketiga, setiap strategi komunikasi yang dilakukan bank syariah perlu di-match-kan dengan tahapan-tahapan pada hierarchy of effect model. Misalnya, ketika di awal munculnya bank/produk syariah, maka strategi komunikasi lebih difokuskan pada peningkatan awareness. Tetapi ketika awareness telah tinggi, bank syariah perlu mengkomunikasikan berbagai keuntungan agar nasabah memiliki pemahaman (knowledge) akan produk bank syariah.

Pada tahap berikutnya, bank syariah perlu membuat strategi komunikasi yang dapat menciptakan ketertarikan (interest) nasabah akan produk bank syariah. Setelah nasabah tertarik, maka bank syariah harus lebih maju dalam membuat program komunikasi. Hal ini ditujukan agar tercipta nasabah dengan preferensi yang kuat untuk memanfaatkan atau memiliki rekening di bank syariah dibandingkan bank konvensional.

Terakhir, agar tidak sebatas trial dan akhirnya lepas lagi, bank syariah perlu membuat strategi relationship yang berkesinambungan agar nasabahnya menjadi pelanggan yang loyal dalam jangka panjang.

Kesemua hal tersebut perlu dilakukan agar dapat diketahui pada tahap mana strategi bank syariah dalam mengakuisisi nasabah konvensional menjadi pelanggannya. Dan, dapat menentukan strategi komunikasi apa yang tepat untuk setiap tahapannya.

Keempat, bank syariah perlu memanfaatkan peran influencer. Untuk mengakuisisi nasabah bank konvensional, tidak semudah membalikan telapak tangan. Misalnya dengan mem-borbardir melalui berbagai iklan dan promosi. Lalu, berharap nasabah bank konvensional akan langsung berpindah. Tidaklah sesederhana itu.

Diperlukan sebuah pemicu yang mampu menggerakan nasabah bank konvensional berpindah. Pemicu itu adalah orang-orang yang mampu memberi pengaruh besar, atau biasa disebut sebagai influencer. Influencer ini bisa berupa pemilik atau pemimpin perusahaan, pemimpin organsasi, atau pemimpin sekolah/pesantren.

Contoh bank yang sangat sukses memanfaatkan peran influencer adalah Bank Central Asia (BCA). Lihat saja, telah sejak lama perusahaan atau industri memiliki kebijakan agar karyawannya memiliki rekening BCA, walau dengan alasan pembayaran gaji atau payroll. Pada kasus ini, terlihat peran yang besar dari pemilik atau pemimpin perusahaan untuk membuat karyawannya menjadi nasabah BCA.

Namun, untuk memanfaatkan peran influencer perlu strategi pendekatan yang khusus. Karena para influencer ini adalah orang-orang yang sangat penting dan sangat sibuk dengan berbagai urusan. Karena itu, perlu ada strategi relationship marketing yang tepat dan bersifat jangka panjang. Bukan hanya dalam bentuk transactional yang sekadar mengambil manfaat sesaat.

Kelima, berikan layanan dalam bentuk produk-produk yang memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyaman. Berdasarkan riset MARS Indonesia, layanan menjadi salah satu faktor utama nasabah memilih bank.

Namun jangan tertipu. Layanan di sini bukan hanya dalam bentuk keramahan. Tetapi yang dimaksud nasabah adalah layanan dalam bentuk produk-produk yang mampu memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyaman. Untuk itu, bank syariah harus terus meningkatkan produk-produknya yang dapat memuaskan kebutuhan fungsional nasabah.

Akhirnya, bila kelima solusi ini dijalankan, maka bank syariah akan mampu mengkomunikasikan keuntungan emosional sekaligus keuntungan fungsional. Semoga kelima solusi singkat ini dapat membantu peran bank syariah dalam meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia. Amien***

Tulisan ini dibuat penulis untuk CEO MARS Indonesia dan diterbitkan di Sinar Harapan edisi Selasa, 9 September 2008

Incoming search terms for the article:


Brand Communication Perbankan Syariah

Posted: January 16th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | Tags: , | 2 Comments »

Bagi para pelaku perbankan syariah, saat ini merupakan momen yang cukup menantang dan menguras energi. Kenapa? Karena Bank Indonesia (BI) telah menargetkan pencapaian pangsa pasar perbankan syariah sebesar 5 persen dari total pasar perbankan nasional pada akhir tahun 2008. Jadi, mau tidak mau, para pelaku perbankan syariah harus ekstra keras berusaha merealisasikan target tersebut melalui berbagai ide dan strategi bisnisnya.

Setali tiga uang, tulisan ini juga ingin berkontribusi melalui strategi bisnis yang dinamakan integrated brand communication. Sebuah strategi yang bertujuan menciptakan dan meningkatkan brand awarness perbankan syariah. Dengan begitu, maka brand perbankan syariah dapat terekam jelas di benak customer. Juga, akan terjadi peningkatan jumlah customer baru yang loyal dan berpengaruh. Alhasil, aset perbankan syariah akan meningkat hingga mencapai target pasar yang diinginkan.

Memang, kalau melihat data yang dipublikasikan BI, sampai dengan Mei 2007 total aset perbankan syariah masih sebesar Rp 28,36 triliun. Coba kita bandingkan dengan total aset perbankan nasional yang mencapai Rp 1.712,42 triliun. Ternyata, pangsa pasar perbankan syariah hanya sebesar 1,66 persen. Sebuah persentase yang terbilang sangat kecil untuk sebuah penguasaan pangsa pasar. Untuk itu, diperlukan strategi bisnis yang tepat dan terarah agar dapat merealisasikan target tersebut.

Secara garis besar, setidaknya ada dua strategi bisnis yang diperlukan untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah. Strategi pertama, perluasan sistem infrastruktur perbankan syariah sampai ke daerah-daerah. Hal ini bertujuan agar layanan perbankan syariah bisa mencapai pangsa pasar yang lebih luas.
Contoh penerapan dari strategi ini adalah konsep interkoneksi antar bank syariah. Lalu, strategi office channelling yang merupakan kebijakan pembukaan layanan syariah melalui kantor cabang konvensional. Juga, kebijakan spin off atau pemisahan dua unit usaha syariah bank umum konvensional menjadi bank umum syariah.

Semua penerapan dari strategi tersebut akan dapat berjalan optimal dan cepat bila didukung pemerintah dan DPR melalui pengesahan RUU perbankan syariah. Kalau pengesahan itu cepat terlaksana, hampir semua pelaku bisnis meyakini pangsa pasar perbankan syariah akan mencapai 5 persen pada akhir tahun 2008. Apalagi, bila masalah perpajakan ganda bisa terselesaikan. Maka, akselerasi peningkatan pangsa pasar perbankan syariah pun akan bergerak lebih cepat.

Sayangnya, strategi ini masih sangat tergantung dari para pengambil kebijakan di negeri ini. Bila pemerintah dan DPR bergerak cepat dalam pengesahaan RUU perbankan syariah, tentunya usaha ini akan berjalan lancar. Namun, jika pengesahaan RUU perbankan syariah ini bergerak sangat lambat, maka harapan untuk meningkatkan pangsa pasar hingga 5 persen pada tahun 2008 akan pupus begitu saja.

Jadi, melihat ketergantungan yang tinggi terhadap pengesahaan RUU perbankan syariah, maka tulisan ini lebih merekomendasikan pada strategi bisnis yang kedua. Yaitu, penciptaan brand perbankan syariah yang kuat melalui penerapan integrated brand communication. Strategi ini fokus untuk memenangkan customer di pasar mengambang atau floating market.

Mengacu pada penelitian yang dilakukan Karim Business Consulting, saat ini pasar terbesar yang masih terbuka lebar untuk dimasuki oleh perbankan syariah adalah pasar mengambang. Pasar ini memiliki karakter sebagai pasar yang lebih mementingkan seberapa besar total value yang bisa dinikmati. Total value ini terdiri dari economic benefit dan emotional benefit. Bila perbankan syariah mampu memberikan total value yang nyata, maka pasar mengambang akan dapat dimenangkan dengan strategi penciptaan brand yang kuat.

Customer sangat paham, bahwa brand merupakan cerminan dari seberapa baik kualitas servis dan produk dari perbankan syariah. Seberapa jelas diferensiasi dan positioning perbankan syariah. Dan berujung pada seberapa besar total value yang bisa didapatkan customer, baik itu keuntungan ekonomi atau keuntungan emosional.

Karena itu, saat ini integrated brand communication menjadi sebuah solusi jitu yang harus dilakukan agar pangsa pasar perbankan syariah bisa meningkat secara signifikan. Dan tentunya, solusi ini juga perlu dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh bank syariah dalam waktu yang sama. Tak terkecuali oleh BI.

Integrated brand communication yang perlu dilakukan terdiri dari brand visualization dan brand activation. Brand visualitation adalah bentuk komunikasi brand melalui proses visualisasi sehingga mudah dipahami dan diingat oleh customer secara cepat. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan memori yang kuat dibenak customer terhadap karakter brand perbankan syariah.

Setidaknya ada dua usaha yang perlu dilakukan dalam menciptakan memori brand yang kuat dibenak customer melalui proses visualisasi brand. Antara lain, dengan logo dan promosi melalui iklan.

Logo memegang peranan sangat penting. Salah satu kemampuan tercepat manusia dalam memahami sesuatu adalah melalui visualisasi gambar atau lambang yang diterjemahkan sebagai logo. Untuk itu, visi perbankan syariah akan menjadi lebih cepat dipahami melalui peranan logo.

Salah satu contoh sukses dari penciptaan brand melalui logo adalah BNI. Di awal 2004, BNI merubah logonya. Hal ini dilakukan dalam rangka perubahan budaya internal yang akhirnya mengarah pada peningkatan kepuasan customer. Dengan pergantian ini, BNI berusaha mendefinisikan konsep experience the brand sebagai sebuah service business. Intinya, BNI ingin fokus pada peningkatan layanan dan kepuasan dari customer.

Lalu, penciptaan memori brand lainnya adalah melalui strategi promosi dan iklan. Sebelumnya, strategi ini telah banyak dilakukan oleh hampir semua bank syariah. Dengan promosi atau iklan, customer menjadi lebih cepat belajar memahami positioning dan diferensiasi perbankan syariah.

Namun sayangnya, strategi ini belum dilakukan secara intensif dan bersama-sama. Sehingga, sampai saat ini belum bisa tercipta sebuah brand image yang kuat dan jelas yang bisa dipahami oleh customer.

Selain penerapan visualisasi brand, perbankan syariah juga perlu melakukan brand activation atau aktivasi brand yang terarah sesuai dengan segmen pasar yang akan dituju. Aktivasi brand ini bertujuan meningkatkan jumlah customer baru yang loyal terhadap perbankan syariah melalui penciptaan brand perbankan syariah yang kuat, dengan menghadirkan keterlibatan customer.

Untuk mewujudkannya, bisa dilakukan public relation dan penyelenggaraan beragam event yang langsung melibatkan customer. Artinya ada interaksi dua arah yang intensif antara customer dengan praktisi perbankan syariah. Sehingga, transfer pengetahuan dan kelebihan-kelebihan perbankan syariah akan berjalan sangat optimal.

Misalnya ketika membidik target pasar sektor korporasi. Pada segmen ini, public relation memegang peranan yang sangat penting dalam mengkomunikasikan brand perbankan syariah secara tepat dan terarah. Bila dilakukan serius dan berhasil, karena sektor korporasi merupakan pasar yang gemuk, maka pangsa pasar perbankan syariah bisa meningkat secara signifikan.

Salah satu contoh aktivitas nyata dari public relation ini adalah membuat komunitas yang berisikan banyak korporasi dengan kapitalisasi besar. Misalnya saja komunitas pembiayaan keuangan syariah bagi korporasi. Melalui komunitas ini, bisa dilakukan business gathering sebulan sekali yang melibatkan para pengambil keputusan di korporasi tersebut. Dengan begitu, maka akan lebih mudah melakukan sebuah relationship yang mampu mentransfer informasi dan knowledge secara intensif. Pada akhirnya, bisa dihasilkan transaksi-transaksi bisnis yang nyata dan menguntungkan.

Selain public relation, perlu juga dilakukan berbagai kegiatan atau event. Misalnya kepada segmen pasar remaja intelektual. Segmen pasar remaja ini, yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan eksekutif muda, merupakan pasar yang cerdas yang mampu mendefinisikan kelebihan-kelebihan perbankan syariah lebih cepat. Juga, dengan kemampuan intelektualnya, segmen pasar ini akan bisa menjadi influencer atau customer yang mampu mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk bisa menjadi customer perbankan syariah berikutnya.

Contoh penerapannya adalah dengan mengadakan berbagai macam seminar, pameran, dan workshop di banyak perguruan tinggi, komunitas intelektual, dan pesantren di seluruh daerah di Indonesia. Agar biaya penyelenggaraan event bisa ditekan seefisien mungkin namun tetap efektif, lagi-lagi perlu dilakukan kerjasama yang melibatkan seluruh bank syariah dengan didukung oleh BI.

Strategi sukses mengkomunikasikan brand dengan event misalnya seperti yang baru saja dilakukan oleh Softex. Perusahaan ini melakukan peremajaan brand dengan mengadakan banyak event yang sesuai dengan pangsa pasar yang dituju, yakni anak muda. Kenapa? Karena sebelumnya, di benak customer, brand Softex sangat identik dengan produk yang digunakan oleh segmen pasar orang berusia paruh baya atau tua. Alhasil, seperti yang terjadi sekarang, brand Softex kembali menjadi salah satu penguasa pasar di bisnisnya setelah berhasil meningkatkan pangsa pasar di segmen pasar anak muda.

Nah, berdasarkan deskripsi analisis di atas, maka integrated brand communication melalui penerapan brand visualitation dan brand activation dapat menciptakan sebuah brand image, brand identity, dan brand integrity yang kuat dalam benak customer. Dan akhirnya, akan melahirkan banyak customer cerdas yang memahami ketertarikannya dan kesetiaannya terhadap brand perbankan syariah. Serta, bisa menjadi customer yang berpengaruh dan menjadi pembela bagi brand perbankan syariah. Customer ini biasa diistilahkan sebagai advocated customer.

Menariknya, bila semua strategi ini dilakukan dengan keterlibatan semua bank syariah dalam waktu satu tahun sejak saat ini, maka menjadi sebuah usaha yang optimis untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah hingga mencapai di atas 5 persen pada akhir tahun 2008.

Jadi, alangkah lebih baiknya bila, sambil menunggu keputusan penting dari pengambil kebijakan, kita berusaha keras bersama-sama dan secara intensif melakukan integrated brand communication agar bisa berhasil meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah secara signifikan hingga berhasil mencapai target 5 persen pada akhir tahun 2008. Insya Allah. ***

See more at www.yokikuncoro.com

Incoming search terms for the article: