Obama dan Krisis Ekonomi Amerika Serikat

Posted: January 16th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: , , | 1 Comment »

Banyak orang terlalu berharap dengan terpilihnya Obama menjadi Presiden AS. Harapan yang tinggi tergantung di langit. Obama diharapkan dapat menuntaskan masalah krisis ekonomi dengan segera.

Pada hari Obama mengumumkan kemenangannya, pemerintah AS sedang kelimpungan mencari pinjaman sebesar AS $ 550 milyar untuk menutupi pengaruh krisis yang harus dipenuhi dalam 3 bulan kedepan.

Sementara gelombang pemutusan hubungan kerja terus mengguncang negara Paman Sam. Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa tingkat pengangguran diatas angka prediksi yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 478.000 orang jauh diatas prediksi 475.000 orang.

Chrysler LLC telah memotong 1.825 pekerjaan akibat jatuhnya angka penjualan yang mencapai 25 % pada 9 bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama pada tahu lalu. Dilaporkan Chriysler merugi sebesar AS $ 570 juta pada bisnis otomotif. Bisnis otomotif merupakan bisnis yang paling terkena dampai krisis, figure penjualan pada bulan Oktober menunjukkan angka yang menyedihkan : penjualan mobil di General Motor terjungkal sebesar 45 %, Ford Motor turun sebesar 30 %, Honda Motor Co mencatan penurunan 25 % sedangkan Toyota Motor Corp turun 23 %, sedangkan penjualan Nissan Motor Co terjun di angka 33 %. Ini berarti penjualan mobil merupakan terendah selama 17 tahun terakhir.

Circuit City Store yang memiliki 700 outlet di 28 negara bagian telah menutup 155 outletnya. Ini berarti telah menghapus pekerjaan 17 % tenaga kerjanya atau mencapai 7.300 orang dari total 43.000 orang tenaga kerja.

Goldman Sach Groups Inc. melaporkan telah menghapus 3.260 pekerjaan atau 10 % dari total tenaga kerja. Yahoo memotong 10 % tenaga kerja atau mem-phk 1.500 orang. Perusahaan obat Merck & Co menghapus 7.200 posisi dan Lembaga keuangan National City Corp turut menutup 4.000 pekerjaan. Sedangkan Xerox Corp melakukan hal yang sama dengan jumlah 3.000 pekerjaan. Fidelity National Financial Inc. mengumumkan 1.000 phk, menutup sebagian kantor, mengurangi 10 % gaji dan memangkas 50 % dividen.Populan Inc. induk dari Banco Popular akan memangkas 600 karyawannya.

Pengaruh dari tingginya angka pengangguran menyebabkan hilangnya kemampuan membayar cicilan mortgate (cicilan kredit perumahan). Kasus kredit mortgate yang macet melonjak mencapai 70 % pada kuartal ke tiga.

Commerce Department melaporkan pembiayaan sektor konstruksi turun sebesar 0.3 % pada September. Sementara sektor perumahan jatuh sebesar 1.3 % sedangkan realisasi proyek pemerintah turun sebesar 1.3 %.

Seperti dalam pidato kemenangannya, Obama hanya memerlukan dua hal, yaitu : waktu untuk bisa keluar dari krisis dan “menteri-menteri bintang” dalam kabinetnya yang bisa membawa Amerika Serikat keluar dari bencana.

Itupun kalau Obama selamat dari incaran para pembunuh. Pada masa kampanye saja, pihak keamanan AS sudah berhasil membongkar rencana pembunuhan yang dilakukan oleh dua pemuda kulit putih neo-Nazi, Daniel Cowart (20) dan Paul Schlesselman (18). Selain itu, Thomas Robb, direktur nasional Knights of the Ku Klux Klan juga mengirimkan ancamannya melalui rekaman video yang menyatakan perang rasial bila Obama menjadi presiden. Dinas Rahasia AS mencatat selusin ancaman pembunuhan yang serius terhadap Obama – Presiden AS terpilih ke 44 yang nota bene merupakan presiden berkulit hitam pertama.

Nopember 2008

Incoming search terms for the article:


Obama V.S. Clinton: Semangat V.S. Modal

Posted: January 16th, 2008 | Author: Renji Betari | Filed under: Opini | Tags: , , , | No Comments »

“They said.. They said.. This day will never come..!”

Inilah kalimat pertama saat Barrack Obama mengejutkan seluruh dunia dengan memenangkan suara terbanyak di partai Demokrat, di Kaukus Iowa, babak kick-off PEMILU Amerika.

“I dreamed about the president who will stop the war in Iraq!”

“I dreamed about the president who will provide jobs for everyone!”

“I dreamed about the president who will provide free medicine for the poor!”

“and if You give me the same chance in New Hampshire and beyond..,

I will became that president for You.

Mendengarkan pidato Obama, memang secara sepintas muluk-muluk dan naif, namun dapat terlihat niat tulus dan determinasi seorang pahlawan muda yang penuh semangat untuk membawa perubahan yang sangat didambakan Amerika. Banyak pengamat mengatakan, jarang sekali muncul kandidat yang mampu membuat pendukung nya terbawa emosi dan menitikkan air mata, seperti yang dilakukan Obama dalam setiap kampanye nya.

Pertama kalinya dalam sejarah Iowa, kemarin, negara bagian Amerika yang 95% penduduknya kulit putih konservatif, memenangkan seorang kandidat berdarah Afrika-Amerika. Obama secara ajaib meleburkan perbedaan bangsa kulit hitam dan kulit putih menjadi satu tujuan nasional, ini membuktikan bukan masalah baginya menyatukan partai republik dan democrat, dalam rally panjang PEMILU Amerika.

Kemenangan ‘kuda hitam’ ini adalah pukulan telak bagi Hillary Clinton, yang dalam kampanye-nya seringkali menjatuhkan Obama dengan berkata “Anak muda itu tidak punya cukup modal dan pengalaman untuk maju ke PEMILU”. Hillary bahkan berkata dalam jumpa pers, jika ia harus kalah, ia memilih kalah dari John Edward, yang sudah memiliki pengalaman lebih lama sebagai senator, dibanding Obama. Keyakinan Hillary ini pun di dukung oleh banyak kitikus yang memandang Obama sebelah mata.

Hillary yang sebelumnya optimis, femininisme akan membuat dirinya lebih popular diantara pemilih wanita kini harus memikirkan strategi lain, karena dari pemilih wanita di Iowa ternyata paling banyak menjatuhkan pilihan pada Obama. Suatu polling yang dibuat CNN, mengenai kadar popularitas para kandidat, menghasilkan angka mengejutkan. 70 % Voters democrat mengatakan tidak mendukung Hillary. Ini tentu beralasan, karena jika melihat rombongan pejabat di baris belakang kampanye Hillary, mereka adalah wajah-wajah lama dari jaman Clinton berkuasa yang sudah tidak mendapat simpati pendukung Demokrat.

Dari pemungutan suara di Iowa, CNN menemukan 57 % suara untuk Obama berasal dari pemilih muda berusia 17-29 tahun, dan hanya 18 % berasal dari pemilih diatas 65 tahun, angka yang sangat jarang ditemukan. Bagi generasi muda yang belum dewasa di masa kepemimpinan Clinton, kontribusi masa lalu Clinton tidak berarti banyak, karena ketika itu mereka masih sibuk dengan pekerjaan sekolah.

Kekalahan Hillary ini lebih banyak disebabkan karena dalam kampanyenya, ia begitu menekankan pengaruh pengalaman dan modal yang dibutuhkan oleh seorang kandidat presiden, ada pada dirinya, yang secara telak menyerang ‘kemudaan’ Obama. Namun yang luput dari perhatian Hillary adalah bagaimana menyentuh sisi emosional masyarakat, yang saat ini sangat terpukul dan terluka karena berbagai konflik di Iraq, masalah ras, harga tinggi, kemiskinan, kesehatan dan masih banyak lagi.

Meski demikian masih ada harapan bagi Hillary untuk memenangkan PEMILU. Jika Obama menggunakan strategy menarik simpati, Hillary Clinton terpaksa menggunakan cara taktis. Bagi Clinton yang sudah berpengalaman dengan kampanye dan modal berlimpah, kekuasaan mungkin dapat menambah suara baginya melalui beberapa negara bagian.

Kaukus Iowa secara kuantitas hanyalah porsi kecil dari putaran panjang yang akan berlangsung di seluruh negara bagian Amerika. Namun efek psikologis sering muncul, pemenang pada putaran kick-off ini langsung mendapat simpati masyarakat karena mendapatkan ‘momentum’, suatu energi besar yang menggerakkan massa. Kick off ini juga menjadi babak prediksi bagi setiap kandidat untuk melanjutkan keikutsertaannya dalam PEMILU hingga November 2008 yang menguras waktu, tenaga dan biaya jor-joran.

Sebuah langkah yang patut dicontoh, dua kandidat yang memperoleh kurang dari 5 % suara, Joe Biden dan Chris Dood, langsung mengundurkan diri dari putaran berikutnya, setelah mengetahui hasil suara di kaukus Iowa.

Masih banyak suara sumbang menggema di belakang Obama yang meragukan apakah ia akan punya cukup modal untuk meneruskan hingga PEMILU putaran terakhir. Ini adalah penilaian pesimis yang sudah jelas telah dipatahkan Obama. Jika ia mampu menyedot jutaan suara dari pengalaman nol sebagai kandidat Presiden, masa kah ia tidak mampu menarik lebih banyak modal, yang nota bene sudah dan akan dialirkan oleh pendukung nya sendiri.

Tantangan besar yang ada di hadapan Barrack Obama adalah, jika pada akhirnya ia berhasil mewujudkan ambisi besarnya menjadi Presiden Amerika Serikat, negara terbesar di dunia, dengan beragam ideologi, suku dan kepentingan. Negara yang berhasrat dan mau tidak mau campur tangan dalam urusan rumah tangga setidaknya separuh negara yang ada di dunia. Apakah ia mampu mengubah kata-kata indah menjadi perbuatan??

Renji Betari, 5 Januari 2008.