<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments for Kolumnis.com</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>Sindikasi Penulis Opini (Beta)</description>
	<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 00:37:59 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>Comment on Audit PLN, Siapa Takut? by js</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/16/audit-pln-siapa-takut/#comment-114</link>
		<dc:creator>js</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 13:11:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/07/16/audit-pln-siapa-takut/#comment-114</guid>
		<description>masalahnya kalau pln rugi dan operasionalnya susah itu diawali dari investasi zaman orde baru yang di mark up terlalu tinggi sehingga depresiasinya juga tinggi. gitu lo mbak. tapi ya harus transparan, 
saya pernah audit pdam investasi bantuan dari australi senilai 2 m, tapi setelah di audit oleh pihak independen ya hanya 50% nya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>masalahnya kalau pln rugi dan operasionalnya susah itu diawali dari investasi zaman orde baru yang di mark up terlalu tinggi sehingga depresiasinya juga tinggi. gitu lo mbak. tapi ya harus transparan,<br />
saya pernah audit pdam investasi bantuan dari australi senilai 2 m, tapi setelah di audit oleh pihak independen ya hanya 50% nya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Resensi Buku: Cara Gila Jadi Pengusaha by imam</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/02/resensi-buku-cara-gila-jadi-pengusaha/#comment-113</link>
		<dc:creator>imam</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 04:48:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/07/02/resensi-buku-cara-gila-jadi-pengusaha/#comment-113</guid>
		<description>kenapa judulnya harus cara gila jadi pengusaha? 
kenapa tidak cara untuk jadi pengusaha sukses.......</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kenapa judulnya harus cara gila jadi pengusaha?<br />
kenapa tidak cara untuk jadi pengusaha sukses&#8230;&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ketiput dan Mujarobat ala Andrea Hirata by Supiastutik</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/03/21/ketiput-dan-mujarobat-ala-andrea-hirata/#comment-112</link>
		<dc:creator>Supiastutik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 23:44:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/03/21/ketiput-dan-mujarobat-ala-andrea-hirata/#comment-112</guid>
		<description>Setuju sekali dengan opini Ria,  mengubah masyarakat dengan tradisi lisan menuju masyarakat bertradisi baca tulis  memang tidak semudah membalik telapak tangan. Namun upaya Ria  untuk memberikan bahan bacaan kepada penjual pepaya langganannya adalah awal yang baik. 
Perlu kita pikirkan bersama bagaimana metode yang ces pleng untuk mendongkrak minat baca dalam masyarakat kita. 

Minat baca seharusnya dikembangkan oleh keluarga-keluarga dan dimulai  sejak anak-anak atau bahkan diawali sejak balita. Dalam hal ini peran orang-tua menjadi motor penggerak upaya pendongkrakan minat baca. Namun lagi-lagi kendala muncul di ruang keluarga kita, karena telah muncul sang pendongeng penyebar tradisi lisan yang makin canggih. Bila dahulu kala tradisi kelisanan disebarkan oleh nenek-nenek kita dengan dongeng , sekarang peran kelisanan itu digantikan  oleh sang pendongeng elektronik televisi.  

Pemerhati minat baca masyarakat semakin frustasi karena mendapati dunia kita menjadi semakin jauh dari tradisi baca, tulis.   Boro-boro memiliki tradisi meneliti, membaca saja sulit. Masyarakat lebih senang mendengar, bergunjing (bergosip) sebagaimana tercermin dalam acara infotainment yang semakin menjamur di televisi kita.

Yang menjadi pertanyaan, kapan kita mau dan akan berubah?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Setuju sekali dengan opini Ria,  mengubah masyarakat dengan tradisi lisan menuju masyarakat bertradisi baca tulis  memang tidak semudah membalik telapak tangan. Namun upaya Ria  untuk memberikan bahan bacaan kepada penjual pepaya langganannya adalah awal yang baik.<br />
Perlu kita pikirkan bersama bagaimana metode yang ces pleng untuk mendongkrak minat baca dalam masyarakat kita. </p>
<p>Minat baca seharusnya dikembangkan oleh keluarga-keluarga dan dimulai  sejak anak-anak atau bahkan diawali sejak balita. Dalam hal ini peran orang-tua menjadi motor penggerak upaya pendongkrakan minat baca. Namun lagi-lagi kendala muncul di ruang keluarga kita, karena telah muncul sang pendongeng penyebar tradisi lisan yang makin canggih. Bila dahulu kala tradisi kelisanan disebarkan oleh nenek-nenek kita dengan dongeng , sekarang peran kelisanan itu digantikan  oleh sang pendongeng elektronik televisi.  </p>
<p>Pemerhati minat baca masyarakat semakin frustasi karena mendapati dunia kita menjadi semakin jauh dari tradisi baca, tulis.   Boro-boro memiliki tradisi meneliti, membaca saja sulit. Masyarakat lebih senang mendengar, bergunjing (bergosip) sebagaimana tercermin dalam acara infotainment yang semakin menjamur di televisi kita.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan, kapan kita mau dan akan berubah?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ke-Putih-an Perempuan: Kolonial Nostalgia Bangsa by Supiastutik</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/04/28/ke-putih-an-perempuan-kolonial-nostalgia-bangsa/#comment-111</link>
		<dc:creator>Supiastutik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 23:18:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/04/28/ke-putih-an-perempuan-kolonial-nostalgia-bangsa/#comment-111</guid>
		<description>Tulisan Ria Fariana mengalami kemajuan yang luar biasa, kritis analitis dan ilmiah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Ria Fariana mengalami kemajuan yang luar biasa, kritis analitis dan ilmiah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on SINDIKASI KORUPSI by Heru Soetrisno</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/06/09/sindikasi-korupsi/#comment-110</link>
		<dc:creator>Heru Soetrisno</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 20:59:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/06/09/sindikasi-korupsi/#comment-110</guid>
		<description>Persoalan pada Hal yang pertama adalah, system pemilihan Pimpinan kita (Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota), tidak memberi kesempatan bagi Calon Pontensial yang tidak memiliki Dana. Semestinya setiap Calon Pimpinan dibiayai oleh Negara, seleksi Bakal Calon dilakukan oleh Tim yang betul2 Independen. Memang dalam beberapa kasus, system pemilihan yang ada sekarang menghasilkan Kepala Daerah yang komit, seperti Sumatera Barat, Kab. Jembrana dan Provinsi Gorontalo?, tetapi lebih system yang kita anut ini lebih banyak mencebloskan para Pimpinan tersebut ke Penjara.
Mengenai Kepastian Hukum, Mas Rudy bisa melihat kembali tulisan saya, bahwa ada banyak Produk Hukum yang jelas mengenai Korupsi.
Nah, hal yang ketiga ini kita masih sangat lemah, Kesadaran Kolektif kita harus dibangkitkan, ... mulai dari saya sendiri.

Terima kasih atas tanggapannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Persoalan pada Hal yang pertama adalah, system pemilihan Pimpinan kita (Presiden, Gubernur, Bupati atau Walikota), tidak memberi kesempatan bagi Calon Pontensial yang tidak memiliki Dana. Semestinya setiap Calon Pimpinan dibiayai oleh Negara, seleksi Bakal Calon dilakukan oleh Tim yang betul2 Independen. Memang dalam beberapa kasus, system pemilihan yang ada sekarang menghasilkan Kepala Daerah yang komit, seperti Sumatera Barat, Kab. Jembrana dan Provinsi Gorontalo?, tetapi lebih system yang kita anut ini lebih banyak mencebloskan para Pimpinan tersebut ke Penjara.<br />
Mengenai Kepastian Hukum, Mas Rudy bisa melihat kembali tulisan saya, bahwa ada banyak Produk Hukum yang jelas mengenai Korupsi.<br />
Nah, hal yang ketiga ini kita masih sangat lemah, Kesadaran Kolektif kita harus dibangkitkan, &#8230; mulai dari saya sendiri.</p>
<p>Terima kasih atas tanggapannya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Agama Malah &#8220;gama&#8221; by dodod</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/01/27/agama-malah-gama/#comment-109</link>
		<dc:creator>dodod</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 07:25:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/01/27/agama-malah-gama/#comment-109</guid>
		<description>Agama - agama telah banyak meminta korban darah dan air mata,sangat bertetangan dengan hati nurani yng paling dalam yaitu cinta kasih yang diberikan Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Ironisnya yng terjadi begitu banyak kekerasan dan kebencian berdsarkan agama dari pada rasa Nasionalisme. Menjadi pertanyaan : Siapakah yang mengendalikan agama-agama ini?Siapakah yng bertangguing jawab atas semua itu?
Apakah itu kehendak " Tuhan"?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Agama - agama telah banyak meminta korban darah dan air mata,sangat bertetangan dengan hati nurani yng paling dalam yaitu cinta kasih yang diberikan Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Ironisnya yng terjadi begitu banyak kekerasan dan kebencian berdsarkan agama dari pada rasa Nasionalisme. Menjadi pertanyaan : Siapakah yang mengendalikan agama-agama ini?Siapakah yng bertangguing jawab atas semua itu?<br />
Apakah itu kehendak &#8221; Tuhan&#8221;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Trans Yogya dan Perubahan Kota Yogyakarta by Frita</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/02/23/trans-yogya-dan-perubahan-kota-yogyakarta-tranportasi-massal/#comment-108</link>
		<dc:creator>Frita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 09:18:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/02/23/trans-yogya-dan-perubahan-kota-yogyakarta-tranportasi-massal/#comment-108</guid>
		<description>Pngn bgt jd mahasiswa UGM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pngn bgt jd mahasiswa UGM</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Personal Branding ala HANCOCK by Personal Branding ala HANCOCK &#124; siwah.com</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/06/personal-branding-ala-hancock/#comment-106</link>
		<dc:creator>Personal Branding ala HANCOCK &#124; siwah.com</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 18:40:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/07/06/personal-branding-ala-hancock/#comment-106</guid>
		<description>[...] : kolumnis.com, 6 Juli 2008  Tags: [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] : kolumnis.com, 6 Juli 2008  Tags: [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on SINDIKASI KORUPSI by Rudy</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/06/09/sindikasi-korupsi/#comment-99</link>
		<dc:creator>Rudy</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 05:23:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/06/09/sindikasi-korupsi/#comment-99</guid>
		<description>Brur, tiga hal yang harus dilakukan dalam pemberantasan korupsi :

1. Perubahan kebijakan negara - untuk pemberantasan Korupsi
    &#62; Ubah pimpinan negara ,tempatkan penyelenggara 
       negara,(executive) dan legislatif/DPR  serta 
       yudikatif/Jaksa,Polisi,Hakim  yang  komit  dengan 
       pemberantasan korupsi
    &#62; Segera buat penyempurnaan perangkat  anti korupsi

2. Kepastian hukum yang jelas 

3. Sosialisasi yang intensif kepada masyarakat untuk ikut dalam 
    pemberantasan korupsi, serta kesadaran atas hukum.


Semoga kita dapat merealisasikan tugas tugas ini.

Trims

Rudy E Kurniawan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Brur, tiga hal yang harus dilakukan dalam pemberantasan korupsi :</p>
<p>1. Perubahan kebijakan negara - untuk pemberantasan Korupsi<br />
    &gt; Ubah pimpinan negara ,tempatkan penyelenggara<br />
       negara,(executive) dan legislatif/DPR  serta<br />
       yudikatif/Jaksa,Polisi,Hakim  yang  komit  dengan<br />
       pemberantasan korupsi<br />
    &gt; Segera buat penyempurnaan perangkat  anti korupsi</p>
<p>2. Kepastian hukum yang jelas </p>
<p>3. Sosialisasi yang intensif kepada masyarakat untuk ikut dalam<br />
    pemberantasan korupsi, serta kesadaran atas hukum.</p>
<p>Semoga kita dapat merealisasikan tugas tugas ini.</p>
<p>Trims</p>
<p>Rudy E Kurniawan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Pengembangan Sistem Belajar Mandiri Berbasis E-Learning by Belajar mandiri berbasis ICT &#171; Lembaga Pengembangan Belajar Mandiri - EduCare - &#8221; &#8230;.. Pendidikan Bermutu , Mudah dan Murah untuk Anak-Anak Kita &#8230;.. &#8220;</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/06/14/pengembangan-sistem-belajar-mandiri-berbasis-e-learning/#comment-98</link>
		<dc:creator>Belajar mandiri berbasis ICT &#171; Lembaga Pengembangan Belajar Mandiri - EduCare - &#8221; &#8230;.. Pendidikan Bermutu , Mudah dan Murah untuk Anak-Anak Kita &#8230;.. &#8220;</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 15:20:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/06/14/pengembangan-sistem-belajar-mandiri-berbasis-e-learning/#comment-98</guid>
		<description>[...] Oleh heritl • 14th Jun, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:628 views •Kirim: Email This Post [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Oleh heritl • 14th Jun, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:628 views •Kirim: Email This Post [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
