MEMUSIUMKAN KEMISKINAN!

Posted: June 9th, 2009 | Author: efge | Filed under: Resensi Buku | Tags: | No Comments »

blog penulis

Judul :Creating World Without Poverty:How Social Business Can Transform Our Lives
(Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan: Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita)
Penulis :Muhammad Yunus bersama Karl Weber
Alih Bahasa :Rani R. Moediarta
Penerbit :P enerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit :2008
Tebal :x vii + 261 halaman

Melalui buku ini, Muhammada Yunus- peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2006 ingin menjelaskan bahwa melalui bisnis sosial semua orang mampu keluar dari kemiskinan. Bisnis sosial adalah suatu bisnis yang bertujuan tidak mencari keuntungan ( dividen) melainkan bertujuan sosial yaitu membantu mengentaskan kemiskinan.

Upaya itu diwujudkan Muhammad Yunus melalui bank yang didirikannya, Bank Grameen (grameen: desa). Melalui Bank Grameen, M. Yunus memberikan kredit mikro kepada rakyat kecil. Besarnya berkisar antara 30 – 40 dolar tanpa agunan dan bunga. Untuk bisa mendapatkan pinjaman seseorang harus memiliki kelompok kecil terdiri dari lima orang dan empat orang yang lain harus tahu saat seorang ingin mengajukan kredit mikro.

Dalam bab 3, dijelaskan bahwa Bank Grameen memiliki ketetapan yang harus dipahami tiap anggotanya. Semuanya terangkum dalam Enam Belas Keputusan:
1.Empat prinsip Bank Grameen-disiplin, persatuan, keberanian, dan kerja keras, harus dijalankan dan ditanamkan dalam setiap langkah kehidupan kita.
2.Kita harus menyejahterakan keluarga kita.
3.Kita tak akan hidup di rumah bobrok. Kita harus memperbaiki rumah dan berusaha mendirikan rumah baru sesegera mungkin.
4.Kita harus menanam sayuran sepanjang tahun. Kita harus makan banyak sayuran dan menjual kelebihannya.
5.Selama musim tanam, kita harus menanam sebanyak mungkin benih.
6.Kita harus merencanakan keluarga kecil. Kita harus meminimalkan pengeluaran. Kita harus mengutamakan kesehatan.
7.Kita harus menidik anak-anak dan memastikan mereka mampu membiayai pendidikan mereka.
8.Kita harus merawat anak-anakn danlingkungan agar selalu bersih.
9.Kita mesti membangun dan menggunakan WC.
10.Kita harus merebus air sebelum diminum atau menggunakan tawas untuk membersihkan air.
11.Kita tidak boleh mengambil mahar(maskawin) dari pernikahan putra kita;jangan pula memberi amhar apapun pada pernikahan putri kita. Kita harus menjaga pusat perkumpulan bebas dari kutukan mahar. Kita jangan melakukan pernikahan dini.
12.Kita tidak boleh menimbulkan ketidakadilan pada siapapun;kita pun jangan membiarkan siapapun melakukannya.
13.Untuk pendapatan lebih tinggi, kita secara kolektif harus melakukan investasi lebih besar.
14.Kita harus selalu siap membantu. Jika seseorang dalam kesulitan, kita semua harus membantu.
15.Jika kebetulan menemukan pelanggaran disiplin di pusta manapun, kita semua harus kesana dan membantu memulihkan kedisiplinan.
16.Kita harus sama-sama ambil bagian dalam semua aktivitas sosial.

Buku ini baik dan sangat menginspirasi pembacanya. Muhammad Yunus menyoroti kehidupan rakyat miskin di negaranya- Bangladesh, yang sangat banyak. Kelebihan lain yaitu, Muhammad Yunus tidak menyukai sisitem ekonomi yang ada karena hanya menggolongkan manusia sebagai buruh, bukan sebagai laki-laki atau perempuan. Dia juga mendeskripsikan orang miskin itu sebagai seseorang istimewa. Menurutnya orang miskin itu adalah orang bonsai. Benih mereka baik- baik saja. Hanya masyarakat tidak memberi dasar untuk tumbuh. Kita hanya perlu menciptakan lingkungan yang mendukung mereka demi mengentaskan orang melarat dari kemiskinan. (hal 61)

Sayangnya sebagai buku yang membahas permasalahan ekonomi, tidak ditemukan tabel ataupun diagram yang menunjukkan tentang membaiknya perekonomian Bangladesh sebelum dan sesudah Bank Grameen ada. Semuanya hanya dijelaskan secara verbal. Seaindainya dua hal tersebut disertakan pasti akan menjadi lebih baik.

Buku ini mengajarkan dan membuka mat kita tentang betapa buruknya perekonomian negara di dunia terutama negara berkembang. Hingga kebijakan ekonomi yang selama ini kita kenal ternyata begitu merugikan kaum papa. Kita akan tahu bagaimana suatu sisitem bernama IMF tidak memihak negara yang mendapatkan hibah dana.

Saat ini, kredit mikro telah diterapkan di banyak negara berkembang termasuk Indonesia. Secara mantap, Muhammad Yunus menjelaskan bahwa melalui sisitem kredit mikro, Bangladesh telah mengurangi masalah sosial seperti kemiskinan, buta huruf, angka kelahiran bayi, kesejahteraan rakyat. Menurutnya , Bangladesh sudah sangat siap mencapai Tujuan Pembangunan Milenium(Millenium Development Goals adalah janji yang diberikan negara maju kepada negara berkembang untuk keluar dari masalah sosial seperti kemiskinan yang harus dicapai sebelum tahun 2015).

Dari desa kecil di Bangladesh, Jobra- M. Yunus berhasil menyebarkan semangatnya untuk keluar dari kemiskinan kepada banyak orang di banyak negara melalui kredit mikro. Semangatnya tak pernah padam untuk Memusiumkan Kemiskinan. Dia berharap semua negara memiliki Musium Kemiskinan dan meletakkan kemiskinan disana. Begitu kemiskinan berlalu, kita perlu membangun musium untuk memperlihatkan kengeriannya bagi generasi mendatang. Mereka akan heran mengapa kemiskinan berlangsung begitu lama di masyarakat meanusoa- betapa segelintir manusia dapat hidup mwewah sementara miliaran lainnya bergulat dengan kesengsaraan, kekurangan, dan keputusasaan. (bab 11)

Kehadiran buku ini layak diapresiasi. Cocok dibaca untuk semua kalangan, terutama kalangan intelektual agar bisa terinspirasi dan menerapkan solusi mengentaskan kemiskinan. Sangat inspiratif, hebat dan yang pasti sudah selayaknya kita memusiumkan kemiskinan, cepat atau lambat!

****=worth to read!

Incoming search terms for the article:


Resensi Buku: Cara Gila Jadi Pengusaha

Posted: July 2nd, 2008 | Author: hadihartono | Filed under: Resensi Buku | Tags: , | 7 Comments »

Buku Cara Gila Jadi Pengusaha yang ditulis Purdi E. Chandra, seorang pengusaha sukses di bidang pendidikan luar sekolah – sangat menarik untuk dibaca. Mampu menularkan virus kewirausahaan sesuai dengan sub judulnya Virus Entrepreneur Jadi Pengusaha Sukses. Cover depan buku ini sangat menarik sehingga peresensi tergugah untuk membeli dan membaca. Ternyata pembahasannya nyaris sama dengan buku Purdi yang berjudul Menjadi Entrepreneur Sukses (Grasindo, Jakarta, cetakan ke-enam, April 2005). Hanya beberapa sub bagian saja yang mengalami perubahan. Plus mendapatkan bonus DVD seminar Cara Gila Jadi Pengusaha.

Selain itu, yang mengalami perubahan adalah foto Purdi pada desain cover depan. Purdi. Pada buku terdahulu, Purdi mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi.. Struktur buku terdiri dari 80 sub bagian yang dikelompokan menjadi 7 bagian. Pada cover buku yang sekarang, foto Purdi nampak lebih muda mengenakan kemeja batik lengan pendek bermotif bunga-bunga kecil yang peresensi tidak tahu nama bunganya. Struktur buku terdiri dari 76 sub bagian yang dikelompokan menjadi 8 bagian.

Sebagai bahan perbandingan, pada buku terdahulu bagian-bagianya yaitu ;

  1. Berani Modal Awal Entrepreneur
  2. Menjadi Entrepreneur Bagaimana?
  3. Pentingnya Kecerdasan Emosi
  4. Gaya Kepemimpinan Entrepreneur
  5. Intuisi Itu Perlu
  6. Mempelajari Pengalaman Entrepreneur Lain
  7. Entrepreneur University

Sedangkan pada buku yang sekarang bagiannya terdiri dari;

  1. Modal Jadi Entrepreneur Itu Cuma Berani dan Mimpi
  2. Ini Caranya Jadi Entrepreneur!
  3. Kecerdasan Emosional Penting Penting bagi Entrepreneur
  4. Gaya Memimpin Seorang Entrepreneur
  5. Jalur Cepat Jadi Entrepreneur Sukses
  6. Hati Nurani dan Intuisi sang Entrepreneur
  7. Apa yang Kita Pelajari dari Mereka?
  8. Entrepreneur adalah Soko Guru Perekonomian

Niat Purdi menerbitkan buku Cara Gila Jadi Pengusaha ini sangat mulya dan patut diacungkan dua jempol. Seperti yang ditulis dalam kata pengantar yang diberi judul Entrepreneur; Virus Maut, Cepat Menular, Bikin Pengidapnya “Gila”. Waspadalah!, sebuah kata pengantar yang sangat kontraversial tapi bernilai jual. Penulisnya memang piawai dalam membaca tren perbukuan, dan potensi pasar pembaca yang cenderung memilih buku dengan judul kontraversial.

Menurut Purdi, selain keberanian seorang entrepreneur modalnya adalah mimpi. Hal itu tertuang pada bagian satu yang berjudul Modal entrepreneur itu cuma berani dan mimpi! Keberanian seorang entrepreneur memang melekat pada diri penulis buku ini. Berani menjual produk lama dengan tampilan kemasan baru yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki daya pikat yang dahsyat. Menghilangkan enam sub bagian berikut; Jadi Pengusaha Tanpa Gelar, Tanpa Ujian Tanpa Nilai, Diwisuda setelah Jadi Pengusaha, Praktek Mancing Praktik Bisnis, Dari Pengusaha Sampai Raja Tempe, dan sub bagian Bisnis Belum Dianggap Bekerja.

Plus hanya menambah dua komponen pembahasan baru diantaranya pada; sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi Barokah, dan sub bagian 76 – Yuk Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama-Berkali-kali. Peresensi punya keyakinan “virus” ini-demikian Purdi memberikan istilah pada ilmu entrepreneurnya, akan menjadi buku best seller.

Kaum perempuan boleh berbangga hati bila membaca halaman 61 yang membahas, entrepreneur wanita memiliki banyak kelebihan karena ‘kewanitaannya’. Lebih luwes dan fleksibel, dan intuisi bisnisnya lebih peka. Penulis buku ini menyebutkan contoh wanita entrepreneur sukses seperti; Dr. Martha Tilaar, Moeryati Soedibyo, Poppy Dharsono, Dewi Motik, dan Nyonya Suharti. Apalagi dipertegas dengan pendapat Candida G. Brush, seorang professor assistant dari Management Police of Boston University,”entrepreneur wanita lebih kooperatif, informal, dan lebih mudah membangun kesepakatan dengan pihak lain. Sebaliknya entrepreneur laki-laki cenderung lebih kompetitif, lebih terkesan formal, dan lebih suka terkesan sistematik”.

Sebagai seorang entrepreneur, pertimbangan intuisi dalam mengambil keputusan juga sangat penting. Purdi mencontohkan saat akan membuka cabang perusahaannya di Solo, mobil yang mengangkut perlengkapan menabrak pohon. Beberapa rekan menyarankan untuk menunda pembukaan cabang di Solo dengan pertimbangan belum mulai usaha sudah mendapatkan musibah. Tetapi Purdi memiliki pertimbangan lain untuk melanjutkan, merubah mind set tahayaul yang sudah mendarah daging menjadikannya hikmah. Mungkin peristiwa ini sebagai tebusan yang mahal untuk kemajuan perusahaan. Terbukti kemudian, cabang Solo memiliki 10 outlet dengan siswa bimbingan belajar paling banyak. Lihat sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi barokah (halaman 188-190).

Pada bagian lain di halaman 177, dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu Purdi menyarankan untuk melakukan Jamming. Seperti kutipan pendapat Tom Peter, “perubahan yang serba cepat dan cenderung kacau itu pertanda zaman edan.” Jadi sangatlah wajar manakala buku ini diberi judul Cara Gila Jadi Pengusaha. Dengan begitu kita sebagai entrepreneur akan lebih siap menghadapi perubahan, dan akan lebih siap lagi mengatasi krisis, jika kita berhasil melakukan Jamming, tulisnya. Jamming itu identik dengan improvisasi yang dapat memunculkan ide-ide bisnis yang kratif dan inovatif.

Pada sub bagian terakhir dari halaman 228 – 231, Purdi mengajak pembaca untuk menjual perusahaan . “Yuk! Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama, Berkali-kali,” demikian sub bagian akhir diberinya judul. Ooops…nanti dulu, yang dimaksud menjual perusahaan menurut Purdi, menjual perusahaan secara franchise. “Ini yang disebut menjual perusahaan berkali-kali,”tulisnnya. Seperti yang dilakukannya menjual Primagama secara franchise yang kini sudah menggurita menjadi 600 cabang.

Di lembaran terakhir terdapat brosur Entrepreneur University, sekolah bagi semua yang ingin menjadi pengusaha. Sekali dayung – berkali-kali pulau terlampaui. He…he…he..!!!

Good Luck…… Mr. Purdi!

*** Hadi Hartono,

Incoming search terms for the article:


The Things They Carried – Kenangan Sang Prajurit, Tim O’Brien

Posted: May 6th, 2008 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Resensi Buku | Tags: , | No Comments »

Jujur saja, pertama kali saya mendapatkan buku ini karena terdapat tulisan kecil dikulit buku :  “Karya fiksi yang menggetarkan jiwa dan ditulis dengan indah” – THE ASSOCIATED PRESS.

Waktu itu saya berpikir, apakah mungkin cerita perang di Vietnam ditulis sebagai karya sastra ? Cerpen The Things They Carried ternyata mendapat penghargaan National Magazine Award, sedangkan novelnya sendiri yang diterbitkan pada tahun 1990 dipilih oleh para editor New York Time Book Review sebagai buku terbaik tahun itu.

Tim O’Brien, si penulis buku ini, menumpahkan pengalaman perangnya di Vietnam sebagai anggota dari prajurit infantri dari kesatuan Alpa Company bukan dalam bahasa teknis perang, tetapi dituturkan dalam bahasa yang indah dan kelihatannya ditulis dengan jiwa-nya.

Di dalam buku ini, tidak akan ditemui tentang taktik perang seperti strategi pertempuran anti gerilya yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan tentara VC (Vietcong – sebutan untuk pihak tentara komunis).

Tidak ada taktik regu atau peleton dalam melakukan penyergapan atau taktik pertempuran jarak pendek yang biasa dihadapi dalam perang di Vietnam.

*****

Buku The Things They Carried -Kenangan Seorang Prajurit, yang diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, berisi 22 cerita pendek. Cerpen yang tampil dihalaman pertama tentu saja dengan judul : The Things They Carried, yang diterjemahkan menjadi : Barang Bawaan Mereka.

Awal keterlibatan Timmy dalam perang yang kelam itu ditemui dalam cerpen yang berjudul : Di Sungai Rainy.

Pada cerpen ini, Timmy menceritakan tentang pergulatan hatinya ketika mendapatkan surat  panggilan wajib militer.

“Perang bukan levelku. Dunia sudah ada dalam genggamanku – siswa terbaik di kelas, predikat summa cum laude, ketua organisasi kemahasiswaan, dan beasiswa penuh untuk pascasarjana di Harvard”.

“Aku ingat amarah yang berkecamuk dalam perutku, yang kemudian mereda menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan lalu mati rasa”.

Diceritakan, untuk menghindari wajib militer,  akhirnya Timmy kabur ke perbatasan Kanada. Selama enam hari, Timmy mengalami pergolakan batin hebat antara menyeberang ke Kanada atau kembali ke kota asal untuk mengikuti wajib militer.

Selama enam hari Timmy tinggal disebuah pondokan Tip Top Lodge, bertemu dengan pemilik pondokan Elroy Berdahl, orang tua yang arif.

Pada hari ke enam, Elroy mengajak Timmy berperahu untuk memancing di sungai Rainy yang berbatasan dengan Kanada. Timmy menulis dalam cerpennya :

“Aku ingat menatap Elroy, lalu menatap tanganku, lalu Kanada. Garis pantainya tampak penuh dengan semak dan pepohonan. Aku bisa melihat buah yang tumbuh di semak. Aku bisa melihat tupai di atas pohon birch dan burung gagak yang menatapku dari batu besar di tepi sungai. Begitu dekat – dua puluh meter – dan aku bisa melihat jalinan rumit dedaunan, tekstur tanahnya, buah pohon pinus yang cokelat. Dua puluh meter. Aku bisa saja melompat dan berenang demi mencari kehidupannya. Dalam tubuhku, dalam dadaku, aku merasakan tekanan yang amat kuat. Bahkan sekarang, saat menuliskan ini, aku masih bisa merasakan tekanan itu.

Apa yang akan kau lakukan ?

Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis perlahan, bukan tangisan keras, hanya menangis tersedu-sedu. Sepertinya dari semua tempat, dari pohon, air dan langit, kepiluan sebesar dunia sedang menekanku, kepiluan yang berat.

Aku mencoba membulatkan tekadku untuk meloncat keluar perahu.

Aku mencoba, tak bisa.

Itulah yang paling menyedihkan. Dan demikianlah aku duduk di haluan perahu sambil menangis.

Tangisanku sekarang menjadi tangis yang keras dan nyaring”.

*****

The Things They Carried, kisah master piece dalam buku itu bertutur tentang barang bawaan para prajurit ketika melakukan operasi tempur. Selain membawa perlengkapan militer, ternyata mereka membawa beban lainnya.

“Mereka membawa semua beban emosional sebagai orang yang mungkin akan mati. Kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan-semuanya tak bisa dilihat, tapi semua hal yang tidak nyata itu punya massa dan berat jenis sendiri, semuanya punya berat yang bisa dirasakan. Mereka membawa ingatan yang memalukan. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tidak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, atau sembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, karena beban ini tak pernah bisa diletakkan. Beban ini menuntut kesimbangan dan postur tubuh yang sempurna. Mereka membawa reputasi mereka. Mereka membawa ketakutan terbesar seorang tentara, yaitu ketakutan untuk terlihat memalukan. Orang membunuh, dan juga mati, karena mereka malu untuk tidak membunuh. Inilah yang sebenarnya membawa mereka dalam peperangan, tak ada hal yang positif, bukan impian kebanggaan atau kehormatan, hanya untuk menghindari malu karena kehilangan kehormatan”.

******

Perang tidaklah selalu tentang kengerian dan kekerasan. Terkadang beberapa hal boleh dikatakan tampak indah. Misalnya, aku masih ingat seorang bocah laki-laki berkaki plastik. Aku ingat bagaimana ia meloncat-loncat mendekati Azar, lalu minta sebatang cokelat – “GI nomor satu, ” kata si bocah – dan Azar tertawa sambil memberikan cokelatnya. Ketika bocah itu meloncat pergi, Azar berdecak dan berkata, ” Perang memang jahat.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Satu kaki, sunggu jahat. Orang yang menembaknya pasti kehabisan peluru”

Cerita ini akan ditemukan pada cerpen berjudul : Sisi Lain dari Perang.

*****

Coba simak tulisan Timmy dalam cerpen yang lain : Bagaimana Cara Menceritakan Kisah Perang yang Sesungguhanya.

“Mungkin saja pada intinya, perang hanyalah nama lain untuk kematian. Namun, setiap tentara bisa bercerita – bila ia berkata jujur – bahwa kedekatan dengan kematian membawa pula kedekatan dengan kehidupan. Setelah tembak menembak sengit, selalu ada kepuasan luar biasa bahwa kita masih bisa merasakan hidup. Pohon yang hidup. Rumput, tanah- semuanya. Semua benda di sekeliling kita sungguh hidup, termasuk juga diri kita, dan perasaan hidup itu akan membuat kita gemetar. Kita merasakan keberadaan kuat jiwa raga kita-diri kita yang sejati, sosok manusia yang kita cita-citakan dan kemudian bisa kita wujudkan hanya dengan menginginkannya”.

*****

Tak berlebihan bila Peter S. Presscott dari Newsweek mengomentari buku ini  :

“…O’Brien telah menemukan gaya bercerita yang tepat untuk mengisahkan perang ini : gaya yang membeberkan begitu banyak perasaan, namun tidak cengeng dan tetap terjaga lewat tulisannya yang ringkas dan cukup banyak menampilkan penggalan kejadian yang jenaka ….”

*****

30 April 2008

Tulisan ini bisa dilihat pada website : www.greenlinerancage.com

Incoming search terms for the article:


“Mengawinkan” Marketing dan Politik

Posted: April 9th, 2008 | Author: Veri Nurhansyah Tragistina | Filed under: Resensi Buku | Tags: , | 2 Comments »

 

Marketing Politik

Sejatinya marketing dan politik adalah dua disiplin ilmu yang bertolak-belakang. Rasionalitas marketing mengacu pada persaingan dengan tujuan memenangkannya secara efektif. Pada titik ini marketing menjadi media untuk meraih keuntungan semaksimal mungkin. Sebaliknya rasionalitas politik bergerak pada tataran poses menciptakan tatanan masyarakat yang ideal melalui sistematisasi perebutan kekuasaan.

Kini, diakui atau tidak “perkawinan” diantara keduanya telah melahirkan suatu disiplin ilmu baru yang kontroversial bernama “marketing-politik”. Semenjak kelahirannya marketing-politik telah menghembuskan angin perdebatan antara pihak yang pro dan kontra. Kelompok pro menganggap aplikasi marketing dalam konteks politik bergerak pada tataran kontekstual, bahwa person pun termasuk kategori produk yang membutuhkan marketing untuk “menjualnya”. Selain itu, berdasarkan catatan Wring (1996) aktivitas marketing-politik telah digunakan sejak Pemilu di Inggris pada tahun 1929. Ketika itu, Partai Konservatif menggunakan agen biro iklan (Holford-Bottomley Advertising Service) dalam membantu mendesain dan mendistribusikan poster (h.160).

Pada sisi lain, kelompok kontra menganggap aplikasi marketing pada konteks politik justru menimbulkan kegamangan normatif dalam konteks komersialisasi politik. Mereka mendasarkan pada filosofi marketing yang bergerak pada aras pengejaran keuntungan belaka. Kondisi ini pada akhirnya akan membuat kerusakan sistem sosial yang seharusnya terdiri dari spesialisasi fungsi (Parson, 1971).

“Transdiciplinarity”

Buku ini mencoba memberikan pemahaman secara filosofis maupun teknis mengenai marketing-politik sebagai suatu disiplin ilmu. Firmanzah nampaknya ingin mengabarkan jika sekarang adalah eranya transdiciplinarity seperti yang didengungkan Nicolescu. Karena benarlah jika suatu ilmu akan lebih cepat berkembang manakala terjadi proses tarnformasi pengetahuan antar ragam disiplin ilmu. Pragmatisnya, perkawinan ini akan menciptakan proses simbiosis mutualisme antara marketing dan politik itu sendiri.

Kekhawatiran akan rusaknya sistem sosial akibat perkawinan ini tampaknya ingin disanggah oleh Firmanzah dengan mengutip statement A. O’Cass yang berkisar pada kontekstualitas marketing. Marketing—kata O’Cass secara filosofis menjadi suatu tools untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat (baca: pemilih). Dengan demikian, aplikasi marketing dalam politik justru membantu para kontestan ataupun partai politik untuk mengetahui aspirasi masyarakat secara komprehensif. Hal ini pada akhirnya akan memudahkan parpol atau kontestan untuk menyusun platform- nya ketika berkampanye ataupun setelah berkuasa.

Kontribusi Marketing

Senada dengan O’Cass, Scammel berpendapat bahwa marketing sangatlah kontributif dalam dunia politik praktis. Marketing justru menjadi strategi (laiknya riset pasar) dalam memahami dan menganalisis keinginan atau kebutuhan pemilih. Dalam konteks ini, marketing berguna bagi parpol untuk melakukan riset pra-pemilu sehingga apa yang disuarakan dan diperjuangkannya kelak akan tepat sasaran.

Pada titik lain, marketing juga membuat politik—tepatnya jargon-jargon politik menjadi down to earth. Pada konteks ini, marketing menjadi alat “penyambung lidah” kontestan dengan pemilih. Marketing berkontribusi merumuskan kebijakan-kebijakan politik ke dalam bahasa-bahasa ringan maupun pemanfaatan ragam media sehingga informasi tersebut dapat sampai ke benak pemilih. Dengan demikian, tidak ada cerita memilih “kucing dalam karung” dalam proses pemilihan umum.

Tidak hanya sisi filosofis saja yang dibahas dalam buku ini, tapi juga sisi teknis seperti aplikasi bauran marketing (marketing mix) dan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (S-T-P) dalam politik. Penulis buku ini menjelaskan alur pemikirannya secara terstruktur dan rinci, walaupun kemudian terlihat banyak bahasan yang masih berada pada tataran permukaan saja tanpa menyentuh substansinya.
Judul Buku : Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas

Penulis : Firmanzah, Ph.D.

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Halaman : xii+358 halaman; 14,5 x 21 cm

Incoming search terms for the article: