Archive for the ‘Lain-lain’ Category

Lebih Membumi dengan IMAI

Tuesday, June 9th, 2009


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Tabel Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

LEBIH MEMBUMI DENGAN IMAI…

Sejak ditemukan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada seorang turis asing di Pulau Bali pada tahun 1987, virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) telah mewabah dengan cepat di negara tercinta ini. Terutama di kalangan resiko tinggi seperti Penasun(pengguna narkoba suntik) dan Penjaja Seks Komersial (PSK). Pada akhir tahun 2007 saja, tercatat 11.141 orang(kumulatif) yang terinfeksi penyakit ini. Hal ini sesuai dengan prediksi WHO(2005) dan teori “gunung es” , bahwa diestimasi terdapat 90.000 – 120.000 penduduk Indonesia yang terinfeksi oleh virus ini.

Guna menyiapkan tenaga kesehatan untuk penanggulangan HIV AIDS ini, Departemen Kesehatan bekerja sama denganKPAN(Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) dan pelbagai organisasi internasional lainnya, telah meluncurkan paket pelatihan CST (Care Support & Treatment) bagi para dokter , perawat dan bidan. Sejak tahun 2000, pelatihan ini diperkirakan telah mendidik 4000 orang tenaga kesehatan untuk membantu upaya perawatan dan pengobatan di tingkat Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan setara lainnya.

Sayangnya, paket pelatihan CST ini terlalu bersifat klinis, membutuhkan faslitas penunjang yang banyak dan padat modal(untuk diagnosis, pengobatan dan follow up nya), sehingga membutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan sekunder . Fasilitas laboratorium (semisal untuk pemeriksaan CD4) dan radiologis mesti tersedia, termasuk SDM nya(dokter spesialis).

Hal inilah yang mendorong lebih lanjut Departemen Kesehatan, khususnya Subdirektorat AIDS & IMS untuk mengadaptasi model pelatihan IMAI(Integrated Management of Adult/Adolescence Illnesses) yang lebih sederhana, membumi, dan tidak kalah efektifnya dibandingkan dengan CST.

IMAI merupakan paket pelatihan praktis yang ditujukan terutama kepada penyedia layanan kesehatan di tingkat dasar, seperti Puskesmas dan klinik kecil lainnya. Mirip dengan MTBS(Manajemen Terpadu Balita Sakit)untuk penanganan anak di Puskesmas, modul IMAI dirancang agar mudah digunakan, aplikatif, banyak menggunakan media visual seperti bagan dan flipchart dalam bahasa sederhana, dan mengedepankan fungsi perawat sebagaimana lazimnya di Puskesmas-Puskesmas di tanah air.

Ia bisa diaplikasikan di dalam berbagai kondisi sebab menyediakan pilihan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang pasien, misalnya pemberian kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk ODHA yang tinggal di pedalaman Papua, dimana tak tersedia fasilitas pemeriksaan penunjang seperti CD4, tenaga kesehatan boleh memberikan kotrimoksasol tersebut dengan hanya berdasarkan penilaian klinis (stadium HIV) yang bila perlu dikonfirmasi dengan TLC(Total Limfosit Count). Hal ini amat efektif di daerah seperti Papua, mengingat fasilitas kesehatan yang amat minim di tempat tersebut.

Bagan dan flipchart yang digunakan dikemas dalam bentuk skema-skema yang tidak njelimet, dengan tindakan penanganan yang memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia di puskesmas. Bila didapatkan kasus yang rumit, tenaga kesehatan tinggal merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dengan menggunakan alur rujukan yang ada.

(Pelatihan IMAI di Puskesmas Singkawang Barat, Kota Singkawang , Kalimantan Barat, 21-26 Januari 2009)

Modul pelatihan ini mudah digunakan karena menggunakan bahasa sederhana dengan setting yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Malah dalam hal komunikasi, tenaga kesehatan di Puskesmas sangat dianjurkan untuk menggunakan bahasa dan dialek setempat.

Dalam hal komunikasi dengan pasien ini, IMAI mungkin merupakan satu-satunya pelatihan interaktif yang diselenggarakan oleh Depkes dengan menggunakan EPT(Expert Patient Trainer). EPT merupakan sekelompok orang terlatih yang diambil dari mantan kalangan yang beresiko tinggi(Penasun, PSK,dll) guna “mengasah” kemampuan komunikasi peserta pelatihan di dalam menghadapi pasien HIV di lapangan nantinya. EPT akan masuk ke dalam ruangan dan berperan seakan-akan merupakan seorang pasien yang akan dilayani di Puskesmas. Setelah proses interaksi dengan peserta pelatihan, ia akan memberikan umpan balik berupa saran dan masukan guna memperbaiki teknik komunikasi petugas yang bersangkutan. Hal ini juga berperan untuk mengurangi stigma dari petugas kesehatan terhadap ODHA, dan merupakan bekal yang amat berharga di dalam memberikan pelayanan nantinya.

Pendeknya, IMAI boleh dikatakan sebagai proses penyederhanaan program CST yang sangat pas untuk layanan HIV di layanan kesehatan dasar. Sesuai dengan program Universal Access yang dicanangkan WHO sejak 2006 silam, semoga upaya ini dapat membuka akses yang seluas-luasnya bagi saudara kita yang terinfeksi HIV. Ya, semoga..

(Dr. Muhammad Hatta, Master of Trainer WHO- Depkes untuk program CST & IMAI, Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan)

NATIONAL GEOGRAPHIC

Tuesday, June 9th, 2009

Cara Kita Memahami Alam ini , kaitannya dengan Manusia dan Alam Semesta
DARI BLOG PENULIS
Mottonya yaitu untuk membentuk pengetahuan geografi juga mempromosikan konservasi dari budaya, sejarah dan kekayaan alam dunia.”Majalah ini membahas banyak hal, terutama sains dalam tinjauan kosmis, mikro, makro hingga sejagat raya. National Geographic sudah ada sejak tahun 1888. Memiliki berbagai edisi. Juga ada edisi Indonesianya-National Geographic Indonesia. Harganya memang cukup mahal( 5o ribu- 100 halaman), tapi ditanggung anda tidak akan menyesal karena didalamnya terdapat artikel menarik untuk disimak, gamabr keren dari fotografernya juga penghias layar komputer yang menarik. Tiap edisi membahas secara menyeluruh suatu hal. Seperti kisah 200 tahunnya Darwin, juga Ratu Wanita Mesir.

Ada juga edisi spesialnya ( 75 ribu). Kita juga dapat langganan melalui email. Kita akanmendapatkan edisi elektroniknya tiap minggu, atau bahkan 3 hari sekali. Majalah ini layak dibaca semua kalangan. Referensi yang bagus untuk pelajar. Bagi kalangan religius majalah ini membuat mereka lebih bertakwa dan melihat betapa kebesaran Tuhan mencipta. Dalam satu edisi terdapat berbagai topik menyeluruh tentang perkembangan sains terkini, juga budaya di dunia ini yang ternyata tak lekang oleh zaman.

National Geographic sendiri juga memiliki saluran khusus, blog, majalah anak-anak, majalah bagi para pengembara, Majalah untuk menjadi hijau – ramah lingkungan(National Geographic Green Guide), National Geographic Video.

Layak baca, layak beli, membuka horison wawasan,

keep alert through ng!

Choose a suitable diet pills for you

Sunday, November 30th, 2008

Lot of diet pills offered now days. Sure, it will make us confused how to decide the best one. But actually there are best diet pills to take if we know how to deal with it. They are safe for our diet and health.

I can not imagine how to cope with such kind of diet program without taking diet pills that work. It must be hard and severe when all we have to do is saying no almost to all food. But when we make the right choice, we don’t need to live with that anymore.

It’s so much relieving when there are diet pill reviews to explain better about the product. We can choose freely which one is in our likeness and good for our diet and health.

Tea-Walking: Menembus Kabut di Telagawarna

Wednesday, November 19th, 2008

Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.

Jejeran bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.

Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.

Kami beruntung, rupanya halimun tak sepenuhnya menutupi seluruh eksotisme yang dimiliki perbukitan teh itu. Diantara selimut halimun, beberapa scene dapat kami panen disela-sela rinai gerimis yang gugur dari uap pagi. Dari menelusuri tapak-tapak diantara perbukitan teh itu, kami sempat berpapasan dengan beberapa pemetik teh yang umumnya perempuan. Dibungkus suhu dingin, mereka masih terlihat sumringah menekuni rutinitas pagi yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Topi caping dari ruas rotan atau bambu menutupi sebahagian kepala yang juga ditutupi jilbab yang mereka kenakan. Seluruh tubuh mereka tertutup dibungkus baju lengan panjang dan celana panjang tebal, celemek tebal dari plastik atau kain tak tembus air menutupi kaki dan sebahagian dada mereka. Setelan pakaian cover-all ini mungkin untuk menghalangi basah dan dingin menembus kulit mereka. Mereka juga melengkapi bawahan busana dengan sepatu boot tinggi selutut berbahan plastik untuk melindungi kaki dari sodokan dahan-dahan rendah dari teh yang cukup keras dan tajam. Sebilah parang tipis berbentuk persegi terselip diantara celemek dan celananya, untuk mengibas dedahan atau ranting teh yang tumbuh tak terarah.

Para petani pemetik teh itu seperti tak kesulitan memetik daun-daun teh di lereng-lereng perbukitan yang umumnya curam, bahkan ada yang sisinya tegak lurus dengan horison bukit. Menyiangi pucuk teh muda, memetik dedaun teh tua dengan kelincahan jemari dan menimbunnya hingga penuh di sebuah keranjang rotan atau disarungkan dalam karung plastik besar.

Ribuan langkah kemudian petani-petani pemetik teh itu menuruni bukit-bukit teh menuju sebuah posko kecil di pinggir jalan berbatu. Posko kecil itu tepat berada di sisi sebuah telaga kecil berair jernih. Telagasaat, yang kira-kira luasnya hanya seukuran lapangan sepakbola, juga sepertinya berfungsi sebagai waduk penampung air. Di salah satu sisinya, sebuah pintu air permanen dan jembatan beton kecil memberi suasana modern telaga itu. Di dekat posko kecil itu, belasan pemetik teh riuh menumpuk dan menata karung-karung dan keranjang-keranjang daun-daun teh mereka di sisi jalan berbatu siap untuk diangkut. Beberapa pemetik teh lainnya berkumpul mengaso membersihkan diri sambil bercanda di sebuah tanah yang agak lapang di sisi jalan. Satu dua pemetik teh kemudian mengeluarkan bekal dan menyantap sarapan mereka dengan nikmatnya, ditemani sejuk hawa perbukitan yang menyegarkan. Tak sampai setengah jam, truk-truk pengangkut teh kemudian datang. Tumpukan teh itu lalu berpindah ke atas truk dan kemudian menjadi pertanda selesainya ritual pagi yang riuh di hamparan perbukitan teh yang tenang nan sejuk berselimutkan halimun itu.

Kami kemudian meneruskan perjalanan menyusuri kembali perbukitan teh hingga kira-kira tiga kilometer ke arah timur. Di Sebuah jalan di sisi hutan cagar alam Telagawarna, kami disambut rimbunan pepohonan berbunga terompet berwarna putih, seperti serangkaian peniup terompet dalam sebuah barisan marching band. Namun kali ini barisan terompet itu hanya diriuhkan oleh semilir angin yang sesekali mengayunkan mereka ke samping. Tepat di ujung jalan, kami tiba di sebuah telaga yang lain, Telagawarna. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2000 per orang, kami diajak masuk ke kawasan telaga yang dijaga oleh tak lebih dari sepuluh aparat jagawana – Polisi Hutan.

Telagawarna konon terbentuk dari rekahan gunung berapi purba jutaan tahun silam. Saat terbentuk rekahan, jutaan kubik material alam berwarna-warni ikut luruh masuk ke dasar telaga yang berkedalaman rata-rata 20-40 meter itu. Material alam inilah yang kemudian memantulkan aneka macam warna dari dasar telaga hingga orang-orang sekitar menyebut telaga itu sebagai Telagawarna. Proses alam beratus tahun kemudian juga menggerus material alam berwarna warni itu hingga kemudian habis menyisakan telaga yang hanya berwarna hijau, pantulan dari hutan hijau di sisinya dan tetumbuhan atau lumut di dasarnya. Tinggallah namanya saja, Telagawarna, tanpa warna-warni.

Di salah satu lereng gunung di sisi telaga, berdiri tenang petilasan dan makam Nyi Ageng Mas, salah satu ratu kerajaan Pakuan. Konon telaga ini adalah situs kerajaan sunda purba itu, namun belum sempat dijamah oleh ahli arkeologi. Yang rajin menjamah telaga ini hanyalah sekelompok monyet berjumlah puluhan yang mendiami hutan di sekitar telaga. Mereka kadang tak sungkan turun ke sisi telaga menyambut para penziarah dengan mata yang awas, menanti remah makanan yang mungkin biasa mereka dapatkan dari para penziarah.

Selepas memanjakan mata di sekitar telaga nan asri itu, kami kemudian beranjak pulang. Menyisakan sebuah kekaguman akan keindahan panorama bukit teh dan telaga yang asri di sebuah lokasi yang hanya berjarak tak kurang dari dua jam perjalanan dari ibukota. Ibukota yang tentu tak lagi punya waktu jeda untuk memberikan panorama alami bagi warganya.

Are you a survivor? Yes I’m!

Saturday, October 11th, 2008

Ada bacaan menarik disini, pointnya adalah untuk beberapa orang yang bisa bertahan dan sukses mempunyai apa yang disebut dengan daya juang tinggi untuk bertahan, ciri-cirinya adalah :

  • Kepercayaan diri yang tinggi - orang-orang seperti mereka sangat percaya dengan dirinya sendiri, mereka mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menerima segala hambatan dan bertahan dengan dirinya.
  • Personal skill yang bagus – Mereka membangun hubungan dengan banyak orang, tidak peduli dengan orang yang mereka sukai maupun tidak, dari kelas bawah sampai top managements, intinya adalah mereka disukai banyak orang karena sifat personal mereka yang baik.
  • Tidak sentimen / terlalu sensitif – Mereka tidak membiarkan sebuah hubungan menjadi terlalu personal karena mereka adalah profesional, mereka tahu jika sebuah hubungan menjadi terlalu personal, maka hal itu bisa saja akan mempengaruhi keputusan mereka.
  • Etika yang konsisten / Berprinsip – Mereka mempunyai prinsip diri yang kuat dan bertahan pada hal tersebut, prinsip mereka mungkin sedikit berbeda dengan orang lain, tetapi mereka tidak peduli pandangan orang lain karena mereka yakin hal itu adalah memang hal yang benar.
  • Tidak takut salah – Mereka tidak takut melakukan sebuah kesalahan karena mereka yakin sekalipun jika mereka membuat keputusan yang salah, mereka tetap akan bisa untuk memperbaikinya. Mengambil keputusan lebih baik daripada diam.
  • Gigih/Tekun – Mereka tidak mudah menyerah, mereka keras pada dirinya dan terbiasa dalam lingkungan yang penuh tekanan, mereka mempunyai motto : what does not kill me, makes me stronger. Apa yang tidak membunuhku, hanya akan membuatku lebih kuat lagi. Tambahan ciri khas lain dari saya :
  • Creative – Orang-orang sukses biasanya adalah orang-orang yang kreatif dalam hidup mereka, mereka bisa mengembang sesuatu yang ada menjadi lebih baik lagi sampai ketitik maksimal, sebaliknya ketika mereka menemui jalan buntu, mereka akan selalu berusaha menemukan jalan keluarnya dan berhasil.
  • Focus – Mereka melakukan banyak hal, tetapi semua yang mereka lakukan ada dalam control mereka, mereka focus! mereka hanya melakukan apa yang memang mereka kuasai.
  • Learn from anyone, anything – Mereka tidak malu-malu untuk terus belajar, bahkan dari anak kecil sekalipun, ketika mereka menemukan bahwa hal itu bisa membuat mereka lebih baik, mereka akan mempelajarinya.
  • Broad Networking – Karena mereka mempunyai personal yang bagus, menyukai dan disukai banyak orang, mereka akan semakin sering mempeluar networking mereka, dan memang dari sanalah akan banyak muncul kesempatan yang membuat mereka makin sukses.
  • Good Listener = Mereka bisa terlihat sangat pendiam, sebenarnya mereka sedang menyimak/mendengarkan.
  • Good Story Telling – Orang sukses biasanya mempunyai kelebihan pandai bercerita, mereka akan bercerita pengalaman-pengalamannya, dan orang lain akan mendengarkannya, mereka tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara.
  • Positive Aura – Jika anda berada di dekatnya, anda akan merasa senang, bersemangat, tenang, dan hal-hal positive lainnya karena dari aura yang mereka pancarkan. Tiap-tiap orang mempunyai aura yang berbeda-beda.

Bagaimana dengan anda?

Diambil dari blog saya : The Orange Networks

Dua Dekade Penularan HIV di Indonesia: Sebuah Refleksi

Friday, September 19th, 2008

Tulisan ini ditujukan sebagai bahan refleksi individu maupun organisasi atas kerja-kerja yang telah dilakukan dalam upaya penanggulangan AIDS, dan juga atas situasi yang terjadi di Indonesia pada umumnya. Karena upaya-upaya yang sudah dilaksanakan ‘secara komprehensif’ dalam rangka menanggulangi AIDS ternyata belum mampu membendung laju epidemi itu sendiri. Data yang dilaporkan dari sumber-sumber resmi selalu saja menunjukkan kenaikan kasus dari tahun ke tahun.

Masyarakat dituding tidak dapat menerima upaya-upaya penanggulangan AIDS dengan menstigma pengidap HIV sebagai orang yang tidak bermoral, menolak penyediaan suntikan steril karena dianggap melegalkan narkoba, dll. Padahal, benar tidaknya tudingan tersebut boleh jadi karena sejumlah praktisi di bidang ini tidak pernah melibatkan masyarakat dan malah mengeksklusifkan diri dengan jargon-jargon asing yang ditelan bulat-bulat tanpa melalui proses pemahaman terhadap dinamika masyarakat Indonesia. Penggunaan istilah-istilah ini kemudian menjadi prestige bagi yang menyebutkannya dan meninggalkan si penerima pesan dengan pemahaman yang tidak mengakar pada kondisi lokalnya. Apalagi jika kemudian si penerima pesan menjadi latah dengan istilah-istilah asing tersebut.

Masyarakat di luar kelompok sasaran (pengguna napza suntik, pekerja seks, atau orang yang terinfeksi HIV) tidak diberikan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan mengenai bagaimana menanggulangi permasalahan yang dihadapi di lingkungan mereka ataupun pendidikan mengenai bagaimana lebih jauh berinteraksi dengan orang-orang terdampak ataupun beresiko tertular HIV. Tak heran misalnya, bila mereka yang mengidap HIV terus merasa didiskriminasi atau pengguna napza suntik terus berada dalam kelompok yang tersembunyi dan tereksklusi secara sosial.

Kondisi ini pun bertambah buruk seiring dengan berlalunya waktu. Ornop (atau LSM) semakin nyaman dalam “comfort zone-nya” dan melupakan peran pemberdayaan yang menjadi mandat sebuah organisasi masyarakat. LSM kemudian lebih memilih untuk sibuk memberikan sedekah berupa pelayanan gratis kepada kelompok sasarannya yang jumlahnya ditargetkan donor ketimbang membangun mekanisme penanggulangan AIDS di masyarakat dengan pemerintah (aparat negara) sebagai penyedia layanan. Agar layanan-layanan ini menjadi lebih banyak, lebih luas, lebih terakses, dan disediakan oleh negara nampaknya luput dari prinsip kerja yang entah dengan cara bagaimana terdistorsi oleh privatisasi dan industrialisasi sektor kesehatan.

Penguasaan teknologi dan pengetahuan oleh segelintir pihak membuat penanggulangan AIDS hingga kini tidak menjadi pengetahuan umum dan didialogkan secara terbuka kepada masyarakat. Belum lagi, istilah pemberdayaan masyarakat hanya menjadi sebuah hafalan yang secara fasih diucapkan tanpa benar-benar menekankan pada proses pemindahan kuasa untuk pemecahan masalah termasuk kuasa informasi dan teknologi kepada masyarakat itu sendiri.

Di titik ini pemerintah sebagai yang berkewajiban untuk menunaikan hak-hak warga negara (termasuk hak kesehatan – dalam hal ini pencegahan dan pengobatan HIV) menjadi tidak dibekali mandat oleh masyarakat, termasuk oleh mereka yang terimbas, untuk menanggulangi masalah tersebut. Tidak terjadi penggalangan kesadaran dan kesepakatan di masyarakat atas masalah ini sebagai bahan advokasi untuk kebijakan serta mekanisme penanggulangan AIDS yang lebih baik di suatu wilayah hukum.

Yang terjadi kemudian adalah ornop berada di barisan depan untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dimana masyarakat yang diwakilinya belum tentu menyadari apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah mereka; dan juga berada di barisan depan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terimbas, padahal seharusnya tugas ini jelas-jelas adalah menjadi kewajiban negara untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya. Maka masyarakat terlena oleh pelayanan masyarakat dengan lembaga swadayanya (padahal kebanyakan lembaga ini tidak dibentuk oleh masyarakat setempat) melalui pendekatan individual, pemerintah terlena juga karena apa yang menjadi kewajibannya sudah ditunaikan masyarakatnya yang mampu memberikan layanan secara swadaya.

Hasilnya, layanan yang seharusnya disediakan melalui infrastruktur layanan kesehatan negara yang telah tersedia di hampir seluruh pelosok negeri, hanya dilakukan segelintir orang yang menguasai pengetahuan dan teknologi penanggulangan HIV. Bagaimana kita bisa menangani persoalan HIV yang demikian seriusnya dengan hanya mengandalkan segelintir pihak yang berusaha terus menguasai teknologi dan pengetahuan tanpa mengalihkan kuasa kepada masyarakat untuk turut menangani masalah di lingkungannya, utamanya dengan menagih tanggung jawab negara? Tak heran jika selama dua dekade sejak kasus pertama di temukan, penyebaran HIV tidak dapat terbendung walaupun puskesmas sebagai ujung tombak sistem kesehatan masyarakat tersedia di hampir seluruh pelosok negeri.

Terima kasih kepada Sari Dewi Aznur dan Amala Rahmah yang turut berkontribusi dalam refleksi

Keep Praying, Keep Trying!

Tuesday, August 19th, 2008

“Teruslah berdoa dan teruslah berusaha, pasti kita akan mendapatkan keinginan kita”

Saya ingin sharing, bahwa saya semakin percaya setiap doa kita pasti akan terkabul dan semoga anda juga mempercayai hal itu, setiap doa disini mungkin selama hal itu memenuhi beberapa requirementnya Tuhan kita, misalkan permintaan kita itu masuk akal, untuk sesuatu yang baik, atau malah bisa membantu orang banyak, lagipula nothing to lose bukan? berdoa adalah hal yang menyenangkan dan belum pernah ada casenya merugikan seseorang atau orang lain ketika sedang berdoa.

Seingat saya doa saya banyak sekali yang dikabulkan, dan saya akan sharing kejadian yang kalau saya pikir cukup ajaib, begini ceritanya…

Kemarin saya seperti biasa saya  berangkat menuju kantor menggunakan feeder bus, didalam bus sambil berdiri, saya selalu sempatkan berdoa dalam hati, pada saat itu saya berdoa salah satunya supaya proses approval project pribadi saya bisa diselesaikan dalam minggu ini, karena memang sudah tertunda selama 2 minggu, dan beberapa hal membuat saya cukup ragu karena respon yang lama dari client saya.

Nah ajaibnya , kurang dari 1 menit setelah saya berdoa, handphone saya bergetar, dan saya cukup kaget melihat contact personnya… tebak siapa?… dia adalah client saya, dan mengajakn saya untuk dinner meeting di Plaza Indonesia, singkat kata malam itu saya akan bertemu dia… Bisa dibayangkan betapa gembiranya dan semangatnya saya pagi itu…

Ketika waktunya tiba, saya bertemu dia, mengobrol santai sambil dinner, dia juga membawa istri dan putrinya yang paling kecil… lalu bergabung juga salah satu top management, karena dia juga harus terlibat dalam proses approvalnya… mereka meminta dokumen yang sudah saya siapkan sebelumnya, lalu semuanya berjalan dengan baik.

Sukar dipercaya rasanya, tetapi itu sudah terjadi pada diri saya, sebenarnya bukan hanya kejadian kemarin saja, beberapa hal lain juga pernah terjadi, intinya sama, ketika kita mempunyai keinginan yang begitu kuat, kita berusaha dengan sebaik mungkin dan kita berdoa meminta petunjuk-Nya, maka kita akan mendapatkannya.

Jika doa kita belum terkabul, pasti ada alasan yang lebih kuat dan lebih baik bagi-Nya, entah kita karena kita harus berusaha lebih baik lagi, atau karena kita akan mendapatkan yang lebih baik lagi.

Have a nice life!

From my blog here : The Orange Network > OrangeTips #15