Posted: June 9th, 2009 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso | Tags: Esfindo | No Comments »
Budaya membaca bangsa kita khususnya generasi muda belum terlalu menggembirakan. Apalagi ketika kita bandingkan dengan budaya membaca bangsa lain. Setidaknya ini adalah data dari UNESCO tahun 2005 dalam melihat apresiasi para pembelajar dalam membaca. Hasilnya, walaupun level kegemaran membaca ini bukan salah satu faktornya, tingkat Human Development Index Indonesia masih bertengger di angka 100-an. Data yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) mengenai Human Development Report tahun 2007/2008 menyatakan bahwa Indonesia memiliki HDI dengan urutan ke-107. Angka ini jauh dibawah negara tetangga seperti Malaysia, Brunei dan Singapura yang sudah termasuk dalam kategori High Human Development. Angka HDI ini sangat relevan untuk melihat sejauh mana tingkat melek huruf dan pendidikan.Rendahnya tingkat melek huruf, memang berkorelasi dengan tingkat partisipasi pendidikan Indonesia juga masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pendidikan tinggi kita masih di bawah 20 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding Malaysia dan Thailand yang mencapai 45 hingga 50 persen, Singapura dan Jepang mencapai 55 persen, sedangkan Korea mencapai 90 persen (Tempo Interaktif, 2009). Kenyataan ini tidak hanya terbatas pada perguruan tinggi, namun juga pendidikan menengah. Di antara beberapa faktor penyebab rendahnya angka partisipasi adalah infratruktur yang tidak sebanding dengan jumlah calon peserta didik.
Bertolak dari hal tersebut, kini kita mendapatkan fakta yang boleh dibilang tidak berkorelasi positif dengan kondisi di atas, dimana demam TIK sudah mewabah tidak hanya di kalangan pendidik, namun juga masyarakat awam. Pemanfaatan TIK yang semakin luas ini tentu saja memerlukan perhatian dari semua pihak agar fokus pemanfaatan itu tidak hanya disekitar “fun, fashion, and entertainment”. Berfokus pada ketiga hal ini tentu terkesan “meninabobokan”. Diperlukan sisi lain untuk disentuh, dalam hal ini pendidikan. Sudah terdapat banyak sekali penelitian yang menyebutkan bahwa TIK dapat menjadi pendukung (enabler) bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. TIK memiliki peranan strategis disini untuk memperluas akses ke sumber-sumber informasi pendidikan.
Tantangan Sekolah: Kendala Infrastruktur & SDM
Adalah menjadi rahasia umum bahwa akselerasi pemafaatan TIK di sekolah masih perlu dipercepat. Keinginan ini tentu bukan tanpa alasan. Rata-rata infrastruktur dan SDM di sekolah memang masih minim untuk menangani akselerasi ini. Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer yang memadai. Selain itu SDM sekolah yang diberi wewenang mengelola TIK terkadang tidak cukup, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi. Tidak dipungkiri memang ada pihak manajemen sekolah yang patut diacungi jempol karena keinginan dan kepedulian kuatnya, berani ”mengimpor” SDM dari institusi lain untuk menangani TIK di lingkungannya. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi instansi terkait
Inisiatif pemanfataan TIK dalam pendidikan sebenarnya sudah berjalan cukup lama dan tidak hanya datang dari Pemerintah, tetapi juga dari masyarakat dan institusi swasta. Global Distance Learning Network (GDLN) Indonesia yang memiliki subcenter di Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, dan Universitas Riau sangat berpotensi untuk mendukung program distance learning. Belum lagi, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pustekkom telah menyediakan infrastruktur jaringan yang menghubungkan antar-institusi di Indonesia melalui Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas).
Jardiknas yang terbagi menjadi empat zona (zona perguruan tinggi –Inherent, zona sekolah, zona dinas, dan zona individu) sanggup merangkul institusi pendidikan hingga ke level kabupaten. Fasilitas Jardiknas sudah menjamin konektivitas antar-institusi bisa dilakukan. Kini sudah banyak perguruan tinggi negeri dan swasta sudah terhubung ke Inherent. Pada tahap awal saja, yaitu tahun 2006 telah terbangun interkoneksi 32 localnode yang berada di perguruan-perguruan tinggi di ibu-ibu kota propinsi di Indonesia dengan bandwith bervariasi mulai 1, 2, 8, hingga 155 Mbps! Data terakhir menunjukkan sudah terdapat 462 nodes untuk Intranet Diknas Kota/Kabupaten, 300 nodes untuk Zona Perguruan Tinggi, dan 93 nodes untuk ICT Center (PGSD) (www.jardiknas.diknas.go.id). Selain itu, Detiknas juga telah memasukkan e-Pendidikan sebagai salah satu Flagship Program TI nasional.
Perkembangan pemanfaatan Internet sebagai media akses informasi merupakan modal dasar yang menggembirakan. Jumlah pemakai internet untuk di Indonesia terus meningkat. Menurut data dari APJII, pada tahun 2007 pemakai internet di Indonesia mencapai 25 juta orang, meningkat 25% dibanding tahun sebelumnya. Jumlah warnet juga semakin banyak. Menurut AWARI, pada awal tahun 2008 jumlah warnet di seluruh Indonesia sekitar 10.000, dan diperkirakan mencapai 12.000 di akhir tahun. Biaya warnet juga terus turun dari tahun ke tahun semakin memperluas peluang masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah untuk menggunakan internet.
Hanya saja ”berlimpahnya” akses ke Internet tidak secara otomatis membantu sekolah dalam mendayagunakan TIK dalam pembelajaran. Masih perlu sentuhan dan pembimbingan dari pihak lain, baik individu maupun institusi. Dalam konteks inilah universitas dapat mengambil peran untuk meningkatkan akselerasi pemanfaatan TIK dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Dilihat dari sisi ”topografi”, keberadaan sekolah ternyata tidak terlalu jauh dengan keberadaan institusi perguruan tinggi baik yang negeri maupun swasta. Kalau kita telusuri lebih lanjut, ternyata institusi perguruan tinggi yang memiliki program studi berbasis TI tidak sedikit. Diantara institusi tersebut, sudah ratusan jumlahnya yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM). Institusi pendidikan TIK mampu menjadi lokomotif dalam meningkatkan akselerasi pemanfaatan TIK di sekolah.
Menyemai Program Kemitraan
Pada tanggal 6 April 2009 yang lalu, Tim Esfindo (E-School for Indonesia) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia telah merilis sebuah mekanisme kerjasama kepada sekolah untuk mendayagunakan sistem pembelajaran online gratis. Fasilitas yang ada pada sistem ini meliputi fasilitas untuk komunikasi dua arah baik yang sinkronus maupun asinkronous, fasilitas manajemen pengguna, manajemen bahan ajar dan evaluasi. Dengan memanfaatkan sistem ini, pengguna mampu belajar dalam lingkungan belajar yang tidak jauh berbeda dengan suasana sebagaimana pembelajaran konvensional. Portal yang digunakan juga bukan sesuatu yang baru, diimplementasikan berbasis sistem open source, Moodle. Modifikasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan sesuai dengan jenjang pendidikan. Tingkat sekolah menengah (K-12) memerlukan perhatian yang berbeda karena nature dari konten pendidikan dan karakteristik pelajar berbeda dengan universitas. Selain itu kemampuan TI baik pelajar dan guru masih bervariasi.
Hanya saja yang seharusnya lebih menjadi concern kita saat ini bukan pada jenis sistem apa yang dipakai, namun inisiatif apa yang sudah dilakukan berbagai pihak dalam pemanfaatan TIK ini. Inisiatif institusi yang mampu untuk memberikan layanan dan bimbingan terhadap institusi lain masih perlu ditumbungkembangkan. Universitas juga memiliki banyak ahli tidak hanya di bidang science, namun juga humaniora. Ini adalah modal penting untuk mengemas konten pendidikan yang berkualitas. Jalinan kerjasama juga dapat dilakukan antar konsorsium dosen dan guru (MGMP).
Sistem pembelajaran online dapat digunakan untuk membantu proses transformasi paradigma pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang aktif “menyuapi” pembelajar dengan materi atau meminta siswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, tetapi disini siswa difasilitasi untuk belajar secara kritis dan aktif. Sistem ini dapat juga dikemas untuk melangsungkan proses belajar mengajar dengan pendekatan kolaboratif (collaborative learning) maupun pemecahan masalah (problem-based learning).
Akhirnya, upaya ini pada dasarnya hanya satu upaya dari sekian banyak upaya yang bisa dilakukan pihak universitas dalam membantu sekolah mendayagunakan TIK untuk meningkatkan akses para siswa terhadap konten dan aktivitas pembelajaran. Tentu saja ini juga bukan bentuk dukungan pertama kali dari pihak universitas kepada sekolah. Paling tidak inilah satu bentuk model yang bisa dilakukan untuk meningkatkan akselerasi TIK di bidang pendidikan kita.
Informasi lebih lanjut:
Situs Esfindo: http://esfindo.cs.ui.ac.id
Webpage: http://esfindo.wordpress.com
Email: esfindo@cs.ui.ac.id
Incoming search terms for the article:
Posted: March 26th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso | Tags: Adler, book, Doren, how to, read, sintopikal | No Comments »
Budaya membaca bangsa kita khususnya generasi muda belum terlalu menggembirakan. Apalagi ketika kita bandingkan dengan budaya membaca bangsa lain. Mahasiswa di negara maju rata-rata menghabiskan waktu 8 jam per hari untuk membaca buku, sedangkan mahasiswa di negara berkembang termasuk Indonesia, mahasiswanya rata-rata menghabiskan waktu 2 jam setiap hari (UNESCO, 2005). Gempuran media audio visual menyebabkan kita terlena dalam mendapatkan informasi. Kita menjadi cenderung pasif membaca. Membaca bagi rata-rata orang memang masih dianggap sebagai rutinitas yang membosankan. Bagi pelajar dan mahasiswa yang tidak terbiasa ‘bergaul’ dengan buku, kehadiran buku teks menjadi tantangan tersendiri untuk dikuasai. Jangankan buku, membaca koran atau majalah saja terkadang membuat sebagian orang merasa cukup letih. Bandingkan dengan hanya duduk di depan televisi, menekan remote control, dan menyimak pembawa berita berbicara. Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa kita cenderung pasif untuk membaca.
Fenomena membaca sendiri perlu kita cermati. Sebagian orang merasakan walaupun telah membaca kalimat demi kalimat, bahkan kata per kata toh akhirnya menyerah. Ya, dia tidak mendapatkan esensi dari buku atau bacaan yang dibaca. Tidak cukup sekali bahkan hingga menamatkan beberapa kali terkadang tetap saja seseorang tidak mendapatkan apa yang terkandung dalam buku. Tentunya kita tidak ingin membuang waktu hanya karena kita tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membaca buku.
Membaca sebagaimana sering diungkapkan Hernowo adalah sama halnya mengikat makna. Membaca bukan sekadar mentransformasikan teks ke dalam suara hati, namun ada makna yang perlu kita cerna. Membaca tidak sekadar memerlukan kemampuan menarasikan teks, tetapi memerlukan keprigelan –meminjam istilah Hernowo- dalam mengikat makna yang dituangkan sang penulis ke dalam bukunya.
Buku berjudul How To Read a Book merupakan salah satu buku monumental dibanding buku sejenis yang membahas teknik membaca. Saat ini telah terjual sebanyak 8 juta kopi. Tentunya jumlah tersebut akan terus bertambah. Buku ini ditulis oleh Mortimer J. Adler, seorang penulis produktif yang telah menghasilkan puluhan judul buku. Buku pertamanya, Dialectic terbit pada tahun 1927. Buku How To Read a Book sendiri pertama kali diterbitkan pada tahun 1940. Sebagaimana disampaikan Adler dalam kata pengantarnya, latar belakang penulisan buku ini tak lain sebagai bentuk kepedulian yang teramat besar dari seorang Adler ketika mendapatkan kenyataan bahwa kualitas kemampuan membaca remaja di era itu tidak terlalu memuaskan.
Edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca merujuk pada edisi revisi tahun 1972. Pada edisi revisi ini Adler dibantu oleh Charles Van Doren, rekan kerjanya di Institute for Philosophical Research. Munculnya inisiatif untuk merevisi bukunya, dinyatakan Adler ternyata dalam rentang waktu 30 tahun sejak terbitnya buku edisi pertama, telah terjadi banyak perubahan dalam masyarakat, termasuk mengenai subjek membaca itu sendiri.
Adler membagi buku ini ke dalam empat bagian utama, yaitu dimensi membaca, level ketiga: membaca analitis, pendekatan dalam membaca berbagai literatur, dan puncak tujuan membaca. Masing-masing bagian tersebut dirinci ke dalam beberapa subbagian.
Bagian pertama tentang Dimensi Membaca berisi hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas membaca secara umum serta level dasar dalam kegiatan membaca. Pada bagian ini pembaca diajak untuk merefleksikan tahapan membaca yang pernah dilalui dimana Adler mengungkapkan hasil riset mengenai belajar membaca. Belajar membaca dari masa kanak-kanak hingga kemampuan membaca dewasa dibagi menjadi empat tahapan, yaitu kesiapan membaca yang dimulai sejak lahir hingga usia enam atau tujuh tahun, anak belajar membaca materi yang sangat sederhana dengan keberhasilan umum menguasai beberapa ratus kata pada tahun pertama, bertambahnya kosakata secara cepat dan meningkatnya keterampilan “menyingkap” arti kata-kata yang kurang familiar dengan dengan bantuan konteks, dan peningkatan berbagai keterampilan yang telah diperoleh. Inilah yang disebut dengan membaca dasar.
Level membaca selanjutnya dalam hal ini level kedua, disebut membaca Inspeksional. Membaca Inspeksional sendiri dibagi menjadi dua level, yaitu membaca “Skiming” atau Pramembaca dan membaca Superfisial. Pramembaca berfungsi membantu pembaca untuk mengetahui apakah buku itu perlu dibaca lebih teliti atau tidak. Pramembaca juga berfungsi untuk menyingkap banyak hal lain tentang buku tersebut. Sementara itu, membaca Superficial akan membantu pembaca untuk membaca buku hingga tergambar secara utuh tanpa harus berhenti ketika menemui berbagai kesulitan dalam membaca.
Bagian kedua mengulas level ketiga dalam membaca, yaitu membaca Analitis. Berbeda dengan dua level sebelumnya, konteks level membaca analitis adalah bagaimana pembaca mampu membaca keseluruhan isi buku. Kiat yang ditawarkan Adler antara lain terbagi menjadi tiga tahap. Pada tahap pertama, pembaca perlu mengklasifikasikan buku dengan memahami judul buku dan membedakan mana buku teoritis maupun praktis; menembus pandang buku dengan memahami alur dan struktur penulisan buku serta yang tidak kalah pentingnya menemukan tujuan penulis dalam hal ini adalah mengungkap adanya masalah yang sedang dipecahkan penulis. Pada tahap kedua, pembaca perlu mencapai kesepahaman dengan penulis terkait dengan istilah kunci yang digunakan, menemukan kalimat-kalimat paling penting, mengetahui argumen-argumen penulis, serta menentukan masalah apa saja yang sudah penulis atasi dan mana yang belum. Pada tahap ketiga, pembaca diberi kesempatan untuk melakukan penilaian atas buku yang telah ia baca. Pembaca dapat berjalan seiring dengan penulis atau bahkan berseberangan. Pembaca telah mencapai suatu waktu dimana ia bisa mengkritik penulis dengan mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya.
Adapun bagian buku yang ketiga merupakan bagian yang menunjukkan keluasan pengetahuan Adler. Pada bagian ini pembaca diajak untuk menguasai pendekatan-pendekatan dalam membaca berbagai jenis literatur yang berbeda. Membaca buku ini akan membekali pembaca untuk mampu membaca berbagai literatur yang rumit bahkan diluar bidang yang digeluti sekalipun. Jenis literature yang dibahas dalam buku ini antara lain buku praktis, literatur imajinatif; cerita, drama, dan puisi; sejarah; sains dan matematika; filsafat; serta ilmu sosial.
Pada bagian akhir buku ini, Adler mengajak pembaca untuk memahami bagaimana cara mencapai puncak dari tujuan membaca. Adler mengambil istilah membaca Sintopikal. Secara analogis, kemampuan membaca Inspeksional dan Analitis sangat membantu dalam membaca Sintopikal. Hanya saja kemampuan membaca Inspeksional yang dominan dibutuhkan dalam membaca Sintopikal, mengingat definisi membaca Sintopikal adalah membaca dua buku atau lebih dalam topik yang sama. Hal ini menuntut seorang pembaca harus melakukan identifikasi topik terlebih dahulu. Tentunya ini baru bisa dilakukan bila pembaca sudah ‘mencerna’ beberapa buku yang lain. Di sinilah relevansi kemampuan membaca Inspeksional. Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk membaca Sintopikal adalah menemukan bagian-bagian bacaan yang relevan, menyandingkan pemahaman para penulis, memperjelas semua pertanyaan, menetapkan isu-isu, dan menganalisis pembahasan.
Selain memaparkan konsep dan teknik membaca, buku ini juga disertai lampiran yang berisi buku anjuran, latihan dan tes untuk empat level membaca yang dilengkapi kunci jawaban. Dengan lampiran ini pembaca diharapkan dapat langsung mempraktikkan kemampuan membacanya.
Salah satu kritikan kalaupun boleh dikatakan demikian, dalam buku ini pembaca tidak menemukan satu pun ilustrasi atau gambar yang membantu mendeskripsikan konsep yang diuraikan. Hal itu berpotensi membuat pembaca cepat merasa bosan. Selain itu terdapat satu hal yang bisa membuat pembaca patut bertanya, yaitu mengenai pembagian struktur buku yang ternyata tidak dipetakan berdasarkan level membaca itu sendiri. Ketika membagi tingkatan membaca ke dalam beberapa level tentu ada rasionalitas dibalik pembagian tersebut. Setidaknya ada hal cukup signifikan yang mendasarinya. Namun Adler sepertinya memiliki pertimbangan lain dengan memetakan beberapa level membaca ke dalam pokok bahasan yang lebih luas. Sesuai dengan topik bahasan buku ini tentunya, yaitu mencapai puncak tujuan membaca.
Hadirnya buku How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca ini perlu diapresiasi positif demi meningkatkan kuantitas dan kualitas bacaan kita. Akhirnya, selamat membaca buku apapun yang ingin Anda kuasai!
Catatan Pinggir: Resensi ini (dengan sedikit editing untuk ditampillan di website ini) mendapatkan posisi Juara I dalam Lomba Resensi Buku yang diselenggarakan Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) dalam rangka dies natalies UI ke-58 dan Ulang Tahun Perpustakaan UI ke-25
Judul buku: “How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca”
Pengarang: Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren
Penerbit: iPublishing (Jakarta)
Tahun terbit: 2007
ISBN: 979-15586-0-4
Tebal/Hal: xxiv, 530 p. : il. ; 21 cm
Incoming search terms for the article:
Posted: March 15th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso | Tags: constructivism, Dougiamas, konstruktivisme, LMS, Martin, Moodle | No Comments »
“I’m committed to continuing my work on Moodle and on keeping it Open and Free. I have a deeply-held belief in the importance of unrestricted education and empowered teaching, and Moodle is the main way I can contribute to the realisation of these ideals.” – Martin Dougiamas
Siapa tak kenal Moodle? Rata-rata orang yang berkecimpung dalam bidang e-Learning khususnya dari bidang pendidikan, psikologi, serta ilmu komputer mengenal Moodle. Moodle sendiri merupakan singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment. Learning Management System (LMS) ini merupakan salah satu LMS papan atas berbasis open source. Statusnya yang berbasis open source membuat banyak orang tertarik menggunakannya.
Dalam sehari Moodle di-download ribuan kali dari berbagai penjuru dunia. Hingga saat ini tercatat Moodle telah di-download ratusan ribu kali. Itu artinya bila kita berasumsi 40% saja yang berhasil diimplementasikan, saat ini sudah ada puluhan ribu situs e-Learning berbasis Moodle yang dimanfaatkan untuk pelatihan maupun pendidikan (formal dan nonformal). Data statistik resmi Moodle menyatakan bahwa sekitar 40.000 situs teregistrasi dari 196 negara, terdapat 84 situs dengan pengguna lebih dari 20.000 orang dimana pengguna terbanyak dipegang Facolt dengan 582 mata ajar dan 81665 pengguna, total pengguna yang register di Moodle sebanyak 403169 pengguna, dan total download bulanan paling fenomenal terjadi pada bulan November 2007, yaitu sebanyak 96414 kali. Fantastis bukan?
Terkait implementasi Moodle, ada pihak yang benar-benar mengimplementasikan 100 persen apa adanya tanpa perubahan, namun ada pula yang mengimplementasikan dengan melakukan kustomisasi terlebih dahulu. Biasanya kustomisasi dilakukan pada tataran disain antarmuka serta integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki atau berjalan sebelumnya. Sifatnya yang modular semakin mempermudah pengguna dalam melakukan kustomisasi.
Sang Arsitek Dibalik Kesuksesan Moodle
Kita tahu bahwa sebenarnya Moodle bukanlah pemain pertama dalam LMS. Sudah lumayan banyak LMS yang telah eksis sebelum kemunculannya. Berdasarkan data dari EduTools saat ini tercatat sudah puluhan LMS yang eksis dengan berbagai platform. LMS berbasis proprietary tercatat ada ANGEL LMS juga BlackBoard. LMS berbasis open source tercatat ada Moodle, Sakai, Claroline, ATutor, Dokeos, dll.
Dengan melihat apa yang sudah dicapai Moodle saat ini, wajar rasanya bila kita ingin mengetahui siapa ‘arsitek’ Moodle. Siapa gerangan yang memiliki ide cemerlang ini. Dialah Dr. Martin Dougiamas. Martin merupakan seorang doktor berlatar belakang pendidikan dengan kemampuan ilmu komputer yang sangat bagus.
“My strong beliefs in the unrealised possibilities of Internet-based education led me to complete a Masters and then a PhD in Education, combining my former career in Computer Science with newly constructed knowledge about the nature of learning and collaboration. In particular, I am particularly influenced by the epistemology of social constructionism – which not only treats learning as a social activity, but focusses attention on the learning that occurs while actively constructing artifacts (such as texts) for others to see or use.” – Martin Dougiamas
Filosofi pembelajaran yang diadopsi Martin dalam LMS-nya ini adalah Social Constructionist Pedagogi. Ada empat konsep utama di belakang istilah pedagogi tersebut, yaitu Constructivism, Constructionism, Social Constructivism, dan Connected & Separate.
Pertama, Constructivism. Pandangan ini berpendapat bahwa manusia secara aktif membangun (construct) pengetahuan baru saat berinteraksi dengan lingkungannya. Apapun yang seseorang lakukan baik membaca, melihat, mendengar, merasakan, dan menyentuh selalu dihubungkan dengan pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya (prior knowledge). Pengetahuan dapat diperkuat bila seseorang dapat menggunakannya dengan sukses dalam lingkungan yang lebih luas. Seseorang bukanlah hanya bank memori yang secara pasif menyerap informasi, ataupun pengetahuan dapat ditransmisikan pada seseorang hanya dengan membaca sesuatu atau mendengarkan seseorang berbicara.
Namun hal ini bukan berarti seseorang tidak dapat belajar apa-apa dari membaca sebuah halaman web atau mengikuti pelajaran, tentu seseorang tersebut bisa, tetapi lebih menekankan bahwa ada interpretasi lebih dari pada hanya sekadar transfer informasi dan satu otak ke otak yang lain.
Menurut Mohamed Ally (Athabasca University) pada bab Foundations of Educational Theory for Online Learning dalam buku Theory and Practice of Online Learning, implikasi teori pembelajaran Konstruktivisme pada pembelajaran online antara lain sebagai berikut: (1) proses pembelajaran berlangsung secara aktif; (2) pembelajaran mampu mengkonstruksi pemahamannya sendiri daripada menerima apa adanya apa yang disampaikan pengajar. Konstruksi pengetahuan difasilitasi menggunakan instruksi online interaktif yang baik (Murphy & Cifuentes, 2001); (3) pembelajaran berbasis kolaboratif dan kooperatif ditantang untuk memfasilitasi pembelajaran konstruktivisme (Hooper & Hannafin, 1991; Johnson & Johnson, 1996; Palloff & Pratt, 1999); (4) pembelajar diberikan kontrol atas proses pembelajaran; (5) pembelajar diberi waktu dan kesempatan untuk melakukan refleksi dan internalisasi informasi; (6) pembelajaran dibuat agar mampu menghasilkan makna bagi pembelajar; dan (7) pembelajaran perlu dilakukan secara interaktif untuk menciptakan higher-level learning dan social presence, serta membantu dalam mengembangkan pemaknaan pribadi (personal meaning).
Kedua, Constructionism. Constructionism menyatakan bahwa belajar sangat efektif dilakukan pada saat menjelaskan suatu konsep/hal bagi orang lain dalam rangka membangun pengalaman (experience). Hal ini dapat berupa apapun baik dari kalimat pernyataan atau postingan internet, hingga pada artifacts seperti lukisan, sebuah rumah atau sebuah paket perangkat lunak.
Sebagai contoh misalnya seseorang membaca halaman tertenu dari buku hingga beberapa kali namun tetap saja lupa pada keesokan hari- namun jika seseorang mencoba untuk menjelaskannya ide-ide yang ada dalam halaman buku tersebut pada orang lain dalam format improvisasi bahasa sendiri, atau menghasilkan sebuah slideshow yang menjelaskan konsep-konsep, akan dapat dijamin bahwa seseorang akan memiliki pemahaman yang lebih baik dimana pemahaman yang diperoleh lebih terintegrasi dalam pemikiran seseorang. Hal inilah mengapa seseorang yang mencatat pada saat kuliah, walaupun dia tidak pernah membaca catatannya kembali.
Ketiga, Social Constructivism. Social Constructivism akan memperluas ide-ide di atas ke dalam sebuah kelompok (social group), secara kolaboratif menciptakan budaya kecil dalam membagi artifacts dengan membagi meanings. Ketika seseorang ‘membenamkan’ atau melibatkan diri dalam dalam budaya seperti ini, seseorang akan belajar sepanjang waktu bagaimana cara menjadi bagian dari budaya tersebut, pada banyak level.
Contoh yang sangat sederhana adalah obyek seperti sebuah cangkir. Obyek tersebut dapat digunakan untuk banyak keperluan, namun bentuknya telah memberikan sugesti beberapa pengetahuan mengenai penampung cairan. Contoh yang lebih kompleks adalah sebuah sebuah online course – yang tidak hanya bentuk dari perangkat lunak yang mengindikasikan sejumlah cara bagaimana seharusnya online courses bekerja, namun aktivitas-aktivitas dan teks yang dihasilkan dalam grup secara keseluruhan akan membantu bagaimana tiap orang bertingkah laku dalam sebuah grup.
Keempat, Connected and Separate. Ide ini melihat lebih dalam berbagai motivasi dari individu dalam sebuah diskusi. Perilaku yang terpisah (separated behaviour) ketika seseorang cenderung untuk mempertahankan ide masing-masing menggunakan logika untuk menemukan celah pada ide yang berseberangan dengannya. Perilaku terhubung (connected behaviour) merupakan pendekatan yang lebih empatik dalam menerima subjektivitas, mencoba untuk mendengarkan dan bertanya sesuatu sebagai upaya untuk memahami sudut pandang yang berbeda. Perilaku terkonstruksi Constructed behaviour adalah ketika seseorang sensitif pada kedua pendekatan dan mampu memilih diantara keduanya pada situasi yang sesuai.
Secara umum, connected behaviour dalam sebuah komunitas pembelajaran adalah sangat powerful, tidak hanya membawa kedekatan antar sesamanya tetapi juga menawarkan refleksi yang lebih mendalam dan pengecekan kembali atas pemahaman-pemahaman yang diyakini.
Moodle dengan berbagai macam fitur yang dimiliki mampu merealisasikan berbagai implikasi yang perlu diperhatikan sebagaimana tersebut di atas. Secara umum, kekhasan LMS ini adalah kemampuan mengkombinasikan fasilitas Resources dan Activities dengan manajemen yang terstruktur di masing-masing topik pembelajaran.
Daya Saing dan Masa Depan Moodle
Dengan makin banyaknya pemain LMS baik yang berbasis vendor maupun open source, tentu bukanlah hal mudah bagi Moodle untuk terus mengokohkan eksistensi diri. Walaupun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi dengan berbagai inovasi dan sumber daya yang dimiliki.
Selain memiliki situs resmi untuk komunitas, yaitu moodle.org, Moodle juga memiliki situs resmi untuk layanan jasa, yaitu moodle.com. Situs resmi komunitas digunakan untuk membangun komunitas dan maintain perkembangan sistem dari segi teknis. Sementara situs layanan jasa digunakan untuk menggaet kustomer. Layanan yang diberikan Moodle diantaranya adalah penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi, dll.
Paradigma berorientasi layanan yang digunakan Moodle akan semakin memantapkan langkah LMS ini untuk menjadi pemain utama. Dengan paradigma ini, pengguna dapat dengan leluasa melakukan pengaturan atas fasilitas yang ada dalam mendukung proses belajar mengajarnya. Tercatat saat ini sudah ada banyak modul dalam Moodle di antaranya assignment, chat, choice, data, forum, glossary, journal, label, LAMS, lesson, quiz, resource, SCORM, survey, wiki, workshop, dll. Belum lagi ‘plugins’ buatan non-core developer-nya yang jumlahnya lebih banyak lagi.
Lengkaplah sudah. Saat ini tinggal kemauan masyarakat kita dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia ini untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di Indonesia sendiri sudah banyak individu maupun institusi yang memanfaatkan Moodle. Andakah salah satunya?
Incoming search terms for the article:
Posted: January 24th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso, Kolom | Tags: babak baru, blog, e-Learning, wiki | 1 Comment »
Like the web itself, the early promise of e-learning – that of empowerment – has not been fully realized. The experience of e-learning for many has been no more than a hand-out published online, coupled with a simple multiple-choice quiz. Hardly inspiring, let alone empowering. But by using these new web services, e-learning has the potential to become far more personal, social and flexible.
Demikian dikatakan Steve O’Hear di Guardian. Bila kita kembali kepada pengertian e-Learning yang seringkali direpresentasikan dalam bentuk Learning Management System (LMS), memang terasa bahwa LMS membatasi siswa untuk berkomunikasi hanya dengan siswa sekelas. Ya, siswa sekelas. Hal ini bisa dimaklumi berhubung penggunaan LMS sebagian besar hanya digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran online yang dibatasi oleh administrasi akademik institusi pendidikan. Siapa yang telah melakukan administrasi, dia boleh ikut. Lainnya tentu tidak bisa terlibat. Hatta untuk mengakses bahan ajar sekalipun.
Stephen Downes menyebut babak baru e-Learning dengan istilah “e-Learning 2.0”. Menurutnya e-Learning 2.0 memilih pendekatan ‘small pieces, loosely joined’ yang mengkombinasikan penggunaan tools dan berbagai layanan yang bersifat diskrit namun juga melengkapi, seperti blog, wiki, serta perangkat lunak lain yang mendukung terciptanya komunitas pembelajaran yang bersifat ad-hoc.
Patut diakui bahwa dunia maya saat ini telah dibanjiri blog. Tak hanya blog yang biasanya berisi ungkapan perasaan penulisnya, entah puisi atau uneg-uneg, tapi juga blog yang sengaja didisain khusus penulisnya untuk berbagai pengetahuan yang bersifat ilmiah. Tak ayal, banyak juga orang dengan serta merta, tanpa banyak pikir langsung saja menjadikan blog sebagai salah satu referensi penulisan.
Selain blog, Wikipedia pun kini semakin sering dijadikan rujukan. Sebenarnya sedari awal, baik blog maupun Wikipedia memang tidak dikembangkan untuk memfasilitasi pembelajaran online, namun perkembangan keduanya secara perlahan dan tidak langsung dapat membantu masyarakat belajar secara fleksibel dan memiliki jaringan yang lebih luas.
Blog & Wiki: Fenomenal & Sumber Rujukan
Sejak kemunculannya, blog berhasil memikat hati pengguna Internet untuk memilikinya. Blog sendiri merupakan singkatan dari Weblog. Pertama kali istilah ini digunakan Jorn Barger tahun 1997. Weblog berarti sebuah aplikasi web yang memuat secara periodik tulisan-tulisan atau publikasi berisi pemikiran seseorang. Sebagian blog dikelola oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa kontributor.
Perkembangan fenomenal blog mulai terjadi pada tahun 1999. Saat itu perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan Blogger.com. Layanan ini memungkinkan siapa saja dapat membuat blog-nya sendiri hanya dengan bermodal pengetahuan dasar tentang HTML. Hingga saat ini jumlah blog telah mencapai lebih dari 4.000.000 buah. Bayangkan saja, tercatat pertumbuhan blog dari 1 hingga 4.000.000 blog dalam rentang waktu 5 tahun sejak 1999 hingga 2004. Bahkan menurut Duncan Riley dari The Blog Herald, pada April 2005 jumlah blog telah mencapai 50.750.000 buah! Sungguh fantastis.
Fenomena meledaknya blog setidaknya dapat dipahami dari dua kelebihannya berikut ini dibandingkan media publikasi lainnya, yaitu spesifik dan fleksibel. Keunggulan ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa blog pada dasarnya bisa mengandung isi mengenai kehidupan atau pemikiran pribadi seseorang. Blog juga dikembangkan untuk mengakomodasi hal-hal yang fokus pada bidang atau komunitas tertentu, misalnya komunitas pecinta motor besar, komunitas pecinta binatang peliharaan, komunitas pendidik, dsb. Selain itu, kontributor atau pemiliki blog dapat meng-update blog kapan saja ia mau. Berbeda halnya dengan media lain yang harus mengikuti jadual publikasi yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Wikipedia merupakan ensiklopedia online multibahasa yang disusun agar dapat dibaca dan diedit oleh siapapun juga. Tak kurang dari ratusan ribu bahkan jutaan artikel ada dalam situs ini. Jumlah artikel terbesar saat ini adalah berbahasa Inggris dengan total lebih dari 1.711.000 artikel. Diikuti jumlah artikel berbahasa Jerman lebih dari 563.000 artikel. Sementara Indonesia sendiri menyumbangkan artikel tak kurang dari 52.815 artikel.
Wikipedia bermula sebagai proyek sampingan Nupedia, ensiklopedia bebas online yang artikelnya ditulis oleh para ahli. Larry Sanger, yang mendirikan Nupedia bersama dengan Jimmy Wales, melontarkan ide mengenai ensiklopedia berbasis wiki pada 10 Januari 2001 di milis Nupedia. Lima hari kemudian Wikipedia-pun resmi diluncurkan.
Wiki sendiri berarti siapa saja, artinya kita pun bisa mengedit naskah yang ada dalam Wikipedia. Inilah yang menjadi keunikan Wikipedia, walaupun bisa dibilang sebagai celah kelemahan. Komunitaslah yang akan menjadi ujung tombak kevalidan dan keaktualan sebuah naskah.
Pendidikan: Orientasi Baru Layanan Web
Blog pada dasarnya tidak hanya digunakan untuk publikasi yang sifatnya fun, namun juga dapat dimanfaatkan untuk aktifitas yang boleh dibilang ’serius’, katakanlah untuk dunia pendidikan. Tugas penulisan paper adalah tugas sehari-hari mahasiswa. Bahkan di tingkat sekolah menengah, tugas semacam ini sudah mulai digalakkan. Blog dapat dijadikan media yang sangat efektif untuk mempublikasikan hasil karya berupa tulisan ilmiah, baik berformat ilmiah maupun popular. Dengan harapan banyak pengunjung dapat membacanya ataupun memberikan respon.
Bagi Wikipedia, saat ini yang menjadi tantangan adalah sudah mampukah dijadikan referensi untuk keperluan publikasi ilmiah? Diskursus ini menjadi penting mengingat dari segi kuantitas semakin banyak orang menggunakan referensi dari ensiklopedia ini. Namun dari segi kualitas kita masih bisa berdiskusi tentang layak tidaknya dijadikan referensi publikasi ilmiah. Memperhatikan mekanisme yang ada di Wikipedia, akan kita pahami bahwa tingkat validitas isi akan sangat bergantung pada ukuran lama tidaknya sebuah artikel muncul di Wikipedia.
Aspek validitas isi menjadi penting dalam babak baru e-Learning. Dalam era ini siapapun berhak berkontribusi terhadap makna. Tak lagi 100% bergantung pada expert. Cara termudah menimbang validitas isi dari blog adalah mencari tahu track record penulis ataupun lembaga pemilik blog. Seberapa besar kompetensinya. Sementara, menimbang validitas isi dari Wikipedia dapat dilakukan dengan mengukur seberapa lama suatu makna ada di dalamnya. Hal ini akan menjadi ukuran bagi kita tentang besarnya kemungkinan berbagai pihak yang melakukan review, editing, bahkan sanggahan.
Babak baru e-Learning telah tiba. LMS sudah saatnya mengakomodasi dengan berbagai layanan yang mendukung.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 16th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso, Kolom | Tags: e-Learning, LMS, open source | 1 Comment »
Bingung. Itulah perasaan saya yang sempat hinggap ketika membuka situs WebCT. Ya, kini situs tersebut sudah dialihkan ke Blackboard. Kok bisa? Rupanya mereka merger.
Sebenarnya mergernya perusahaan kenamaan ini sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Oktober 2005. Salah satu keputusannya perusahaan akan menggunakan bendera Blackboard. Dampaknya perusahaan akan memiliki lebih dari 3.700 klien, memiliki sekitar 800 pegawai, dan 7 kantor yang tersebar baik di Amerika Serikat dan luar negeri. Tentunya data ini nampaknya sudah berubah berhubung saya menggunakan data lama dari press release merger.
Blackboard dan WebCT memang bukan perusahaan kemarin sore. Blackboard sendiri merupakan salah satu perusahaan terdepan dalam enterprise software dan layanan di industri bidang pendidikan. Produknya terdiri dari beberapa aplikasi software yang dikemas dalam dua suites: Blackboard Academic Suite dan Blackboard Commerce Suite. Selain memiliki kantor utama di Washington, Blackboard memiliki dengan kantor dan staff yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia (blackboard.com).
Sementara itu, WebCT memberikan lingkungan pembelajaran online yang sangat fleksibel. Banyak institusi pendidikan termasuk universitas di berbagai belahan dunia, baik dari komunitas maupun universitas skala besar menggunakan WebCT untuk memfasilitasi proses belajar mengajar.
Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah apa yang menjadi motivasi sehingga dua perusahaan besar ini mengambil langkah besar pula untuk melakukan merger?Adakah faktor kompetisi yang sedemikian hebatnya saat ini? Boleh jadi ya!
Pada dasarnya merger akan menambah ’kekuatan’ bagi yang melakukannya. Tambahan sumber daya, tambahan klien, juga makin kencangnya realisasi riset. Tentunya ini secara tidak langsung menunjukkan pada kita bahwa tantangan di luar semakin keras. Salah satu tantangan yang sedemikian jelas adalah semakin menjamurnya pemain-pemain lain yang berada di jalur open source.
Tidak dapat dipungkiri penelitian di bidang e-Learning adalah penelitian lintas bidang. Penelitian inilah yang menjadi ujung tombak berkembangnya e-Learning. Bidang ilmu yang dominan adalah ilmu komputer, psikologi, serta pendidikan. Walaupun memang tidak menutup kemungkinan ikut sertanya bidang-bidang lain. Kini sudah tidak bisa lagi domain e-Learning diklaim milik bidang pendidikan saja. Begitu pula bidang-bidang yang lain.
Open Source vs Proprietary LMS
Secara umum dalam mempersiapkan sistem e-Learning dalam suatu organisasi, katakanlah institusi pendidikan, terdapat beberapa pilihan yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, mengembangkan sendiri. Dengan menjatuhkan pilihan pada pilihan ini, institusi perlu memiliki tim untuk pengembangan sistem. Disini benar-benar akan digunakan konsep manajemen proyek dimana alokasi sumber daya manusia (mulai dari manajer proyek, system analyst, business analyst, system architect, system developer, tester, hingga documentator), alokasi biaya dan waktu diatur sedemikian rupa sehingga requirements dapat dicapai sesuai target. Pilihan metodologi pengembangan dan teknologi yang akan digunakan merupakan ‘hak prerogratif’ tim pengembang dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada.
Kedua, membeli sistem yang sudah ada. Salah satu hal yang bisa digunakan untuk menebak mengapa suatu organisasi membeli aplikasi perangkat lunak atau perangkat keras adalah tersedianya anggaran yang dimiliki serta berbagai pertimbangan seperti kemudahan, khususnya pendeknya waktu implementasi serta layanan pascaimplementasi. Namun yang perlu diperhatikan dari pilihan ini adalah seringkali fasilitas yang ada terlalu kompleks dari apa sebenarnya yang dibutuhkan organisasi yang bersangkutan.
Ketiga, menggunakan open source e-Learning system. Saat ini telah terdapat beberapa sistem e-Learning berbasis open source seperti Moodle, Dokeos, Sakai, Claroline, ATutor dan yang lainnya. Jelas, bagi organisasi yang akan memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Lisensi yang digunakan biasanya adalah GPL atau GNU. Effort yang perlu kita lakukan ketika memutuskan menggunakan sistem ini adalah, kita perlu mempelajari dokumentasi program, bahkan kalau perlu algoritma-algoritma yang digunakan. Tidak adanya layanan pascaimplementasi berarti menuntut penggunanya untuk terlibat aktif dalam milis-milis atau memperhatikan bug-bug yang mungkin ditemukan dibelakang hari.
Keempat, melakukan kustomisasi. Melakukan kustomisasi artinya memanfatkan kembali modul-modul yang tersedia, baik itu dikembangkan sendiri, dari software open source ataupun dengan cara membeli dengan tujuan untuk dapat dimodifikasi sesuai requirements yang dibutuhkan organisasi.
Dari keempat pilihan di atas, pilihan kedua dan ketigalah yang paling banyak diambil. Menjatuhkan pilihan pada yang pertama, sama artinya masih perlu mempertimbangkan landasan pengembangan, sumber daya yang akan dilibatkan, waktu, tak terkecuali biaya. Begitu pula pada pilihan keempat, walaupun disini skalanya lebih kecil.
Open Source: Tak kalah canggih
Rata-rata perusahaan besar yang tertarik mengimplementasikan e-Learning menggunakan proprietary LMS. Selain karena tersedianya dana yang cukup untuk investasi di bidang ini, vendor memberikan layanan maintenance yang sangat memuaskan. Apalagi fitur-fitur yang disediakan. Namun bukan berarti bahwa LMS berbasis open source kalah saingan. Tinjauan kelengkapan fitur hingga perbandingan fitur antar LMS bisa kita lihat di situs EduTools.
Konon Moodle, salah satu open source LMS, sudah di-download puluhan ribu kali di seluruh dunia. Beberapa LMS diantaranya bahkan ada yang di-download ratusan bahkan ribuan kali sehari. Bisa dibayangkan. Saat ini Moodle juga sudah memiliki pengguna teregister sebanyak ratusan ribu yang tersebar di 196 negara. Penggunaannya tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi hingga universitas dengan jumlah siswa 200.000an! Tak hanya itu, sistem ini juga tidak dikembangkan ala kadarnya. Ada landasan teori maupun tinjauan pedagogi yang cukup kental. Selain Moodle, Anda bisa membandingkannya dengan open source LMS lain.
Di Indonesia sendiri, sudah banyak institusi pendidikan dan komunitas yang menggunakan opensource LMS. Selain gratis, implementasinya terhitung cepat. SMU 1 Muhammadiyah Yogyakarta adalah salah satu contoh bagaimana e-Learning sudah diimplementasikan di tingkat sekolah menengah berbekal open source LMS. Selain SMU 1 Muhammadiyah, pastinya ada sekolah-sekolah lain yang punya sistem semacamnya.
Model bisnis bagi yang bergerak di open source LMS pun bermacam-macam. Mulai penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi. Sangat menggiurkan bukan?
Anda ingin menerapkan e-Learning di lingkungan institusi Anda? Pilihannya sudah di tangan, apakah akan menggunakan proprietary software atau cukup yang berbasis open source. Semuanya kembali pada tingkat kebutuhan kita tentunya.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 14th, 2008 | Author: Harry B. Santoso | Filed under: Harry B. Santoso, Kolom | Tags: distance learning, e-Learning, e-Pendidikan | No Comments »
Dulu mungkin kita berpikir bahwa kegiatan belajar mengajar harus dalam ruang kelas. Dengan kondisi dimana dosen mengajar di depan kelas sambil sesekali menulis materi pelajaran di papan tulis. Beberapa puluh tahun yang lalu pun juga telah dikenal pendidikan jarak jauh. Walaupun dengan mekanisme yang boleh dibilang cukup ‘sederhana’ untuk ukuran sekarang. Namun saat itu metode tersebut sudah dapat membantu orang-orang untuk mengenyam pendidikan tanpa terhalang kendala geografis. Kita akui, sejak ditemukannya teknologi Internet, hampir ‘segalanya’ menjadi mungkin. Kini kita dapat belajar tak hanya kapan saja, tetapi sekaligus dimana saja dengan fasilitas sistem e-Learning yang ada.
Beberapa istilah yang seringkali dikaitkan dengan e-Learning adalah Distance Learning dan Distance Education. Tak jarang terjadi tumpang tindih dalam penggunaan istilah tersebut. Istilah Distance Learning dan Distance Education sebenarnya lebih menekankan pada adanya perbedaan jarak antara pengajar dan pemelajar. Distance Learning merupakan metode penyampaian instruksional yang tidak mengharuskan siswa untuk hadir secara fisik pada tempat yang sama dengan pengajar (Ornager, UNESCO, 2003). Distance Education, yaitu model atau program pemelajaran dimana siswa berada di rumah atau kantor dan berkomunikasi dengan pengajar maupun dengan sesama siswa melalui e-mail, forum diskusi elektronik, video-conference, serta bentuk komunikasi lain yang berbasis komputer (Webopedia, 2003).
E-Learning adalah istilah yang paling umum digunakan, yaitu proses belajar yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan TIK (Martin Jenkins & Janet Hanson, Generic Center, 2003). Istilah e-Learning tidak hanya hanya dapat digunakan untuk pemelajaran yang menggunakan variabel jarak atau perbedaan geografis antara siswa dan pengajar, namun dapat pula digunakan untuk menyebut proses pemelajaran yang menggunakan setiap bentuk media elektronik.
Dari segi infrastruktur, bila yang kita butuhkan dari sistem e-Learning adalah sebatas aplikasi tutorial yang cukup kita install per komputer, kita hanya perlu komputer yang stand alone. Sebaliknya bila sistem yang kita inginkan benar-benar punya akses kapan saja dan dimana saja, maka kita butuh infrastruktur Internet, entah wireless maupun tidak. Karakteristik sistem yang terakhir ini biasa disebut e-Learning berbasis web.
Dari beberapa sistem e-Learning yang dikembangkan, secara umum kita dapat membagi menjadi dua kelompok berdasarkan sifat interaktivitasnya. Sistem pertama bersifat statis. Pengguna sistem ini hanya dapat men-download materi ajar yang diperlukan. Sedangkan dari sisi administrator, ia hanya dapat meng-upload materi ajar. Pada sistem ini memang suasana belajar yang sebenarnya tak dapat dihadirkan, misalnya jalinan komunikasi. Sistem ini cukup berguna bagi mereka yang mampu belajar otodidak dari sumber-sumber bacaan yang disediakan dalam sistem ini, baik yang berformat teks, HTML, PowerPoint, PDF, audio maupun yang berupa video. Kalaupun digunakan, sistem ini berfungsi untuk menunjang aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan secara tatap muka di kelas.
Sistem kedua bersifat dinamis. Fasilitas yang ada pada sistem ini lebih bervariasi dari apa yang ditawarkan sistem pertama. Pada sistem kedua ini, fasilitas seperti forum diskusi, chat, e-mail, alat bantu evaluasi pemelajaran, manajemen pengguna, serta manajemen materi digital sudah tersedia. Sehingga pengguna mampu belajar dalam lingkungan belajar yang tidak jauh berbeda dengan suasana sebagaimana pemelajaran konvensional. Sistem ini dapat digunakan untuk membantu proses transformasi paradigma pemelajaran dari teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang aktif memberikan materi atau meminta mahasiswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, tetapi disini mahasiswa difasilitasi untuk belajar secara kritis dan aktif. Sistem e-Learning yang dikembangkan dapat menggunakan pendekatan metode belajar kolaboratif (collaborative learning) maupun belajar dari proses memecahkan permasalahan yang disodorkan (problem-based learning).
Geliat Perkembangan di Tanah Air
Adapun dari segi perkembangan maupun penggunaan, memang kita kalah ‘cepat’ dengan apa yang telah dicapai di luar negeri. Hal tersebut tak dapat dipungkiri mengingat berbagai kendala yang kita hadapi di dalam negeri, salah satunya adalah masalah keterbatasan infrastruktur dan kesenjangan informasi. Namun saat ini kita perlu bersikap optimis dan berbesar hati. Saat ini sudah banyak inisiatif yang dilakukan berbagai instansi untuk mempercepat perkembangan e-Learning tanah air. Ada instansi yang sudah berjalan dan siap berbagi pengalaman dengan instansi lain dan ada juga yang masih dalam taraf belajar.
Global Distance Learning Network (GDLN) Indonesia akhir-akhir ini menyediakan hibah kompetisi untuk mengembangkan konten pemelajaran dan aktivitas pemelajaran. GDLN Indonesia yang memiliki subcenter di Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Udayana, dan Universitas Riau sangat berpotensi untuk mendukung program distance learning. Belum lagi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) melalui Indonesia Higher Education Network (Inherent), disamping menyediakan infrastruktur jaringan yang menghubungkan antar perguruan tinggi di Indonesia juga memberikan hibah kompetisi pengembangan konten. Tak kurang puluhan perguruan tinggi negeri dan swasta sudah terhubung ke Inherent. Pada tahap awal, yaitu tahun 2006 telah terbangun interkoneksi 32 localnode yang berada di perguruan-perguruan tinggi di ibu-ibu kota propinsi di Indonesia serta kantor Dirjen Dikti dengan bandwith bervariasi mulai 1, 2, 8, hingga 155 Mbps!.
Pustekkom Depdiknas dan majalah SWA juga tidak ketinggalan dalam inisiatif memajukan e-Learning di tanah air. Terhitung sejak tahun 2006, mereka sudah dua kali berhasil menyelenggarakan e-Learning Award. Event ini sepertinya akan berlangsung tiap tahun. Yang terakhir ini, para peserta tidak hanya dibatasi dari institusi pendidikan, tetapi juga dari perusahaan.
Bibit-bibit pemain di bidang yang satu ini pun akhirnya terlihat. Ternyata banyak potensi yang bisa dipupuk untuk terus maju, setidaknya bermanfaat di lingkungan masing-masing. Yang berasal dari pendidikan perlu lebih giat lagi melakukan penelitian di bidang ini sedangkan dari pihak perusahaan bisa terus melebarkan sayap dalam mengembangkan konten pemelajaran. Bukan rahasia lagi bahwa di negeri ini sudah ada content developer yang merambah dunia internasional.
Dukungan dari berbagai pihak tetap perlu digalakkan, termasuk dalam ini pemerintah melalui Detiknas yang sudah memasukkan e-Pendidikan sebagai salah satu Flagship Program TI nasional. Terkait e-Pendidikan ini, Depdiknas berperan sebagai owner, sedangkan member-nya adalah Bappenas, Depkominfo, Depperin, KNRT, dan Kementerian PAN. Akhirnya, bravo e-Learning tanah air!
Incoming search terms for the article: