<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rising News &#187; Zainal A. Hidayat</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/author/zahidayat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>news - articles - hot info</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 02:48:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kutukan Republik</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/10/24/kutukan-republik/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/10/24/kutukan-republik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 02:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kutukan]]></category>
		<category><![CDATA[republik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=360</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kemalangan seringkali begitu cepat menggantikan keberuntungan. Itulah yang diratapi masyarakat AS sekarang. Bagaimana tidak, Presiden George W Bush mewarisi surplus angga&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemalangan seringkali begitu cepat menggantikan keberuntungan. Itulah yang diratapi masyarakat AS sekarang. Bagaimana tidak, Presiden George W Bush mewarisi surplus anggaran 128 miliar dollar AS saat menggantikan Bill Clinton. Amerika Serikat menikmati keajaiban “new economy” dengan ditandai peningkatan produktivitas seiring perkembangan <a href="http://www.technosolutio.com">internet</a>. Kini  di penghujung kekuasaannya, utang AS melesat menjadi hampir 10 triliun dolar AS; dan kemuraman menyelimuti seluruh negeri akibat krisis keuangan yang amat dalam.</p>
<p>Sebagian orang lantas percaya, saat dikelola seorang presiden dari Partai Republik, cahaya AS sebagai kekuatan ekonomi dunia kerap berubah redup. Sejarah mencatat, depresi besar pada 1930-an kian parah saat Herbert Hoover naik tampuk kekuasaan. Periode tersebut sering diingat sebagai era “worst president” dalam keyakinan publik AS.</p>
<p>Kini, dengan semakin dekatnya waktu pemilihan presiden banyak yang cemas hal serupa akan terulang kembali. Tak hanya warga AS, barangkali dunia pun berharap agar tidak terkena “Kutukan Republik” ini.</p>
<p><strong>Anti Intelektualisme?</strong><br />
Muncul spekulasi bahwa terpilihnya Paul Krugman, profesor di Princeton dan juga kolumnis The New York Times, sebagai peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2008 karena ia “tekun” mendiskreditkan kebijakan Presiden Bush. Namun Krugman berkilah, nobel memang diberikan kepada intelektual, dan menurutnya a lot of intellectuals are anti-Bush.</p>
<p>Jeffry Sach menulis sebuah artikel dengan nada getir berjudul “The American Anti-Intellectual Threat”. Menurutnya, peranan AS yang menjadi sumber instabilitas global ketimbang sebagai penyelesai masalah, salah satunya yang paling kuat adalah karena anti-intelektualisme. Peristiwa paling mencolok adalah ketika Sarah Palin&#8211; mengutip Bill Liddle—seorang gubernur sebesar kabupaten di Indonesia dipinang sebagai cawapres dari Partai Republik mendampingi McCain.</p>
<p>Bagi kebanyakan cerdik pandai AS, dewasa ini bukan ambruknya perekonomian yang dikhawatirkan. Sebab, meski kapitalisme (neoliberalisme) sedang terpojok, tetapi keyakinan dan optimisme bahwa perekonomian cepat atau lambat akan pulih kembali tidak sedikitpun tergantikan. Bagi mereka, AS akan bangkit lagi sebagaimana Korea Selatan melesat dengan pertumbuhan ekonomi tinggi pascakrisis 1997-1998.</p>
<p>Namun tak dibantah, masa depan generasi muda AS memang dalam pertaruhan. Kemungkinan besar mereka akan kalah bersaing dengan sebayanya dari China dan India di masa mendatang. Sebabnya, di masa Bush AS membelanjakan lebih banyak dana untuk peperangan ketimbang anggaran pendidikan. Tetapi, Sarah Palin menyebut perang yang menurut sebuah perhitungan menghabiskan 3 triliun dollar AS dan menyebabkan ribuan korban jiwa itu sebagai “tugas dari Tuhan”.</p>
<p>Seperti banyak negara yang menghadapi persoalan fundamentalisme, para pemilih AS bukan menolak manfaat dari kemajuan teknologi yang dihasilkan sains modern. Namun mereka kerap menolak bukti-bukti ilmiah (produk intelektual) dalam penentuan kebijakan publik. Akibatnya, peperangan dianggap semata perintah tuhan dan bukannya diletakkan sebagai kegagalan politik dan menggalang kerjasama global.</p>
<p>Dalam hal ini, barangkali pemilih di Indonesia jauh lebih dewasa karena sudah tidak gampang terpikat dengan tawaran yang sekedar berlabel agama. Tetapi di AS, ditambah bangkitnya sentimen ras selama masa kampanye, tak mustahil jika gairah fundamentalisme yang tak harmonis dengan sains itu, sekali lagi dimanfaatkan dengan cerdik oleh kubu Republik.</p>
<p><strong>Keseimbangan Baru</strong><br />
Namun, banyak jajak pendapat sekarang mengunggulkan Barack Obama. Jika menang, selain akan menjadi presiden AS kulit hitam pertama, kandidat presiden dari Partai Demokrat itu sekali lagi akan membawa peruntungan AS ke jalan kapitalisme negara pasca limbungnya kapitalisme swasta.</p>
<p>Bagaimana Obama menghindar dari kutukan? Tantangannya adalah bagaimana ia meramu kesetimbangan antara peran pasar dan negara. Satu-satunya opsi adalah menstabilkan sistem finansial dengan regulasi yang lebih kuat. Patriotisme ekonomi juga akan lebih banyak menjadi pilihan termasuk dengan membatalkan sejumlah kesepakatan perdagangan bebas. Dan problem “ekonomi obesitas”, di mana masyarakat kelewat konsumtif, akan diimbangi dengan kenaikan pajak.</p>
<p>Banyak pihak mengingatkan bahwa masalah fundamental AS juga tergantung pada sejauhmana kemampuan melakukan penghematan energi dan menemukan teknologi baru untuk mengikis ketergantungan energi dari luar. Produksi etanol besar-besaran yang menyebabkan krisis pangan dan ikut memantik pemanasan global disarankan tidak perlu dilanjutkan. Dalam kampanyenya, Obama memang menjanjikan membuka ladang minyak baru secara terbatas.</p>
<p>Tetapi dunia masih harus sabar menanti: apakah Barack Obama sungguh-sungguh menjadi change we can believe in bagi perekonomian global empat tahun ke depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/10/24/kutukan-republik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Manusia</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/09/15/puasa-dan-manusia/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/09/15/puasa-dan-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 12:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ramadhan selalu dinanti dan dirindukan. Pada bulan ini umat Muslim berpuasa dan  menabung banyak amal kebajikan. Dari tahun ke tahun, terlihat puasa memberikan dampak yang ins&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan selalu dinanti dan dirindukan. Pada bulan ini umat Muslim berpuasa dan  menabung banyak amal kebajikan. Dari tahun ke tahun, terlihat puasa memberikan dampak yang instan. Intensitas kegiatan keagamaan melonjak, hasrat berderma menguat, dan yang sekuler mendandani diri menjadi lebih religius.</p>
<p>Sayang, pengaruh yang sama menjadi tidak nyata ketika dihadapkan persoalan besar bangsa seperti korupsi. Boleh dikata, yang puasa adalah yang korupsi. Perilaku merusak ini mengakar kuat dari birokrasi paling tinggi hingga terendah. Lebih celaka lagi, sebagian pelaku korupsi itu adalah “anak haram” yang keluar dari organisasi berlabel agama.</p>
<p>Inilah teka teki besar tiap kali berjumpa dengan Bulan Puasa. Apalagi, puasa merupakan ritual milik hampir semua agama. Karena itu, selalu muncul gugatan, apakah agama mujarab untuk menata kembali perilaku individu dan masyarakat?</p>
<p><strong>Dua Arah</strong><br />
Di negara maju, banyak studi menyimpulkan bahwa praktik keagamaan reguler menghasilkan manfaat pada individu, keluarga, komunitas, dan bangsa secara keseluruhan (Fagan, 2006). Komitmen terhadap agama &#8211;dengan manifestasi dan tingkat partisipasi yang beragam— berpengaruh pada perilaku ekonomi dan demografi. Sebaliknya, variabel ekonomi serta demografi juga menentukan derajat keterlibatan pada aktivitas religius.</p>
<p>Dalam kertas kerja “Praying for a Recession: The Business Cycle and Protestant Religiosity in the United States” (2008), David Beckworth mendapati,  keanggotaan gereja di AS secara sistematis terkait dengan tingkat pengangguran, harga minyak, harga saham, dan kurva imbal hasil (yield curve). Studi ini, sejalan dengan Chen (2005) yang menemukan peningkatan aktivitas studi Al Quran dan partisipasi di sekolah agama pada saat krisis ekonomi 1997-1998 di Indonesia.</p>
<p>Sejatinya, agama dapat membentuk perilaku baik manusia. Tetapi, karena faktor politik, ekonomi, budaya, dan demografi seringkali ia masih bersifat siklikal. Dan, meski menempati posisi istimewa, namun agama bukan satu-satunya sumber nilai sepanjang hidup manusia. Seiring waktu, agama kerap kalah bersaing dengan institusi non-religius yang mengajarkan nilai berbeda.</p>
<p>Ulama dan organisasi keagamaan tak henti mengutuk keras perilaku korupsi. Tetapi, banyak kasus menunjukkan, dalam organisasi politik pelaku korupsi justru dilindungi dan dibela sejawatnya. Di sini, terjadi sebuah “moral community” yang bersifat terbalik. Sementara itu, pada musim <a href="http://ngampus.com/2009/02/12/kampanye-damai-pemilu-indonesia-2009/">kampanye</a>, alih-alih mengajak pada kesejatian, banyak tokoh agama  justru lebih berperan sebagai mesin keruk suara layaknya selebriti.</p>
<p>Di sisi lain, teori kapitalis mengajarkan bahwa mengedepankan self interest dan maksimalisasi keuntungan merupakan cara terbaik  dalam mencapai kebahagiaan. Doktrin semacam ini bisa menancap lebih kuat dan banyak melahirkan model “manusia satu dimensi”.</p>
<p>Dalam laku beragama, hal ini tampak ketika manusia mengejar kepuasan spiritualitas tapi absen menyodorkan manfaat sosial bagi sesama. Puasa dan ibadat formal lainnya, bisa saja tergelincir pada ketimpangan semacam ini.</p>
<p><strong>Makhluk Multidimensi</strong><br />
Dalam buku “Creating World Without Poverty” (2007) Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian, percaya bahwa manusia merupakan makhluk multidimensi. Manusia tidak hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya tetapi juga memiliki kehendak menciptakan manfaat sosial dan melakukan kebaikan bagi manusia lainnya. Kapitalis paling masyhur sekalipun seperti Andrew Carnegie, keluarga Rockefellers, hingga Bill Gates, akhirnya berpaling dari permainan keuntungan ke fokus pencapaian lebih luhur lewat yayasan mereka.</p>
<p>Oleh sebab  itu, puasa harus difungsikan demi mengukuhkan manusia sebagai makhluk multidimensi tersebut. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa puasa adalah perisai (junnah), yakni benteng agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan tercela dan hina. Puasa juga, seperti dinyatakan Qaradhawi (2005), selayaknya menyuburkan kemauan (iradah) dan semangat memperbaiki diri. Dengan kata lain, puasa harus didorong melampaui kesalehan instan dan tidak siklikal.</p>
<p>Saat ini, harus jujur diakui, umat Muslim masih gandrung dengan model keberagamaan musiman. Lari ke pelukan (tokoh) agama saat krisis atau pada masa kampanye. Atau, berbondong-bondong menjadi manusia religius hanya dan selama Ramadhan saja.</p>
<p>Bulan Puasa selayaknya kita hayati lebih dari itu. Momentum sakral dan kolosal ini penting diarahkan bagi pembentukan iklim kesalehan, sekaligus maksimalisasi manfaat sosialnya. Puasa adalah perjuangan, dari manusia satu dimensi menjadi multidimensi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/09/15/puasa-dan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alternatif “Negawatt”</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/27/alternatif-%e2%80%9cnegawatt%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/07/27/alternatif-%e2%80%9cnegawatt%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 13:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[krisis listrik]]></category>
		<category><![CDATA[negawatt]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=207</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tak putus dirundung kriris energi. Beginilah nasib Indonesia kini. Setelah rakyat dipaksa antre minyak tanah dan elpiji, lalu dihajar kenaikan BBM, sekarang giliran pemadama&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak putus dirundung kriris energi. Beginilah nasib Indonesia kini. Setelah rakyat dipaksa antre minyak tanah dan elpiji, lalu dihajar kenaikan BBM, sekarang giliran pemadaman listrik kian meluas.</p>
<p>Kenapa Indonesia nyaris menjadi “republik gulita”? Menurut Wapres Jusuf Kalla, keadaan ini diakibatkan ekonomi yang tumbuh pesat. Selain itu, Wapres mengakui terjadinya pemborosan pemakaian daya listrik di mana-mana (Kompas.com, 27/6/08).</p>
<p>Di banyak negara berkembang, hampir selalu muncul dua masalah kembar. Pertumbuhan ekonomi dibarengi, inefisiensi pemakaian energi dan melebarnya kesenjangan ekonomi.</p>
<p>Harga listrik amat murah bagi golongan menengah-atas, tapi sebaliknya terasa sangat mahal bagi lapisan bawah masyarakat. Akibatnya, insentif berhemat, justru hanya muncul pada kelompok terbawah yang pemakaian energinya amat minim.</p>
<p>Intensitas energi – jumlah energi dibutuhkan untuk menghasilkan tiap dollar output &#8212; lebih rendah di negara-negara di mana harga listriknya tinggi. Bukan sebuah kebetulan jika Denmark menjadi negara dengan harga listrik tinggi sekaligus menjadi ekonomi yang efisien-energi (Economist, 8 Mei 2008).</p>
<p><strong>Sulitnya berhemat</strong><br />
Ibarat pepatah, sektor kelistrikan bangsa ini sudah besar pasak daripada tiang. Dalam situasi demikian, potensi penghematan sulit terlihat dan diwujudkan. Sebabnya, energi  mengambil porsi kecil saja dalam anggaran perusahaan atau rumah tangga. Apalagi, di kantor-kantor pemerintahan yang birokrasinya masih macet dan dijangkiti korupsi.</p>
<p>Distorsi dalam pemakaian energi seringkali amat pelik dan berurat-akar. Bagi kalangan bisnis, investasi dalam instalasi penghemat energi tak terlalu menarik karena mereka cenderung untuk menggenjot pendapatan  ketimbang mengurangi biaya. Para pengembang bangunan perkantoran,  pusat perbelanjaan, dan perumahan, tak perlu repot mengeluarkan investasi besar karena tagihan listrik akan ditanggung penyewa/pembeli.</p>
<p>Di sisi lain, konsumen pun senang karena mendapat harga lebih murah meski minus pengefisien energi. Sedangkan dalam keadaan normal, perusahaan listrik juga mendorong konsumen agar mengonsumsi listrik sebanyak mungkin.</p>
<p>Semua benang kusut tersebut harus ditangani agar masalah laten kelistrikan terurai. Pengalihan waktu operasi industri ke Sabtu dan Minggu seperti tertuang dalam surat keputusan bersama (SKB) lima menteri, tidaklah cukup. Langkah lain yang perlu diambil adalah menghilangkan informasi asimetris, yakni agar gedung baru, perumahan, ataupun barang elektronik, yang dibeli konsumen memenuhi syarat efisiensi energi yang lebih baik.</p>
<p>Upaya penghematan mutlak diperlukan, sebab selain membutuhkan waktu lama, membangun pembangkit listrik baru juga meminta biaya amat besar, bahkan sering dengan jalan menambah utang.</p>
<p><strong>Megawatt vs Negawatt</strong><br />
Dunia menyepakati hemat energi adalah salah satu jalan memelihara bumi. Namun, perubahan–perubahan dalam menyikapi semakin terbatas dan mahalnya sumber energi, mesti masuk akal pula secara ekonomi. Tidak mengurangi hak publik, dan tidak kontraproduktif terhadap perekonomian.</p>
<p>Alternatif yang kini kembali menemukan momentum baru adalah menciptakan pembangkit virtual “negawatt” yang gagasannya diperkenalkan Amory Lovins (1989). Dengan metode ini, peningkatan suplai listrik dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pada peralatan yang ada atau mengurangi konsumsi sementara waktu, ketimbang membangun pembangkit baru yang mahal.</p>
<p>Pada saat beban puncak, konsumen mengurangi konsumsi listrik; contohnya dengan mengurangi suhu pendingin udara di pusat perbelanjaan. Hasil penghematan inilah yang dapat “dijual” kepada pihak lain dengan perjanjian yang disepakati bersama dengan otoritas energi.</p>
<p>Secara teoretis negawatt dapat diaggregasi dan sebuah “pasar” otomatis muncul untuk memperdagangkan produk tersebut. EnerNOC, sebuah perusahaan Kanada, berhasil mengagregasi 796 megawatt kontrak negawatt dan sukses listing bursa saham. (The Star, 6/8/07).</p>
<p>Efisiensi energi sering disebut sebagai “bahan bakar kelima”. Untuk menciptakannya, dibutuhkan bekerjanya prinsip ekonomi dan bukannya sekadar instruksi pemerintah. Di banyak negara, tantangan inilah yang kemudian meciptakan peluang munculnya perusahaan jasa energi (ESCos) untuk membantu perkantoran dan rumah tangga mengurangi tagihan listrik mereka. Di AS, bisnis ini sekarang tumbuh 22 persen per tahun dengan omset 3,6 miliar dollar AS.</p>
<p>Alternatif ini cukup realistis misalnya untuk mendorong penghematan di bangunan-bangunan publik seperti kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, dan universitas. Yang diperlukan hanyalah dukungan kredit perbankan yang akan dilunasi dari hasil seluruh penghematan tersebut.</p>
<p>Krisis kelistrikan sudah memakan banyak korban. Karena itu, jangan lagi pengusaha, buruh, dan masyarakat, dibuat lunglai dengan kebijakan-kebijakan jangka pendek yang tidak hati-hati dan merugikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/07/27/alternatif-%e2%80%9cnegawatt%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Titanic dan Problem Elite</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/04/23/titanic-dan-problem-elite/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/04/23/titanic-dan-problem-elite/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 23:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[elite politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/04/23/titanic-dan-problem-elite/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kisah Indonesia yang mulai goyah didera bencana mengingatkan kita pada sepenggal cerita di film Titanic. Dari begitu banyak perbedaan antara film yang laku keras tersebut &#82&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Indonesia yang mulai goyah didera bencana mengingatkan kita pada sepenggal cerita di film Titanic. Dari begitu banyak perbedaan antara film yang laku keras tersebut &#8212; tulis Fareed Zakaria dalam The Future of Freedom (2003) &#8211;  dengan sejarah yang sebenarnya terjadi, yakni beda penilaian terhadap elite.</p>
<p>Di dalam film, ketika kapal tersebut tenggelam, para penumpang kelas pertama berebutan menaiki perahu penyelamat yang jumlahnya sedikit. Hanya karena adanya kekerasan hati para kelasi, yang mempergunakan senapan untuk menghalangi kelompok plutokrat itu, maka para wanita dan anak-anak bisa menaiki kapal.</p>
<p>Sebenarnya, menurut penjelasan dari orang-orang yang selamat, aturan “para wanita dan anak-anak dahulu” diikuti tanpa kecuali juga oleh kalangan atas. Statistik menunjukkan 70 persen penumpang pria di kelas pertama dan 90 persen di kelas kedua tewas tenggelam. Para pria di daftar penumpang kelas pertama di Titanic sebetulnya masuk dalam kategori Forbes 400 pada waktu itu, termasuk Jacob Astor yang dianggap sebagai pria terkaya di AS saat itu. Konon setelah berjuang menaikkan istrinya ke atas perahu, Ascor menolak ikut sembari melambaikan selamat tinggal kepada istrinya.</p>
<p>Para pembuat film tersebut sengaja mengubah cerita dengan alasan: sekarang ini tak seorang pun akan memercayainya. Di Indonesia, kisah para elite yang hidup bersahaja sesaat pascakemerdekaan juga menjadi romantisme sejarah. Sebaliknya, kini para elite hidup jauh berbeda dari rakyat kebanyakan.</p>
<p><strong>Problem Elite</strong><br />
Sekarang Indonesia memang memiliki elite politik hasil seleksi yang lebih kompetitif dan terbuka. Dengan kekuatan uang, otak, atau kemasyhuran, siapa saja bisa mencapai kedudukan puncak di pusat dan daerah. Orang-orang tersebut dipilih langsung oleh rakyat untuk menjalankan lembaga-lembaga utama agar menghasilkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.</p>
<p>Tapi seiring waktu, kenyataan justru berbicara lain. Rakyat kian percaya bahwa elite lah yang tak boleh menderita. Contoh tentang hal ini adalah terbitnya PP 37 Tahun 2006 yang dirancang untuk menghapus “kemiskinan” anggota legislatif di daerah. Ironisnya, anggota DPRD melalui asosiasinya justru berduyun-duyun datang ke Jakarta untuk menentang revisi PP tersebut.</p>
<p>Hal itu mengafirmasi, demi kepentingan sempit dan jangka pendek elite lebih mengutamakan dirinya sendiri atau sesamanya. Sedangkan menyangkut kepentingan publik, elite lebih banyak berbicara hal yang serupa dan sama, hanya waktunya saja yang berbeda. Penanganan masalah banjir, kelangkaan minyak tanah, dan  meroketnya harga beras, sekadar pengulangan masalah dari tumpukan masalah yang ada tanpa penyelesaian yang tuntas.</p>
<p>Kompetisi saja ternyata tak cukup melahirkan elite yang berjiwa publik. Indonesia bahkan kini semakin modern dengan aneka undang-undang dan dibentuknya banyak komisi negara independen. Belum lagi ditambah otonomi daerah dan pemekaran wilayah yang terus berlanjut. Namun berbagai terobosan itu, alih-alih cepat meredakan masalah namun yang banyak terdengar justru “kegaduhannya”. Inilah celakanya, tekanan kompetisi justru mendorong elite semakin agresif mengabaikan nasib rakyat.</p>
<p><strong>Tantangan</strong><br />
Satu dekade reformasi menjadi titik kritis yang tak bisa diremehkan. Ketidakpuasan masyarakat terhadap dampak dari semua perubahan ini akan terus tumbuh. Frustasi atas langkah elite yang lamban dan membelakangi harapan pemilihnya akan semakin mendorong mereka yang tandas kesabarannya kembali masuk ke alam pikiran –meminjam Fareed Zakaria &#8212; otoritarian namun liberal. Kencangnya desakan untuk kembali ke naskah konstitusi sebelum amandemen adalah sedikit contoh yang mencerminkan dinamika tersebut.</p>
<p>Kelebihan Orde Baru adalah disiplin dalam hal menjamin kebutuhan pokok rakyat. Pada masa kini “politik beras” yang dibalut korupsi semacam itu menjadi tak relevan lagi. Yang diperlukan sekarang adalah menjauhkan kepentingan-kepentingan politik dari setiap keputusan ekonomi. Inilah sesungguhnya tantangan pemerintahan saat ini. Berbagai kemelut ekonomi seperti masalah perberasan akan mendapatkan penyelesaian apabila kebijakan ekonomi tak lagi didistorsi para pencari rente.</p>
<p>Edmund Burke pernah menggambarkan masyarakat sebagai suatu kerjasama antara yang telah mati, yang masih hidup, dan yang belum lahir. Dalam sistem yang sedang berkembang ini sulit sekali untuk melihat siapa yang akan berbicara mewakili mereka yang belum lahir, yakni bagi masa depan. Seperti peristiwa Titanic, para elite memiliki peluang menjadi pahlawan dengan berkorban demi perspektif yang lebih berjangka panjang itu. (31/5/07)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/04/23/titanic-dan-problem-elite/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelaparan dan Kompetisi Politik</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/04/18/kelaparan-dan-kompetisi-politik/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/04/18/kelaparan-dan-kompetisi-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 03:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kelaparan]]></category>
		<category><![CDATA[kompetisi politk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/04/18/kelaparan-dan-kompetisi-politik/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Panggung politik Indonesia dimeriahkan banyak partai politik semenjak reformasi. Jalur politik menjadi tumpuan harapan untuk mendorong pulihnya perikehidupan rakyat yang&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggung politik Indonesia dimeriahkan banyak partai politik semenjak reformasi. Jalur politik menjadi tumpuan harapan untuk mendorong pulihnya perikehidupan rakyat yang terbenam dalam lumpur krisis ekonomi. <BR><BR>Dalam ekonomi pasar, kompetisi diyakini menghasilkan kebaikan untuk konsumen. Maka, kompetisi politik diharapkan pula membawa kemaslahatan bagi publik. Banyak studi di berbagai negara menunjukkan, kompetisi politik akan memacu kinerja pemerintah dan mengurangi korupsi. <BR><BR>Amartya Sen, pemenang Nobel ekonomi, populer dengan pernyataannya: <I>no substantial famine has ever occurred in a country with a democratic form of government and a relatively free press</I>. <BR><BR>Tak diragukan lagi, Indonesia menggenggam keduanya. Namun, berbagai laporan media mengonfirmasikan, kini masih terjadi kelaparan yang berujung kematian. Di pusat kota, satu kematian akibat kelaparan adalah “substansial”.<BR><BR>Di lain pihak, riuh politik menjelang Pemilu 2009 semakin kentara. Di tengah kompetisi politik yang kian gaduh, justru banyak ibu kehilangan harapan akan masa depan. Tak sedikit anak-anak usia sekolah bunuh diri. Pertanyaannya, kenapa kompetisi politik seperti tidak bermakna bagi rakyat jelata?<BR><BR><STRONG>“Knowledge Problem”</STRONG><BR>Menurut Sen, pemimpin dalam sistem demokratis lebih responsif terhadap ancaman kelaparan. Alasannya, karena pemerintah akan berhadapan dengan kritik publik dan adanya keinginan memenangkan pemilu. Tetapi, menyaksikan kenyataan di negeri ini, keyakinan tersebut sepertinya terlampau optimistis. <BR><BR>Meski pers tak henti mengungkap kemiskinan ekstrem ini, namun tragedi kelaparan, warga mengonsumsi nasi aking, dan kasus gizi buruk, terus berulang. Kompetisi politik kelihatannya tak cukup efektif memaksa incumbent berlaku cepat tanggap dan tepat waktu mengatasi ancaman kelaparan. Peragaan makan nasi aking oleh satu aktor politik, “hanya perlu” dibalas dengan strategi pencitraan yang lebih canggih. <BR><BR>Setidaknya, terdapat tiga kemungkinan kenapa sebuah rezim demokratis menemukan alasan kuat untuk berdiam diri atau bertindak terlambat terhadap derita rakyat seperti ancaman kelaparan atau gizi buruk.<BR><BR>Pertama, terdapat tanggung jawab yang dipikul bersama (<I>shared accountability</I>) oleh aktor politik. Dalam era desentralisasi, persoalan yang muncul ke permukaan seringkali gagal diidentifikasi siapa yang bersalah. Akibatnya, setiap terjadi bencana, seperti kelaparan (individual) maupun bencana alam (kolektif), publik sulit “menghukum” pihak yang lalai. Atas dasar ini, prediksi bahwa bencana akan memberikan insentif untuk bertindak responsif dan berpihak kepada rakyat seringkali tidak terjadi.<BR><BR>Kedua, desentralisasi gagal mengatasi permasalahan “knowledge problem”. Pejabat di daerah lebih sering menegasikan kasus kelaparan atau gizi buruk dan mengaku baru tahu dari pemberitaan media. Prinsip “yang dekat lebih tahu” tidak terwujud. Akibatnya, sekalipun bisa jadi tersedia aneka program untuk warga miskin, tapi gagal menjangkau kebutuhan mereka.<BR><BR>Ketiga, tak tersentuhnya persoalan “entitlement”, yakni kelaparan bukan terjadi akibat hilangnya suplai pangan namun lebih karena ketakterjangkauan. Pemerintah selalu berdalih stok di gudang menumpuk, tetapi gagal melihat masalah ini dari sisi guncangan atas pendapatan masyarakat. Pemerintah ringan saja mengimpor beras, tetapi tidak ada yang menjamin rakyat dapat membeli ketika membutuhkan dan dalam jumlah yang mencukupi. Tak heran, jika kasus kelaparan justru terjadi di daerah lumbung pangan. <BR><BR><STRONG>Lawan tapi Mesra</STRONG><BR>Di negeri ini, kompetisi politik lebih mengadu pesona dan bukannya keberpihakan kepada rakyat (people-minded). Karena itu, sulit berharap pemerintah trengginas seperti diyakini Amartya Sen. Sepanjang “tabungan” popularitas masih memadai, terdapat cukup insentif untuk melakukan pembiaran atas hak-hak warga. Maka, kalimat yang kerap terdengar di tengah penderitaan rakyat dan kritik tajam, adalah: jika pemilu digelar saat ini, kami akan menang!<BR><BR>Benar kata Braun,dkk (1998), kelaparan adalah fungsi dari kegagalan institusional, organisasional, serta kebijakan; dan bukan semata-mata karena persoalan pasar atau kegagalan panen akibat perubahan iklim. Kelaparan terjadi jika tidak dicegah dan “diizinkan” terjadi. Dengan kata lain, pemerintah absen dan tak bertindak efektif.<BR><BR>Kompetisi politik diperlukan, tetapi tak cukup (<I>necessary but not sufficient</I>), dalam menyelamatkan nasib rakyat dari ancaman kelaparan. Apalagi, dinamika perpolitikan di negeri ini masih kental dengan prinsip “lawan tapi mesra”. Ketat beroposisi tatkala membela kepentingan pribadi dan golongan, tetapi mesra saat mengabaikan nasib rakyat. <BR><BR>Imajinasi bahwa multipartai akan mengangkat martabat rakyat dan bangsa jelas masih jauh dari harapan. Aneka kesulitan yang dihadapi masyarakat memastikan bahwa biaya dari kompetisi politik yang ditanggung rakyat jauh lebih besar ketimbang manfaatnya. Yang lebih celaka, jika partai politik justru sibuk menggelar kompetisi antarelite sesama partai.<BR><BR>Karena itu, “pecut” pers mesti terus menyalak agar kompetisi politik tidak lebih membahayakan lagi kehidupan rakyat yang sudah lama terpuruk.<BR></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/04/18/kelaparan-dan-kompetisi-politik/" title="kompetisi dalam kebaikan">kompetisi dalam kebaikan</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.32 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/04/18/kelaparan-dan-kompetisi-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Kemiskinan&#8221; Orang Kaya</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/04/08/kemiskinan-orang-kaya/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/04/08/kemiskinan-orang-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 09:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kelaparan]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[orang kaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/04/08/kemiskinan-orang-kaya/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kemiskinan selalu identik dengan kekurangan dan kesengsaraan. Tapi tidak adakah tanda-tanda kemiskinan demikian pada orang-orang kaya? Jika ukuran kemiskinan adalah kerja&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemiskinan selalu identik dengan kekurangan dan kesengsaraan. Tapi tidak adakah tanda-tanda kemiskinan demikian pada orang-orang kaya? Jika ukuran kemiskinan adalah kerja keras banting tulang untuk mengais lembaran rupiah,  jelas banyak orang kaya mengaku sengsara karena harus memeras ekstra tenaga dan pikiran. Pergi kerja sebelum matahari terbit dan baru pulang menjelang tengah malam. Karena demikian cinta pada uang, tak jarang kantor dijadikan “istri kedua.”</p>
<p>Jika bukan karena kekurangan uang, tak mungkin banyak orang kaya rela tua di jalan ditemani kemacetan. Bukan cuma selalu defisit duit, lazimnya orang miskin, orang kaya juga menerapkan manajemen gali lubang tutup lubang, dan banyak yang dililit utang. Konon utang ini malah sudah menjadi life style. Pengutang dari golongan kaya “tanggung” sudah biasa memajang deretan kartu kredit di dompet. Sedangkan debitor, istilah keren pengutang kelas kakap, malah belum selesai mengukir sejarah hitam BLBI di negeri ini.</p>
<p>Karena gemar membuat utang tadi, membuat orang kaya gampang disergap kesengsaraan. Yang paling ringan diteror-dikejar debt collector, sementara yang sedikit lebih berat harus menginap di hotel prodeo karena tak mampu (mau) bayar utang. Begitulah, ternyata orang kaya selalu kekurangan dan juga dekat dengan kesengsaraan.</p>
<p>Jika direnungkan, tulis Hidayat Nataatmadja (1985), alangkah miskinnya orang-orang kaya itu. Sedemikian miskin  sehingga dia akan berusaha menambah kekayaannya dengan jumlah yang luar biasa, misalnya 100 juta per bulan! Kalau dia hanya berhasil menambah kekayaannya dengan 10 juta saja, pasti dia akan mengeluh kemiskinan!</p>
<p>Pejabat publik di negara ini termasuk yang sering berkeluh kesah soal penghasilan mereka. Katanya, gaji yang diberikan negara lebih kecil dibanding yang diterima para eksekutif swasta. Karena merasa “dimiskinkan” negara, lalu mereka meniru jalan orang miskin bodoh. Mereka menjadi maling, istilah resminya yaitu koruptor, di mana pekerjaan utamanya adalah menggasak uang negara. Berangkat dari keluh kesah ini, beberapa bekas menteri, gubernur, bupati, dan anggota legislatif, harus mengakhiri petualangannya di penjara.</p>
<p><strong>“Luxury Fever”</strong><br />
Seperti halnya di negara makmur, barangkali banyak orang  kaya di negeri ini juga tidak pernah benar-benar merasa kaya. Sebabnya, orang kaya selalu mengidap –meminjam Robert Frank&#8211; “luxury fever”, yaitu sejenis penyakit kekurangan dan kesengsaraan berkelanjutan. Hidup terasa kurang kalau belum menempati rumah paling mewah seperti di iklan hari ini. Dan sengsara manakala melihat teman sekantor sudah memakai mobil keluaran paling baru.</p>
<p>Penyakit atau tepatnya perasaan (yang sebetulnya menghina kemiskinan absolut) tersebut, sejak lama memang telah menguras perhatian psikolog dan ekonom. Di negara makmur secara rutin diadakan survei nasional yang menanyakan kepada responden apakah dengan lebih banyak uang mereka menjadi lebih bahagia? Hasilnya, seperti dikutip The Economist (19 Desember 2006), orang kaya umumnya lebih bahagia dari kaum miskin, akan tetapi penduduk negara kaya tidak lebih bahagia setelah negara mereka lebih makmur. Jepang hari ini jauh lebih baik dibanding pada 1950, namun proporsi yang mengatakan “very happy” tetap konstan. Di Amerika Serikat sama saja, “So many lucky men, restless in the midst of abundance,” tulis majalah tersebut.</p>
<p>Banyak penelitian menemukan bahwa semakin besar kue ekonomi suatu negara memang tak menjamin masyarakatnya semakin bahagia. Headey, Muffel, dan Wooden (2004) menyimpulkan bahwa kebahagiaan individu lebih dipengaruhi lingkungan ekonomi saat ini dibanding persepsi sebelumnya. Sesuatu yang dianggap bernilai tinggi sekarang, ternyata hanya memberikan secuil kebahagiaan ketika berhasil memperolehnya beberapa waktu kemudian.</p>
<p>Ahli psikologi menamakan fenomena demikian dengan istilah “hedonic treadmill.”  Ibarat reaksi anak kecil terhadap sebuah mainan baru, demikian pula orang dewasa apabila mendapatkan sesuatu. Kepemilikan atas barang-barang tertentu memberinya kesenangan sesaat, lalu setelah itu semuanya menjadi basi. Hal ini terjadi karena manusia memiliki sifat dasar highly adaptable. Dan di sisi lain, sering memiliki aspirasi menjadi “seperti yang lain.”</p>
<p>Tapi mengapa banyak orang percaya dengan lebih banyak uang akan membeli lebih banyak kebahagiaan (meski tidak pada kenyataannya)? Baucells dan Sarin (2006) mengajukan sebuah model “projection bias” untuk menjawab teka-teki ini. Bias ini menurut mereka disebabkan karena tendensi orang memakai ukuran sekarang (current level) untuk mengalkulasi utiliti yang bisa didapat dari konsumsi di masa depan. Bias tersebut memiliki dua efek; pertama, membuat orang kaya terlampau menaksir tinggi (overrate) kebahagiaan yang akan didapat dari sejumlah uang. Kedua, bias ini menyebabkan terjadinya misalokasi anggaran konsumsi dengan terlalu banyak dipakai pada permulaan horison perencanaan atau terlalu banyak mengonsumsi barang-barang adaptif.</p>
<p><strong>Fungsi Uang</strong><br />
Lalu apa yang bisa dibeli dengan segepok uang di tangan? Pendapat pertama menyatakan: dengan uang siapapun akan terbebas dari kekhawatiran akibat tak punya uang. Di musim hujan, anda tak perlu cemas jika sewaktu-waktu ada genteng bocor sehingga harus membayar tukang.</p>
<p>Sedangkan menurut pandangan kedua, meski uang adalah bukan segala-galanya, tapi pada kenyataannya banyak hal harus diselesaikan dengan uang. Seperti dikutip Gretchen Rubin ekonom Richard Layard mengidentifikasi “the big seven” kebahagiaan yaitu meliputi hubungan keluarga, keadaan keuangan, pekerjaan, komunitas pertemanan, kesehatan, kebebasan, dan nilai-nilai individu. Meski uang hanya salah satu unsur saja, tetapi yang lainnya dipastikan memerlukan uang juga (The Wall Street Journal Online, 6/10/2006).<br />
Dokter hebat dan sayuran segar akan membantu menjaga kesehatan, tapi keduanya perlu dibayar dengan uang. Pergi jalan atau makan untuk meningkatkan jalinan pertemanan juga harus diongkosi dengan uang. Begitupula jika anda bersedekah yang akan memberikan kepuasan batiniah juga harus mengeluarkan uang..</p>
<p><strong>Mengejar Kebahagiaan</strong><br />
Pandangan yang berusaha lebih bijak melihat uang bukan tanpa kegunaan, tapi juga bisa gagal memberikan kebahagiaan jika penggunaannya tak terkendali. Jadi manfaatkan uang untuk mendapatkan hal-hal yang mempromosikan komponen kebahagiaan saja. Profesor Richard Easterlin (2001) mengajukan nasihat agar orang kaya berpikir serius sehingga mampu mengalahkan (self defeating) pengejaran atas segala benda material. Luangkan lebih banyak waktu untuk kegiatan bersama keluarga, teman, dan tetangga.</p>
<p>Sebuah negara juga seharusnya lebih banyak mempromosikan pembangunan dengan mengutamakan tercapainya berbagai komponen kebahagiaan bagi rakyatnya, ketimbang overdosis mengekspos data-data makro ekonomi. Bhutan, adalah negara yang telah lama memperkenalkan model gross national happiness sebagai alternatif untuk mengukur kinerja perekonomian dan tingkat kebahagiaan penduduknya.<br />
Jadi, lebih kaya semestinya lebih bahagia. Inilah tantangan bagi orang-orang kaya Indonesia agar tak terus-menerus merasa miskin di tengah tumpukan orang miskin di negeri ini.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/04/08/kemiskinan-orang-kaya/" title="uang bukan segala-galanya">uang bukan segala-galanya</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.605 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/04/08/kemiskinan-orang-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Menanti Kekhilafahan Baru?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/04/04/dunia-menanti-kekhilafahan-baru/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/04/04/dunia-menanti-kekhilafahan-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 01:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[china]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/04/04/dunia-menanti-kekhilafahan-baru/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Banyak orang percaya sejarah selalu berulang. Kini, dengan melesatnya ekonomi Cina dan India, banyak yang percaya kedua negara itu sedang mengulang kebesaran peradaban merek&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang percaya sejarah selalu berulang. Kini, dengan melesatnya ekonomi Cina dan India, banyak yang percaya kedua negara itu sedang mengulang kebesaran peradaban mereka di masa lalu. Ekonom Clyde Prestowitz memakai istilah “The Great Reverse” ketika menyebut fenomena tersebut. Menurutnya, tren ini merupakan indikasi bahwa globalisasi gelombang ketiga telah mengakhiri era dominasi global Barat, dan Asia kembali pada posisi tradisionalnya yang kuat dan berpengaruh.</p>
<p>Cina diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terdepan menyalip AS pada tahun 2050. Sedangkan India akan berada di posisi ketiga meninggalkan Eropa dan Jepang. Tak hanya itu, bahkan ada yang meyakini, tak seperti Jepang atau Cina, India akan tetap berpijak pada sejarah dan budayanya ketika mencapai hal itu. Kishore Mahbubani, Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, memprediksi bahwa sebagai emerging power India akan mempertahankan kebanggaan kultural dan tak malu dengan mode pakaian atau tradisinya (YaleGlobal, 19 Desember 2006).</p>
<p>Jika kita percaya bahwa pasang surut sejarah selalu terjadi, berarti dunia kini sedang menanti kembalinya peradaban besar yang lain. Pada masa lalu, tulis sejarawan Bernard Lewis dalam bukunya What Went Wrong? (2002), dunia Islam pernah memimpin peradaban dunia dan mencapai prestasi gemilang selama berabad-abad. Islam menjadi kekuatan terdepan di bidang ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan; dan peradabannya mencakup semua etnis, ras dan bangsa bahkan antar benua.</p>
<p>Islam adalah yang pertama yang membuat kemajuan signifikan menuju apa yang dipandang sebagai sebuah misi universal. Ketika Islam mencapai puncak kekuasaannya, saat itu peradaban Cina masih bersifat lokal, terbatas pada satu kawasan saja, yaitu Asia Timur. Sementara India sedang dalam proses penaklukan dan Islamisasi. Pertanyaannya, akankah dunia Islam membuat the great reverse yang lain?</p>
<p><strong>Kemiskinan dan Kemakmuran</strong><br />
Sepanjang abad XX, sangat jelas Timur Tengah dan bahkan seluruh wilayah Islam berada di titik nadir. Dibandingkan dengan Kristen, dunia Islam menjadi miskin, lemah, dan terbelakang. Ketika negara-negara di Asia Timur sudah mulai bangkit menuju abad berikutnya, dunia Islam justru masih terseok-seok di belakang.</p>
<p>Menurut Atlas of the World Religions  umat Muslim kini berjumlah  1,3 miliar jiwa. Dari jumlah tersebut, separuhnya tersebar di 5 negara besar dimana sebanyak 64 persen penduduknya hidup dengan kurang 2 dollar AS per hari. World Development Report 2007 yang dikeluarkan Bank Dunia menyebutkan penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem tersebut, di Turki (18 persen), Indonesia (52 persen), Pakistan (73 persen), Banglades (82 persen), dan Nigeria (92 persen).</p>
<p>Peta kemiskinan di dunia Islam kian luas jika menengok negara-negara di Afrika. Separuh negara di benua tersebut berpenduduk mayoritas muslim, tetapi hanya Kamerun yang menyandang predikat negara lower middle income. Sementara sisanya terpuruk menjadi negara-negara paling miskin di dunia. Bahkan sebanyak 5 negara berpenduduk mayoritas Muslim berada di peringkat terbawah Human Development Index 2006, yaitu Guinea-Bissau, Burkina Faso, Mali, Sierra Leone, dan Niger.</p>
<p>Beberapa negara Teluk dikecualikan dari ketidakberuntungan tersebut. Saudi Arabia dan negara-negara kecil seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, masih bertengger di barisan negara high income dengan pendapatan per kapita di atas 10.726 dollar AS. Namun negara-negara ini kelihatannya tak mampu menghindarkan diri dari apa yang disebut ekonom sebagai kutukan sumber daya alam (resource curse). Akibat terlena dengan penghasilan migas, menyebabkan “kemiskinan” lain yaitu rendahnya insentif untuk membangun industri dan mengembangkan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Dalam artikelnya di Political Science Quartely (Volume 119, 2004), Fareed Zakaria, dengan tepat menyimpulkan bahwa di sebagian negara Arab kekayaan menjadi masalah dibanding kemiskinan. Kemakmuran pula yang menyebabkan rezim-rezim otoriter terus bertahan. Rakyatnya tak ditarik pajak, tetapi imbalannya para penguasa tak perlu transparan, akuntabel, dan refresentatif. Efek buruk kekayaan alam yang lain yaitu memberikan para penguasa kemampuan untuk bertindak refresif. Selalu ada uang untuk membiayai polisi dan tentara. Keadaan ini berlaku tak hanya di negara produsen minyak besar, tetapi juga di negara lain yang mengandalkan bantuan luar negeri AS.</p>
<p>Masalah lainnya menurut Zakaria, sikap gamang dalam menyikapi modernitas menjadi kendala lain dunia Arab untuk mencapai kemajuan ekonomi. Meskipun menghasilkan kemajuan di tempat lain, tetapi jalan sosialisme, sekularisme, dan nasionalisme, berubah menjadi akhir yang mematikan di kawasan itu. Negara-negara Teluk misalnya, menunjukkan model modernisasi yang buruk di mana barang-barang dan bahkan tenaga kerja diimpor dari luar negeri, dan hanya sedikit modernisasi yang berasal dari dalam.</p>
<p>Pada titik ini, problem kemakmuran dan kemiskinan yang terbentang di negara-negara Muslim, mendapat respon berbeda dan cenderung berlawanan dari umat Islam. Pendapat pertama menekankan bahwa dunia Islam harus mengikuti “jalan” Barat seutuhnya jika hendak mengejar ketertinggalan. Karena itu, demokrasi liberal dan pasar bebas menjadi resep generik yang harus menjiwai semangat pembaruan Islam.</p>
<p>Pendapat kedua menitikberatkan pada perlunya kembali pada ajaran Islam yang “otentik” termasuk mempraktikkannya secara ketat sebagaimana di masa lalu. Pandangan ini cenderung melihat modernisasi sebagai hambatan dan penyebab berbagai kegagalan di dunia Islam. Dalam kenyataan, bentuk paling ekstrim dari pendapat ini pernah diperagakan rezim Taliban di Afghanistan.</p>
<p><strong>Khilafah Baru</strong><br />
Di antara dua kelompok pendapat itu, kini semakin mencuat gagasan tentang perlunya umat Muslim memiliki kekhilafahan yang baru. Dikatakan “baru” sebab institusi ini telah diperbaharui agar mampu mengakomodasi modernisasi, namun di sisi lain tetap menolak preskripsi ekonomi-politik bersifat one size fits for all yang datang dari Barat.</p>
<p>Dalam perspektif lebih baru ini, menengok kejayaan Islam di masa lalu tak berarti harus dimaknai sebagai bentuk romantisisme sejarah. Namun visi khilafah yang bersemangat mengeskpor “kebebasan” versi Islam –Bernard Lewis menyebutnya misi universal&#8211; merupakan sesuatu yang urgen untuk dihidupkan kembali dan diejawantahkan dalam politik negara. Hal ini kian relevan manakala terdapat banyak paradoks antara pernyataan dan pelaksanaan nilai-nilai kebebasan universal yang disebarluaskan Barat.</p>
<p>Cita-cita khilafah memang bukan hal baru di dunia Islam. Tetapi beberapa penelitian lembaga think tank AS seperti The Heritage Foundation telah merekomendasikan negara adidaya itu agar mewaspadai dukungan yang semakin luas terhadap perjuangan khilafah. Dalam konteks AS, tren ini merupakan ancaman terhadap kepentingan globalnya yang selama ini dipertahankan dengan menyokong rezim otoritarian di banyak negara Muslim.</p>
<p>Sebaliknya, sebagian umat Muslim kian menaruh harapan bahwa sejarah tak segera berakhir di tangan kapitalisme global atau berkarat ditindas rezim otoritarian. Ide khilafah, meskipun diakui bukan panacea, setidaknya mencerminkan semangat untuk mengulang sejarah sebagaimana pengalaman Cina dan India dewasa ini. Dengan khilafah, dunia Islam juga akan mencapai skala dan kapasitas negara yang lebih besar sebagai prasyarat membangun peradaban yang besar. Dunia begitu dinamis dan terus berubah. Namun waktu pula yang akan memastikan apakah sejarah benar-benar berulang di dunia Islam.</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/04/04/dunia-menanti-kekhilafahan-baru/" title="india sebagai emerging power">india sebagai emerging power</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 8.794 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/04/04/dunia-menanti-kekhilafahan-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reformasi dan Ilusi Pasar</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/03/29/reformasi-dan-ilusi-pasar/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/03/29/reformasi-dan-ilusi-pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:20:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/03/29/reformasi-dan-ilusi-pasar/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Puja-puji atas prestasi Orde Baru masih bergema sepeninggal Soeharto. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berswasembada pangan; mampu menggerakkan keluarga berencana, me&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puja-puji atas prestasi Orde Baru masih bergema sepeninggal Soeharto. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berswasembada pangan; mampu menggerakkan keluarga berencana, menyediakan bahan bakar minyak murah, dan kredit mikro berkembang luas. Sampai akhir 1990-an, buku teks ekonomi terbitan luar masih menempatkan Indonesia sebagai contoh negara yang berhasil dengan program kredit untuk rakyat jelata itu.</p>
<p>Di era reformasi semua mengendur atau seolah tak berbekas. Lebih banyak pangan diimpor dan pengendalian penduduk mulai kedodoran. Ketimbang menjadi berkah, kekayaan minyak justru terasa sebagai kutukan. Kita pun perlu mengundang peraih Nobel Muhammad Yunus untuk berceramah soal kredit mikro.</p>
<p><strong>Perdebatan</strong><br />
Tak pelak, perjalanan satu dekade reformasi memantik perdebatan tajam. Pertanyaan terus terulang. Apa yang salah?</p>
<p>Satunya-satunya prestasi yang dibanggakan &#8211;meminjam penilaian sejumlah lembaga asing&#8211; di zaman ini, yaitu menyangkut pelaksanaan demokrasi. Tetapi banyak pihak tak puas karena kebebasan tidak seiring kesejahteraan. Lalu muncul pendapat, demokrasi bukanlah tujuan dan bisa dinomorduakan. Yang lain mengatakan, jika tidak ada peningkatan kesejahteraan, yang salah bukan demokrasinya, tetapi cara menjalankannya.</p>
<p>Di lain pihak, kegagalan dekade reformasi kerap dikaitkan dengan masih eksisnya pemimpin dari generasi tua, baik di pusat ataupun daerah. “The sunset generation” demikian istilahnya, telah menimbulkan kemacetan politik dan absennya regenerasi kepemimpinan nasional. Padahal, kalangan ini menilai, Indonesia memerlukan pemimpin lebih muda agar mampu mengguncang dunia. Kekuatan lama harus benar-benar diganti kekuatan baru.</p>
<p>Shock Doctrine<br />
Di luar silang pendapat itu, Naomi Klein, seorang jurnalis dan aktivis sosial menyodorkan kemungkinan jawaban.  Dalam buku terbarunya, The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism (2007), dia menunjuk bangkitnya fundamentalisme pasar sebagai penyebab kenapa banyak negara terus terpuruk.</p>
<p>Dalam pandangan Klein, kapitalisme ekstrem amat mencintai sebuah blank state, yaitu situasi yang biasa muncul pascakrisis atau “shock”. Krisis tercipta akibat invasi militer, bencana alam, maupun gejolak finansial. Aneka faktor eksogen tersebut membuka pintu lebar-lebar  bagi pendukung pasar bebas masuk dan menulis ulang (rewrite) serta memprogram kembali (reprogramming) arah kebijakan sebuah negara.</p>
<p>Irak pascainvasi diwarnai perlucutan industri yang dikuasai negara. Undang-undang yang mengizinkan privatisasi aneka industri disahkan dan asing diperbolehkan merepatriasi seluruh keuntungannya. Di Thailand dan Srilanka, korban tsunami disingkirkan secara permanen karena lokasi asalnya disulap menjadi area wisata bernilai jual tinggi. Reformasi menemui kegagalan di Polandia dan Rusia pascatumbangnya komunisme dengan ciri utama swastanisasi besar-besaran.</p>
<p>Tiap krisis selalu didemonstrasikan sebagai inkompetensi dan inadekuasi negara. Swasta di-overestimate kemampuannya melebihi negara. Klein menyebut sistem yang menguasasi dunia beberapa dekade ini sebagai “disaster capitalism”. Sebuah sistem yang tak segan memakai cara-cara teror atau tekanan untuk mencapai tujuannya.</p>
<p>Sebagian orang mungkin saja menilai “teori” Klein ini sebagai konspirasi besar. Dalam review terhadap buku itu di koran New York Post (30/9/2007), peraih nobel ekonomi Joseph Stiglitz tegas menolak pendapat ini. Bagaimana di Indonesia? Dokumen rahasia AS mengungkap adanya tekanan Clinton yang memaksa keras Soeharto agar tunduk kepada IMF 10 tahun lalu (Kompas, 30/1).</p>
<p>Inti pendapat Klein bisa jadi bukanlah hal baru. Setelah Thomas Friedman merayakan “the flat world’, kini Klein hadir dengan kontra-argumen bahwa ketika bencana me-“rata”-kan suatu masyarakat, para kapitalis berpesta dan kian menguatkan cengkeramannya. Istimewanya, Naomi Klein telah berkunjung ke berbagai negara di saat krisis terjadi. Misalnya, dia masuk ke Irak setahun setelah invasi militer AS.</p>
<p><strong>Tangan Kentara</strong><br />
Kegagalan satu dekade reformasi semestinya menjadi katalis dalam menghindarkan diri dari keterpurukan lebih dalam. Sesungguhnya, banyak pihak telah mengingatkan letak kelemahan mendasar neoliberalisme, yaitu pemujaan (quasi religion) yang sangat berlebihan terhadap peranan pasar.</p>
<p>Pada masa lalu kredit mikro adalah bagian dari “tangan kentara” pemerintah. Sebaliknya, kini semangatnya adalah “memberi kail ketimbang ikan”. Rakyat harus mandiri dan tidak boleh bergantung kepada negara. Sekalipun tegas dalam konstitusi, tugas negara adalah memajukan kesejahteraan umum dan bukan dimaknai sebatas memberikan “jaring pengaman sosial”.</p>
<p>Untuk mengembalikan hal-hal baik sepanjang Orde Baru, tak ada pilihan selain meninggalkan ilusi tentang pasar. Rusia di era Putin membuktikannya. Jalan zig-zag “Putinomics” yang bertumpu pada gerakan menghindar dari fundamentalisme pasar sukses mengantar negara itu keluar dari keterpurukan satu dekade reformasi. Bukan tangan besinya, tetapi “tangan kentara” negara seperti menyediakan infrastruktur pedesaan dan jaminan sosial rakyat yang diperlukan. Inilah tugas berat perekonomian pasca-Soeharto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/03/29/reformasi-dan-ilusi-pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya lagi memasang prologue style di Kol &#8230;</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/03/10/saya-lagi-memasang-prologue-style-di-kol/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/03/10/saya-lagi-memasang-prologue-style-di-kol/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 05:15:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[prologue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/03/10/saya-lagi-memasang-prologue-style-di-kol/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya lagi memasang prologue style di Kolumnis.com</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya lagi memasang prologue style di Kolumnis.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/03/10/saya-lagi-memasang-prologue-style-di-kol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hemat Energi, Bisakah?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/02/25/hemat-energi-dan-pembatasan-bbm/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/02/25/hemat-energi-dan-pembatasan-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 01:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Zainal A. Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[BBM]]></category>
		<category><![CDATA[hemat energi]]></category>
		<category><![CDATA[listrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/02/25/hemat-energi-dan-pembatasan-bbm/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seruan agar masyarakat berhemat energi kembali bergema. Tony Prasetiantono menyatakan, tiada jalan lain menghadapi harga minyak mentah yang kembali melintasi 100 dollar AS p&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seruan agar masyarakat berhemat energi kembali bergema. Tony Prasetiantono menyatakan, tiada jalan lain menghadapi harga minyak mentah yang kembali melintasi 100 dollar AS per barrel dan mulai sering padamnya listrik di negeri ini, kecuali dengan ekstra berhemat (Kompas, 25/2).</p>
<p>Sebenarnya, upaya penghematan sulit dilakukan dengan harga energi seperti listrik dan BBM yang rendah. Bagi orang miskin harga murah itu membantu, tetapi bagi orang berduit ini adalah gerbang pemborosan. Harga murah memberikan sinyal bahwa pasokan berlimpah, karena itu tidak ada insentif apalagi urgensi berhemat.</p>
<p>Kunci keberhasilan kebijakan energi adalah memenangkan hati dan pikiran rakyat. Pada 1970-an Brazil bangkit dari hantaman krisis minyak dengan semangat “Let’s unite, make alcohol”. Hasilnya, produksi etanol meningkat 500 persen antara 1975 dan 1979.</p>
<p>Di Brazil, lebih dari 40 persen kendaraan memakai bahan bakar etanol. Kendaraan yang bisa dijalankan dengan premium atau etanol (flex-fuel), meningkat dari kurang 1 persen pada 2001 menjadi lebih dari 70 persen pada 2006.</p>
<p>Banyak langkah perlu diambil pemerintah agar masyarakat mau berhemat. Upaya mengembangkan bahan bakar nabati misalnya, tak akan berdampak luas jika tipe kendaraan yang dijual di pasaran hanya berbahan bakar minyak. Jadi, bisakah kita berhemat dalam kebijakan yang saling tak selaras?</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/02/25/hemat-energi-dan-pembatasan-bbm/" title="hemat energi">hemat energi</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.05 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/02/25/hemat-energi-dan-pembatasan-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
