AKU: Sim Card Canggih Multifungsi Sebuah Inovasi Value Added Service yang Lengkap dan Terdepan

Posted: December 10th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | Tags: , | No Comments »

Dampak negatif dari adanya perang tarif adalah memburuknya pendapatan operator telekomunikasi dan menurunnya kualitas layanan (sinyal) komunikasi yag dialami masyarakat selaku konsumen. Padahal, kedua hal itu merupakan parameter penting dalam mengukur kinerja sebuah perusahaan. Untuk itu, agar dapat memenangkan persaingan, sebuah operator telekomunikasi harus cepat-cepat keluar dari perang tarif dan menemukan cara yang lebih ampuh dari sekedar menurunkan tarif.

Menurut penulis, cara yang paling tepat adalah dengan menerapkan blue ocean strategy atau strategi “samudera” biru. Strategi ini fokus untuk menciptakan ceruk pasar baru melalui inovasi dan penciptaan produk yang luar biasa. Yaitu produk yang tidak hanya memiliki nilai tambah baru, tetapi juga dapat menjadi standard setter, price maker, dan value innovator di kategori industrinya.

Salah satu implementasi dari blue ocean strategy adalah dengan menciptakan sebuah inovasi layanan nilai tambah (value added service) yang mampu mendobrak pikiran dan merubah perilaku dalam berkomunikasi sehingga menjadi lebih efektif, positif, dan sangat efisien. Karena memang, di era yang serba canggih dan maju, masyarakat selalu menuntut berbagai kemudahan kepada perusahaan penyedia jasa seperti operator telekomunikasi.

Untuk itu, penulis mengusulkan AKU, sebuah sim card canggih multifungsi yang berorientasi masa depan. Artinya, sim card ini mampu memberikan value added service (VAS) yang banyak dan siginifikan dalam mempermudah segala aktivitas kehidupan manusia.

Sebenarnya, ide AKU ini berawal dari terlalu banyaknya kartu atau identitas diri yang harus selalu dibawa dalam dompet penulis. Mulai dari kartu tanda penduduk (KTP), kartu ATM, kartu JAMSOSTEK, kartu kredit, sura izin mengemudi (SIM), kartu asuransi, kartu nomor pokok wajib pajak (NPWP), dan sebagainya. Nah, jika ada sebuah sim card yang dapat membantu atau mewakili semua fungsi dari kartu pribadi tersebut, maka berbagai kemudahaan dan kesederhanaan akan terjadi.

Untuk langkah awal, peluncuran Sim Card AKU ini dapat memberikan beberapa layanan utama yang dapat mewakili fungsi dari KTP (misal daerah Jakarta terlebih dahulu), SIM, NPWP, dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Keempat fungsi tersebut dapat lebih mudah untuk direalisasikan mengingat masyarakat yang memilikinya sudah berkategori dewasa dan memiliki handphone berikut sim card-nya. Dan juga, keempat fungsi tersebut dapat lebih cepat dirasakan manfaatnya.

Keuntungan
Setidaknya, ada tiga keuntungan besar yang dapat dirasakan dengan menerapkan AKU. Pertama, karena sejak awal sim card telah bersifat elektronik dan memiliki data base yang terintegrasi, maka langkah untuk menjadikannya sebagai single identity number tidak membutuhkan effort besar dari awal. Apalagi, sim card (bersama handphone) telah teruji dapat digunakan untuk keperluan perbankan yang menuntut tingkat keamanan yang tinggi. Sehingga, tinggal melakukan pengembangan saja.

Kedua, banyaknya kemudahaan yang dapat dihasilkan dari efektivitas dan efisiensi penggunaan sim card sebagai single identity number. Kemudahaan ini tidak hanya dirasakan masyarakat sebagai pengguna, tetapi juga pemerintah dengan berbagai unsur di bawahnya. Seperti misalnya kepolisian ketika ingin mengecek pengurusan SIM dan status kendaraan bermotor. Atau, bagi departemen keuangan (pajak) ketika mengecek nomor pokok wajib pajak dan statusnya. Bahkan bagi para mahasiswa ketika ingin melakukan daftar ulang di kampus.

Ketiga, kesederhanaan. Dengan adanya satu nomor handphone (AKU), maka akan banyak terjadi kesederhaaan dalam berbagai hal. Semua yang sifatnya kompleks menjadi lebih simple. Karena memang hanya satu nomor yang dapat mewakili seseorang. Alhasil, semuanya akan menjadi lebih mudah dan berbagai kejahatan penipuan melalui handphone pun akan tereduksi.

Tantangan
Namun tetap ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai tantangan. Pertama, faktor keamanan jika sim card AKU bersama handphone-nya hilang. Solusinya, tentu setiap orang dapat melaporkan ke galeri operator (misal XL) yang terdekat dengan mudah. Dan setiap kali penggunaan handphone dengan sim card AKU, selalu dilindungi oleh password yang hanya diketahui oleh pemiliknya. Sehingga, menjadi sangat aman seperti halnya dalam penggunaan kartu ATM ketika ingin bertransaksi.

Tantang kedua adalah teknologi handphone yang mendukung. Namun hal ini jangan terlalu dirisaukan. Karena saat ini, ketika teknologi pembuatan handphone semakin canggih dan tidak lagi mahal, maka setiap handphone dapat dibuat dengan mendukung berbagai layanan nilai tambah ini.

Tantangan ketiga, cakupan layanan (VAS) yang dimiliki AKU perlu diperbanyak lagi. Sehingga, dengan adanya AKU, mayarakat akan menjadi lebih dimudahkan dalam setiap aktivitas kehidupannya.

Tindak Lanjut
Ketika berbagai manfaat telah diketahui dan tantangannya telah diukur, tinggal bagaimana bersama-sama menindaklanjutinya. Karena memang, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Seperti misalnya dengan pemerintah daerah, pihak universitas, kepolisian, dan departemen keuangan (pajak). Kerjasama ini tentu dilakukan berdasarkan dengan tujuan yang akan dicapai.

Dan terakhir, ketika sebuah operator telekomunikasi dapat memulai strategi ini lebih awal (pionir) dibandingkan pesaingnya, bukan tidak mungkin akan menjadi yang terdepan dalam hal inovasi dan penguasaan di pangsa pasar baru. Operator telekomunikasi ini pun jelas akan menjadi pemenang dengan berbagai kelebihannya yang tidak dimiliki semua pesaingnya.***

Incoming search terms for the article:


Perang Tarif, Titik Keseimbangan, dan Strategi Berjalan Mendahului Kurva

Posted: December 2nd, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | Tags: , | No Comments »

Saat ini, perang tarif yang terjadi antaroperator telekomunikasi masih saja terjadi. Dan entah kapan akan berhenti. Padahal, perang tarif ini telah berlangsung cukup lama dan “keras”. Untuk itu, penulis tertarik untuk menganalisis fenomena ini dan menemukan jalan keluarnya.

Sederhananya, adanya perang tarif disebabkan karena dua hal. Yaitu, para operator telekomunikasi ingin menjaga konsumennya tetap menjadi pelanggannya dan juga untuk mengakuisisi konsumen yang telah menjadi pelanggan pesaingnya. Dan kemudian, strategi yang dipilih untuk memenangkan kompetisi adalah sama-sama low-cost strategy.

Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, pertama, apa dampak dari terjadinya perang tarif? Kedua, kapan perang tarif ini akan berhenti? Ketiga, pada saat bagaimana akan terjadi “titik keseimbangan” dalam perang tarif ini? Dan keempat, strategi apa yang harus dilakukan agar sebuah operator telekomunikasi dapat menjadi pemenang.

Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama, yaitu dampak dari perang tarif, baik itu bagi operator telekomunikasi maupun masyarakat sebagai konsumen.

Bagi masyarakat, hal pertama yang dialami ketika terjadi penurunan tarif, adalah berkenaan dengan biaya komunikasi. Biaya komunikasi yang selama ini dirasakan cukup tinggi dengen serta merta menjadi lebih rendah. Hal ini jelas memberikan keuntungan yang siginifikan. Yaitu meningkatkan kinerja dalam bekerja, wirausaha, dan berbagai aktivitas lainnya. Dan akhirnya, total keuntungan yang diterima masyarakat akan menjadi lebih tinggi.

Namun jangan lupa, ketika peningkatan penggunaan telepon semakin tinggi, otomatis traffic yang terjadi semakin padat dan memberikan dampak kurang baik pada kualitas sinyal maupun pada saat memulai komunikasi.

Sedangkan bagi operator telekomunikasi, apa dampak terbesarnya? Bagi semua operator telekomunikasi, jelas mereka akan mengalami penurunan keuntungan. Hal ini sangat wajar. Apalagi ketika pemain di industri ini semakin banyak, maka tingkat kompetisi memperebutkan market share semakin tinggi. Dan ketika low-cost strategy yang dipilih, penurunan keuntungan menjadi konsekuensinya.

Menjawab pertanyaan kedua, perang tarif akan berhenti ketika tiap-tiap operator telekomunikasi sudah tidak mampu lagi menemukan elemen-elemen biaya yang bisa dikurangi. Sehingga, tiap operator akan berhenti pada titik dimana harga terendahlah yang ditawarkan. Karena memang, menurut Michael Porter, agar dapat menjalankan low-cost strategy perusahaan perlu melakukan banyak efisiensi biaya melalui pengurangan berbagai aktivitas tertentu dan menghilangkan elemen biaya yang tidak perlu.

Tetapi harus diingat, dampak negatif dari penurunan tarif ini dalah memburuknya pendapatan operator telekomunikasi dan menurunnya kualitas layanan (sinyal) komunikasi yag dialami masyarakat selaku konsumen. Padahal, kedua hal itu merupakan parameter dalam mengukur kinerja sebuah perusahaan. Untuk itu, langkah pertama agar dapat memenangkan kompetisi, sebuah operator telekomunikasi harus cepat-cepat keluar dari perang tarif.

Ketiga, titik keseimbangan tidak terjadi ketika semua operator berhenti melakukan penurunan tarif. Tetapi, ketika semua perusahaan telah melakukan sebuah best-cost provider strategy. Porter menjelaskan bahwa, best-cost provider strategy bertujuan untuk memberikan keuntungan terbaik dari sebuah produk atau jasa berdasarkan harga yang rendah dan diferensiasi yang menghasilkan nilai tambah terbaik yang dapat dihasilkan perusahaan.

Untuk itu, langkah kedua untuk memenangkan kompetisi, sebuah operator telekomunikasi harus serius memikirkan diferensiasi yang kuat berdasarkan keunggulan yang dimilikinya. Sehingga, tidak terjebak lagi dalam perang tarif yang hanya akan merugikan operator telekomunikasi itu sendiri.

Keempat, setelah sebuah operator telekomunikasi telah berhasil mencapai titik keseimbanganya, maka harus mulai berani “berjalan” mendahului kurva. Artinya, ketika para pesaing masih sibuk dengan low-cost strategy atau best-cost provider strategy, sebuah operator telekomunikasi harus telah menggunakan strategi berikutnya.

Caranya, adalah dengan menjalankan langkah ketiga dalam memenangkan kompetisi, yaitu blue ocean strategy atau strategi “samudra” biru. Strategi ini fokus untuk menciptakan ceruk pasar baru melalui inovasi dan penciptaan produk yang luar biasa. Yaitu produk yang tidak hanya memiliki nilai tambah baru, tetapi juga dapat menjadi standard setter, price maker, dan value inovator di kategori industrinya.

Salah satu contohnya adalah dengan menciptakan sebuah inovasi layanan nilai tambah (value added service) yang mampu mendobrak pikiran dan merubah perilaku dalam berkomunikasi sehingga menjadi lebih efektif positif, dan sangat efisien.

Nah, ketika sebuah operator telekomunikasi telah berhasil menciptakan inovasi ini, maka dapat dikatakan telah telah berhasil “berjalan” mendahului kurva yang sulit dikejar oleh para pesaing. Alhasil, operator telekomunikasi ini akan lebih mudah untuk menjadi pemenang dalam kompetisi di industri yang dikenal sangat ketat dan keras ini.***

Incoming search terms for the article:


5 Langkah Strategis Meningkatkan Pangsa Pasar Perbankan Syariah

Posted: September 10th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Yoki Kuncoro | Tags: | 2 Comments »

Bank Indonesia, data pada Juni 2008, mempublikasikan bahwa total asset perbankan syariah masih sebesar 2,11 persen dibandingkan dengan total asset perbankan nasional. Hasil ini menunjukan bahwa perkembangan perbankan syariah masih cukup lambat bila melihat rentang waktu sejak bank syariah (Bank Muamalat) berdiri. Bahkan, target pangsa pasar 5 persen sampai akhir 2008 yang telah dicanangkan Bank Indonesia terancam gagal.

Karena itu, tema utama yang selalu menjadi perbincangan hangat bagi pelaku perbankan syariah adalah bagaimana cara yang tepat untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah. Ada lima langkah strategis yang coba saya usulkan sebagai sebuah solusi.

Pertama, bank syariah harus berani masuk ke pasar rasional dan mengakuisisi nasabah bank konvensional dengan strategi yang fokus mengkomunikasikan keuntungan fungsional.

Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bank syariah harus fokus pada keuntungan fungsional atau mendasar seperti keamanan, ragam layanan produk, dan kemudahan. Ini berarti, perhatian bank syariah jangan tersita hanya sebatas mengkomunikasikan keuntungan emosional seperti terhindar dari riba. Mengapa? Karena kenyataannya, mayoritas masyarakat menganggap keuntungan fungsional juga sangat penting.

Contoh bank syariah yang sudah mulai fokus mengkomunikasikan keuntungan fungsional adalah Bank Muamalat. Hal ini dapat dilihat pada berbagai tayangan iklan produk Share saat bulan puasa ini.

Kedua, bank syariah jangan lagi hanya mengalokasikan seluruh sumber dayanya untuk melakukan komunikasi yang ditujukan untuk meningkatkan awareness. Karena awareness bank syariah telah tinggi. Yang masih rendah adalah pengetahuan nasabah akan produk-produk bank syariah.

Sesuai dengan tahapan pada hierarchy of effect model, bahwa setelah awareness, perusahaan perlu meberikan pemahaman (knowledge) yang jelas akan produk-produknya. Hal ini ditujukan agar masyarakat tidak lagi bertanya-tanya akan perbedaan produk bank syariah dengan produk bank konvensional. Sayangnya, masih sangat banyak masyarakat yang belum memahami produk bank syariah. Bahkan yang lebih fatal, ada masyarakat yang masih mempersepsikan sama antara bagi hasil dan bunga bank.

Ketiga, setiap strategi komunikasi yang dilakukan bank syariah perlu di-match-kan dengan tahapan-tahapan pada hierarchy of effect model. Misalnya, ketika di awal munculnya bank/produk syariah, maka strategi komunikasi lebih difokuskan pada peningkatan awareness. Tetapi ketika awareness telah tinggi, bank syariah perlu mengkomunikasikan berbagai keuntungan agar nasabah memiliki pemahaman (knowledge) akan produk bank syariah.

Pada tahap berikutnya, bank syariah perlu membuat strategi komunikasi yang dapat menciptakan ketertarikan (interest) nasabah akan produk bank syariah. Setelah nasabah tertarik, maka bank syariah harus lebih maju dalam membuat program komunikasi. Hal ini ditujukan agar tercipta nasabah dengan preferensi yang kuat untuk memanfaatkan atau memiliki rekening di bank syariah dibandingkan bank konvensional.

Terakhir, agar tidak sebatas trial dan akhirnya lepas lagi, bank syariah perlu membuat strategi relationship yang berkesinambungan agar nasabahnya menjadi pelanggan yang loyal dalam jangka panjang.

Kesemua hal tersebut perlu dilakukan agar dapat diketahui pada tahap mana strategi bank syariah dalam mengakuisisi nasabah konvensional menjadi pelanggannya. Dan, dapat menentukan strategi komunikasi apa yang tepat untuk setiap tahapannya.

Keempat, bank syariah perlu memanfaatkan peran influencer. Untuk mengakuisisi nasabah bank konvensional, tidak semudah membalikan telapak tangan. Misalnya dengan mem-borbardir melalui berbagai iklan dan promosi. Lalu, berharap nasabah bank konvensional akan langsung berpindah. Tidaklah sesederhana itu.

Diperlukan sebuah pemicu yang mampu menggerakan nasabah bank konvensional berpindah. Pemicu itu adalah orang-orang yang mampu memberi pengaruh besar, atau biasa disebut sebagai influencer. Influencer ini bisa berupa pemilik atau pemimpin perusahaan, pemimpin organsasi, atau pemimpin sekolah/pesantren.

Contoh bank yang sangat sukses memanfaatkan peran influencer adalah Bank Central Asia (BCA). Lihat saja, telah sejak lama perusahaan atau industri memiliki kebijakan agar karyawannya memiliki rekening BCA, walau dengan alasan pembayaran gaji atau payroll. Pada kasus ini, terlihat peran yang besar dari pemilik atau pemimpin perusahaan untuk membuat karyawannya menjadi nasabah BCA.

Namun, untuk memanfaatkan peran influencer perlu strategi pendekatan yang khusus. Karena para influencer ini adalah orang-orang yang sangat penting dan sangat sibuk dengan berbagai urusan. Karena itu, perlu ada strategi relationship marketing yang tepat dan bersifat jangka panjang. Bukan hanya dalam bentuk transactional yang sekadar mengambil manfaat sesaat.

Kelima, berikan layanan dalam bentuk produk-produk yang memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyaman. Berdasarkan riset MARS Indonesia, layanan menjadi salah satu faktor utama nasabah memilih bank.

Namun jangan tertipu. Layanan di sini bukan hanya dalam bentuk keramahan. Tetapi yang dimaksud nasabah adalah layanan dalam bentuk produk-produk yang mampu memberikan kemudahan, kecepatan, dan kenyaman. Untuk itu, bank syariah harus terus meningkatkan produk-produknya yang dapat memuaskan kebutuhan fungsional nasabah.

Akhirnya, bila kelima solusi ini dijalankan, maka bank syariah akan mampu mengkomunikasikan keuntungan emosional sekaligus keuntungan fungsional. Semoga kelima solusi singkat ini dapat membantu peran bank syariah dalam meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia. Amien***

Tulisan ini dibuat penulis untuk CEO MARS Indonesia dan diterbitkan di Sinar Harapan edisi Selasa, 9 September 2008

Incoming search terms for the article:


Menjadi “The Person to See”

Posted: July 3rd, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | No Comments »

Ketika Anda membutuhkan cara untuk meningkatkan penjualan, maka Anda tinggal mencari seorang ahli penjualan. Mudah sekali bukan? Tetapi, bagaimana bila Anda merasa sebagai seorang ahli namun tidak pernah sekalipun dicari?

Jawabnya satu, Anda membutuhkan positioning. Artinya, ketika bisnis sudah banyak dimasuki pemain dan ahli, maka Anda membutuhkan ciri khas dan diferensiasi yang jelas. Sehingga, Anda akan mudah dilihat oleh orang atau perusahaan yang membutuhkan.

Sederhananya, positioning merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk menunjukan siapa Anda. Sekaligus, mempromosikan sebuah identitas tersebut dalam benak orang lain sampai Anda menjadi top of mind di benak mereka.

Jika positioning Anda jelas, maka ada banyak sekali keuntungan yang Anda dapatkan. Keuntungan terbesarnya adalah top of mind. Yaitu, tingkatan tertinggi seseorang ketika mengingat sesuatu hal.

Misalnya, ketika orang ditanya tentang air mineral, maka berdasarkan riset top of mind-nya adalah Aqua. Nah, kalau sudah menjadi top of mind, tentu saja penjualan Aqua menjadi sangat tinggi. Karena, yang akan dicari dan dibeli pertama kali adalah Aqua.

Timothy P. O’Brien, seorang pakar personal branding, menjelaskan bahwa ada beberapa langkah yang perlu Anda lakukan agar bisa menjadi orang yang paling dibutuhkan.

Langkah pertama, identifikasi personal branding Anda. Positioning membutuhkan sesuatu untuk diketahui. Sesuatu itu adalah personal branding. Jadi, pertama kali yang perlu dilakukan adalah menciptakannya. Pada tulisan saya sebelumnya, tertuang beberapa cara untuk menciptakan personal branding.

Langka kedua, bangun rekam jejak yang tidak bisa dibantah. Caranya, buatlah kinerja Anda sebaik mungkin dari waktu ke waktu. Hal ini jelas akan membuat Anda semakin dipercaya. Karena, kepercayaan tidak sebatas di sampaikan secara lisan. Tetapi juga perlu dibuktikan secara nyata dan membutuhkan rentang waktu yang cukup lama.

Langkah ketiga, buat strategi. Untuk setiap proses, diperlukan sebuah strategi dalam mendukung pencapaiannya. Dalam hal ini, strategi dibutuhkan untuk mempromosikan personal branding Anda dan mengeksekusinya secara cepat dan tepat.

Langkah keempat, posisikan diri Anda sebagai seorang ahli. Anda perlu ingat, yang dicari orang adalah seorang ahli, bukan orang yang memiliki kemampuan setengah-setengah.

Menulis dan berbicara di tempat umum merupakan cara tercepat untuk memosisikan diri Anda sebagai orang ahli dan dibutuhkan banyak orang. Telah dipahami bahwa ketika Anda diundang untuk berbicara di depan umum (misal: seminar), maka kredibilitas Anda tidak diragukan lagi.

Anda juga perlu membuat berbagai tulisan secara teratur yang dipublikasikan. Tidak seperti ketika menjadi pembicara di depan umum, pesan yang Anda buat melalui tulisan dapat memberikan efek yang lebih lama di benak orang.

Namun perlu diingat, pastikan Anda memilih topik yang memiliki diferensiasi yang jelas. Sehingga, posisi Anda mudah dan cepat terekam di pikiran orang.

Langkah kelima, bangun relationship. Ketika Anda telah melakukan berbagai langkah penting di awal, maka yang perlu Anda lakukan kemudian adalah membangun relationship. Tetapi, relationship yang Anda bangun harus mampu membuat orang lain memahami personal branding Anda.

Langkah keenam, ciptakan buzz. Buzz ini berarti desas-desus yang mampu menarik perhatian orang dan akhirnya menjadi tersebar kemana-mana. Untuk menciptakan buzz, dibutuhkan sebuah keunikan dan diferensiasi.

Misalnya saja yang baru-baru ini dilakukan Tung Desem Waringin dengan strateginya menyebar uang 100 juta rupiah dari atas pesawat. Cara ini jelas menarik perhatian banyak orang. Bahkan liputannya tidak hanya dilakukan oleh stasiun televisi dari Indonesia, tetapi juga dari luar Indonesia.

Cara yang dilakukan Tung Desem Waringin ini, kalau dihitung-hitung, relatif jauh lebih murah untuk menciptakan buzz dibandingkan dengan beriklan di stasiun televisi yang membutuhkan biaya hingga miliaran rupiah. Juga, lebih efektif. Karena cara ini baru pertama kali dilakukan. Berbeda dengan iklan yang jumlahnya sangat banyak sehingga menyulitkan orang untuk melihat sisi menarik dari masing-masingnya.

Langkah ketujuh, pahami aturan enam sampai delapan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata orang perlu mendengar pesan atau kata-kata Anda enam sampai delapan kali agar dapat mengingat Anda. Untuk itu, buatlah strategi yang dapat membuat orang terus membaca dan mendengar pesan Anda. Misalnya, buatlah program membuat tulisan yang berkesinambungan yang dikirim ke berbagai media atau blog sehingga orang akan mudah mengenal Anda.

Langkah kedelapan, terus tingkatkan brand Anda. Dalam berbagai proses, selalu ada tantangan. Termasuk dalam proses meningkatkan personal branding Anda. Jangan pernah menyerah. Teruslah hadapi berbagai tantangan dan perubahan yang ada dalam meningkatkan brand Anda.

Nah, bila Anda terus melakukan kedelapan langkah di atas, maka Anda akan menemukan diri Anda sebagai orang yang paling dibutuhkan dalam bidang yang Anda geluti. Selamat melangkah!***

Tulisan ini dibuat penulis untuk CEO MARS Indonesia dan diterbitkan di Sinar Harapan edisi Selasa, 1 Juli 2008

Lihat tulisan yoki lainnya di The Essays of Yoki


Seberapa Pentingkah Knowledge Management bagi UKM?

Posted: June 30th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | 1 Comment »

Secara umum, lemahnya daya saing merupakan faktor utama yang menyebabkan usaha kecil menengah (UKM) kita kurang berkembang di pasar global. Bila kita telaah lebih jauh, ternyata permasalahannya ada pada kurangnya pengetahuan (knowledge) yang dimiliki dari para pengusaha tersebut. Wajar saja, karena memang mayoritas pendidikan pengusaha kecil menengah di Indonesia masih rendah.

Padahal seperti telah diketahui, pengetahuan memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan perusahaan. Semakin unggul pengetahuan suatu perusahaan dan sumber daya manusianya (SDM) maka akan semakin tinggi daya saing perusahaan di pasar global.

Contohnya adalah kesuksesan Microsoft dalam menjadi salah satu perusahan Information Technology (IT) terbesar di dunia. Sangat terbukti, bahwa Microsoft berhasil karena kekuatan pengetahuan yang dimiliki oleh pendiri dan pegawai-pegawainya. Lihat saja, harga saham Microsoft yang dihargai tinggi oleh masyarakat bukan dihitung berdasarkan aset yg dimiliki microsoft, namun lebih karena Microsoft memiliki pegawai dengan pengetahuan yang di atas rata-rata perusahaan lain.

Namun, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara yang efektif dan efesien dalam meningkatkan pengetahuan di sebuah perusahaan? Berapa banyak dana yang harus dikeluarkan untuk mengirim karyawan ke lembaga pelatihan, sekolah, atau seminar agar terjadi peningkatan pengetahuan? Lalu, bagaimana bila perusahaan anda memiliki karyawan yang lumayan banyak? Berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Inilah beberapa pertanyaan yang biasa diajukan para pengusaha maupun pemimpin perusahaan. Namun, mau tidak mau, proses peningkatan pengetahuan tetap harus dilakukan. Karena, salah satu kunci untuk memenangi kompetisi adalah kekuatan dari karyawan yang cerdas atau knowledge worker. Semakin cerdas dan pintar karyawan di perusahaan anda, maka akan semakin mudah pula perusahaan anda menghadapi perubahan dan memenangi kompetisi.

Salah satu solusi yang menarik saat ini adalah dengan menerapkan sebuah sistem yang mampu meningkatkan pengetahuan di internal perusahaan yang dinamakan sistem knowledge management.

Sederhananya, knowledge management merupakan sebuah sistem database berbasis web yang berguna dalam mengelola seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh perusahaan dan pegawainya. Mengelola disini tidak sebatas menyimpan, namun juga menciptakan budaya pembelajaran di lingkungan karyawan melalui proses pertukaran pengetahuan. Sehingga, akan memudahkan karyawan dalam melakukan pembelajaran secara mandiri dan memudahkan dalam memberikan solusi bagi masalah-masalah yang dihadapinya maupun yang dihadapi pelanggan.

Dengan begitu, maka proses peningkatan knowledge seluruh karyawan tidak memakan biaya besar dan waktu yang lama. Dan secara perlahan tapi pasti, budaya pembelajaran akan semakin tumbuh di lingkungan perusahaan. Alhasil, perusahaan pun bisa percaya diri berkompetisi untuk menjadi yang terbaik.

Contoh baru-baru ini yang paling menarik adalah IBM. Pada akhir tahun 2000, pertumbuhan perusahaan yang terkenal dengan bisnis personal computer (PC) dan semikonduktor itu terus merugi. Namun, pada akhir tahun 2005, IBM mencatatkan pendapatan perusahaan yang luar biasa. Earning per share IBM menjadi 4,87 dollar US pada tahun 2005.

Lalu, apa kuncinya sehingga IBM berhasil kembali menjadi perusahaan yang sangat menguntungkan? Ternyata, salah satu yang dilakukan IBM adalah dengan membangun motivasi karyawan dan menciptakan kompetensi karyawannya melalui penerapan knowledge management. IBM percaya bahwa dengan peningkatan motivasi dan kompetensi karyawan yang signifikan, maka perusahaan akan bisa menciptakan produk dan solusi bagi pelanggannya.

Di Indonesia, setidaknya ada beberapa perusahaan yang telah menerapkan knowlegde management. Di antaranya adalah PLN, UTE Pandu engineering selaku anak perusahaan United Tractor, dan Wijaya Karya. Alasan yang dikemukakan perusahaan-perusahaan tersebut hampir sama, yakni untuk menciptakan budaya pembelajaran dan mempermudah penciptaan solusi, yang pada akhirnya mampu meningkatkan kapitalisasi perusahaan.

Nah, berkaca dari perusahaan-perusahaan besar yang sukses menerapkan knowledge management, timbul pertanyaan. Apakah usaha kecil menengah (UKM) perlu juga menerapkan sistem knowledge management? Seberapa pentingkah?

Jawabannya cukup sederhana, sangat penting. Kenapa? Seperti kita ketahui, salah satu penyebab UKM kurang memiliki daya saing yang tinggi adalah karena mayoritas pendirinya hanya berpendidikan SMP dan SMU. Sehingga, kemampuan bersaing di tingkat global menjadi terbatas. Untuk itu, peningkatan knowledge bagi UKM dan seluruh pegawainya menjadi suatu keharusan.

Atau bila menggunakan logika sederhana, bila perusahaan besar menerapkan knowledge management untuk pertumbuhan perusahaannya, tentunya UKM harus lebih serius lagi dalam menerapkan knowledge management. Sehingga UKM bisa melakukan lompatan lebih jauh agar bisa cepat menjadi perusahaan besar.

Dalam sistem knowledge management, setidaknya ada tiga proses yang harus dilakukan. Proses pertama adalah eksplorasi, yaitu melakukan pemetaan dalam organisasi mengenai knowledge yang dimiliki oleh setiap divisi, baik yang berhubungan dengan sumber daya manusia, produk, pasar, maupun pelanggan. Dengan begitu, maka akan mudah dilakukan proses pencarian dan pengumpulan seluruh pengetahuan yang dimiliki perusahaan maupun pengetahuan yang dikuasai oleh tiap pegawai.

Kedua, proses pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan cara memanfaatkan pengetahuan tersebut secara maksimal. Bisa dengan pertukaran antar individu maupun secara perorangan. Atau, bisa dilakukan melalui forum interaktif untuk berbagi pengetahuan secara online. Pada tahap ini, akan tercipta budaya pembelajaran yang semakin lama semakin kuat. Kenapa? Karena pada dasarnya setiap orang haus akan informasi dan pengetahuan. Akibatnya, perusahaan pun akan semakin kaya akan orang-orang yang kuat pengetahuannya.

Ketiga, proses mencari dan menciptakan pengetahuan baru. Tahap ini akan terjadi bila telah terjadi budaya pembelajaran yang kuat dalam perusahaan. Dan juga, kumpulan knowledge yang sebelumnya dimiliki perusahaan dalam sistem knowledge management tidak lagi mencukupi. Sehingga, tiap orang dalam perusahaan akan berusaha untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang baru. Alhasil, kumpulan pengetahuan dalam sistem knowlegde management menjadi terus berkembang yang pada akhrinya akan menjadi sumber pengetahuan perusahaan yang lengkap dan update atau terus diperbaharui.

Nah, bila perusahaan Anda masih tergolong UKM, maka penerapan knowledge management akan menjadi suatu tantangan menarik. Apalagi bila sudah banyak terbukti mampu menigkatkan daya saing perusahaan.

Siapkah perusahaan Anda berkompetisi? ***

Lihat tulisan yoki lainnya di The Essays of Yoki

Incoming search terms for the article:


Personal Branding

Posted: June 30th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | No Comments »

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Inul dan dr. Boyke? Tentu tidak sulit bagi kita untuk menjelaskan siapa mereka hanya dalam beberapa detik. Inul telah dikenal sebagai salah satu ikon penyanyi dangdut dan dr. Boyke merupakan pakar kebidanan dan ahli kandungan.

Mengapa kita mudah sekali mengingat identitas mereka? Jawabannya ada pada ciri khas dan perbedaan yang kuat dalam diri mereka dibanding yang lainnya.

Misalnya saja Inul. Jumlah penyanyi dangdut banyak sekali, tetapi Inul mampu menarik perhatian orang dengan diferensiasi dan ciri khasnya, yaitu goyang ngebor. Nah, ciri khas dan perbedaan yang kuat itu ternyata mampu menciptakan personal branding bagi Inul. Sehingga, Inul menjadi dikenal oleh banyak orang.

Napoleon Hill, penulis dan konsultan bisnis terkenal, pernah mengatakan bahwa yang dibeli konsumen adalah ide dan kepribadian Anda, jauh sebelum produk atau layanan Anda.

Lalu, apa sebenarnya personal branding itu? Dan apa keuntungan kita memiliki personal branding yang kuat?

Definisi

Personal branding bukan merupakan pilihan. Karena sebenarnya, setiap orang atau perusahaan telah memiliki personal branding. Hanya saja, seberapa besar kekuatan personal branding itu mampu terekam kuat di benak orang lain. Juga, seberapa besar dampak personal personal branding itu, lebih positif atau negatif.

Timothy P. O’Brien, penulis buku The Power of Branding, menjelaskan bahwa personal branding merupakan identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut.

Sebagai contoh, ketika Anda berpikir tentang dr. Boyke, apa yang terlintas dalam benak Anda? Seberapa besar value dan kualitasnya menurut Anda? Bagaimana dengan tingkat kepercayaan dan kredibiltas Anda terhadap dr. Boyke? Coba bandingkan dengan dokter lainnya. Maka akan terlihat diferensiasi yang kuat antara dr. Boyke dengan dokter lainnya.

Anda melihat dr. Boyke sebagai seorang dokter yang selalu semangat dan cerdas dalam menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Bahkan selalu aktif dalam sosialisasi ilmunya ke masyarakat. Ini berbeda dengan kebanyakan dokter yang cenderung pasif, karena hanya akan menjawab ketika ada keluhan atau pertanyaan dari pasien.

Nah, ciri khas seperti aktif, selalu semangat, dan cerdas itu yang akhirnya terekam di benak masyarakat sehingga menciptakan personal branding yang kuat bagi dr. Boyke. Alhasil, ketika seseorang membutuhkan informasi mengenai kebidanan dan kandungan, maka yang pertama diingat atau Top of Mind (TOM) adalah dr. Boyke.

Keuntungan

Ini berarti, keuntungan terbesar dari personal branding yang kuat adalah TOM, yaitu tingkatan tertinggi memori seseorang terhadap sesuatu.

TOM ini menjadi sebuah variabel yang sangat penting di dunia bisnis. Mengapa? Karena ketika produk dan perusahaan Anda yang pertama kali diingat konsumen, maka sangat mungkin konsumen akan membeli produk Anda pertama kali. Ini berarti, produk Anda dapat menjadi pemenang. Sebuah impian yang selalu dicita-citakan pelaku bisnis.

Lalu, bagaimana membangun personal branding yang kuat?

Proses Membangun

Satu hal terpenting dalam membangun personal branding adalah memahami bahwa apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda hampir tidak relevan. Al ries dan laura Ries, dalam bukunya 22 Immutable Laws of Branding, mendefinisikan proses branding sebagai sebuah umpan balik dari yang ada dalam pikiran orang lain. Karena, branding adalah semua hal yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Jadi, untuk membangun personal branding, Anda dapat memulainya dengan mengidentifikasi sebuah emosi yang ingin Anda ciptakan dalam pikiran orang lain atau konsumen Anda. Kemudian, temukan kata atau frase yang dapat mencerminkan emosi tersebut. Dan terakhir, Anda harus konsisten dalam berperilaku, promosi, dan menggunakan kata yang Anda gunakan.

Mari kita lihat Mercedes.

Mercedes ingin konsumennya merasa special ketika memilikinya dibandingkan ketika memiliki mobil lain. Untuk itu, Mercedes memilih kata prestige atau sangat berkelas sebagai frase yang mampu mengasosiasikan dengan produknya. Hal itu terlihat pada kualitas produk Mercedes termasuk konsistensinya pada program iklan, customer service, dan program lainnya yang memang diarahkan untuk mewujudkan Mercedes yang prestige.

Proses tersebut sama ketika Anda ingin mewujudkan personal branding. Pertama, memilih emosi, kedua memilih kata atau frase yang tepat, dan terakhir, konsisten pada setiap aktivitas yang dijalankan.

Lalu, siapa yang membutuhkan personal branding. Pada saat ini, dimana kompetisi semakin tinggi, maka setiap orang membutuhkan personal branding yang kuat. Apakah Anda seorang dokter, artis, pegawai swasta, atau bahkan politikus.

Kalau kita amati, saat ini sudah banyak sekali politikus yang memanfaatkan personal branding untuk menarik massa. Misalnya saja dalam pemilihan kepala daerah akhir-akhir ini.

Berbagai program telah dijalankan. Seperti ketika seorang politikus melakukan promosi anti narkoba jauh sebelum waktu kampanye berlangsung. Hal ini jelas ditujukan untuk meningkatkan personal branding di masa-masa awal. Lalu, di televisi kita juga bisa melihat berbagai iklan yang dilakukan oleh para politikus dengan memanfaatkan hari kebangkitan bangsa. Ini bukti bahwa semakin banyak elemen masyarakat yang memahami pentingnya personal branding sebagai bagian dari proses dalam mewujudkan mimpinya.

Bagaimana dengan Anda?

Lihat tulisan yoki lainnya di The Essays of Yoki

Incoming search terms for the article:


Ciptakanlah Positive Experiences

Posted: June 30th, 2008 | Author: Yoki Kuncoro | Filed under: Kolom, Yoki Kuncoro | No Comments »

Pada akhirnya, hidup mati perusahaan akan ditentukan oleh seberapa banyak perusahaan mampu memberikan positive experiences atau pengalaman positif kepada konsumen. Mengapa?

Read the rest of this entry »