<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daily Trends &#187; Tata Danamihardja</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/author/tata-danamihardja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>news - article - gossip</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 13:11:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mudik: Tradisi Tahunan Yang Melelahkan</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/10/06/mudik-tradisi-tahunan-yang-melelahkan/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/10/06/mudik-tradisi-tahunan-yang-melelahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 02:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Danamihardja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[<div class="bodytext">
<div><span style="Verdana;">Siapa pun tak bisa menyangkal, lebaran atau hari raya Idul Fitri adalah moment istimewa, khususnya bagi umat Islam. Saking istimewanya, sesibuk apa pun aktivitas seseorang, di&#8230;</span></div></div>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="bodytext">
<div><span style="Verdana;">Siapa pun tak bisa menyangkal, lebaran atau hari raya Idul Fitri adalah moment istimewa, khususnya bagi umat Islam. Saking istimewanya, sesibuk apa pun aktivitas seseorang, dia akan menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Aktivitas pulang kampung menjelang lebaran inilah yang populer dengan sebutan mudik.</span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Tak ada yang salah dengan mudik. Sekedar ekspresi keriaan yang dilakukan setahun sekali, setelah terkungkung dalam kesibukan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya. Maka, libur lebaran benar-benar dimanfaatkan untuk menata kembali hubungan sosial kekeluargaan yang sekian lama terabaikan.</span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Masalahnya adalah, aktivitas mudik ini dilakukan serempak dan melibatkan sekian ratus juta penduduk Indonesia yang mayoritas merayakan lebaran. Maka, muncullah berbagai masalah &#8211; kalau saya boleh menyebutnya demikian &#8211; mulai dari soal kemacetan, energi yang terkuras, hingga besarnya jumlah rupiah yang harus dibelanjakan dalam aktivitas mudik ini. </span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Pergerakan arus manusia secara besar-besaran dari kota-kota besar menuju kampung halaman secara bersamaan tak pelak lagi menimbulkan kemacetan di banyak tempat. Kondisi ini diperparah dengan tidak seimbangnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan, gara-gara tidak adanya kontrol pemerintah soal kepemilikan kendaraan. Lihatlah betapa mudahnya orang memiliki kendaraan (mobil, sepeda motor) di Indonesia, jauh berbeda dibanding negara-negara lain yang sangat ketat dalam hal kepemilikan kendaraan. </span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Pertimbangan memiliki kendaraan saat ini lebih banyak didasarkan pada soal prestise ketimbang soal fungsi penunjang aktivitas. Belum lagi soal polusi gas buang kendaraan bermotor yang belakangan semakin menggila, bahkan sampai ke pelosok pedesaan yang dulu boleh dikatakan bebas polusi. Polusi suara? Mungkin sama sekali tidak pernah terpikirkan. </span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Kemacetan, apalagi di saat mudik, sudah pasti mengakibatkan extra cost yang sangat besar. Pada H+3 saja kemacetan sepanjang 8 kilometer terjadi di salah satu titik rawan kemacetan arus balik, Nagreg. Bisa dipastikan bahan bakar yang dihabiskan jauh lebih besar dibandingkan kondisi biasa. Belum lagi kelelahan mental yang dialami pengemudi kendaraan dan penumpangnya, termasuk kerugian waktu yang jika dirupiahkan pasti akan mencapai jumlah yang sangat fantastis.</span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Kemacetan memang bukan hanya pada saat mudik, terutama di kota-kota besar. Barangkali sudah saatnya pemerintah mulai memikirkan hal ini secara serius. Harus segera dicari solusi dan penanganan yang menyeluruh dan tidak hanya bersifat parsial, seperti yang terjadi selama ini. Ketika Jalan tol Cipularang difungsikan misalnya, yang terjadi hanyalah pemindahan kemacetan dari Jakarta ke Bandung, karena penanganannya hanya bersifat parsial. Mungkin, seperti yang sudah saya singgung di atas, perlu dipikirkan juga soal pengendalian kepemilikan kendaraan bermotor, plus berbagai kebijakan lain yang melibatkan multi disiplin keilmuan.</span></div>
<div></div>
<div><span style="Verdana;">Kita semua percaya bahwa tidak ada masalah yang tidak disertai dengan jalan keluarnya, sepanjang ada kemauan dan niat untuk memperbaikinya. Semua pihak harus terlibat dalam mencari solusi terbaik, termasuk warga masyarakat, agar menghasilkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak dan bukannya memperparah kondisi yang sudah ada. Jika ini dilakukan dengan serius dan penuh rasa tanggung jawab, kita masih boleh berharap bahwa aktivitas mudik di masa mendatang akan lebih menyenangkan. Mudah-mudahan.</span></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/10/06/mudik-tradisi-tahunan-yang-melelahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Menggunakan Handphone</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/09/23/etika-menggunakan-handphone/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/09/23/etika-menggunakan-handphone/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 03:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Danamihardja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[handphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[<p>Perkembangan telekomunikasi memang maju pesat, antara lain ditandai dengan semakin meluasnya penggunaan handphone. Hampir di setiap tempat kita bisa dengan mudah menemukan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan telekomunikasi memang maju pesat, antara lain ditandai dengan semakin meluasnya penggunaan handphone. Hampir di setiap tempat kita bisa dengan mudah menemukan orang yang sedang &#8220;nyo&#8217;o&#8221; alias mengotak-atik handphone. Ada yang sedang nelpon, SMS, atau bahkan sedang main game. Meluasnya penggunaan handphone hingga ke pelosok ini disebabkan oleh semakin murahnya harga handphone dan segala aksesorisnya, mulai dari kartu perdana, tarif telepon, SMS, dll.</p>
<p>Di samping hal-hal yang sudah saya sebutkan tadi, ada lagi faktor penyebab meluasnya penggunaan handphone: LATAH. Melihat tetangga sudah punya handphone, kita tiba-tiba jadi begitu bernafsu untuk membeli. Melihat teman punya handphone model terbaru, kita jadi ikut-ikutan membeli. Kadang-kadang kita tidak berpikir apakah kita memang memerlukannya atau tidak. Yang penting, tidak ketinggalan trend. Akibat latah ini, seringkali kita kehilangan cara berpikir yang rasional dan sesuai dengan kebutuhan. Kita sering jadi kormod (korban mode). Meskipun ini masih sedikit lebih baik daripada cumi (cuma minjem).</p>
<p>Oke lah, sekarang kita sudah terlanjur punya handphone. Kita sudah kuliti semua yang ada di buku petunjuk. Cara penggunaan, cara pemeliharaan, semua sudah kita hapal di luar kepala. Tapi kita kadang-kadang lupa satu hal, yang memang tidak pernah ada di buku manual handphone mana pun: etika.</p>
<p>Saya seringkali menemukan orang yang sedang ngobrol sambil asyik SMS. Anda bisa bayangkan, orang yang diajak bicara pasti akan merasa tidak nyaman, kalau tidak tersinggung. Pasalnya, dia pasti akan merasa kurang dihargai. Bayangkan jika Anda sendiri yang mengalami hal itu, kira-kira bagaimana perasaan Anda?</p>
<p>Yang lucu sekaligus menyebalkan, beberapa kali saya mendengar handphone yang berbunyi nyaring ketika sholat Jum&#8217;at! Bayangkan saat sedang berusaha khusyuk, tiba-tiba ada lagu The Massive, Titik Kamal, atau Inul Daratista di dalam mesjid. Bahkan tadi pagi, saat ikut sholat mayat salah satu kerabat dekat, berkumandanglah lagu &#8216;I Love You Bibeh&#8217;-nya The Changcuters di dalam mesjid yang hening! Sungguh tidak sopan..</p>
<p>Mungkin Anda orang yang super sibuk dan sangat tergantung dengan alat komunikasi yang namanya handphone. Tapi tidak berarti bahwa kita boleh melupakan etika, karena hal itu akan mempengaruhi &#8216;nilai&#8217; Anda di mata orang lain.</p>
<p>Berkut ini beberapa tips yang saya yakin Anda sudah mengetahuinya, tapi kadang-kadang lupa:</p>
<ol>
<li>Jangan pernah &#8216;heri&#8217; (heboh sendiri) ber-SMS ria ketika sedang ngobrol dengan siapa pun. Toh Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena tidak SMS-an.</li>
<li>Pada kesempatan-kesempatan tertentu seperti rapat, di tempat ibadah, di tempat orang meninggal, matikan handphone Anda. Kalau pun terpaksa dinyalakan, gantilah nada dering dengan getaran saja, agar Anda tetap bisa mengetahui jika ada telepon masuk, tanpa harus mengganggu suasana.</li>
<li>Kalau terpaksa harus menerima telepon atau harus menjawab SMS dengan segera, mintalah ijin dengan sopan kepada orang yang sedang Anda ajak bicara, dan menjauhlah.  </li>
</ol>
<p>Kelihatannya memang sepele, tapi akibatnya akan sangat fatal jika semua itu Anda abaikan. Jadi, pilihannya hanya dua: menjaga etika atau dicap norak!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/09/23/etika-menggunakan-handphone/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertaruh Nyawa Demi 30 Ribu Rupiah</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/09/22/bertaruh-nyawa-demi-30-ribu-rupiah/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/09/22/bertaruh-nyawa-demi-30-ribu-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 01:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Danamihardja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[langsung]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>
		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Kaget, ngeri, sedih, marah. Itu yang terasa ketika mendengar 21 saudara kita di Pasuruan meninggal gara-gara mengantri pembagian zakat senilai 30 ribu rupiah. Orang miskin mem&#8230;</span></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Kaget, ngeri, sedih, marah. Itu yang terasa ketika mendengar 21 saudara kita di Pasuruan meninggal gara-gara mengantri pembagian zakat senilai 30 ribu rupiah. Orang miskin memang selalu tidak punya pilihan, sekaligus selalu berada dalam posisi yang riskan. Demi uang yang jumlahnya ‘tidak seberapa’ menurut ukuran kita, mereka rela menyabung nyawa karena memang tidak ada pilihan lain. Berdesakan di antara jejalan ribuan orang, kehabisan oksigen, terinjak-injak, adalah resiko yang mau tidak mau harus mereka hadapi, demi mendapatkan uang yang di mata mereka sangat berarti. Bayangkan, semua itu terjadi di tengah terik matahari, di saat sebagian besar dari ribuan pengantri tersebut sedang menjalankan ibadah puasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Yang mengenaskan, ada kesan saling lempar tanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut. Pengusaha yang membagi-bagikan zakat berkilah bahwa pembagian zakat seperti itu telah berlangsung sejak tahun 1975 dan baru kali ini ada kejadian orang meninggal. Pihak berwenang yang tidak tampak batang hidungnya pada saat insiden terjadi beralasan bahwa pihak penyelenggara pembagian zakat tidak berkoordinasi dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Padahal, jika mau berpikir logis dan rasional, semua pihak seharusnya melakukan persiapan yang matang, mengingat kegiatan pembagian zakat ini melibatkan konsentrasi massa dalam jumlah besar. Pihak penyelenggara seharusnya mengajukan permohonan izin keramaian kepada pihak kepolisian setempat. Selain itu juga mempersiapkan panitia dalam jumlah yang mencukupi, jangan sampai ketika terjadi insiden malah menyuruh orang yang mengantri untuk untuk mengantar pasien yang terinjak-injak ke rumah sakit menggunakan becak!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Sementara itu, pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, juga harus proaktif. Meski penyelenggara tidak mengajukan izin, mereka seharusnya mengingatkan penyelenggara untuk mentaati peraturan. Kalau perlu, bubarkan saja penyelenggaraan kegiatan tanpa izin, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan sampai, karena alasan bahwa pihak penyelenggara tidak mengajukan izin, kepolisian tidak mau tahu. Masa sih, konsentrasi massa berkapasitas ribuan luput dari perhatian kepolisian. Sangat tidak etis dan bahkan biadab, ketika sudah terjadi insiden, semua pihak seolah-olah cuci tangan, tidak mau bertanggung jawab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Verdana;">Kalau mau lebih aman, ada baiknya mereka yang mau menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh, dll., meminta bantuan lembaga-lembaga penyalur zakat yang<span style="yes;"> </span>manajemennya lebih profesional. Sekarang banyak kok lembaga penyalur zakat swasta yang kredibel dan bisa dipercaya, disamping BAZNAS milik negara. Berbagi adalah tindakan mulia. Tetapi jangan sampai tujuan yang indah tersebut harus memakan korban, yang sebetulnya bisa dihindari jika pelaksanaannya dilakukan secara profesional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="justify;" align="justify"><span style="Times New Roman;"><span style="Verdana;">Atau, jangan-jangan memang sudah tidak ada lagi yang peduli dengan orang miskin di negeri ini. Jangan-jangan sinyalemen bahwa orang miskin hanya menjadi objek bagi kepentingan-kepentingan tertentu memang benar adanya. Jika memang demikian, maka Indonesia pantas menangis.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/09/22/bertaruh-nyawa-demi-30-ribu-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awas, Jaga Jarak</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/02/10/awas-jaga-jarak/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/02/10/awas-jaga-jarak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 09:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tata Danamihardja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[jaga jarak]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/02/10/awas-jaga-jarak/</guid>
		<description><![CDATA[<p ALIGN="justify">Pernah melihat kata-kata tersebut di jalanan? Biasanya, atau paling tidak saya pernah melihatnya, di pantat truk. Kalau nggak biasanya ada di belakang mobil milik kursus menge&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p ALIGN="justify">Pernah melihat kata-kata tersebut di jalanan? Biasanya, atau paling tidak saya pernah melihatnya, di pantat truk. Kalau nggak biasanya ada di belakang mobil milik kursus mengemudi. Maksudnya semacam peringatan agar Anda menjaga kendaraan Anda dalam pada jarak tertentu dengan kendaraan tersebut, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p>Jaga jarak juga seringkali diperlukan dalam pergaulan atau pun komunikasi sosial. Hanya saja, sesehat apa pun mata Anda, tetap tidak akan pernah melihat tulisan tersebut terpampang di kepala, mata, atau bahkan baju  orang lain. Selain dirasa kurang sopan, secara teknis juga agak ribet. Untungnya, manusia dibekali kepekaan (sensitifitas) rasa untuk membaca situasi, sehingga kita bisa mengira-ngira kapan saatnya untuk menjaga jarak.</p>
<p>Jika Anda harus berpidato atau menjadi pembicara dalam suatu forum misalnya, Anda bisa mengetahui kapan saatnya &#8216;jaga jarak&#8217; dengan cara membaca isyarat-isyarat yang terlihat dari audience Anda. Misalnya, ketika audience mulai terlihat resah, menguap, ngobrol dengan temannya dll., maka sudah saatnya Anda waspada dan melakukan sesuatu. Bisa dengan mengeluarkan joke (yang tidak &#8216;garing&#8217; tentunya), melakukan interaksi yang menarik, atau bahkan berhenti bicara.</p>
<p>Dalam komunikasi yang lebih personal, juga berlaku hal yang sama. Jika Anda sedang ngobrol dengan teman Anda, perhatikan baik-baik apakah dia masih &#8216;naturally&#8217; tertarik dengan obrolan Anda, atau sekedar pura-pura tertarik hanya untuk menjaga perasaan Anda. Kalau intuisi Anda menangkap isyarat yang kedua, maka sudah saatnya untuk menarik diri dengan cara mengganti topik atau memberi kesempatan lawan bicara Anda untuk memegang kendali pembicaraan, sebelum dia terlanjur kesal.</p>
<p>Bagaimana dengan komunikasi yang tidak langsung (face-to-face)? Sama saja. Kalau Anda selama beberapa waktu berkomunikasi secara intens melaui telepon, email, chat, atau bahkan mailing list, Anda tetap bisa mengukur dan menangkap isyarat dari partner komunikasi Anda dengan menggunakan kepekaan tadi. Jika jawaban teman Anda (misalnya via email, SMS, dll.) mulai pendek-pendek, atau bahkan tidak dibalas sama sekali, bisa jadi itu merupakan isyarat bahwa Anda mungkin terlalu &#8216;agressif&#8217; dalam berkomunikasi. Atau jika teman Anda biasa ngobrol dengan gaya nyablak tiba-tiba jadi terasa kaku dan formal, pasti ada sesuatu yang salah dalam diri Anda. Dan lagi-lagi itu berarti Anda harus mulai mengerem &#8216;agresifitas&#8217; Anda.</p>
<p>Memang tidak selamanya kepekaan rasa dan/atau intuisi ini tepat. Kadang-kadang bisa juga meleset. Belum tentu respons yang kita anggap sebagai isyarat kebosanan itu benar adanya. Bisa saja jawaban pendek-pendek atau bahkan tidak menjawab itu disebabkan oleh kesibukan, atau mungkin juga partner komunikasi Anda sedang menghadapi masalah pribadi yang butuh perhatian penuh. Atau bisa saja yang bersangkutan sedang melakukan program &#8216;pengetatan ikat pinggang&#8217; dengan cara memangkas biaya-biaya yang bukan prioritas. Namun tentu akan lebih baik jika kita bisa mencegah rusaknya pertemanan gara-gara kita dianggap membosankan. Siapa tahu memang demikian <img src='http://kolumnis.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Dengan menarik diri pada saat yang tepat, kita telah menyelamatkan hubungan pertemanan, sekaligus menjaga kredibilitas diri kita.</p>
<p>Saya mungkin termasuk yang &#8216;hyper-sensitive&#8217; untuk urusan yang satu ini. Sedikit saja saya menangkap isyarat seperti yang saya uraikan di atas, mental saya biasanya langsung mengkeret. Itu sebabnya saya seringkali gelisah ketika harus nebeng mobil orang, apalagi jika orangnya tidak saya kenal baik. Biasanya saya lebih memilih naik angkot, atau kalau tidak punya uang, ya jalan kaki saja jika masih memungkinkan. Entah apakah ini karena didikan orang tua saya yang termasuk kaum &#8216;marjinal&#8217; soal kebendaan, atau atau karena saya sendiri berbakat &#8216;hyper-sensitive&#8217;, atau mungkin juga dua-duanya. Saya tidak tahu persis.</p>
<p>Yang jelas, saya jadi teringat nasihat almarhum ibu saya, &#8220;Jangan terlalu sering bertamu ke rumah orang, meskipun dia mengundangmu datang setiap hari. Itu dia lakukan karena kau jarang datang. Coba kau datang setiap hari, dia pasti bosan.&#8221; Sebuah nasihat sederhana, yang kadang-kadang saya langgar juga. Tetapi logika saya mengakui 100% bahwa hal itu benar adanya.</p>
<p>Maka jika saya balik lagi ke soal &#8217;sign&#8217; bertuliskan JAGA JARAK di pantat truk tadi, saya harus selalu siap untuk menginjak rem dan introspeksi ke dalam. Siapa tahu ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Kalaupun toh intuisi saya yang salah, jaga jarak tetap perlu dilakukan sewaktu-waktu. Bukankah Lebaran pun ditunggu-tunggu dan terasa nikmatnya karena datangnya hanya setahun sekali?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/02/10/awas-jaga-jarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
