Obama V.S. Clinton: Semangat V.S. Modal

Posted: January 16th, 2008 | Author: Renji Betari | Filed under: Opini | Tags: , , , | No Comments »

“They said.. They said.. This day will never come..!”

Inilah kalimat pertama saat Barrack Obama mengejutkan seluruh dunia dengan memenangkan suara terbanyak di partai Demokrat, di Kaukus Iowa, babak kick-off PEMILU Amerika.

“I dreamed about the president who will stop the war in Iraq!”

“I dreamed about the president who will provide jobs for everyone!”

“I dreamed about the president who will provide free medicine for the poor!”

“and if You give me the same chance in New Hampshire and beyond..,

I will became that president for You.

Mendengarkan pidato Obama, memang secara sepintas muluk-muluk dan naif, namun dapat terlihat niat tulus dan determinasi seorang pahlawan muda yang penuh semangat untuk membawa perubahan yang sangat didambakan Amerika. Banyak pengamat mengatakan, jarang sekali muncul kandidat yang mampu membuat pendukung nya terbawa emosi dan menitikkan air mata, seperti yang dilakukan Obama dalam setiap kampanye nya.

Pertama kalinya dalam sejarah Iowa, kemarin, negara bagian Amerika yang 95% penduduknya kulit putih konservatif, memenangkan seorang kandidat berdarah Afrika-Amerika. Obama secara ajaib meleburkan perbedaan bangsa kulit hitam dan kulit putih menjadi satu tujuan nasional, ini membuktikan bukan masalah baginya menyatukan partai republik dan democrat, dalam rally panjang PEMILU Amerika.

Kemenangan ‘kuda hitam’ ini adalah pukulan telak bagi Hillary Clinton, yang dalam kampanye-nya seringkali menjatuhkan Obama dengan berkata “Anak muda itu tidak punya cukup modal dan pengalaman untuk maju ke PEMILU”. Hillary bahkan berkata dalam jumpa pers, jika ia harus kalah, ia memilih kalah dari John Edward, yang sudah memiliki pengalaman lebih lama sebagai senator, dibanding Obama. Keyakinan Hillary ini pun di dukung oleh banyak kitikus yang memandang Obama sebelah mata.

Hillary yang sebelumnya optimis, femininisme akan membuat dirinya lebih popular diantara pemilih wanita kini harus memikirkan strategi lain, karena dari pemilih wanita di Iowa ternyata paling banyak menjatuhkan pilihan pada Obama. Suatu polling yang dibuat CNN, mengenai kadar popularitas para kandidat, menghasilkan angka mengejutkan. 70 % Voters democrat mengatakan tidak mendukung Hillary. Ini tentu beralasan, karena jika melihat rombongan pejabat di baris belakang kampanye Hillary, mereka adalah wajah-wajah lama dari jaman Clinton berkuasa yang sudah tidak mendapat simpati pendukung Demokrat.

Dari pemungutan suara di Iowa, CNN menemukan 57 % suara untuk Obama berasal dari pemilih muda berusia 17-29 tahun, dan hanya 18 % berasal dari pemilih diatas 65 tahun, angka yang sangat jarang ditemukan. Bagi generasi muda yang belum dewasa di masa kepemimpinan Clinton, kontribusi masa lalu Clinton tidak berarti banyak, karena ketika itu mereka masih sibuk dengan pekerjaan sekolah.

Kekalahan Hillary ini lebih banyak disebabkan karena dalam kampanyenya, ia begitu menekankan pengaruh pengalaman dan modal yang dibutuhkan oleh seorang kandidat presiden, ada pada dirinya, yang secara telak menyerang ‘kemudaan’ Obama. Namun yang luput dari perhatian Hillary adalah bagaimana menyentuh sisi emosional masyarakat, yang saat ini sangat terpukul dan terluka karena berbagai konflik di Iraq, masalah ras, harga tinggi, kemiskinan, kesehatan dan masih banyak lagi.

Meski demikian masih ada harapan bagi Hillary untuk memenangkan PEMILU. Jika Obama menggunakan strategy menarik simpati, Hillary Clinton terpaksa menggunakan cara taktis. Bagi Clinton yang sudah berpengalaman dengan kampanye dan modal berlimpah, kekuasaan mungkin dapat menambah suara baginya melalui beberapa negara bagian.

Kaukus Iowa secara kuantitas hanyalah porsi kecil dari putaran panjang yang akan berlangsung di seluruh negara bagian Amerika. Namun efek psikologis sering muncul, pemenang pada putaran kick-off ini langsung mendapat simpati masyarakat karena mendapatkan ‘momentum’, suatu energi besar yang menggerakkan massa. Kick off ini juga menjadi babak prediksi bagi setiap kandidat untuk melanjutkan keikutsertaannya dalam PEMILU hingga November 2008 yang menguras waktu, tenaga dan biaya jor-joran.

Sebuah langkah yang patut dicontoh, dua kandidat yang memperoleh kurang dari 5 % suara, Joe Biden dan Chris Dood, langsung mengundurkan diri dari putaran berikutnya, setelah mengetahui hasil suara di kaukus Iowa.

Masih banyak suara sumbang menggema di belakang Obama yang meragukan apakah ia akan punya cukup modal untuk meneruskan hingga PEMILU putaran terakhir. Ini adalah penilaian pesimis yang sudah jelas telah dipatahkan Obama. Jika ia mampu menyedot jutaan suara dari pengalaman nol sebagai kandidat Presiden, masa kah ia tidak mampu menarik lebih banyak modal, yang nota bene sudah dan akan dialirkan oleh pendukung nya sendiri.

Tantangan besar yang ada di hadapan Barrack Obama adalah, jika pada akhirnya ia berhasil mewujudkan ambisi besarnya menjadi Presiden Amerika Serikat, negara terbesar di dunia, dengan beragam ideologi, suku dan kepentingan. Negara yang berhasrat dan mau tidak mau campur tangan dalam urusan rumah tangga setidaknya separuh negara yang ada di dunia. Apakah ia mampu mengubah kata-kata indah menjadi perbuatan??

Renji Betari, 5 Januari 2008.