<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Daily Trends &#187; Muhammad Ruslailang Noertika</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/author/noertika/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>news - article - gossip</description>
	<lastBuildDate>Sat, 27 Feb 2010 13:11:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Golput Insya Allah Menang!</title>
		<link>http://kolumnis.com/2009/06/09/golput-insya-allah-menang/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2009/06/09/golput-insya-allah-menang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 05:33:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meski dihujat sana-sini, mulai dari kader militan, tokoh partai, tokoh parlemen, sampai sebuah lembaga &#8211; yang dianggap memiliki otoritas keagamaan mengeluarkan fatwa&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Meski dihujat sana-sini, mulai dari kader militan, tokoh partai, tokoh parlemen, sampai sebuah lembaga &#8211; yang dianggap memiliki otoritas keagamaan mengeluarkan fatwa soal apapun &#8211; mengkodifikasi hukum agama mengenai soalan ini, nampaknya golput akan tetap berjaya dalam pemilihan anggota legislatif 9 April 2009. Tanpa mengeluarkan ongkos kampanye yang besar atau bersusah-susah sosialisasi ke masyarakat, golput kemungkinan besar akan keluar sebagai pemenang. Salah satu pemicunya adalah tidak fokusnya visi misi para caleg menyentuh hajat masyarakat banyak, bahkan beberapa caleg norak alih-alih mampu merebut dan meluluhkan suara masyarakat, poster nya membikin bungah dan mual para (calon) pemilih. Hal ini semakin menguatkan itikad para golput-er untuk tetap istiqamah di jalur ideologinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pilihan Politik Seumpama Menu Makanan</strong>; <strong>tergantung selera</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Pilihan politik itu seumpama selera makan. Sekiranya menu ‘janji politik’ yang disampaikan oleh para caleg itu mengundang ’selera’ para calon pemilih, maka beruntunglah caleg itu. Ini dengan catatan bahwa para calon pemilih mampu mengingat nama caleg yang menyajikan menu yang berselera tersebut. Karena dengan ratusan nama caleg yang terpapar di kertas suara seukuran A1 &#8211; kertas kalkir tersebut, maka rada susah dan makan waktu bagi para pemilih untuk memerhatikan nama caleg idamannya. Slogan ‘1 menit di kotak suara menentukan nasib 5 tahun ke depan’ bakal direvisi menjadi mungkin 30 menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Seberapa banyak caleg atau partai yang menyajikan menu janji politik yang berselera, di tengah masyarakat yang sudah mual akan janji-janji membosankan? Kalau kita mau berhitung statistik, seberapa banyak janji pemilu 2004 yang sudah tertunaikan? Alih-alih memenuhi janji-janjinya, berkunjung ke daerah pemilihan pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Para legislator malah sibuk dengan urusan lainnya; studi banding ke luar negeri, lobi-lobi di luar parlemen, sibuk menyusun strategi berkoalisi, atau yang tiba-tiba jadi selebritas ‘hitam’ lagi sibuk menyusun alibi di depan penyidik KPK sambil menyeret semuanya baik sekondang maupun seterunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang tidak semua legislator sedemikian, masih banyak yang idealis, santun dan tidak tercemari oleh ambisi kekuasaan dan kesejahteraan. Mereka yang sudah tergolong mapan secara rohani dan merasa cukup dengan kondisi finansialnya sebelum menginjak senayan, sudah menyiapkan mental dan idealisme untuk tetap berjuang sesuai amanah. Banyak diantara mereka yang boleh dibilang tidak terlalu kaya, tapi menolak untuk menjadi kaya dengan jalan mengebiri amanah. Untuk beberapa legislator itu, sayang jarang dipublikasikan media, kita pantas mencatat namanya untuk kita contreng lagi di pemilu tahun ini. Ada yang masih menggunakan angkot untuk transportasi harian &#8211; kendaraan dinas hanya dipakai untuk dinas, ada yang memilih nge-kos di tempat sederhana, ada yang seluruh gajinya disumbangkan untuk membangun prasarana di dapilnya, dan lainnya. Beberapa gelintir itu tentu saja tidak terjangkau pemberitaan media yang umumnya menganut “bad news is a good news”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peluang Golput dan Fakta Pilkada</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, bagaimana peluang golput nanti? Mari kita lihat statistik beberapa pilkada yang bisa menjadi tolak ukur kesuksesan pemilu nasional kali ini. Dengan asumsi bahwa pilkada adalah benchmark terbaik mengingat tingkat kepemahaman atau garis singgung kepentingan masyarakat terhadap visi misi calon pemimpin daerahnya masih lebih tinggi dibanding partai atau calegnya yang kadang gak begitu jelas.<br />
Hasil pilkada di berbagai tempat menunjukkan bahwa golput menjadi pemenang. Pilkada Jawa Tengah, angka golput mencapai lebih dari 45.3%. Pilkada putaran pertama di Jatim mencatatkan angka 39.2% untuk Golput. Kalau ada putaran kedua, semestinya yang maju adalah pasangan bodong plus Karsa sebagaimana sering diadakan di desa-desa.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut data Golput di masing-masing Pilkada, baik Pilbup, Pilwalkot, sampai Pilgub:<br />
- Golput di Pilgub Jateng 45.3%<br />
- Golput di Pilgub Jatim 39.2%<br />
- Golput di Pilgub Kaltim 42.07%<br />
- Golput di Pilgub DKI Jakarta 36.2%<br />
- Golput di Pilgub Sulsel 33%,<br />
- Golput di Pilgub Jawa Barat 34,67%<br />
- Golput di Pilgub Kalbar 37.69%<br />
- Golput di Pilgub Banten 39,28 %<br />
- Golput di  Pilgub Sumatera Utara 41%,<br />
- Golput di  Pilgub Kalsel 40%<br />
- Golput di  Pilgub Sumbar 37%<br />
- Golput di  Pilgub Jambi 34 %<br />
- Golput di  Pilgub Kepri 46%.<br />
- Golput di Pilbup Cirebon 38.22%<br />
- Golput di Pilwalkot Bandung 30.19%<br />
- Golput di Pilbup Pati  50%,<br />
- Golput di Pilbup Bogor 45%,<br />
- Golput di Pilbup Wajo 32%,<br />
- Golput di Pilbup Sukoharjo 42,33%,<br />
- Golput di Pilbup Wonogiri 39,05%<br />
- Golput di Pekalongan dan Solo masing-masing 50%<br />
- Angka golput tertinggi tercatat di Pilwalkot Pontianak yang mencapai 61%.</p>
<p style="text-align: justify;">Data diatas menunjukkan bahwa angka Golput di seluruh Indonesia rata-rata sekitar 35%-45%. Sebuah angka partisipasi negatif yang cukup tinggi. Memang tidak semua angka golput ini tinggi, terhitung di beberapa pilkada; Ambon, Sidrap, Bali dan NTB angka Golputnya rata-rata ‘hanya’ 25%, dan yang paling rendah adalah di pilgub NTT yang angka golputnya hanya 20%. Statistik pemilu nasional juga menunjukkan penurunan tingkat partisipasi pemilu. Data Kompas menunjukkan bahwa partisipasi pada Pemilu 1999 mencapai 92,74 persen. Pada pemilu legislatif tahun 2004 tingkat partisipasi turun menjadi 84,07 persen. Adapun tingkat partisipasi pada Pemilu Presiden 2004 di putaran I dan putaran II masing- masing sebesar 78,23 persen dan 77,44 persen. (Kompas; 17/06/2008).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kenapa Golput?</strong><br />
Angka Golput yang tinggi ini tidak bisa dipandang remeh. Ibaratnya bahwa kepada setiap pemenang pemilihan, ada pesan bahwa dukungan terhadap mereka tidaklah bulat. Ada suara-suara yang sungguh sangat besar dari sisi kuantitatif yang tidak berada di garis yang sama dengan para pemimpin terpilih itu. Meskipun tidak semuanya mengambil jalan golput sesuai ideologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa pembicaraan di sejumlah media menyebutkan bahwa ada tiga alasan munculnya Golput; yang pertama alasan administratif karena tidak terdaftar oleh KPU, kedua alasan teknis karena saat pemilu tidka berada ditempat sehingga kehilangan kesempatan memberikan suara dan yang terakhir adalah yang memiliki alasan ideologis, yang memang tidak berniat menggunakan hak pilihnya dikarenakan tidak adanya figur yang dianggap layak untuk dijadikan pilihan politik. Sebahagian golput-er ideologis ini semakin sadar bahwa demikian banyak pemilu yang telah berlangsung tidak memberi pengaruh positif apa-apa kepada kepentingan mereka; baik ekonomi maupun sosial-politik. Malah cermin yang diberikan para calon terpilih sebagaimana ditayangkan di media adalah cermin yang retak. Tidak jauh-jauh dari korupsi, kolusi, suap, kekerasan politik, sikap pongah dan tinggi diri, bahkan di beberapa tempat para legislator ini merasa wajib untuk didahulukan kepentingannya. Selain itu ada juga yang berpandangan jauh lebih filosofis; pemilu adalah prasarana sekularisme yang ditengarai akan menyingkirkan peran agama dalam kehidupan; terutama ketika mereka melihat banyak aturan yang dihasilkan parlemen menabrak rambu-rambu agama. Meski dalam parlemen sendiri tidak sedikit legislator yang berasal dari partai berbasis agama. Alasan lainnya menyebutkan bahwa pemilu telah melahirkan dampak negatif: masyarakat terkotak-kotak dan hubungan sosial menjadi renggang. Yang lebih parah, Pemilu/Pilkada bahkan sering melahirkan konflik sosial, yang tidak jarang mengarah pada bentrokan fisik dan tindakan anarkis. Sejumlah konflik berbau kekerasan di berbagai daerah Indonesia tidak jarang dipicu oleh perebutan kekuasaan pada proses Pilkada.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang paling rentan mengidap ideologi golput ini? Kayaknya semua lapisan masyarakat; level atas yang kecewa dengan elit, kaum menengah yang gelisah dan apatis dengan kebijakan pemerintah dan masyarakat bawah yang merasa kehidupannya tidak mengalami perubahan meski memilih berkali-kali.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa yang paling diuntungkan dengan adanya golput ini? menurut penalaran saya, yang paling diuntungkan adalah partai yang punya simpatisan atau kader yang militan dan mengakar tidak peduli soal kinerja atau program kerja partainya. Meski janji-janji tidak tertunaikan, mereka masih punya ikatan emosional dan ideologis dengan partai tersebut. Kalau para kader dan simpatisan ini solid maka raihan suara partai ini akan lumayan mengantar calegnya ke kursi parlemen. Salah satu partai ini adalah PKS dan Golkar. Sebagaimana dikatakan oleh bekas presiden PKS Hidayat Nur Wahid, “PKS sementara ini yang paling solid dalam menghadapi Pemilu mendatang dan apabila dari pemilih banyak yang Golput partai ini yang paling diuntungkan, tetapi demi kepentingan nasional Golput harus diminimalkan, agar wakil-wakil rakyat yang dipilih itu berkualitas,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketua MPR Hidayat Nurwahid: ‘Golput akan menjadi sangat kontraproduktif. Sebab, Pemilu menghadirkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar’ (Detik.com, 24/7/08)<br />
Megawati mengatakan; “Orang golput tidak boleh menjadi WNI.” Ketua KPU Abdul Hafiz juga pernah mengatakan : “golput tidak pernah melahirkan pemimpin yang baik” (detik.com, 17 Juli 2008).</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun kata para pemimpin itu, melihat fenomena di Pilkada sebagai benchmark terbaik pemilu kita, kelihatannya Golput akan tetap keluar sebagai pemenang. Paling minimal mencapai 30% dari total pemilih. Karenanya, Golput Insya Allah menang!</p>
<p style="text-align: justify;">Golput will get nothing! It&#8217;s true, man! Ketika berbicara soal kontribusi politik, kasat mata memang tidak ada sumbangan atau perolehan dari para Golput-ers.  Namun suara golput merupakan manifestasi sebuah pemberontakan dari keadaan stagnan yang masif, suara yang memberi peringatan kepada pemimpin atau caleg terpilih bahwa keterpilihan mereka tidaklah bulat bundar. Ada bopeng sana-sini yang siap-siap menggerus sekiranya tidak amanah sesuai janji. Golput pun bukanlah suara ancaman untuk anarkis, ia hanya anarkis dalam memendam hak yang dimilikinya. Dan tentu saja Golput juga adalah pilihan halal warga negara.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2009/06/09/golput-insya-allah-menang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sari Bulang, Ponari dan Placebo Itu</title>
		<link>http://kolumnis.com/2009/03/07/sari-bulang-ponari-dan-placebo-itu/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2009/03/07/sari-bulang-ponari-dan-placebo-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 18:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[placebo]]></category>
		<category><![CDATA[ponari]]></category>
		<category><![CDATA[sugesti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kisah seumpama Ponari pernah juga saya alami sewaktu masih menjalani masa bocah di Pannampu, Makassar sekitar tahun 1986. Tepat di belakang kompleks perumahan saya, di sebuah a&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah seumpama Ponari pernah juga saya alami sewaktu masih menjalani masa bocah di Pannampu, Makassar sekitar tahun 1986. Tepat di belakang kompleks perumahan saya, di sebuah area penggaraman (disebut Pacce’lang, sekarang kondang disebut Capoa), ada kehebohan soal seorang anak perempuan seumuran dengan saya (10thn) bernama Sari Bulang yang tiba-tiba punya kesaktian mengobat banyak penyakit &#8211; terutama kelumpuhan dan kebutaan. Kebetulan saya akrab dengan abangnya, sesama penggemar masjid pasar, jadi bisa tahu sedikit soal asal usul kehebatan sang bocah ajaib ini. Konon menurut ceritanya, si Sari Bulang suatu pagi kena damprat orang tuanya, biasalah anak kecil kadang nakal juga. Kena damprat begono, si Sari Bulang ngambek, masuk kamar dan menangis sesenggukan sampai kemudian tertidur. Dalam tidurnya bocah itu bermimpi kedatangan orang tua sakti, sambil memberikan sebuah batu bertuah sebesar biji salak.</p>
<p>Gerhana Matahari 1986. Oh iya, kejadian mimpi ini somehow bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari total pada bulan Juni 1986. Saat itu banyak orang yang silap melihat gerhana matahari dengan mata telanjang, padahal sudah ada seruan pemerintah untuk menghindari hal demikian karena dapat mengakibatkan kerusakan mata. Karena kejadian gerhana matahari total ini, banyaklah penderita buta mendadak. Makanya banyak diantara pasien Sari Bulang itu adalah penderita kebutaan mendadak ini. Kembali ke soal batu bertuah yang dimimpikan oleh Sari Bulang, si orang tua sakti itu memberi pesan bahwa batu itu bisa menyembuhkan penyakit &#8211; tentu saja atas izin Allah SWT. Konon kabarnya, Sari Bulang terpilih karena namanya merupakan kawan sebelah-sebelahan matahari yang saat itu ditutupi sang Bulang, eh Bulan, ketika gerhana. Nah, tahu kan kenapa Sari Bulang yang terpilih. She is the One! Ketika terbangun, bocah kecil itu ternyata mendapati sebuah batu kecil sebesar biji salak telah berada di genggamannya. Wah, kagetlah dia. Dan dia bangun menceritakan mimpi itu ke orangtuanya. Great, singkat cerita jadilah Sang Sari Bulang ini bak selebritis di utara Makassar.</p>
<p>Sari Bulang pun sejak itu menjadi sangat susah untuk ditemui, kecuali air saktinya itu yang dijajal kemana-mana. Rumahnya seketika menjadi ramai oleh para pasien dadakan. Sebagian besar adalah penderita kelumpuhan dan kebutaan &#8211; sesuai cerita saya sebelumnya. Cara pengobatannya sama persis dengan si Ponari, batu bertuah itu dicelupkan ke wadah berisi air. Nah, kesaktian batu itu akan berpindah mengikuti hukum perpindahan aura kesembuhan ke air yang menjadi media celupan di batu bertuah.</p>
<p>Karena sifat bocah yang serba pengen tahu, saya waktu itu juga sempat penasaran dengan kabar kesaktian si Sari Bulang yang semenjak kejadian itu popularitasnya melebihi Ida Iasha. Jadilah saya beserta teman2 main di Pasar Pannampu menyempatkan berkunjung ke rumah Sari Bulang. Di rumahnya itu saya melihat banyak orang antri, tapi tidak sampai berdesak-desakan seperti di tempat praktek Ponari. Mereka duduk manis di bangku-bangku panjang yang telah disediakan sahibul bait. Tidak ada juga kupon yang dibagikan ataupun wajib dibeli oleh calon pasien untuk mendapatkan terapi. GRATIS. Di ruang tunggu rumah Sari Bulang, saya melihat banyak sekali baskom dan ember berisi air yang siap di up-grade kesaktiannya dengan celupan batu bertuah itu. Tidak menunggu lama, saya dan teman2 sudah kebagian giliran diobati. Tidak ada konsultasi ketika itu, tidak pula ditanyakan sakit saya apa. Langsung saya diberi gelas berisi air yang sudah disucikan. Mungkin demi melihat saya masih kanak-kanak iseng yang cuman coba-coba saja. Tapi saya perhatikan semuanya begitu. Pasien yang dapat giliran, segera mendapatkan air celupan batu bertuah itu dalam bentuk botol atau bisa diminum langsung di tempat, dan kemudian bisa ngeloyor pulang. Pokoke percaya saja! itu intinya. Tapi entah kenapa, musim selebritas Sari Bulang rupanya tidak terlalu lama, hanya sekitar enam bulan saja. Seiring makin lupa nya orang soal efek gerhana matahari.</p>
<p>Ponari dari Jombang. Itu cerita 23 tahun lampau, di sebuah tempat yang jauhnya satu harmal (hari-malam) perjalanan kapal laut di tambah sekitar 6 jam naik bus dari Jombang ke Makassar. Kini, di tahun kerbau ber-tarikh 2009 kita juga mengenal fenomena yang sama: Ponari asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang dengan batu gludug nya. Batu petir yang diperoleh entah bagaimana ini menjadi sangat bertuah bagi masyarakat Jombang dan sekitarnya.</p>
<p>Alam rasional kita dicabik-cabik oleh praktek pengobatan alternatif yang membuat rakyat kecil antara mencinta dan mengiba, karena sulitnya menembus ruang praktek si dukun cilik. Kupon mahal nan susah diperoleh &#8211; mesti gencet-gencetan di balai desa sampai ada yang tewas terhimpit. Kupon itu dijual mahal, tak kurang dibursakan sampai Rp 200ribu. Sama mahalnya dengan biaya berobat di dokter spesialis. Cara mengobatinya sungguh menmbuat cemas, mesti face to face. Tidak ada simplifikasi metoda sebagaimana jaman teknologi smart seperti sekarang. Sudah banyak tokoh yang menyarankan untuk mencelupkan si Batu Petir di sebuah danau besar, atau sungai yang mengalir supaya faedahnya lebih menjangkau banyak orang. Ponari tidak bergeming, mungkin orang tuanya atau orang yang me-manager-inya mengerti soal harga sebuah brand yang kadung tersohor, sehingga lebih profitable sekiranya dilakukan direct selling daripada massive-selling. Harga sebuah kebodohan!</p>
<p>Beda dengan Sari Bulang dari Pannampu diatas yang praktek pengobatannya simpel dan murah &#8211; malah gratis, sungguh Ponari adalah belahan sisi buruknya. Meski mengandalkan hal yang sama, Sugesti! Juga memanfaatkan ketakterjangkauan ekonomi masyarakat akan biaya pengobatan modern yang semangkin mahal &#8211; hasil kolaborasi kapitalis farmasi dan aparat kesehatan? Wallahu ‘alam. Tapi praktek perdukunan Ponari ini memanfaatkan keterbelakangan masyarakat untuk meraup keuntungan &#8211; konon omzetnya mencapai 1 milyar seminggu! Busyet. Sampai sekarang praktek Ponari berlangsung, tidak ada tanda-tanda berkurangnya peminat klenik ini. Bahkan, di beberapa tempat di kabupaten yang sama, Jombang bermunculan Ponari-ponari lainnya. Efek marketing atau me too economic motive? who knows.</p>
<p>Sugesti, itu bahasa ilmiahnya, juga soal Plasebo. Meski tak bisa dijelaskan proses pengobatannya dengan ilmiah sekalipun. Apapun penyakit anda, bisa disembuhkan oleh perasaan sugesti ini. Benda apapun yang menjadi media sugestinya. Bisa batu, air suci, baju bekas, pakaian dalam, bahkan yang sering digunakan di dunia kedokteran: placebo. Efek plasebo adalah sebuah fenomena terapi fisiologis bohongan untuk meningkatkan kondisi pasien secara psikologis. Terkadang si pasien hanya diberikan pil atau kapsul yang isinya kosong atau hanya vitamin saja. Memang tidak akan ada efek medis kepada si pasien, namun efek psikologisnya banyak. Dengan meminum pil ini, si pasien merasa dirinya telah diobati dan dengan demikian akan menambah semangatnya untuk sembuh. Kadang praktek medis plasebo ini juga dilakukan melalui operasi bohongan. Si pasien yang diterapi diberikan sebuah tindakan operasi bohongan untuk men-stimulus psikologis si pasien agar cepat sembuh.</p>
<p>Sari Bulang, Ponari dan Placebo adalah fenomena berkuasanya sugesti akan diri seseorang. Bukan sesuatu yang buruk memang, bahkan bisa jadi terapi alternatif untuk melawan mahalnya biaya berobat modern. Tapi kita tahu bahwa ada yang membusuk di masyarakat ini, hilangnya akal sehat. Siapa yang salah? Bukan masyarakat dong. Salahkan yang gagal memberi pemahaman ke masyarakat. Pengobatan gratis, pendidikan gratis. Itu janji kampanye mereka dulu. Kini, ketika berhadapan dengan kondisi riil yang mungkiun tidak menjadi parameter yang diperhitungkan ketika berjanji, dengan mudah mereka berdalih macam-macam untuk mengemplang dari janji itu. Kondisi pasar lah, ketiadaan anggaran lah, apa sajalah. Pokoke, banyak alasan menuju mangkir. Kita, bangsa yang pelupa ini dan sayang sekali sebagian besar mudah percaya klenik dan berbagai ragam sugesti mesti segera berbenah. Minimal menjadi bangsa yang tidak mudah lupa, terutama menjelang pemilu legislatif nanti. Jangan pilih pemimpin placebo! Apalagi yang air pembasuh kakinya dijadikan obat terapi. Hiekkk! Kok jadi kampenye yah. He3.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2009/03/07/sari-bulang-ponari-dan-placebo-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger dan Jihad Humanis</title>
		<link>http://kolumnis.com/2009/02/20/blogger-dan-jihad-humanis/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2009/02/20/blogger-dan-jihad-humanis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 14:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[<p>Di bulan Mei 2008 saat liburan pendek di Makassar, di suatu pagi yang sejuk saya menyambangi lapak koran sahabat lama saya semasa SMA, Supriadi. Sebelum menjangkau satu koran lok&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di bulan Mei 2008 saat liburan pendek di Makassar, di suatu pagi yang sejuk saya menyambangi lapak koran sahabat lama saya semasa SMA, Supriadi. Sebelum menjangkau satu koran lokal, sahabat saya itu sudah menegur dengan ramah,”Rus, kemarin ada perempuan &#8211; kelihatannya sih wartawan, menanyakan soal Pak Jamal”. Saya balik bertanya, “Oh ya. Kenapa?. Sahabat lama saya itu menjawab yakin, “Kelihatannya karena tulisanmu tentang Pak Jamal yang dulu ditulis di blog. Dia bilang tertarik untuk mewawancarai pak Jamal”.</p>
<p>Saya tersenyum. Ingatan saya kemudian terlempar ke sebuah tulisan bergaya feature yang saya posting di blog saya di bulan Juli di tahun 2007 silam. Kisah tentang Pak Jamal, tukang cuci foto kilat (afdruk) yang lapaknya berhadap-hadapan dengan lapak koran sahabat saya itu sungguh menarik hati saya. Terutama karena teknologi cuci cetak foto sudah sangat bergeser ke ranah digital, bukan menggunakan film lagi. Tukang cuci cetak foto seperti pak Jamal menjadi sangat langka karena akselerasi teknologi fotografi ini. Menemukannya di sudut kota yang menggadang-gadang sebagai perintis cyber city di timur Indonesia sungguh seumpama bersua dengan barang antik. Saya menyempatkan waktu dua hari di sela liburan pendek untuk ngobrol-ngobrol dan mengambil fotonya, lengkap dengan lapak miliknya yang sehari-hari dijadikan ‘ladang’ penghasilannya. Dari hasil obrolan itu, begitu banyak yang menarik untuk dituliskan. Justru bukan melulu soal teknik cuci cetak foto tradisional itu, tapi soal perjalanan hidupnya yang menarik untuk dituliskan.</p>
<p>—-</p>
<p>Ketika pertama kali menulis blog di awal 2006, sebetulnya saya hanya iseng saja, atau mungkin malah penyaluran sifat narsis saya sendiri. Saya suka menulis pendapat pribadi soal kejadian sekitar, sesenang saya memajang foto-foto yang saya jepret dari kamera poket digital, juga &#8211; dan mungkin paling sering &#8211; memforward artikel yang saya pikir ada baiknya untuk dibagi ke rekan lain. Awalnya keisengan ini saya salurkan ke beberapa mailing list yang saya ikuti. Lama kelamaan saya merasa perlu untuk menaruh tulisan, foto dan artikel itu di suatu tempat khusus yang tetap dan mudah diakses, tidak sesulit arsip di mailing list. Kebetulan saya menemukannya ketika berselancar di dunia maya, mencari sebuah artikel soal seni budaya lokal. Saya menemukan sebuah laman dengan tampilan yang interaktif dan informasi yang renyah dan ringan.</p>
<p>Belakangan saya ketahui laman itu lebih dikenal dengan nama Blog. Selepas itu, dimulailah jejak saya di ranah blog. Jejak saya, yang berupa tulisan dan foto &#8211; saya kemudian membatasi diri untuk memuat artikel copy-paste di blog saya untuk membiasakan menulis sendiri &#8211; saya namai sebagai kronik yang diwariskan. Kronik adalah seumpama catatan semasa hidup yang mudah2an bisa abadi di dunia maya, hingga saatnya bisa menjadi warisan tanpa nilai buat siapapun yang membacanya.</p>
<p>Menulis di blog menjadi suatu keasyikan tersendiri buat saya. Terutama karena saya bisa menumpahkan isi kepala saya ke suatu media yang saya miliki sendiri. Tidak ada sensor, tidak ada bingkai yang membatasi saya menulis apapun. Bahkan kalau perlu, tidak ada kaidah atau aturan yang harus saya ikuti. Ibaratnya, saya adalah pemilik, pengelola dan sekaligus pemantau dari sebuah media seumpama koran atau majalah mini. Bukankah ini sungguh luar biasa? Meski skalanya mini dan tentu saja dengan jangkauan pembaca terbatas &#8211; tapi dengan potensi yang sungguh tak terbatas, kita bisa berperilaku selayaknya redaktur sebuah penerbitan media informasi. Interaksi antara kita dan pembaca &#8211; biasanya dalam bentuk komentar &#8211; meminimalkan jarak, ruang dan waktu, tidak seperti media umumnya.</p>
<p>Media umum atau disebut media mainstream, hanya menyuguhkan hard news yang mungkin untuk beberapa media seperti seragam. Tidak ada berita yang ditulis dengan sudut pandang pelaku, atau warga yang menjadi pihak kedua dalam tulisan itu. Blog, hadir menjembataninya. Kalau berita di media massa hanya menyentuh permukaannya karena keterbatasan ruang, maka kita bisa mengatasinya dengan blog, dengan menuliskan berita itu hingga lebih dalam dan mengarah ke inti masalah. Meski jangkauan ke pembaca hanya terbatas di ranah maya, tapi penyampaiannya sungguh aktual. Kita bisa bebas mengomentari soal politik tanpa perlu direcoki oleh para pengamat yang itu-itu saja, atau politikus yang kadang membosankan. Kita juga bisa mengcopy berbagai sajian menu kuliner tanpa harus membeli buku di toko buku. Kita juga bisa langsung tergerak mengunjungi rekan atau saudara yang ditimpa bencana dengan langsung menengok informasinya di blog, lengkap dengan lokasi rinci nya. Blog, sesungguhnya menjadi salah satu pemicu revolusi informasi di abad ini. Sependek pengetahuan saya, blog juga menjadi wadah buat para jurnalis untuk memaparkan informasi-informasi yang tak sempat dipaparkan media tempatnya bernaung, bahkan untuk informasi yang tersembunyi sekalipun semacam untold story.</p>
<p>Untuk saya pribadi, blog menjadi ranah istimewa untuk menulis satu sisi yang saya gandrungi semenjak kecil. Sisi itu saya sebut human interest. Menuliskan kisah-kisah manusia yang menarik namun luput dari pemberitaan media terkadang menjadi sebuah kewajiban buat saya. Kewajiban buat saya untuk mengabadikan mereka, paling tidak dalam sebuah ruang yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh pelakunya, sebagaimana kisah Pak Jamal yang saya singgung di awal tulisan. Blog, kemudian saya sadari bukan lagi menjadi ajang keisengan atau pamer diri semata, tetapi menjadi sebuah wadah penyampai berita yang sangat humanis. Dalam beberapa literatur, penulis blog ini kurang lebih bisa disebut sebagai pewarta warga (citizen journalis). Pewarta warga hadir bukan karena suatu sikap profesional &#8211; dan karenanya tak pernah mengharap imbalan, tapi lebih karena dorongan kepedulian untuk memberi sumbangan untuk sekitarnya. Bagi saya, batas bawah berjihad bukan lagi dalam hati, tapi sudah tergerak naik ke level yang lebih atas, tulisan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2009/02/20/blogger-dan-jihad-humanis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaza dan Goliath</title>
		<link>http://kolumnis.com/2009/01/16/gaza-dan-goliath/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2009/01/16/gaza-dan-goliath/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 07:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Gaza]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Palestina, bangsa pelaut itu, mulai dicatat sejarah melalui penuturan Kitab Suci. Kita mengenal Palestina melalui representasi sosok jawara petarung bernama Goliath. Merujuk pada kitab Bibel, saat perang melawan bangsa Yahudi di Socoh Judah, dikisahkan Goliath yang perkasa setiap dua hari sekali dalam masa empat puluh hari berkoar-koar sesumbar tanpa henti. Ia menantang segenap bangsa Yahudi itu untuk bertarung duel satu lawan satu. Saul, pemimpin Yahudi saat itu sungguh tak mampu menghadapi tantangan Goliath hingga kemudian Daud remaja datang menawarkan diri. Di hadapan Daud, Goliath perkasa itu mampus seketika hanya dengan sebuah lemparan batu kecil tepat di kepala besarnya.</p>
<p>Namun kini ketika ribuan tahun berbilang, keadaannya kini sungguh berbalik. Palestina kini adalah Goliath yang kerempeng, pias dan mengiba. Keperkasaannya terserak bersama puing bangunan yang luluh lantak diterkam buldozer kebiadaban sebuah rezim Setan Kecil. Suara raksasa yang dulu lantang menantang Daud kini tenggelam oleh desing peluru atau hentakan mortir mengarah kepada penduduk Gaza yang seperti sibuk berhitung waktu menunggu ajal menjemput, tak peduli usia, jenis kelamin, bahkan agamanya. Goliath, petarung legendaris Palestina itu kini seperti berada di ujung ring, terdesak dan hanya berusaha bertahan agar tak jatuh. Jatuh, juga mungkin akan berarti punah. Sebuah nasib yang terbilang, dan karenanya kini dipertaruhkan.</p>
<p>Kalau dulu Daud yang kecil hanya memerlukan batu sebesar jempol untuk menundukkan Goliath, maka kini, sebuah pemerintahan yang berdiri di atas tanah yang dirampas paksa, mengirimkan rudal pembunuh massal berton-ton beratnya, ditembakkan lewat pesawat tercanggih atau dilesakkan oleh pelontar rudal darat yang (kabarnya) sangat akurat ke bangunan-bangunan yang disesaki oleh tubuh-tubuh ringkih yang menggigil menahan lapar dan dahaga akibat blokade berbulan-bulan.</p>
<p>Gaza, kota berbentuk garis kecil di pesisir Laut Mediterania sejak Oktober 2008 menjadi penjara raksasa bagi 1,5 juta penduduknya. Di utara, barat dan timur, Israel mengarahkan moncong senjatanya untuk setiap bantuan logistik yang mencoba masuk. Di selatan, Mesir – negara yang di tahun 1967 mengobarkan perang melawan Israel dan takluk – menutup perbatasannya bahu membahu beriringan dengan sekondang Zionisnya.</p>
<p>Mereka, penduduk Gaza itu mungkin sudah kehilangan rasa takut akan kematian, meski masih memiliki harapan yang kuat untuk sekedar bernapas tidak dalam suasana mencekam seperti saat ini. Kematian sungguh telah menjadi karib yang menemani sejak tahun 1948, ketika teror mulai ditanam bersama pendirian sebuah negara kecil Israel di sebahagian wilayahnya atas dasar sebuah beleid yang ditandatangani oleh pemerintah kolonialis Inggris melalui menteri Luar Negerinya, Arthur James Balfour pada tahun 1917.</p>
<p>Palestina, sejak Goliath takluk oleh batu kecil itu, sejatinya tak pernah lagi mampu bangkit membebaskan tanahnya sendiri. Terjepit oleh sejarah 12 suku Israel, silih berganti penakluk luar datang mengembalikan miliknya dari bangsa Yahudi. Nebukadnesar dari Babylonia (586SM), Hyrcanus dari Romawi (140SM), Constantine dari Byzantium (330M), Khalifah Umar bin Khattab (638M), Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayah (700M), Harun al-Rasyid dari Bani Abbasyah (800M), Sultan Saladin dari Kurdi (1187M), Sultan Baibar dari Mamluk (1270M), hingga Dinasti Ottoman Turki sebelum Inggris menaklukkan Turki di tahun 1870M.</p>
<p>Pada tahun 1948 dan sekali lagi dan yang terakhir kalinya pada tahun 1967, tanah Palestina hendak dibebaskan oleh kompanion negara-negara Arab; Mesir, Yordania, Syiria, Irak, Saudi Arabia, Sudan, Tunisia, Maroko dan Aljazair dari tangan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya. Alih-alih membebaskan Palestina, Israel bahkan berhasil merebut Sinai, Gaza, Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan dataran tinggi Golan. Sejak itu, tak pernah lagi bangsa Palestina berhasil merdeka dalam arti sesungguhnya. Tepi Barat dan Jalur Gaza kemudian di’hibah’kan menjadi tanah air resmi Palestina pada tahun 1988. Tanah air ini, ibarat sebuah kampung taklukan, bisa sewaktu-waktu digagahi oleh Israel dengan alasan yang palign tidak masuk akal sekalipun. Hari-hari ini kita seperti menyaksikan akrobat atau semacam pameran mesin perang di langit Gaza, mulai dari bom cerdas, bom curah, hingga bom Fosfor Putih.</p>
<p>Kini, bangsa yang dikenang abadi dalam semua kitab suci ini sedang mempertaruhkan nasibnya sendiri. Hamas, penguasa Jalur Gaza yang didukung mayoritas rakyat Palestina melalui proses demokratis di tahun 2006 namun dicap teroris oleh Israel dan Amerika Serikat, kini mati-matian membela setiap jengkal tanahnya. Sejak serangan awal di penghujung tahun 2008, sampai nyaris dua minggu sampai saat ini, hampir 900 warga Palestina telah menjadi korban. Hampir 300 diantaranya adalah anak kecil yang lugu dan polos, dan tentu saja tak mampu melawan. 100 wanita juga menjadi korban keganasan mesin perang Israel. Sementara, tentara Israel yang tewas tercatat hanya berjumlah belasan saja. Sebuah perbandingan yang asimetris, terutama soal keimbangan mesin tempur. Negara-negara Arab yang dulu rela jadi palang pintu agresi Israel, kini seperti tak bertaji. Hanya bersuara, sama seperti PBB, tapi suara selantang apapun tak bisa mengendalikan Israel yang jumawa.</p>
<p>Lupakan soal agama, kebiadaban yang sedang berlangsung ini sesungguhnya adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Pembiaran atas keberingasan mesin perang Israel pun merupakan pengkhianatan yang luar biasa atas semua bentuk piagam kemanusiaan. Sikap sebagian Arab, Asia, Eropa, terlebih Amerika Serikat adalah sebuah sikap tragis. Kita yang nun jauh dari bising suara mesiu, mungkin hanya bisa bersimpati dengan menggenangkan airmata dan lirih memanjatkan doa kepada Sang Maha Pemilik Keputusan.</p>
<p>Palestina sedang bertaruh dengan nasib, dan tidak serta merta menjadi kerdil hanya oleh gempuran senapan. Semangat untuk terus melawan mempertahankan tanah air sudah seperti darah yang mengalir setiap saat, karenanya tak akan berhenti hingga jantung-jantung mereka tercerabut dari badannya. Kemenangan mungkin sulit untuk dicapai, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Kalau dulu Goliath yang raksasa bisa takluk di tangan Daud yang kecil, mengapa kali ini Goliath yang kerempeng dan lemah tak mampu bangkit melawan Daud yang sedang sehat-sehatnya. Lewat serangan beringas tentara Israel Defense Forces, Goliath baru sedang dibangunkan. Atau mungkin ia berganti peran menjadi Daud yang sedang menanti saat yang tepat. Bukan untuk menghancurkan Goliath baru, tapi untuk tujuan yang lebih mulia. Membebaskan tanah airnya sendiri, tanah harapan. Palestina.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2009/01/16/gaza-dan-goliath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refuseniks: Mereka (Juga) Menolak!</title>
		<link>http://kolumnis.com/2009/01/16/refuseniks-mereka-juga-menolak/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2009/01/16/refuseniks-mereka-juga-menolak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 07:40:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Gaza]]></category>
		<category><![CDATA[Refuseniks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[<p><em>Massacre in Gaza, pembantaian di Gaza yang sudah berlangsung dua pekan sejak 27 Desember 2009 dan telah membunuh 1000 jiwa- setengah diantaranya wanita dan anak-anak, tidak saj&#8230;</em></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Massacre in Gaza, pembantaian di Gaza yang sudah berlangsung dua pekan sejak 27 Desember 2009 dan telah membunuh 1000 jiwa- setengah diantaranya wanita dan anak-anak, tidak saja dibanjiri kecaman dari warga Muslim dan kelompok humanitarian di seluruh dunia, tapi juga merembet ke lingkar dalam serdadu Israel. Sebanyak 286 tentara Israel Defence Force(IDF) yang tergabung dalam berbagai kesatuan sudah menyatakan penolakannya bertugas di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak tahun 2002 dan berlanjut hingga saat ini. Apakah ini pertanda hegemoni ideologi zionist yang menghalalkan pendudukan sudah mulai melemah? Semoga!</em></p>
<p><strong>Mereka (Juga) Menolak</strong><br />
Namanya Kim Yuval. Pemuda yahudi ini berpangkat sersan di kesatuan artileri Israel Defence Force (IDF) &#8211; kesatuan militer Israel. Wajah gantengnya yang sekilas mirip Brad Pitt menghiasi halaman depan situs Ometz LeSarev (http://www.seruv.org.il) dibawah kolom ber-tajuk &#8220;Refusenik&#8217;s File&#8221;. Ometz LeSarev, yang dalam bahasa Ibrani berarti berani menolak, adalah organisasi yang dibentuk oleh para tentara kombatan dan tentara cadangan Israel yang menolak berperang di kawasan &#8216;jajahan&#8217; Israel yang diduduki setelah perang enam hari 1967. Mereka menyebut diri sebagai Refuseniks &#8211; yang artinya kira-kira pembangkang. Tepat di sebelah kanan bawah foto Yuval, ada kolom bertera angka 628, menunjukkan jumlah tentara Israel yang bergabung sebagai Refusenik sampai saat ini. Para serdadu yang umumnya pemuda ini bahkan tidak khawatir memasang foto-foto mereka secara terbuka, mengindikasikan keseriusan dan keberanian untuk menunjukkan sikapnya.</p>
<p>Ometz LeSarev sendiri dicetuskan pada awal tahun 2002 oleh Kapten David Zonshein and Letnan Yaniv Itzkovits, anggota kesatuan elit IDF. Bersama 51 tentara lainnya yang baru kembali dari penugasan di Jalur Gaza, mereka menerbitkan surat terbuka yang mereka namakan Combatan Letter, berisi sembilan pokok pikiran tentang sikpa mereka terhadap pendudukan Israel. <em>We, who know that the Territories are not Israel, and that all settlements are bound to be evacuated in the end.</em> Mereka menentang tegas pendudukan Israel atas wilayah yang direbut setelah tahun 1967, dan karenanya menolak keras untuk mengambil bagian dalam semua aksi militer untuk bertempur di wilayah pendudukan; <em><strong>we shall take no part in them! </strong></em>demikian pernyataan tegas para Refusenik di bagian akhir Combatan Letter itu. Untuk menegaskan keseriusan sikap mereka, para Refusenik menayangkan Combatan Letter itu di harian berpengaruh Israel; The Haaretz pada Januari 2002.</p>
<p>Dibandingkan dengan jumlah personel aktif Israel yang mencapai angka 176,500, memang jumlah Refusenik hanya 0,36% saja. Tapi pertumbuhan jumlah Refusenik, tentu membuat kening pemerintah Zionis berkerut-kerut. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun sejak dicetuskan, jumlah para pembangkang sudah berlipat 12 kali. Angka ini bukan tidak mungkin akan bertambah banyak di tahun-tahun mendatang, mengingat makin sadarnya para tentara Israel akan akibat perang yang dikobarkan di area pendudukan. Setiap ada konflik yang berkecamuk di area pendudukan; Tepi Barat atau Jalur Gaza, maka bertambah pula jumlah serdadu pembangkang ini. Di situs resminya, Refuseniks juga membuka pintu bagi semua kalangan untuk bergabung dengan mereka atau menjadi donatur sukarela, terutama untuk meng-edukasi masyarakat agar berani menentang pendudukan. Juga, mereka memasang secara vulgar foto-foto korban kebiadaban tentara Israel saat melakukan aksi militer di daerah pendudukan untuk mengingatkan betapa aksi ini mendatangkan marabahaya untuk keamanan dalam negeri Israel sendiri.</p>
<p>Sikap pemerintah Zionis pada mulanya represif terhadap kelompok ini, para Refusenik yang menolak ditempatkan di Jalur Gaza dan Tepi Barat dipenjarakan dalam penjara militer. Lebih dari 280 serdadu Refuseniks telah diadili dalam pengadilan militer dan dijatuhi hukuman terungku selama paling banyak 35 hari dalam penjara militer. Namun khawatir bahwa hukuman ini hanya akan membuat kelompok pembangkang ini makin populer dan mendapat simpati masyarakat, pemerintah Zionis kemudian meniadakan hukuman dengan memberi penugasan di tempat lain selain area pendudukan, atau malah tidak diberi penugasan apapun, demikian menurut informasi yang dirilis di Wikipedia. Namun semenjak perang Gaza berkecamuk dari awal Muharram kemaren, seorang serdadu yang ditengarai adalah anggota kelompok Refusenik ditahan sepekan di penjara militer karena sikap penolakannya atas penugasan ke Gaza. Penahanan ini kemudian memancing sikap protes dan demonstrasi di sejumlah tempat di Israel dan berbuah pelepasan serdadu tersebut dari penjara militer.</p>
<p>Mereka juga aktif melakukan demonstrasi, kegiatan sosial, dan penyadaran publik yang bertujuan untuk mengkampanyekan pengakhiran pendudukan untuk menciptakan rasa aman bagi Israel. Setiap pekan, mereka menerima banyak dukungan dari warga Israel yang menandatangani petisi SERUV (Ibrani: Menolak), termasuk beberapa tokoh penting Israel dan ratusan professor dari kalangan akademisi. Menurut survey yang dilansir oleh Yaffee Center for Strategic Studies, sudah lebih dari 25% warga Israeli menyatakan dukungannya terhadap perjuangan para Refuseniks dan mengakui hak asasi dan tugas moral yang mereka emban untuk menolak pendudukan. Angka dukungan ini semakin hari semakin berkembang, demikian menurut pernyataan mereka di situs itu. Perang yang berkepanjangan, memakan biaya dan korban yang tidak sedikit tentu membuat warga Israel sendiri bosan dan geram, apalagi kalau ditengarai aksi militer hanya untuk kepentingan politis para elit parta saja. Perang dengan imbalan kursi di Knesset &#8211; parlemen Israel, tentu bukan sebuah pertukaran yang menyenangkan.</p>
<p><strong>Damai bukan Utopia?</strong><br />
Aksi kaum Refusenik tentu membangkitkan harapan kita akan sebuah kata yang lama tak mewujud di bumi Palestina ini; perdamaian. Kita semua tentu sama berharap bahwa kawasan Palestina, Lebanon dan semua tempat dimanapun di belahan bumi ini bisa menjadi kawasan yang damai bagi penghuninya. Damai, tentu berarti banyak kesempatan yang bisa dijalankan dalam masa itu. Kesempatan menapak pendidikan, karir, dan kehidupan spiritual yang lebih baik terbentang anteng di depan mata. Setiap manusia yang berada di lingkungan damai, bisa memaksimalkan fungsinya sebagai bagian dari warga dunia. Ilmu pengetahuan tidak saja akan digagas sebagai perahu kemanusiaan, tapi akan terus digali sampai pada tataran yang tak terbatas. Sejarah kemanusiaan sudah membuktikan, hanya pena dan buku yang dapat melayani kemanusiaan. Sedang perang dan amunisi tidak saja mengangkangi kemanusiaan, tapi juga membunuhnya.</p>
<p>Damai, tentu jauh lebih indah dari konflik. Tidak saja bahwa konflik dan peperangan hanya akan menambah korban terutama di pihak sipil, tapi juga sangat terang bahwa tidak ada kemajuan yang bisa kita dapatkan hanya dengan berkonflik. Tidak pembangunan fisik, tidak juga pembangunan mental. Waktu yang hilang, kesempatan yang terbuang, dan harapan yang sirna. Yang tumbuh dan kemudian mewaris ke benak masing-masing pihak kemungkinan besar hanya dendam, yang tentu saja tidak akan menyelesaikan masalah dengan baik.</p>
<p>Diperlukan kepala yang dingin, dan hati yang terbuka untuk mencari penyelesaian konflik dengan baik dan menyenangkan semua pihak. Para Refusenik tentu sudah melihat bahwa berperang di tanah pendudukan tentu bukan cara yang baik untuk membela negara mereka kendati sejatinya para pembangkang itu juga sangat mencintai tanah airnya. Namun, melakukan ekspansi apalagi disertai tindakan brutal tentu bukanlah cerminan sikap heroik, malah mungkin akan membahayakan keamanan dalam negerinya sendiri. Tidak sedikit warga yang mengidap paranoid akan teror atau kiriman rudal setiap kali tentara Israel melakukan aksi militer. Dan tidak sedikit pula yang menjadi korban.</p>
<p>Perdamaian bisa jadi merupakan upaya melupakan masa lalu, sekelam apapun wajahnya. Semua harus berani menjadi pemaaf atas semua keburukan, dengan demikian menjadi manusia pelupa. Bahkan, kalau perlu ideologi jihad dan sikap membela diri mungkin memerlukan interpretasi ulang di kepala masing-masing pihak. Tidak lagi pesan yang ditampilkan adalah gambaran sebuah proses untuk mencapai kemenangan, tapi menjadi sebuah proses heroik untuk mencapai kedamaian. Damai, mungkin adalah interpretasi paling indah dari sebuah kemenangan. Damai mungkin sangat sulitnya, tapi tidak ada yang ngotot menyatakan bahwa itu mustahil. Kalau dianggap mustahil, berarti kita semua menafikkan peran kita sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan dunia dengan ketentraman. Damai, tentu bukan utopia. Tapi kita boleh menyebutnya keajaiban. Adanya para Refusenik, adalah salah satu indikatornya.</p>
<p>Jakarta, Muharram 1430H.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2009/01/16/refuseniks-mereka-juga-menolak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maryamah Karpov: Sekali ini Roman Picisan?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/12/22/maryamah-karpov-sekali-ini-roman-picisan/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/12/22/maryamah-karpov-sekali-ini-roman-picisan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 00:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[maryamah karpov]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[<p><strong>Akankah Novel ini kembali inspiratif?</strong><br />
Andrea Hirata kembali lagi, setelah lama ditunggu dan mendahulukan edisi englishnya dirilis, novel ke-empat dari tetralogi Laskar Pela&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akankah Novel ini kembali inspiratif?</strong><br />
Andrea Hirata kembali lagi, setelah lama ditunggu dan mendahulukan edisi englishnya dirilis, novel ke-empat dari tetralogi Laskar Pelangi yang bertajuk “Maryamah Karpov &#8211; Mimpi-mimpi Lintang” akhirnya dihidangkan ke khalayak pembaca melalui peluncuran awal 28 November 2008. Mereka yang sudah dari awal &#8211; mungkin sejak pertamakali novel ini dipopulerkan oleh Andy F Noya lewat tayangan talkshow kondangnya bertajuk Kick Andy &#8211; menggemari novel menggugah ini, atau yang mulai menggemari sejak filemnya tayang di seluruh Indonesia tentu sudah tak sabar melahap serial pamungkas setebal 518 halaman yang kabarnya dilunaskan Andrea Hirata hanya dalam sebulan saja. Setelah sempat membuat penggemarnya kelimpungan menanyakan tanggal terbitnya novel ke-empat ini, sambil menikmati film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana yang kemudian menjadi box office kedua setelah Ayat-ayat Cinta, akankah novel akhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menjadi klimaks dari tiga novel sebelumnya; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor?</p>
<p>Para pembacanya tentu telah menyiapkan diri untuk kembali tergugah-bahkan kalau perlu terisak isak oleh sebuah memoar pengalaman hidup yang bisa dibilang sangat miskin fasilitas namun kemudian menyeruak menjadi sebuah pencapaian luar biasa. Tiga novel sebelumnya sungguh dipenuhi dengan cerita yang inspiratif dan mengundang kekaguman bagaimana seorang atau beberapa orang yang jauh dari deteksi kuadran keberhasilan namun kemudian diceritakan ternyata mampu mengorbit dengan sukses di salah satu koordinat cita-cita. Novel-novel sebelumnya memang meyakinkan pembacanya, bahwa bercita-cita tentu tak pantas dibilang bermuluk-muluk ria karena semuanya bisa tercapai adanya. Si tokoh Ikal yang menjejak sekolah formalnya di sebuah SD Muhammadiyah Gentong Belitong yang lebih pantas menjadi kandang kambing, akhirnya mampu melindapkan dirinya di bangku kuliah Universitas Sorbonne, bahkan sampai menjejak alam Siberia di Rusia hingga Kenya di Afrika Utara. Diantara mungkin ratusan juta penduduk Indonesia, baik yang miskin maupun yang kaya, hanya berbilang jari saja yang punya langkah kaki sejauh Ikal ini. Selain menebar virus inspiratif dari mimpi yang maujud, novel ini sejatinya juga membakar cemburu para petualang yang hanya mampu mendaki sebatas impian saja.</p>
<p>Maryamah Karpov yang menjadi main title novel ini diambil dari nama Mak Cik Maryamah, pemilik Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi yang sebelumnya pernah menjadi tokoh di salah satu bab di novel kedua Andrea: Sang Pemimpi nya. Mak Cik Maryamah adalah penggemar catur yang nge-fans pada Anatoly Karpov, jawara catur asal Rusia. Pada setiap pelanggannya ia selalu merekomendasikan langkah pembuka Karpov sehingga, sebagaimana kebiasaan orang Belitong menyematkan nama kedua si pemilik nama dengan nama lain yang secara historis dan antropologis punya keterkaitan erat dengan si pemilik nama, maka diimbuhi lah nama Mak Cik Maryamah dengan nama Karpov &#8211; sang pecatur pujaannya itu. Perempuan muda yang lihai memainkan biola yang menjadi cover novel ke-empat nya ini kemungkinan adalah Nurmi, anak gadis Mak Cik Maryamah Karpov. Nurmi, kemudian menjadi guru biola Ikal dalam novel ini, ketika Ikal sedang penat-penatnya membangun perahu seorang diri. Perahu ini kemudian dinamakan Mimpi-Mimpi Lintang, dan menjadi sub-title dari novel ini. Perahu yang tingkat kesulitannya teramat tinggi dan mengundang decak kagum sang maestro pembuat perahu orang-orang bersarung (Bugis?) Mapangi, adalah titian utama dalam alur cerita di novel ini, yang padamulanya juga hanyalah sebuah mimpi yang musykil. Namun, bukan Andrea Hirata kalau tak mampu menyulap mimpi menjadi barang laku. Kisah percintaan dengan A Ling yang sebenarnya bisa dianggap sebagai musabab dibangunnya perahu asteroid bertubuh langsing ini, dan mungkin juga menjadi inspirasi novel ini keseluruhan muncul dalam tiga bab terakhir, mungkin muncul sebagai kesimpulan yang romantis.</p>
<blockquote><p>….Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan (A Ling) inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedidi hidupku. Di dalam kedua mata (A Ling) itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudera, mengarungi padang, dan melawan angintelah mencapai tujuannya (hal 498).</p></blockquote>
<p><strong>Latar Perburuan A Ling dan Kembalinya Laskar Pelangi? Masih Hiperbola?</strong><br />
A Ling &#8211; sang pujaan hati Ikal sejak masih sekolah di SD Muhammadiyah, yang diberitakan dalam novel pertama Laskar Pelangi pindah mukim ke ibukota Jakarta, secara tak terduga muncul kembali dalam konteks yang menurut saya sulit dicari hubungannya. Interpretasi saya dalam pembacaan novel pertama Laskar Pelangi adalah bahwa A Ling pindah ke ibukota Jakarta untuk meneruskan sekolah dan dengan demikian secara kelayakan hidup dia tentu mapan sentausa disana. Toko kelontong yang dimiliki ayahnya dan keberadaan keluarga lainnya tentu tak bisa dikatakan miskin dan jauh dari kecukupan dan karenanya perlu untuk menyeberang ke tanah Tumasek &#8211; Singapura untuk mencari hidup yang lebih layak. Namun demikianlah diterangkan dalam novel ke-empat ini, bahwa berawal dari penemuan beberapa mayat bertato kupu-kupu yang ditengarai sebagai penanda keluarga A Ling ditemukan secara gempar di pesisir Belitong. Ikal kemudian gempar pula hatinya dan ramai menghubung-hubungkan tato penanda ini dengan keberadaan A Ling yang pernah dicarinya hingga ke Afrika Tengah. Sempat terbersit pertanyaan di kepala saya, mengapa di novel Sang Pemimpi, Andrea tidak memasukkan sub judul pencarian A Ling di Jakarta ketika ia sedang jadi pegawai jawatan pos atau kuliah di Bogor? Bukankah di saat yang sama A Ling tentu berada disana? Tapi itulah, kita kembali diajak untuk mengemas komoditi bernama mimpi ini dan menelusuri bagaimana Ikal secara luar biasa mewujudkannya dengan tingkat paripurna, dan menemukan utuh tubuh A Ling di salah satu pulau di antero kepulauan Batuan, tempat Tambok dan para lanun berkuasa.</p>
<p>Pada suatu penggalan kisah, ketika Ikal hampir putus asa dirundung bayangan kesulitan untuk menemukan cara bagaimana membuat perahu yang tangguh untuk diarungi menuju pulau Batuan &#8211; tempat yang dijadikan Ikal sebagai tersangka utama penyekap A LIng dan keluarganya, tiba-tiba pembaca dikejutkan atau malah dihibur dengan pemunculan kembali anggota-anggota Laskar Pelangi secara utuh, mulai dari Lintang, A Kiong, Kucai, Samson, Harun, Sahara, Flo hingga kemudian Mahar. Pembaca kemudian disuguhkan nostalgia kembali pada novel pertama ketika para bekas Laskar Pelangi napak tilas ke sekolah reot mereka sambil meraba-raba momen indah yang pernah mereka ukir di sana. Dalam cerita selanjutnya, hanya Lintang dan Mahar yang selang seling atau bersamaan muncul menemani Ikal, tentu saja tidak tertinggalkan beberapa cerita hiperbolik tentang ide atau gagasan mereka; bagaimana Lintang menghitung secara presisi hingga milimeter cara membuat perahu yang linggar namun tangguh, plus hitungan mekanis cara mengangkat bangkai perahu kuno di dasar sungai Linggang bisa mengundang decak kagum kita semua. Belum lagi seorang Mahar yang kali ini tidak ditampakkan sebagai seorang seniman tari atau musik, tapi seorang dukun muda dengan kemampuan supranatural yang mumpuni, mampu mengimbangi kedigdayaan Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw. Memang, menurut pengakuan dan keyakinan Andrea Hirata, Hiperbola adalah elemen dalam teknis penulisan nonfiksi”. Meski dalam banyak kesempatan, ia menyebutkan bahwa novel ini, terutama novel pertama nya adalah seumpama memoar masa kecilnya. Hiperbola dan sebuah memoar, pantaskah keduanya bersanding di pelaminan yang sama?</p>
<p><strong>Memoar (?) atau Roman Asmara?</strong><br />
Ada tiga kisah asmara yang dilunaskan dalam novel ini. Pertama, tanpa latar belakang yang pasti dan kisah yang rumit, Arai berhasil meminang sang perempuan yang acapkali membuat Arai bersaraf tegang, Zakiah Nurmala Binti Berahim Metarum. Zakiah kemudian dibawa oleh Arai ke Colchester, Inggris untuk meneruskan studinya yang sempat terhenti akibat asma akut yang diderita Arai sebagaimana diceritakan di novel ketiga Edensor. Selepas itu kisah Arai lindap sampai akhir cerita. Kisah asmara kedua adalah Mahar. Meski tak diakhiri dengan pernikahan, tapi akhirnya Mahar berhasil menemukan pujaan hatinya. Bukan Flo, sekondangnya dalam Societet de Lampai, perkumpulan para penggemar klenik, tapi seorang gadis belasan bernama Maura, adik kandung tokoh lanun klasik bermana Dayang Kaw yang menguasai kepulauan Karimata. Kisah ketiga dan pamungkas adalah kisah asmara Ikal sendiri bersama A Ling. Kisah awal proses pencarian A Ling di novel ini jauh lebih heroik dan menguras banyak halaman dimulai semenjak bagaimana Ikal menguras tenaga untuk membuat perahu dengan tenggat waktu sebelum Angin Musim Barat tiba, sampai kemudian perundingan alot dengan Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw hingga diakhiri dengan sangat jenaka. Namun, antiklimaks terjadi ketika ia menemukan A Ling di pulau terakhir Batuan tanpa banyak kesulitan &#8211; A Ling teronggok sakit di salah satu sudut rumah yang sangat mengenaskan. Tidak ada perlawanan, tidak ada friksi, tidak ada greget kecuali dua-tiga paragraf soal perasaan Ikal yang remuk redam menemukan pujaan hatinya itu.</p>
<p>Lanjutan kisah cinta Ikal dan A Ling kemudian diendapkan hingga akhir cerita. Cerita selanjutanya kembali dirangkai dengan kelucuan-kelucuan khas Melayu. Dari panggilan jenaka para penunggu Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, hingga kisah dokter gigi Diaz dan ketua Karman yang digambarkan tipe pemimpin berkemauan keras namun sangat mulia hatinya. Kisah gigi Ikal yang sakit pun sedikit membuat tanda tanya besar di kepala kita, bagaimana sosok Ikal yang sudah well-educated hingga menyelesaikan kuliah di Sorbonne Prancis itu masih sangat traumatik dengan persoalan klinis. Ia sampai mesti dibujuk berpuluh-puluh kali oleh Ketua Karman untuk berobat di klinik gigi binaan dokter cantik Budi Ardiaz anak pengusaha nasional kaya raya Hendrawan Tanuwijaya yang hingga berbilang tahun tak kunjung mendapat pasien karena adagium keengganan masyarakat Belitong membuka mulut kepada perempuan yang bukan muhrimnya. Tapi soal Ikal bukanlah soal muhrim, tapi soal trauma terhadap segala hal berbau medis karena pengalaman khitannya yang dilalui dengan sangat traumatik. Namun Ikal sekali lagi luluh oleh rayuan pujaan hati, A Ling. Dan melayanglah gigi geraham bungsu itu di tangan sang dokter muda itu melalui pergulatan fisik yang menghebohkan.</p>
<p>Akhir kisah, kita mungkin akan dibelai oleh tiga bab soal percintaan yang romantis. Dan Andrea Hirata menyuguhkan itu dengan bagus, namun terkesan terlalu dilebih-lebihkan semisal roman picisan. Sayangnya, akhir kisahnya tidaklah generik semisal percintaan di filem India atau sinetron Indonesia umumnya. Andrea mengakhirkannya dengan sebuah pemberontakan. Bapak yang selalu diagung-agungkan sebagai Ayah juara satu seluruh dunia itu, kemudian hanya dengan satu isyarat saja mengendapkan hasrat seorang Ikal, dan mengakhirkan cerita sang pemuda berwajah dangdut ini dengan sebuah kekecewaan, juga sebuah pemberontakan. Tetralogi Laskar Pelangi yang di tiga novel awalnya begitu menginspirasi, sayang sekali kemudian diakhiri dengan ironi yang jauh dari sebuah cerita inspiratif, bahkan mungkin terkesan biasa-biasa saja. Sayangnya lagi, Andrea Hirata diberitakan telah menamatkan (untuk sementara) aktifitasnya sebagai penulis novel dengan terbitnya Maryamah Karpov ini, jadi kita tak mungkin lagi menemukan kelanjutan ‘pemberontakan’ ini. <em>Who knows?</em></p>
<p>Kami di Makassar tentu sudah paham, akhir cerita romansa ini pasti akan diakhiri dengan sebuah ironi berbuah pemberontakan anak terhadap orang tua yang dihormatinya, silariang. Menginspirasikah memoar atau novel ini? Silahkan Anda merenung-renungkannya. Kalau bagi saya sih, mungkin sama saja dengan novel romans yang lain kecuali banyak sisipan kelucuan khas Melayu yang lumayan mengocok perut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/12/22/maryamah-karpov-sekali-ini-roman-picisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iklan PKS: Menjilat Sepah atau Manisan?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/12/09/iklan-pks-menjilat-sepah-atau-manisan/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/12/09/iklan-pks-menjilat-sepah-atau-manisan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 11:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[<p>Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaa&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.</p>
<p>Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.</p>
<p>Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh menokohkan Bapak Pembangunan Orde Baru ini. Beberapa unsur masyarakat tentu kecewa, terutama yang pernah menjadi korban ke&#8217;ganasan&#8217; pemerintahan beliau. Beberapa lagi seperti bingung, kenapa tokoh yang seharusnya diseret ke pengadilan karena banyaknya kasus kemanusiaan dan kasus korupsi justru kini digadang-gadang sebagai tokoh panutan.</p>
<p>Semua setuju, sebagaimana awal tulisan saya ini, bahwa memaafkan kesalahan Pak Harto mulia adanya. Itu adalah cerminan kebesaran jiwa kita sebagai bangsa yang berbudi pekerti luhur, plus religius. Semoga maaf (sebahagian) kita ini melempangkan jalan beliau di hadapanNya. Namun menjadikan beliau sebagai guru bangsa, yang berarti sosok panutan buat generasi kini dan mendatang adalah sebuah sikap yang membingungkan. Tarohlah beliau punya setumpuk jasa untuk negeri ini, yang mungkin setumpuk itu sempat hinggap di perjalanan kemanusiaan kita hingga kita bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang. Tapi jangan lupa, bahwa sebegitu banyak cacat sejarah yang pernah juga beliau torehkan, dan tidak hanya satu dua saja yang menjadi korban kebijakan beliau, tapi SATU GENERASI, SATU PERIODE SEJARAH bangsa kita. Mulai dari kontroversi G 30 S/PKI yang menorehkan luka mendalam untuk para keluarga korban keganasan pembersihan PKI, keluarga Presiden Soekarno, Tanjung Priok, Lampung, Timor-Timur, Aceh, hingga peritiwa kerusuhan Mei 1998. Belum lagi soal warisan kebejatan moral berupa korupsi yang kemudian inheren dan menohok menjadi darah daging budaya kita. LUAR BIASA! Pantaskah kita mengambil beliau sebagia panutan?</p>
<p>Tidak ada bukti atas semua itu? Tidak usahlah berpolemik ria dan beradu tegang urat leher, cukup menyaksikan diri kita sendiri. Seberapa jahat stigma kita terhadap orang2 yang dituduh PKI, aliran sesat, dan sebagainya. Seberapa tak kreatifnya kita ketika menghadapi suatu masalah yang sebenarnya cukup sederhana, namun pola pikir kita sudah sedemikian stagnan nya sehingga tak mampu keluar dari bingkai. Ketika anak-anak di belahan dunia lain aktif menggambar pesawat yang terbang tinggi plus modifikasi sayap yang luar biasa, kita malah hanya punya gambaran dua gunung berbentuk segitiga dengan jalan yang membelah keduanya. Di sisi kirinya terbentang petak2 sawah yang seragam, di sisi kirinya ada rumah dengan satu jendela dan pohon kelapa di belakangnya. Diatas gunung ada dua atau tiga burung berbentuk huruf “W” dan awan yang berbentuk gumpalan sahaja. Belum lagi ketika kita menganggap hal yang sangat lumrah soal pelicin masuk sekolah, atau mengurus KTP dan SIM. Dan inilah kita, buah karya sang guru bangsa.</p>
<p>Indonesia seharusnya bukan terdiri dari sekumpulan bangsa pelupa yang tidak punya semangat kebangsaan yang tinggi. Kita punya Hatta, Syahrir, Natsir, Agus Salim, dan beberapa tokoh yang benar mengabdikan hidupnya hanya untuk perjuangan bangsa ini, atau tokoh terkini yang sangat pantas di’guru’kan semisal Baharuddin Lopa, Munir. Mereka tidak punya cacat sejarah sehingga kepahlawanan mereka melintas di jalur tol kebanggan kita sebagai bangsa. Mereka jauh lebih layak dijadikan pahlawan bangsa. Kalau tujuan nya adalah menjaring massa, maka justru guru bangsa yang bersih lah yang akan membantu partai menggiring suara dalam pemilu nanti. Kecuali kalau memang penyakit lupa sejarah bangsa ini sudah sedemikian kronisnya, yang saya yakin PKS tentu tak berharap demikian. Karenanya, adalah tidak pantas partai yang mengaku bersih dan peduli ini justru menanggalkan dua pokok penting ini dalam menilai sosok tertentu dan menjadikannya guru bangsa.</p>
<p>PKS, cobalah dewasa dalam mendidik masyarakat. Jangan sepah yang dijilat kembali. Tak elok mengecewakan banyak (calon) pemilihmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/12/09/iklan-pks-menjilat-sepah-atau-manisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tea-Walking: Menembus Kabut di Telagawarna</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/11/19/tea-walking-menembus-kabut-di-telagawarna/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/11/19/tea-walking-menembus-kabut-di-telagawarna/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 02:50:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[<p>Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertiny&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.</p>
<p>Jejeran bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.</p>
<p>Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.</p>
<p>Kami beruntung, rupanya halimun tak sepenuhnya menutupi seluruh eksotisme yang dimiliki perbukitan teh itu. Diantara selimut halimun, beberapa scene dapat kami panen disela-sela rinai gerimis yang gugur dari uap pagi. Dari menelusuri tapak-tapak diantara perbukitan teh itu, kami sempat berpapasan dengan beberapa pemetik teh yang umumnya perempuan. Dibungkus suhu dingin, mereka masih terlihat sumringah menekuni rutinitas pagi yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Topi caping dari ruas rotan atau bambu menutupi sebahagian kepala yang juga ditutupi jilbab yang mereka kenakan. Seluruh tubuh mereka tertutup dibungkus baju lengan panjang dan celana panjang tebal, celemek tebal dari plastik atau kain tak tembus air menutupi kaki dan sebahagian dada mereka. Setelan pakaian cover-all ini mungkin untuk menghalangi basah dan dingin menembus kulit mereka. Mereka juga melengkapi bawahan busana dengan sepatu boot tinggi selutut berbahan plastik untuk melindungi kaki dari sodokan dahan-dahan rendah dari teh yang cukup keras dan tajam. Sebilah parang tipis berbentuk persegi terselip diantara celemek dan celananya, untuk mengibas dedahan atau ranting teh yang tumbuh tak terarah.</p>
<p>Para petani pemetik teh itu seperti tak kesulitan memetik daun-daun teh di lereng-lereng perbukitan yang umumnya curam, bahkan ada yang sisinya tegak lurus dengan horison bukit. Menyiangi pucuk teh muda, memetik dedaun teh tua dengan kelincahan jemari dan menimbunnya hingga penuh di sebuah keranjang rotan atau disarungkan dalam karung plastik besar.</p>
<p>Ribuan langkah kemudian petani-petani pemetik teh itu menuruni bukit-bukit teh menuju sebuah posko kecil di pinggir jalan berbatu. Posko kecil itu tepat berada di sisi sebuah telaga kecil berair jernih. Telagasaat, yang kira-kira luasnya hanya seukuran lapangan sepakbola, juga sepertinya berfungsi sebagai waduk penampung air. Di salah satu sisinya, sebuah pintu air permanen dan jembatan beton kecil memberi suasana modern telaga itu. Di dekat posko kecil itu, belasan pemetik teh riuh menumpuk dan menata karung-karung dan keranjang-keranjang daun-daun teh mereka di sisi jalan berbatu siap untuk diangkut. Beberapa pemetik teh lainnya berkumpul mengaso membersihkan diri sambil bercanda di sebuah tanah yang agak lapang di sisi jalan. Satu dua pemetik teh kemudian mengeluarkan bekal dan menyantap sarapan mereka dengan nikmatnya, ditemani sejuk hawa perbukitan yang menyegarkan. Tak sampai setengah jam, truk-truk pengangkut teh kemudian datang. Tumpukan teh itu lalu berpindah ke atas truk dan kemudian menjadi pertanda selesainya ritual pagi yang riuh di hamparan perbukitan teh yang tenang nan sejuk berselimutkan halimun itu.</p>
<p>Kami kemudian meneruskan perjalanan menyusuri kembali perbukitan teh hingga kira-kira tiga kilometer ke arah timur. Di Sebuah jalan di sisi hutan cagar alam Telagawarna, kami disambut rimbunan pepohonan berbunga terompet berwarna putih, seperti serangkaian peniup terompet dalam sebuah barisan marching band. Namun kali ini barisan terompet itu hanya diriuhkan oleh semilir angin yang sesekali mengayunkan mereka ke samping. Tepat di ujung jalan, kami tiba di sebuah telaga yang lain, Telagawarna. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2000 per orang, kami diajak masuk ke kawasan telaga yang dijaga oleh tak lebih dari sepuluh aparat jagawana &#8211; Polisi Hutan.</p>
<p>Telagawarna konon terbentuk dari rekahan gunung berapi purba jutaan tahun silam. Saat terbentuk rekahan, jutaan kubik material alam berwarna-warni ikut luruh masuk ke dasar telaga yang berkedalaman rata-rata 20-40 meter itu. Material alam inilah yang kemudian memantulkan aneka macam warna dari dasar telaga hingga orang-orang sekitar menyebut telaga itu sebagai Telagawarna. Proses alam beratus tahun kemudian juga menggerus material alam berwarna warni itu hingga kemudian habis menyisakan telaga yang hanya berwarna hijau, pantulan dari hutan hijau di sisinya dan tetumbuhan atau lumut di dasarnya. Tinggallah namanya saja, Telagawarna, tanpa warna-warni.</p>
<p>Di salah satu lereng gunung di sisi telaga, berdiri tenang petilasan dan makam Nyi Ageng Mas, salah satu ratu kerajaan Pakuan. Konon telaga ini adalah situs kerajaan sunda purba itu, namun belum sempat dijamah oleh ahli arkeologi. Yang rajin menjamah telaga ini hanyalah sekelompok monyet berjumlah puluhan yang mendiami hutan di sekitar telaga. Mereka kadang tak sungkan turun ke sisi telaga menyambut para penziarah dengan mata yang awas, menanti remah makanan yang mungkin biasa mereka dapatkan dari para penziarah.</p>
<p>Selepas memanjakan mata di sekitar telaga nan asri itu, kami kemudian beranjak pulang. Menyisakan sebuah kekaguman akan keindahan panorama bukit teh dan telaga yang asri di sebuah lokasi yang hanya berjarak tak kurang dari dua jam perjalanan dari ibukota. Ibukota yang tentu tak lagi punya waktu jeda untuk memberikan panorama alami bagi warganya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/11/19/tea-walking-menembus-kabut-di-telagawarna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantaskah Pilkada Mengorbankan Hari Sekolah?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/11/14/pantaskah-pilkada-mengorbankan-hari-sekolah/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/11/14/pantaskah-pilkada-mengorbankan-hari-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 03:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[<p>Irul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya &#8211; dua pelajaran kegemarann&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Irul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya &#8211; dua pelajaran kegemarannya sejak SD, disandingkan di hari sabtu itu. Tapi agenda politik kota Bogor merumahkan dirinya hari itu, bersama ratusan ribu siswa di kota Bogor; 152 Taman Kanak-Kanak, 285 Sekolah Dasar, 112 Sekolah Menengah Pertama, 52 Sekolah Menengah Atas, dan 62 Sekolah Menengah Kejuruan serempak meliburkan aktifitas pendidikannya demi pesta demokrasi ini. Sejatinya, ia dan teman-teman sekolahnya tak turut secara langsung dalam keramaian ini, namun dengan alasan kepraktisan dan ketertiban pemerintah kota berketetapan untuk menghapuskan enam jam pelajaran sekolah demi kesuksesan pemilihan langsung pertama ini.</p>
<p>Pemilihan walikota itu kemudian memang dianggap sukses, tidak ada kerusuhan, juga hal-hal lain yang memaksa aparat keamanan mengeluarkan pentungannya. Ketegangan hanya terjadi di bilik perhitungan suara, itupun hanya tergambar di kening pendukung calon yang resah suaranya jeblok. Merujuk hasil hitung cepat beberapa lembaga survei independen, kota Buitenzorg ini bakal diperintah lagi oleh incumbent walikota Bogor dengan keunggulan mutlak diatas 60 persen. Artinya, lebih dari setengah pemilih di Kota Bogor menyatakan keinginannya untuk dipimpin oleh sang Walikota untuk kedua kalinya, menyisihkan empat pasang kandidat lain yang punya hasrat politik yang sama. Satu hari kemenangan itu dirayakan meriah oleh sang calon terpilih dan para pendukungnya, namun satu hari itu juga menghilangkan kesempatan Irul dan teman-temannya untuk meraup ilmu yang sejatinya tidak murah itu.</p>
<p>Irul, dirumahnya yang tenang di Cibinong, tentu ingin mengisi hari lowongnya itu dengan bermain-main di luar rumah bersama teman sebayanya. Namun seperti pemerintah, ia juga khawatir kalau hari itu bakal rusuh. Dari pemberitaan yang disaksikannya di televisi, pilkada pertama ini cukup riuh dengan aksi para pendukung kandidat yang bertarung dan berpotensi menghasilkan konflik horizontal. Pilihan terbaik hari itu adalah dengan menjejak mata di ranah maya, browsing dan chatting dengan teman-temannya. Sempat pula dia menengok blognya yang lama tidak terupdate. Blog itu sejatinya hanya digunakan untuk meng-upload tugas-tugas sekolahnya. Ingin juga rasanya dia mencari tulisan atau berita yang bisa menukar keinginannya belajar matematika dan prakarya, atau paling tidak mencari postingan yang sejalan dengan aspirasinya, mengapa hari pemilihan harus dilaksanakan di hari yang semestinya dia bersekolah?</p>
<p>Lewat mesin pencari google, Irul hanya bersua dengan blog-blog yang mengkampanyekan kandidat pilihannya. Blog-blog lainnya hanya mengungkapkan sikap kritisnya terhadap program-program yang dijanjikan para kandidat, selebihnya hanya menyoroti soal klenik yang mungkin ada hubungannya dengan salah satu kandidat. Irul tidak menemukan satupun blog yang bersuara beda soal hari pelaksanaan pemilihan ini. Padahal, lewat blog lah Irul dan para pengelana dunia maya bisa menikmati tulisan-tulisan dengan nuansa berbeda, tapi pesan yang kuat tanpa perlu mengikuti arus utama issue yang digencarkan media massa yang ada.</p>
<p>Kita bisa saja memberikan pandangan merakyat soal yang menyentuh pendidikan secara substansial, apakah pemilihan pemimpin kota hujan ini sebanding dengan pengorbanan peserta didik merelakan satu hari belajar. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, karena dua hal yang berdetak di awal yang sama ini akan beradu hasil di dimensi waktu yang berbeda. Kehilangan jam pelajaran ada di dimensi kekinian, sedang kebijakan politis suatu pemerintahan yang dihasilkan oleh pemilihan ini hadir di dimensi masa depan, yang berjarak lima tahun dari masa kini. Ketika kebijakan politis memberikan hantaran nya, maka Irul dan teman-temannya tentu sudah berada pada konteks politik-kewargaan yang berbeda dengan kepentingan dan kebutuhan yang sudah menyesuaikan zamannya. Dan mungkin kita akan segera lupa menghitung korelasinya, secepat euforia menyiram warga kota Bogor.</p>
<p>Pendidikan, memang hanya menjadi sebuah sub-komoditas dalam sebuah paket kebijakan pemerintah. Dia hadir secara kuantitatif dalam tabel sebelah kanan neraca anggaran pemerintah, atau masuk ke kolom pengeluaran, yang dalam bahasa londo dinamai sebagai liability atau beban dalam bahasa Indonesia. Hitungan ekonomi matematis di bangku sekolah menganjurkan untuk mengurangi beban, demi untuk meningkat saldo kekayaan yang dihasilkan dari selisih antara aset yang dimiliki dikurangi beban yang diderita. Beban, sejatinya hanya akan menghasilkan penderitaan bagi yang menanggungnya. Alih-alih kenikmatan, tambahan tenaga, waktu dan biaya mesti digelontorkan untuk menghilangkan beban ini. Logika ekonomi sederhana ini mungkin sekali keliru sebagai sebuah teori, dan sekiranya keliru maka teramat mungkin kalau kenyataannya memang tidak demikian. Pembuktian logika ini sama sederhananya, sesederhana matematika ekonomi keluarga Irul yang setiap tahun mesti menambah kuota biaya pendidikan dalam neraca anggarannya.</p>
<p>Bagaimana mengukur akurasi logika sederhana ini? Mari kita tanyakan diri sendiri, karena sesungguhnya semua warga sejatinya adalah pewarta juga. Hanya ranah yang digunakan adalah ranah nurani, tempat mereka mewartakan semua persoalan dalam kediam-an yang hening, tanpa suara. Tugas kita lah menyuarakan nya entah dengan apa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/11/14/pantaskah-pilkada-mengorbankan-hari-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 November 2008, Apa Yang Akan Selalu Dikenang?</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/11/06/5-november-2008-apa-yang-akan-selalu-dikenang/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/11/06/5-november-2008-apa-yang-akan-selalu-dikenang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 15:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Ruslailang Noertika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[obama]]></category>
		<category><![CDATA[USA Canada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hari ini, pemilu di Amerika Serikat telah menentukan bakal pemimpinnya,  negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Dialah <em>the first afro-america, </em>Barack Hussein Obama&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, pemilu di Amerika Serikat telah menentukan bakal pemimpinnya,  negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Dialah <em>the first afro-america, </em>Barack Hussein Obama (47thn) yang berhasil mengungguli John McCain III (72thn). Kedua-duanya sebenarnya berpotensi untuk menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.</p>
<p>Sejak enam bulan lalu, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.</p>
<p>Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.</p>
<p>Euforia Obama berjangkit dimana saja. Bukan cuman di Amerika, tapi di hampir semua belahan dunia. Australia, karib si Polisi dunia itu bahkan mencondongkan keberpihakannya ke Obama dengan 55% berbanding 45%, meski kita tahu bahwa Australia adalah pendukung utama politik unilateralisme Bush. Di Kenya, negeri leluhur ayah kandung Obama, rakyat disana sedang mempersiapkan pesta dan, ini yang luar biasa, rencana pembangunan bandara besar yang katanya bakal dipersiapkan untuk pesawat kepresidenan, Air Force One. Di Jepang, desa yang kebetulan bernama sama dengan Obama, juga bersiap-siap berpesta. “Kami sudah menari untuk kemenangan Obama selama 6 bulan lebih,” ungkap Yuko Shirayama, remaja putri yang membentuk grup cheer Obama Girls di desa Obama, Jepang. Grup Shirayama pernah berangkat ke Hawaii awal tahun ini untuk merayakan kemenangan Obama saat konvensi Partai Demokrat melawan Hillary Clinton. Di Indonesia, bekas-bekas teman SD nya di Menteng pada mendadak mengadakan reuni untuk mengenang masa kecil mereka bersekolah bersama Obama. Beberapa diantaranya malah diundang untuk menjadi bintang tamu dalam beberapa talkshow yang diadakan di stasiun TV.</p>
<p>Obama, dengan segala kekurangannya, memang menjanjikan harapan yang besar buat dunia. Harapan ini tentu saja diharapkan akan membawa perubahan yang lebih baik, jauh lebih baik daripada pemerintahan Bush sekarang yang banyak disebut sebagai The Worst Ever American President &#8211; presiden AS terburuk sepanjang masa. Slogan Change, We Need membius semua orang. Politikus lulusan Harvard yang memulai karirnya dari sangat bawah &#8211; menjadi pekerja sosial perbaikan selokan di Ohio &#8211; juga sangat meyakinkan dalam semua perdebatan yang dijalaninya, semenjak awal konvensi demokrat yang berhadapan dengan Hillary Clinton yang buas, sampai ke babak akhir melawan McCain, sang pahlawan perang yang kerap kali menolak dikaitkan dengan GW Bush.</p>
<p>Mari berharap perubahan akan datang, perubahan yang lebih baik. Yang saat ini mungkin sedang diusung oleh Obama, terutama keinginannya untuk me’nyelesaikan Irak dengan elegan. Meski, Obama punya kebijakan membingungkan soal Afghanistan, tapi mudah2an saat berkuasa nanti nurani Obama, sama ketika melayani penduduk Ohio soal selokan mampet, bisa menjadi putih sesuai harapan kita semua.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/11/06/5-november-2008-apa-yang-akan-selalu-dikenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
