Lebih Membumi dengan IMAI

Posted: June 9th, 2009 | Author: marsoze hatta | Filed under: Lain-lain | No Comments »

LEBIH MEMBUMI DENGAN IMAI…

Sejak ditemukan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada seorang turis asing di Pulau Bali pada tahun 1987, virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) telah mewabah dengan cepat di negara tercinta ini. Terutama di kalangan resiko tinggi seperti Penasun(pengguna narkoba suntik) dan Penjaja Seks Komersial (PSK). Pada akhir tahun 2007 saja, tercatat 11.141 orang(kumulatif) yang terinfeksi penyakit ini. Hal ini sesuai dengan prediksi WHO(2005) dan teori “gunung es” , bahwa diestimasi terdapat 90.000 – 120.000 penduduk Indonesia yang terinfeksi oleh virus ini.

Guna menyiapkan tenaga kesehatan untuk penanggulangan HIV AIDS ini, Departemen Kesehatan bekerja sama denganKPAN(Komisi Penanggulangan AIDS Nasional) dan pelbagai organisasi internasional lainnya, telah meluncurkan paket pelatihan CST (Care Support & Treatment) bagi para dokter , perawat dan bidan. Sejak tahun 2000, pelatihan ini diperkirakan telah mendidik 4000 orang tenaga kesehatan untuk membantu upaya perawatan dan pengobatan di tingkat Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan setara lainnya.

Sayangnya, paket pelatihan CST ini terlalu bersifat klinis, membutuhkan faslitas penunjang yang banyak dan padat modal(untuk diagnosis, pengobatan dan follow up nya), sehingga membutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan sekunder . Fasilitas laboratorium (semisal untuk pemeriksaan CD4) dan radiologis mesti tersedia, termasuk SDM nya(dokter spesialis).

Hal inilah yang mendorong lebih lanjut Departemen Kesehatan, khususnya Subdirektorat AIDS & IMS untuk mengadaptasi model pelatihan IMAI(Integrated Management of Adult/Adolescence Illnesses) yang lebih sederhana, membumi, dan tidak kalah efektifnya dibandingkan dengan CST.

IMAI merupakan paket pelatihan praktis yang ditujukan terutama kepada penyedia layanan kesehatan di tingkat dasar, seperti Puskesmas dan klinik kecil lainnya. Mirip dengan MTBS(Manajemen Terpadu Balita Sakit)untuk penanganan anak di Puskesmas, modul IMAI dirancang agar mudah digunakan, aplikatif, banyak menggunakan media visual seperti bagan dan flipchart dalam bahasa sederhana, dan mengedepankan fungsi perawat sebagaimana lazimnya di Puskesmas-Puskesmas di tanah air.

Ia bisa diaplikasikan di dalam berbagai kondisi sebab menyediakan pilihan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi dan latar belakang pasien, misalnya pemberian kotrimoksasol sebagai profilaksis untuk ODHA yang tinggal di pedalaman Papua, dimana tak tersedia fasilitas pemeriksaan penunjang seperti CD4, tenaga kesehatan boleh memberikan kotrimoksasol tersebut dengan hanya berdasarkan penilaian klinis (stadium HIV) yang bila perlu dikonfirmasi dengan TLC(Total Limfosit Count). Hal ini amat efektif di daerah seperti Papua, mengingat fasilitas kesehatan yang amat minim di tempat tersebut.

Bagan dan flipchart yang digunakan dikemas dalam bentuk skema-skema yang tidak njelimet, dengan tindakan penanganan yang memanfaatkan sumber daya yang telah tersedia di puskesmas. Bila didapatkan kasus yang rumit, tenaga kesehatan tinggal merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih tinggi dengan menggunakan alur rujukan yang ada.

(Pelatihan IMAI di Puskesmas Singkawang Barat, Kota Singkawang , Kalimantan Barat, 21-26 Januari 2009)

Modul pelatihan ini mudah digunakan karena menggunakan bahasa sederhana dengan setting yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Malah dalam hal komunikasi, tenaga kesehatan di Puskesmas sangat dianjurkan untuk menggunakan bahasa dan dialek setempat.

Dalam hal komunikasi dengan pasien ini, IMAI mungkin merupakan satu-satunya pelatihan interaktif yang diselenggarakan oleh Depkes dengan menggunakan EPT(Expert Patient Trainer). EPT merupakan sekelompok orang terlatih yang diambil dari mantan kalangan yang beresiko tinggi(Penasun, PSK,dll) guna “mengasah” kemampuan komunikasi peserta pelatihan di dalam menghadapi pasien HIV di lapangan nantinya. EPT akan masuk ke dalam ruangan dan berperan seakan-akan merupakan seorang pasien yang akan dilayani di Puskesmas. Setelah proses interaksi dengan peserta pelatihan, ia akan memberikan umpan balik berupa saran dan masukan guna memperbaiki teknik komunikasi petugas yang bersangkutan. Hal ini juga berperan untuk mengurangi stigma dari petugas kesehatan terhadap ODHA, dan merupakan bekal yang amat berharga di dalam memberikan pelayanan nantinya.

Pendeknya, IMAI boleh dikatakan sebagai proses penyederhanaan program CST yang sangat pas untuk layanan HIV di layanan kesehatan dasar. Sesuai dengan program Universal Access yang dicanangkan WHO sejak 2006 silam, semoga upaya ini dapat membuka akses yang seluas-luasnya bagi saudara kita yang terinfeksi HIV. Ya, semoga..

(Dr. Muhammad Hatta, Master of Trainer WHO- Depkes untuk program CST & IMAI, Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan)

Incoming search terms for the article: