KISAH: Kontes Inspirasi dan Harapan 08

Posted: July 25th, 2008 | Author: maggie12540 | Filed under: Lomba Menulis | Tags: | 1 Comment »

LET’S CARE & SHARE

www.erlangga.co.id

KISAH (Kontes Inspirasi dan Harapan) adalah lomba menulis tahunan yang diselenggarakan oleh ESENSI, divisi dari Erlangga Group. Lomba tahun 2008 ini mengangkat kisah sejati dengan tema:  

·         Perjuangan Hidup Seorang PSK

·         Aku Seorang Homoseks

·         Aku Melawan Jeratan Narkoba

·         Aku dan Mengapa Aku Selingkuh

Melalui KISAH, ESENSI ingin menggugah hati semua orang untuk berbagi kisah yang memberi inspirasi dan semangat hidup bagi pembacanya.

Syarat dan Ketentuan

  1. Peserta adalah warga negara Indonesia, laki-laki maupun perempuan berusia minimal 18 tahun.  
  1. Tulisan bisa berisi kisah hidup pribadi, keluarga, atau orang lain yang memiliki nilai inspiratif  
  1. Cerita ditulis dalam format narasi, baik dalam sudut pandang orang pertama (aku) atau orang ketiga.  
  1. Kisah yang diceritakan adalah kisah nyata, bukan rekaan, terjemahan, saduran, atau jiplakan. 
  1. Karya yang dikirimkan harus orisinal, belum pernah dipublikasikan, baik di media elektronik maupun cetak, dan belum pernah diikutsertakan dalam sayembara lain.  
  1. Naskah diketik dengan komputer sepanjang 10  - 30 halaman A4, jenis huruf Times New Roman 11, dan spasi 1,5.  
  1. Naskah dikirimkan dalam bentuk print out dan file (dalam CD). Sertakan biodata singkat penulis dan narasumber  jika menceritakan tentang orang lain), alamat lengkap, nomor telepon,dan foto kopi KTP. Tuliskan KISAH di sebelah kiri atas amplop. Kirimkan naskah ke:

 

Panitia KISAH

Divisi ESENSI, Penerbit Erlangga

Jl. Haji Baping Raya No. 100

Ciracas, Pasar Rebo, Jakarta Timur, 13740

Atau via e-mail ke:

kisah@erlangga.net

 

  1.  Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 naskah.
  2. Naskah yang masuk sepenuhnya menjadi milik panitia.
  3. Naskah paling lambat diterima pada tanggal 31 Agustus 2008.
  4. Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak diadakan surat- menyurat.

 

Juri

Dewi Lestari (Penulis dan pemerhati masalah sosial)

Eunike Sri Tyas Suci, Ph.D. (Wakil dari Esensi)

 

Hadiah

  1. Pemenang 1 memperoleh uang sebesar Rp5.000.000,- + sertifikat dan paket menarik dari sponsor
  2. Pemenang 2 memperoleh uang sebesar Rp3.000.000,- + sertifikat dan paket menarik dari sponsor
  3. Pemenang 3 memperoleh uang sebesar Rp2.000.000,- + sertifikat dan paket menarik dari sponsor

 

10 karya terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh ESENSI (Erlangga Group)

Incoming search terms for the article:


To Love Yourself

Posted: July 25th, 2008 | Author: maggie12540 | Filed under: Lain-lain | No Comments »

Dear Readers,

Menurut saya batas antara rendah hati dan rendah diri sangatlah tipis. Orangtua kita mengajarkan bahwa manusia yang rendah hati lebih disayang Tuhan. Ok, that’s nice. Tapi apakah rendah hati artinya harus senantiasa merendah di setiap ada kesempatan? Saya sering gemas kala bertemu dengan orang-orang yang mungkin maksudnya mau ‘terlihat rendah hati’ tapi justru jadi terlihat tidak percaya diri, yang menjawab pujian dengan: ‘Saya biasa saja’ atau ‘Ah, jelek begini kok dipuji’…(walaupun dalam hatinya mungkin dia berkata lain).

Bukankah jawaban tersebut sebenarnya mengganjal di hati dan di kuping (menjurus menyebalkan)? Apakah jika menjawab dengan ucapan terima kasih memberi kesan kalau kita terlalu mencintai diri sendiri? Toh tidak ada pinalti untuk meng-iya-kan pujian dengan ucapan ‘Wow, terima kasih!’ Takut dibilang terlalu percaya diri? Kalau percaya diri, is that a bad thing anyway? Di mana batasnya?

Saya yakin setiap individu yang mencintai setiap pemberian Tuhan kepadanya dan berani dengan lantang mengakuinya pasti mempunyai spirit yang berwarna cerah dan berirama merdu.

Sungguhlah menyenangkan jika kita semua dapat berteriak tanpa takut dihakimi, “Yes, I love myself!”

From the heart,
Maggie H. Eddy


The New Comer

Posted: July 25th, 2008 | Author: maggie12540 | Filed under: Lain-lain | No Comments »

Dear reader,

Kita semua pasti pernah menjadi anggota baru dari komunitas tertentu, entah di pekerjaan baru, lingkungan rumah baru, pergaulan baru, dst. Ada yang mudah saja melenggang santai seraya menebar pesonanya. Namun lebih banyak yang melangkah perlahan dengan rasa cemas yang luar biasa.

Wajar saja, dari kecil kita sudah ’dibiasakan’ melewati masa perkenalan wajib yang biasanya dikomandoi oleh para senior. Si ‘new comer’ harus tahu kode etik yang tepat sebagai warga baru di kelompoknya. Kecuali, jika si new comer ternyata outstanding di beberapa hal: sangat cantik, sangat popular, sangat kaya, sangat berpengaruh, dst. Biasanya,  yang punya ‘blessing’ seperti ini memang jarang kesulitan diterima di kalangan manapun.

Dari mana asal mulainya mapras, posma, masa orientasi? Saya heran karena sewaktu saya masih berseragam merah putih sampai sekarang sudah berseragam kantor masih saja melihat proses oritentasi yang sungguh unik ini diterapkan di berbagai institusi. Di setiap Tahun Ajaran Baru para new comer kelas 1 SMP, 1 SMA, dan tingkat 1 Universitas harus siap dijadikan tontonan dengan kostum yang super ajaib dan harus pasrah menjalani ‘kurikulum orientasi’ yang didesain memang untuk tidak bersahabat dan membuat semuanya pasti gentar, termasuk yang menontonnya?

Apakah memang tidak ada cara baru yang lebih inovatif dan user-friendly? Apa memang benar bahwa dengan memberi tekanan maha berat kepada new comer akan menumbuhkan rasa kompak dan solidaritas yang tinggi? Masa sih? Atau justru sebenarnya ini dilakukan untuk menunjukkan teritori para senior dan area kekuasaanya? Kok rasanya jadi seperti sedang menyaksikan ‘Animal Planet’ di TV?

Yang pasti, pasti ada banyak cari lain yang sangat efektif untuk menggalang kesatuan dan kekompakkan, satu hal yang jelas sangat dibutuhkan bangsa ini, o so desperately.

I think it’s time to simply welcome all of the new comers with an open arms and hearts.

From the heart,

Maggie H. Eddy