Posted: September 30th, 2008 | Author: M. Isya | Filed under: Opini | Tags: blog, dari “curhat” sampai marketing. | No Comments »
Sudah berapa banyak dari masyarakat Indonesia yang menggunakan blog sekarang ini? Bisa dipastikan jumlahnya mencapai jutaan orang. Pada awal kemunculannya tahun 2003, sedikit sekali orang yang memperkirakan bahwa blog dapat booming di Indonesia, keberadaannya oleh sebagian orang hanya dianggap seperti buku harian pribadi yang dapat diakses oleh orang lain secara online. Sekarang ini muncul pertanyaan lain apakah blog itu sendiri memiliki peran lain yang lebih bermanfaat? Melihat majunya perkembangan internet tidak dapat dipungkiri bahwa peran blog semakin bertambah seiring dengan penggunannya untuk berbagai tujuan. Penggunanya sendiri tidak lagi sebatas tiap individu saja, bahkan ada perusahaan atau organisasi kecil yang memanfaatkan blog, baik untuk media marketing, public relation dan sebagainya.
Saya pribadi merasa terbantu dengan adanya blog. Terbantu untuk menuangkan setiap ide yang muncul dari pikiran saya terhadap berbagai hal yang saya lihat dari keadaan sekitar dan menyebarkannya ke ribuan orang, dan tentu saja apa yang menjadi pemikiran saya dapat dilihat oleh banyak orang, bahkan dapat memunculkan berbagai komentar baik positif maupun negatif yang membuatnya semakin menarik dan berkembang.
Pertanyaan yang terkadang muncul adalah, seperti apa dampaknya apabila blog digunakan oleh organisasi atau perusahaan? Sebagai bagian dari perkembangan teknologi intenet, blog sangat mudah untuk digunakan. Banyak orang yang bergerak dalam dunia marketing dan PR merasa sangat terbantu dengan keberadaan blog, karena salah satu manfaatnya adalah mereka dapat mengetahui pendapat orang lain tentang produk dan perusahaan mereka.
David Meerman Scott dalam bukunya yang berjudul “The New Rules of Marketing
& PR” menjelaskan, bahwa sangat disarankan setiap perusahaan ataupun mereka yang bergerak dalam bidang entrepreneur untuk membuat blog dibandingkan dengan membuat sebuah web site, karena blog sangat mudah dibuat bahkan untuk mereka yang memiliki kemampuan terbatas sekalipun, bahkan sekarang ini sudah terdapat ribuan perusahaan, konsultan dan juga para professional yang sudah memiliki blog, tetapi tidak memiliki web site.
Akan tetapi karena sifatnya yang sangat terbuka dan dapat diakses oleh banyak orang, maka sebaiknya jangan terlalu terkejut apabila mendapat banyak komentar baik positif maupun negatif tentang isi informasi yang kita berikan melalui blog, Justru hal inilah yang sekarang diperlukan oleh banyak perusahaan ataupun organisasi, masyarakat sebagai konsumen tidak lagi berada di bawah perusahaan yang berperan sebagai produsen, antara produsen dengan konsumen tidak lagi bersifat vertical tapi sudah berubah menjadi horizontal, konsumen sudah memiliki akses yang bebas untuk mendapat banyak informasi, mereka dapat menentukan mana yang menjadi pilihan terbaik. Perusahaan maupun organisasi perlu mendengarkan apa yang di inginkan oleh konsumen, bila perlu terjun langsung berbaur dengan konsumen, bagaimana caranya? Ya salah satunya dengan menggunakan blog.
Ditambah lagi sekarang ini dapat dikatakan tingkat kepercayaan konsumen sedang rendah terhadap produsen. Konsumen lebih banyak percaya dengan rekomendasi daripada informasi yang diberikan oleh produsen. Nah, blog memungkinkan informasi tersebut diberikan dari mulut ke mulut atau dalam marketing dikenal dengan istilah word of mouth. Hal ini memudahkan kita untuk mengetahui apa yang mereka katakan tentang perusahaan, organisasi, maupun produk kita. Dan kita pun dapat ikut berpartisipasi di dalamnya. Menurut saya inilah salah satu cara terbaik untuk dekat dengan konsumen sekaligus menjaga reputasi perusahaan.
Saya coba ambil sebuah kasus dari salah satu perusahaan makanan ternama yaitu McDonald’s. Sebagai perusahaan makanan cepat saji yang sangat sukses, McDonald’s juga dikecam sebagai salah satu penyebab tingginya angka obesitas di Amerika Serikat, pencemaran lingkungan, dan berbagai masalah sosial lainnya. Menghadapi hal ini, McDonald’s memutuskan untuk terjun langsung ke masyrakat menggunakan media blog dengan meluncurkan diskusi terbuka.
Pembuatan blog tersebut di fokuskan membahas hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dengan mengambil tema perlindungan alam untuk masa kini dan masa yang akan datang, serta mengambil tema desain pengemasan makanan yang ramah lingkungan. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada setiap orang mengenai program dan proyek yang dijalankan McDonald’s, sebagai wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan yang ikut melibatkan masyarakat.
Dari kasus tersebut dapat diartikan bahwa McDonald’s sangat menyadari internet dengan segala informasi nya mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap perusahaan global seperti McDonald’s. Sehingga jika McDonald’s ingin mempertahankan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat, mereka harus ikut berpartisipasi dengan menggunakan blog, dimana di dalamnya terdapat komunitas yang terdiri dari sekumpulan orang yang saling berbagi informasi.
Sebagai kesimpulan, menghadapai era baru dimana konsumen terkoneksi satu sama lain, dan saling terhubung dengan kemajuan teknologi internet, yang menyebabkan mereka semakin kritis, sudah sewajarnya kita merubah pola vertikal yang selama ini dijalankan perusahaan, menjadi horizontal dan saling berbaur dengan konsumen. Tidak heran Tuhan menciptakan dua mata dan dua telinga, dimana salah satu tujuannya agar kita lebih peka terhadap konsumen, kita juga patut bersyukur dengan kemajuan teknologi internet seperti blog, yang memberikan warna baru dalam dunia marketing dan PR.
Incoming search terms for the article:
Posted: September 25th, 2008 | Author: M. Isya | Filed under: Opini | Tags: budaya, idul fitri, lebaran, masyarakat, mudik, ramadhan | No Comments »
Sudahkah kita melihat berita-berita yang ditayangkan oleh media baik cetak ataupun elektronik beberapa hari ini? Peristiwa apakah yang menjadi sorotan utama untuk diberitakan kepada publik selain berita tentang korupsi, kasus kriminal ataupun berita politik? Bila mengingat apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan, kita pasti menyadari bahwa Idul Fitri atau lebaran dan persiapan menjelang ke sana menjadi berita yang menarik untuk diburu oleh para wartawan, kemudian diolah dan disajikan kepada masyrakat. Mengapa Hari Raya Idul Fitri menjadi hal yang sangat istimewa, sehingga mengakibatkan banyak orang mau melakukan suatu ritual tahunan yang sering kita kenal dengan istilah lebaran.
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat dan menyadari berapa hari yang telah kita gunakan untuk beraktifitas baik itu bekerja, kuliah, atau aktifitas lainnya. itu merupakan hal yang lumrah, ada orang yang bekerja untuk mendapat penghasilan demi menyambung hidup, ada pelajar dengan kesibukan belajar di sekolah atau perguruan tinggi demi mendapat ilmu pengetahuan, dan banyak pula orang dengan segala aktifitas dan segala kesibukan untuk mencapai tujuan yang beragam. Tapi tiap manusia juga memiliki suatu aktifitas yang ditujukan tidak hanya untuk kepentingan pribadinya namun juga dapat dirasakan kebahagiannya oleh orang-orang disekitarnya yang mereka cintai, tidak lain adalah keluarga.
Banyak cara yang mereka lakukan untuk memperoleh hal tersebut, tidak jarang diperlukan banyak pengorbanan baik tenaga, waktu, bahkan materi dalam jumlah yang tidak sedikit, namun hal itu tidak menyurutkan sedikit pun niat untuk berkumpul bersama sanak saudara, apalagi untuk mereka yang selama ini sudah terpisah jauh. Momen seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu.
Lucu, aneh, heran, sedih, bahagia atau masih banyak perasaan yang lain bila kita melihat berita yang menayangkan tentang mudik dan peringatan Hari Raya Idul Fitri. Lucu karena ada saja hal-hal menarik yang pasti terjadi pada peristiwa mudik dan menjelang lebaran, salah satu contoh adalah betapa lucunya ketika setiap orang punya aktifitas yang sama, pasar ramai dengan mereka yang berbelanja menjelang perayaan Idul Fitri, pusat perbelanjaan pakaian ramai dengan mereka yang juga sibuk berbelanja, demi membuat hari raya menjadi lebih indah dengan penampilan baru. Terkadang juga merasa aneh, kenapa? Bukankah bangsa ini sedang mengalami inflasi? Bukankah negara ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi? Lalu mengapa hal tersebut tidak mengurangi animo masyarakat utnuk membuat hari raya nanti menjadi lebih meriah dengan suguhan makanan khas lebaran, yang mungkin hanya dapat dijumpai setahun sekali, ditambah kebahagian anak-anak kecil dengan pakaian barunya yang dibelikan oleh kedua orang tuanya, tanpa perlu mengetahui bahwa mungkin untuk membeli pakaian tersebut orang tuanya harus rela berhutang ke orang lain?
Segala pertanyaan tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk memunculkan kesan negatif terhadap mereka termasuk saya yang merayakan Hari raya Idul Fitri. Coba kita lihat dari sisi lain yang berbeda bahwa nyatanya masyarakat Indonesia dengan segala keragaman budayanya, ternyata masih dapat disatukan dalam satu kebudayaan yang sama yaitu lebaran. Mengapa dikatakan budaya? Pengertian budaya sendiri beragam, ada yang mengatakan budaya adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Perayaan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang selama ini ada di masyrakat kita adalah hasil budaya, karena muncul dari pemikiran yang dipadukan dengan kepercayaan serta moral dan adat istiadat, yang kemudian dijalankan dan diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya.
Namun demikian tidak sepantasnya kita memberi penilaian negatif tentang budaya lebaran yang ada di masyarakat Indonesia, karena dibalik hiruk pikuknya melakukan persiapan menyambut lebaran, masyrakat seolah diberi motivasi tidak langsung untuk melupakan segala kesulitan yang ada. Tanpa bermaksud untuk mengajarkan agar masyarakat menjadi egois, tapi kenyatannya masyarakat Indonesia memang perlu untuk sedikit melupakan kejadian yang membuat sulit hidup mereka. Harga gas yang melambung tinggi, isu tercemarnya produk makanan, partai dan tokoh politik yang saling berebut melakukan kampanye, kasus korupsi yang melibatkan anggota dewan di DPR, dan kasus kriminal lain yang belum terpecahkan bahkan terus bertambah.
Biarlah masyarakat Indonesia merasakan sedikit kebahagian dengan adanya budaya lebaran, budaya yang mengajarkan kita untuk saling memaafkan kesalahan orang lain dan juga meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan, budaya yang mengajarkan agar kita kembali bersih di hari yang suci, budaya yang mengajarkan kita betapa indahnya silaturahmi, budaya yang mengajarkan kita agar menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta, budaya yang mengingatkan kita, untuk tetap hidup dan berjuang agar dapat merayakan budaya ini pada tahun berikutnya, budaya yang meleburkan si kaya dan si miskin, tua dan muda dan sebagainya dalam satu perayaan megah yang memberi kebahagian. Semoga budaya ini tetap terjaga dan tidak dirampas oleh pihak asing layaknya hasil kebudayaan kita yang lain.
Posted: September 16th, 2008 | Author: M. Isya | Filed under: Opini | Tags: Add new tag, pemasaran, ramadhan | No Comments »
Ramadhan yang sudah memasuki minggu ke dua merupakan kesempatan untuk umat muslim berbondong-bondong beribadah, mendapatkan pahala, mendapatkan ridho atas segala amal ibadah yang dilakukannya. Tapi bukan hal itu yang akan saya jelaskan kali ini. Karena datangnya Bulan Ramdhan bukan hanya milik umat muslim, tapi juga merupakan kesempatan emas untuk mereka yang bergerak di bidang marketing atau para marketers. Sudah merupakan hal yang lumrah bahwa mereka yang bergerak di bidang marketing selalu mencari peluang kemudian menggunakannya untuk menghasilkan penjualan selanjutnya memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Lalu, adakah fenomena dari dunia marketing pada saat Bulan Ramadhan seperti saat ini? Jelas ada, dalam istilah marketing ada istilah yang disebut dengan seasonal marketing. Pernah saya membaca sebuah buku yang berjudul Marketing Communications Orchestra, karya Hifni Alifahmi, di dalamnya menjelaskan bahwa ada empat momentum atau peristiwa di Indonesia yang dapat dijadikan ajang berpromosi, pemasaran atau pun kehumasan, yaitu momentum individual, institusional, kultural dan juga spiritual.
Momentum yang terjadi di Indonesia sekarang dan sudah pasti kita alami pada satu bulan ini adalah momentum spiritual. Tidak mengherankan bila bentuk komunikasi pemasaran tiap produk disesuaikan dengan momentum tersebut. Sebagai contoh dari dunia telekomunikasi, banyak provider menggunakan bentuk komunikasi pemasaran dengan menawarkam program yang dirasa membantu konsumennya dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan, baik penawaran produk telepon selular baru, layanan untuk saling berbagi atau ber infak, layanan utnuk mudik dan masih banyak lagi. Itu baru dari industri telekomunikasi, bagaimana dengan industri yang lainnya? Tidak perlu untuk dijelaskan pun kita pasti dapat melihatnya setiap hari baik di televisi, koran, majalah dan lain sebagainya.
Pertanyaan lain yang kemudian muncul adalah, berhasilkah cara tersebut untuk memancing konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkan? Tujuan dari komunikasi pemasaran sendiri pada dasarnya ada yang bertujuan untuk menempatkan pesannya dalam benak konsumen (kognitif), ada yang bertujuan untuk mengubah perilaku konsumen (afektif) dan ada pula yang mendorong konsumen untuk berbuat sesuatu (dalam hal ini berarti mendorong untuk melakukan pembelian). Karena di sini kita berbicara mengenai Marketing Communication (Komunikasi Pemasaran), bila dilihat dari teori yang ada, maka terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyampaikan pesan ketika melakukan komunikasi pemasaran, diantaranya :
- Mengidentifikasi konsumen, sehingga dapat mengetahui unsur komunikasi apa yang tepat untuk digunakan, apakah yang bersifat rasional atau emosional. Dari sebagian pengamatan yang saya laihat baik di media cetak ataupun elektronik, sepertinya unsur emosional lebih mendominasi dan lebih “berasa” pada bentuk komunikasi pemasaran khususnya di Bulan Ramadhan.
- Menentukan tujuan komunikasinya, apakah sifatnya hanya menginformasikan adanya suatu produk baru atau layanan baru yang diberikan, ataukah sifatnya membujuk agar konsumen mau mengalihkan pilihannya pada merek tertentu, atau bisa juga hanya sekedar mengingatkan konsumen bahwa merek tertentu sangat tepat untuk Bulan Ramadhan.
- Merancang pesan, hal ini terkait dengan attention, interest, desire, action (AIDA), walaupun 4 hal tersebut tidak langsung menimbulkan pembelian, tapi setidaknya memunculkan awareness dari konsumen.
- Menentukan saluran komunikasi pemasaran. Pada momentum Ramadhan, saluran komunikasi non personal seperti iklan di media cetak, media elektronik ataupun media display sepertinya masih menjadi pilihan utama.
Beberapa poin tersebut nantinya juga harus diiukuti, dengan pengamatan dan pengukuran tingkat keberhasilan komunikasi pemasaran yang dilakukan. Sangat menarik bila kita melihat dan mengamati komunikasi pemasaran yang selalu berubah-ubah mengikuti momentum yang terjadi di Indonesia. cara penyajian iklan, produk yang ditawarkan, bahkan endorser yang bertugas untuk membuat iklan tersebut lebih menjual pun turut di perhatikan. Jangan salah!! penentuan figur atau tokoh iklan juga merupakan bagian penting dalam komunikasi pemasaran. Pernakah Anda mengamati di Bulan Ramadhan ini beberapa artis yang begitu laris manis untuk membintangi suatu merek tertentu? Jawabannya pasti “iya”, saya ambil contoh artis Dedi Mizwar, berapa banyak iklan merek tertentu di Bulan Ramadhan ini yang dibintangi oleh artis senior satu ini, bisa dibilang lebih dari dua iklan yang dibintangi oleh Dedi Mizwar. Pasti ada beberapa pertimbangan mengapa memilih Dedi Mizwar sebagai endorser, mungkin beliau sarat dengan nilai religius, kebijaksanaan, dewasa, berwibawa dan mungkin banyak lagi. Seperti yang saya bilang sebelumnya bentuk komunikasi pemasaran pada momentum spirutual seperti Bulan Ramadhan sarat dengan unsur emosional, sehingga pemilihan figur yang akan membintangi iklan menjadi salah satu perhatian khusus.
Namun demikian maraknya bentuk komunikasi pemasaran di Bulan Ramadhan ini tetap harus memberikan satu hal, yaitu penjelasan mengenai benefit yang akan diperoleh konsumen, sehingga apapun bentuk dan cara komunikasi pemasaran yang dilakukan tidak untuk menjebak konsumen melalui indahnya iklan yang ditampilkan produsen. Semoga opini sederhana ini dapat berguna, minimal sedikit memancing kita untuk lebih kritis melihat bentuk komunikasi pemasaran yang serba unik dan terus berubah dan berkembang.
Incoming search terms for the article: