Perkembangan Mini Market Waralaba

Posted: July 5th, 2008 | Author: hadihartono | Filed under: Publikasi | 4 Comments »

Indofood Group merupakan perusahaan pertama yang menjadi pionir lahirnya mini market di Indonesia pada tahun 1988. Kemudian Hero Supermarket mendirikan Starmart pada tahun 1991. Di susul Alfa Group mendirikan Alfa Minimart pada tahun 1999 yang kemudian berubah menjadi Alfamart. Dalam hitungan tahun, mini market telah menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Dulu konsumen hanya mengejar harga murah, sekarang tidak hanya itu saja tetapi kenyamanan berbelanja pun menjadi daya tarik tersendiri.Bisnis mini market melalui jejaring waralaba alias franchise berkembang biak sampai pelosok kota kecamatan kecil. Tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Khususnya mini market dengan brand Indomaret dan Alfamart. Siapa yang tidak kenal Indomaret? Dan siapa yang tidak kenal Alfamart? Anak kecil pun kalau beli permen pasti “nunjuknya” minta ke Indomaret atau ke Alfamart. Kedua merk ini dimiliki oleh group perusahaan raksasa yaitu Indomaret milik PT. Indomarco Prismatama (Indofood Group) dan Alfamart milik perusahaan patungan antara Alfa Group dan PT. HM Sampoerna, Tbk.

Indomaret ternyata berkembang tidak hanya dengan jejaring waralaba yang mencapai 785 gerai, tetapi gerai milik sendiri seabreg jumlahnya mencapai 1072 gerai(lihat grafik perkembangan toko yang diambil dari www.indomaret.co.id ). Sedangkan Alfamart berdasarkan penelusuran penulis di www.alfamartku.com memiliki 1400 gerai, tidak diperoleh data mengenai jumlah yang dimiliki sendiri dan yang dimiliki terwaralaba.

Bila kita hitung rata-rata nilai investasi minimal untuk mendirikan mini market waralaba sekitar Rp. 300 juta saja (diluar bangunan). Dikalikan dengan 1.072 gerai yang dimiliki sendiri. Berapa ratus milyar PT. Indomarco Prismatama mengeluarkan dana untuk investasi di bisnis mini market? Indofood Group juga ternyata tidak saja pemilik merk Indomaret, tetapi juga mendirikan mini market Omi, Ceriamart, dan Citimart lewat anak perusahaannya yang lain. Belum lagi didukung dengan distribusi barang, bahkan juga sebagai produsen beberapa merk kebutuhan pokok sehari-hari. Semua dikuasai dari hulu sampai hilir. Dari sabang sampai merauke.

Persaingan Tidak Seimbang
Pasti kita maklum bersama, betapa sengitnya persaingan di bisnis ritel khususnya Indomaret dan Alfamart sebagai market leader mini market. Dengan mengutip kalimat dalam artikel Sektor Ritel Makin Menggiurkan pada Swa Sembada No.01/XX/6-8 Januari 2005 (sumber.www.indomaret.co.id ) bahwa”Yang mungkin sangat sengit persaingannya adalah dalam hal perebutan lokasi. Pastinya setiap pemain memperebutkan lokasi-lokasi yang dinilai strategis. Apalagi di bisnis ini lokasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Perebutan lokasi strategis ini, bisa juga berpengaruh terhadap harga property. Bisa saja harga ruko jadi naik karena tingginya demand terhadap mini market.”

Jadi betapa agresifnya indomaret dan alfamart dalam memperebutkan lokasi yang dinilai strategis. Bahkan hampir di setiap komplek perumahan/pemukiman pasti akan berdiri salah satu mini market waralaba tersebut dan atau keduanya. Sudah tidak mungkin pedagang eceran tradisional akan mampu mencari lokasi strategis lagi untuk saat ini dan di masa mendatang. Jika kita bandingkan dari modal saja, pedagang eceran sudah sulit bergerak.

Selain itu supermarket, toserba, dan bahkan kini ada pasar raksasa bernama hypermarket bermunculan. Baik hypermarket lokal maupun hypermarket dari luar sana. Sekedar ilustrasi mari kita berhitung sejenak, berapa banyak jumlah pasar raksasa tersebut mulai dari jalan Thamrin, Cikokol sampai BSD City di serpong, Tangerang. Di Kota Modern (Modernland) ada Hypermart , lalu hanya sekitar berjarak 1 km berdiri megah Carefour. Berikutnya di Serpong Town Square, kebon nanas berdiri Giant Hypermarket. Kemudian di World Trade Centre (WTC) Matahari, Serpong berdiri kembali Hypermart. Di samping pintu gerbang perumahan Villa Melati Mas, ada lagi Giant Hypermarket. Dan di International Trade Centre (ITC) BSD City ada Carefour. Semua itu jaraknya antara pasar raksasa yang satu dengan pasar raksasa yang lain hanya sekitar 1 km. Luarrr biasa.!

Apalagi jika kita melihat perang harga promosi mini market atau legih gila lagi hypermarket raksasa. Dengan spanduk atau baliho besar bertuliskan nama barang dan harganya yang fantastis rendah. ! Entah banting harga atau memang harga beli mereka yang teramat rendah bila di bandingkan dengan harga beli pedagang eceran kecil bergerai warung atau toko tradisional. Memang tidak semua barang berharga murah, tetapi membanting harga sedemikian rendahnya di bawah harga pasar, membuat miris para pedagang eceran kecil. Masih untung Cuma perang harga!

Dengan tidak bermaksud menggugat cara-cara promosi yang dilakukan oleh para pengelola pasar raksasa tersebut. Penulis hanya ingin mengajak kepada para pengelola pasar raksasa untuk membayangkan sejenak. Bagaimana perasaan pedagang warung dan toko tradisional, ketika ada konsumen bilang “di hypermarket aja harganya sekian???”. Kita tidak menyalahkan konsumen yang punya pemikiran demikian, membandingkan harga di hypermarket dengan di warung atau toko tradisionl. Juga tidak bisa menyalahkan hypermarket dengan promosi harga yang gila-gilaan. Mungkin ini salah satu fenomena globalisasi.

Posisi Pasar Pengecer Tradisional

Melihat dari sisi manapun, posisi pedagang tradisional semakin terjepit. Menjerit. Dan merintih tergilas persaingan bisnis yang tidak seimbang. Bisakah kita membayangkan? Posisi pedagang tradisional yang modalnya hanya semangat berwirausaha dengan sedikit uang puluhan juta. Bersaing dengan mini market waralaba yang modalnya ratusan juta plus jaringan distribusi barang yang sangat baik, didukung system operasional prosedur dan kecanggihan tekhnologi. Ternyata cukup ampuh untuk mematahkan tulang punggung keluarga pedagang eceran tradisonal.

Sekedar urun rembug, perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja tidak mungkin berubah. Konsumen lebih memilih gerai modern untuk berbelanja. Selain konsumen mendapatkan kenyamanan berbelanja, pelayanan yang prima, juga harga barang terkesan murah. Oleh karena itu maka jalan keluar bagi pedagang eceran tradisional adalah merubah gerai menjadi gerai modern mini market mandiri (sendiri), yang bisa dibangun dengan modal di bawah Rp.100 juta. Kemudian berkolaborasi antar mini market mandiri dalam pengadaan barang dagangan. Selanjutnya bla…bla…atur strategi bersaing untuk menghadapi persaingan bisnis ritel agar berkeseimbangan.

Sekali lagi, tidak bermaksud menggugat pola pengembangan usaha dengan jejaring waralaba. Analisa penulis, waralaba sangat baik untuk proses pembelajaran, pemerataan usaha, dan meminimalisir monopoli. Tetapi apa yang terjadi, ternyata gerai mini market lebih banyak dimiliki perusahaan sendiri. Seharusnya perusahaan yang sudah dikembangkan dengan system waralaba tidak perlu lagi mengembangkan sayapnya dengan memiliki gerai sendiri. Tetapi kemudian peraturan perundang-undangannya tidak ada yang melarang untuk hal itu. Semua perusahaan bebas menggurita walaupun pedagang eceran tradisional mati berdiri. Hidup enggan mati tak mau. Mati tak mau tapi sulit bertahan hidup.

(artikel ini diposting juga di: http://www.hadihartono.tk  )

Incoming search terms for the article:


How To Manage The Conflict

Posted: July 5th, 2008 | Author: hadihartono | Filed under: Lain-lain | No Comments »

Jangan pernah katakan apa yang kamu pikirkan!
Tapi lakukan apa yang sudah kamu rencanakan…!!!!!!!

PENGERTIAN
Konflik adalah suatu kondisi terjadinya perbedaan pendapat, kepentingan, keinginan. kebutuhan, dan sejenisnya antara dua orang/kelompok atau lebih. Konflik berarti adanya perbedaan pilihan yang satu sama lain saling berseteru. Bisa dikatakan bahwa perbedaan menjadi penyebab konflik. Sehingga konflik menjadi kenyataan hidup yang pasti akan dan pernah di alami oleh setiap individu.

Di mana pun aktivitas kita, selalu dihadapkan pada beberapa pilihan yang berbeda. Perbedaan itu bisa disebabkan karena adanya perubahan dalam dinamika kehidupan. Perubahan akan menimbulkan ketidak pastian, keresahan, dan bahkan ketakutan. Perubahan merupakan tanah subur bagi tumbuhnya konflik. Konflik tidak berarti sebuah kondisi yang buruk, konflik bila dihadapi dengan bijaksana akan memberi manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Konflik semakin sering terjadi seirama dengan meningkatnya aktivitas kehidupan umat manusia. Baik dalam rumah tangga, lingkungan masyarakat, organisasi, dunia kerja, dunia usaha, terlebih dalam dunia politik.
Konflik ibarat hantu jeruk purut, tidak terlihat tapi kenyataannya ada. He..he..!

JENIS KONFLIK
Ada beberapa jenis konflik yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari di antaranya;

Konflik Diri
Gangguan emosi yang terjadi dalam diri seseorang karena adanya tuntutan, keinginan, kebutuhan, harapan, pengalaman, dan seterusnya.

Konflik Antar Individu

Muncul karena setiap individu mempunyai kebutuhan dasar psikologis antara lain; harga diri, kekuasaan, dan konsistensi.

Konflik Antar Kelompok

Konflik yang paling rumit karena melibatkan banyak orang walau pun berawal dari konflik antar individu yang berbeda kelompok.

GAYA MANAJEMEN KONFLIK
Umumnya pendekatan dalam manajemen konflik terbagi dalam 5 gaya antara lain; kolaborasi, dominasi, mengikuti, menghindari, dan kompromi. Kelima gaya manajemen tersebut belum tentu efektif dalam setiap situasi konflik.

1. Kolaborasi
Gaya menangani konflik dengan win win solution (sama-sama menang). Gaya ini memotivasi kita untuk lebih kreatif. Kelebihan gaya ini kita didorong untuk mempertimbangkan berbagai alternatif. Semua pihak terkait untuk memberikan informasi dan perspektif.

2. Mengikuti
Gaya ini memandang orang lain lebih tinggi dan menilai rendah pada diri sendiri. Bila digunakan efektif, maka gaya ini dapat memelihara hubungan baik dengan pihak lain. Tapi gaya ini memungkinkan pihak lain menganggap enteng bahwa kita bersikap “Saya ikuti apa pun yang anda inginkan”.

3. Dominasi
Gaya ini kebalikan dari gaya mengikuti. Gaya dominasi lebih menonjolkan kemauan dan kepentingan diri sendiri. Gaya ini hanya efektif digunakan bila kita mempunyai hak dan kekuasaan yang dibarengi tingkat leadership yang tinggi. Jika tidak, maka reaksi yang timbul akan berakibat fatal. Gaya ini tercermin dalam sikap otoriter atau dalam istilah “Lebih baik menembak, dari pada harus tertembak”.

4. Menghindar
Gaya ini bisa menjengkelkan pihak lain karena harus menunggu lama untuk mendapatkan kepastian. Menghindar berarti mengulur-ulur waktu. Gaya ini harus digunakan dengan bijaksana jika kita belum siap untuk memberi kepastian. Gaya ini hanya bisa dilakukan untuk sementara waktu. Sambil mencari jalan keluar yang baik untuk memberi kepastian dalam penyelesaian konflik. Karena konflik umumnya tidak lenyap karena waktu.

5. Kompromi
Gaya ini berorientasi pada jalan tengah. Keahlian bernegosiasi sangat dibutuhkan dalam menggunakan gaya kompromi. Gaya ini efektif bila pihak yang terlibat memiliki hak dan kekuasaan serta memiliki plus minus yang sama.

MENJADI MEDIATOR KONFLIK
Bila konflik tak kunjung selesai, biasanya menggunakan pihak ketiga sebagai juru runding atau juga bisa disebut mediator. Menjadi mediator konflik, bukanlah pekerjaan yang gampang. Bisa saja, bila keputusannya tidak mampu memuaskan pihak-pihak yang bertikai akan menjadi sasaran tembak.

5 Langkah yang perlu diperhatikan bagi mediator konflik adalah ;
Susun aturan main
Kumpulkan data
Rumuskan kembali permasalahan
Tawarkan alternatif keputusan/pemecahan masalah
Cari kesepakatan dan sebarluaskan hasilnya

REKOMENDASI
Untuk dapat menangani konflik secara efektif, maka perlu menguasai beberapa hal berikut ini;
Memahami faktor penting yang mendorong pihak lain mau melakukan kerjasama.
Menyelaraskan tanggung jawab dengan kepentingan pihak lain.
Melatih diri untuk persiapan dalam berinteraksi dengan pihak lain..
Meningkatkan ketrampilan bermusyawarah dalam menghadapi setiap tantangan

4 keahlian tersebut dapat ditentukan oleh faktor berikut ini;
Inisiatif untuk terus belajar meningkatkan keterampilan diri
Fleksibilitas gaya
Kemampuan mendengarkan pendapat pihak lain dan memberikan umpan balik
Sikap positif dalam menghadapi perubahan

Kita mungkin tidak dapat mengatasi semua konflik. Tetapi satu hal yang mesti kita kendalikan yakni pendekatan dan sikap dalam menghadapi suatu keadaan. Carilah persamaannya dan buatlah kesepakatan sebagai langkah awal sukses menangani konflik. Terima kasih.

artikel ini diposting juga di ; http://www.hadihartono.tk


Resensi Buku: Cara Gila Jadi Pengusaha

Posted: July 2nd, 2008 | Author: hadihartono | Filed under: Resensi Buku | Tags: , | 7 Comments »

Buku Cara Gila Jadi Pengusaha yang ditulis Purdi E. Chandra, seorang pengusaha sukses di bidang pendidikan luar sekolah – sangat menarik untuk dibaca. Mampu menularkan virus kewirausahaan sesuai dengan sub judulnya Virus Entrepreneur Jadi Pengusaha Sukses. Cover depan buku ini sangat menarik sehingga peresensi tergugah untuk membeli dan membaca. Ternyata pembahasannya nyaris sama dengan buku Purdi yang berjudul Menjadi Entrepreneur Sukses (Grasindo, Jakarta, cetakan ke-enam, April 2005). Hanya beberapa sub bagian saja yang mengalami perubahan. Plus mendapatkan bonus DVD seminar Cara Gila Jadi Pengusaha.

Selain itu, yang mengalami perubahan adalah foto Purdi pada desain cover depan. Purdi. Pada buku terdahulu, Purdi mengenakan setelan jas lengkap dengan dasi.. Struktur buku terdiri dari 80 sub bagian yang dikelompokan menjadi 7 bagian. Pada cover buku yang sekarang, foto Purdi nampak lebih muda mengenakan kemeja batik lengan pendek bermotif bunga-bunga kecil yang peresensi tidak tahu nama bunganya. Struktur buku terdiri dari 76 sub bagian yang dikelompokan menjadi 8 bagian.

Sebagai bahan perbandingan, pada buku terdahulu bagian-bagianya yaitu ;

  1. Berani Modal Awal Entrepreneur
  2. Menjadi Entrepreneur Bagaimana?
  3. Pentingnya Kecerdasan Emosi
  4. Gaya Kepemimpinan Entrepreneur
  5. Intuisi Itu Perlu
  6. Mempelajari Pengalaman Entrepreneur Lain
  7. Entrepreneur University

Sedangkan pada buku yang sekarang bagiannya terdiri dari;

  1. Modal Jadi Entrepreneur Itu Cuma Berani dan Mimpi
  2. Ini Caranya Jadi Entrepreneur!
  3. Kecerdasan Emosional Penting Penting bagi Entrepreneur
  4. Gaya Memimpin Seorang Entrepreneur
  5. Jalur Cepat Jadi Entrepreneur Sukses
  6. Hati Nurani dan Intuisi sang Entrepreneur
  7. Apa yang Kita Pelajari dari Mereka?
  8. Entrepreneur adalah Soko Guru Perekonomian

Niat Purdi menerbitkan buku Cara Gila Jadi Pengusaha ini sangat mulya dan patut diacungkan dua jempol. Seperti yang ditulis dalam kata pengantar yang diberi judul Entrepreneur; Virus Maut, Cepat Menular, Bikin Pengidapnya “Gila”. Waspadalah!, sebuah kata pengantar yang sangat kontraversial tapi bernilai jual. Penulisnya memang piawai dalam membaca tren perbukuan, dan potensi pasar pembaca yang cenderung memilih buku dengan judul kontraversial.

Menurut Purdi, selain keberanian seorang entrepreneur modalnya adalah mimpi. Hal itu tertuang pada bagian satu yang berjudul Modal entrepreneur itu cuma berani dan mimpi! Keberanian seorang entrepreneur memang melekat pada diri penulis buku ini. Berani menjual produk lama dengan tampilan kemasan baru yang didesain sedemikian rupa sehingga memiliki daya pikat yang dahsyat. Menghilangkan enam sub bagian berikut; Jadi Pengusaha Tanpa Gelar, Tanpa Ujian Tanpa Nilai, Diwisuda setelah Jadi Pengusaha, Praktek Mancing Praktik Bisnis, Dari Pengusaha Sampai Raja Tempe, dan sub bagian Bisnis Belum Dianggap Bekerja.

Plus hanya menambah dua komponen pembahasan baru diantaranya pada; sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi Barokah, dan sub bagian 76 – Yuk Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama-Berkali-kali. Peresensi punya keyakinan “virus” ini-demikian Purdi memberikan istilah pada ilmu entrepreneurnya, akan menjadi buku best seller.

Kaum perempuan boleh berbangga hati bila membaca halaman 61 yang membahas, entrepreneur wanita memiliki banyak kelebihan karena ‘kewanitaannya’. Lebih luwes dan fleksibel, dan intuisi bisnisnya lebih peka. Penulis buku ini menyebutkan contoh wanita entrepreneur sukses seperti; Dr. Martha Tilaar, Moeryati Soedibyo, Poppy Dharsono, Dewi Motik, dan Nyonya Suharti. Apalagi dipertegas dengan pendapat Candida G. Brush, seorang professor assistant dari Management Police of Boston University,”entrepreneur wanita lebih kooperatif, informal, dan lebih mudah membangun kesepakatan dengan pihak lain. Sebaliknya entrepreneur laki-laki cenderung lebih kompetitif, lebih terkesan formal, dan lebih suka terkesan sistematik”.

Sebagai seorang entrepreneur, pertimbangan intuisi dalam mengambil keputusan juga sangat penting. Purdi mencontohkan saat akan membuka cabang perusahaannya di Solo, mobil yang mengangkut perlengkapan menabrak pohon. Beberapa rekan menyarankan untuk menunda pembukaan cabang di Solo dengan pertimbangan belum mulai usaha sudah mendapatkan musibah. Tetapi Purdi memiliki pertimbangan lain untuk melanjutkan, merubah mind set tahayaul yang sudah mendarah daging menjadikannya hikmah. Mungkin peristiwa ini sebagai tebusan yang mahal untuk kemajuan perusahaan. Terbukti kemudian, cabang Solo memiliki 10 outlet dengan siswa bimbingan belajar paling banyak. Lihat sub bagian 64- Dengan Otak Kanan Mengubah Musibah Jadi barokah (halaman 188-190).

Pada bagian lain di halaman 177, dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu Purdi menyarankan untuk melakukan Jamming. Seperti kutipan pendapat Tom Peter, “perubahan yang serba cepat dan cenderung kacau itu pertanda zaman edan.” Jadi sangatlah wajar manakala buku ini diberi judul Cara Gila Jadi Pengusaha. Dengan begitu kita sebagai entrepreneur akan lebih siap menghadapi perubahan, dan akan lebih siap lagi mengatasi krisis, jika kita berhasil melakukan Jamming, tulisnya. Jamming itu identik dengan improvisasi yang dapat memunculkan ide-ide bisnis yang kratif dan inovatif.

Pada sub bagian terakhir dari halaman 228 – 231, Purdi mengajak pembaca untuk menjual perusahaan . “Yuk! Menjual Perusahaan! Meraih Mimpi Bersama, Berkali-kali,” demikian sub bagian akhir diberinya judul. Ooops…nanti dulu, yang dimaksud menjual perusahaan menurut Purdi, menjual perusahaan secara franchise. “Ini yang disebut menjual perusahaan berkali-kali,”tulisnnya. Seperti yang dilakukannya menjual Primagama secara franchise yang kini sudah menggurita menjadi 600 cabang.

Di lembaran terakhir terdapat brosur Entrepreneur University, sekolah bagi semua yang ingin menjadi pengusaha. Sekali dayung – berkali-kali pulau terlampaui. He…he…he..!!!

Good Luck…… Mr. Purdi!

*** Hadi Hartono,

Incoming search terms for the article: