Posted: February 20th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: krisis, obama | No Comments »
Bangsa Amerika Serikat ternyata masih belum belajar dari kasus subprime mortgage yang kemudian menjadi tragedi tsunami ekonomi yang terus meluas melanda dunia.
Keserakahan dengan membuat persyaratan yang demikian mudah untuk mendapatkan kredit perumahan (mortgate), sehingga kredit sejenis KPR ini masuk dalam rating subprime. Kredit yang berkatagori resiko tinggi tersebut kemudian dikemas sedemikian menariknya untuk mendapatkan fasilitas hedging (lindung nilai). Selanjutnya, dilepas di pasar bursa. Akibatnya, begitu kredit menjadi macet, bencana menyebar kemana-mana. Amerika Serikat sendiri kemudian menuai krisis ekonomi yang demikian parah. Negara adi daya tersebut tenggelam ke dalam resesi ekonomi.
Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi di negara Paman Sam. Entah apa pula yang ada dalam pikiran Gubernur Illinois Milorad “Rod” R. Blagojevich, kursi senat yang kosong yang ditinggalkan oleh Barack Obama kemudian “dijual”. Keserakahan telah menutup mata hati seorang Blagojevich yang sebenarnya telah memimpin Illinois sejak tahun 2003.
Hanya dalam hitungan hari, Rod Blagojevich tersungkur dari jabatannya. Impeachment yang dilakukan oleh House of Representatif -nya Illinois tanggal 8 Januari 2009 menghasilkan dukungan suara 114 – 1 untuk mencopotnya dari kursi gubernur, dilanjutkan dengan dukungan penuh oleh Senat Illinois dengan mendapat 59 suara melawan 0 pada tanggal 29 Januari 2009. Akibatnya, Rod Blagojevich terpental dari kedudukannya sebagai Gubernur Illinois. Nama dan foto Blagojevich dihapus dari website pemerintah negara bagian tesebut. Blagojevich harus menyerahkan kursi jabatan gubernur Illnois karena telah melakukan tindakan yang dikatagorikan “alleged abuses of power and alleged abusses attempt to sell gubernatorial appointment and legislative authorization and/or veto to the higgist bidder”. Lebih jauh lagi, pemerintah Federal sedang menyusun tuntutan dugaan korupsi terhadap Blagojevich.
Kasus ini mendapat perhatian serius dari Presiden terpilih Barrak Obama, mantan Senator Illinois. Presiden Barrack Obama sempat berkomentar tentang kasus ini setelah impeachment diberlakukan : ” Hari ini adalah akhir dari hari-hari yang menyakitkan bagi Illinois. Beberapa bulan lalu pemerintahan (di Illinonis) telah mengalami krisis kepemimpinan. Tetapi sekarang kebenaran telah terungkap”.
Di Indonesia, kasus korupsi dengan cara men-jual kursi legislatif seperti kasus di Amerika Serikat mungkin sangat jarang terjadi. Yang mungkin terjadi di Indonesia adalah menjual kursi, meja bahkan mungkin bangunan kantornya sekalian…..
Posted: January 30th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: presiden, sepatu | No Comments »
Sepatu adalah alas kaki. Membungkus kaki, agar kaki tidak langsung menginjak kerikil tajam yang menyakitkan atau kotoran yang bau dan menjijikkan.
Oleh sebab itu, semahal-mahalnya sepatu, baik sepatu baru atau sepatu yang sudah kusam akan selalu berada di “tataran” paling bawah : melindungi si-empunya kaki. Entah itu melindungi kaki anak sekolah, wartawan atau seorang presiden sekalipun…
Tapi apa jadinya bila sepatu yang berada pada posisi “hina” dilemparkan ke kepala seorang Presiden negara adi daya seperti Amerika Serikat ?
Bukan berarti sepatu sontoloyo tersebut telah mbejujak, telah “kurang ajar” naik peringkat ketataran yang lebih tinggi, ke kepala seorang manusia yang kebetulan menjabat Presiden di negara adi daya Amerika Serikat. Bahkan, andaipun sepatu itu bertengger di kepala siapapun, sepatu tetap adalah sepatu. Sepatu hakekatnya adalah pelindung kaki, tempatnya ya di telapak kaki. Sedangkan kepala tetap eksis berada di atas – diposisi yang luhur dan tidak akan pernah memakai sepatu untuk melindungi kepala.
Itu sebabnya, Presiden Bush berhasil dengan “sukses” menghindar lemparan sepatu wartawan Irak Az – Zaidi hari Minggu 14 Desember lalu. Presiden Bush memahami sepenuhnya bahwa sepatu adalah sepatu : sepatu letaknya dibawah – dikaki, bukan diatas kepala. Sepatu melindungi kaki dari kerikil yang tajam dan kotoran yang bau dan menjijikan.
Presiden Bush pasti paham, bila sepatu mengenai kepalanya itu berarti bukan saja penghinaan besar terhadap eksistensi manusia tetapi juga penghinaan besar terhadap negara adi daya Amerika Serikat. Dan untunglah, Presiden Bush mempunyai pemahaman kuat tentang itu….
Desember, 24 2008
Incoming search terms for the article:
Posted: January 16th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: AS, krisis ekonomi, obama | 1 Comment »
Banyak orang terlalu berharap dengan terpilihnya Obama menjadi Presiden AS. Harapan yang tinggi tergantung di langit. Obama diharapkan dapat menuntaskan masalah krisis ekonomi dengan segera.
Pada hari Obama mengumumkan kemenangannya, pemerintah AS sedang kelimpungan mencari pinjaman sebesar AS $ 550 milyar untuk menutupi pengaruh krisis yang harus dipenuhi dalam 3 bulan kedepan.
Sementara gelombang pemutusan hubungan kerja terus mengguncang negara Paman Sam. Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa tingkat pengangguran diatas angka prediksi yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 478.000 orang jauh diatas prediksi 475.000 orang.
Chrysler LLC telah memotong 1.825 pekerjaan akibat jatuhnya angka penjualan yang mencapai 25 % pada 9 bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama pada tahu lalu. Dilaporkan Chriysler merugi sebesar AS $ 570 juta pada bisnis otomotif. Bisnis otomotif merupakan bisnis yang paling terkena dampai krisis, figure penjualan pada bulan Oktober menunjukkan angka yang menyedihkan : penjualan mobil di General Motor terjungkal sebesar 45 %, Ford Motor turun sebesar 30 %, Honda Motor Co mencatan penurunan 25 % sedangkan Toyota Motor Corp turun 23 %, sedangkan penjualan Nissan Motor Co terjun di angka 33 %. Ini berarti penjualan mobil merupakan terendah selama 17 tahun terakhir.
Circuit City Store yang memiliki 700 outlet di 28 negara bagian telah menutup 155 outletnya. Ini berarti telah menghapus pekerjaan 17 % tenaga kerjanya atau mencapai 7.300 orang dari total 43.000 orang tenaga kerja.
Goldman Sach Groups Inc. melaporkan telah menghapus 3.260 pekerjaan atau 10 % dari total tenaga kerja. Yahoo memotong 10 % tenaga kerja atau mem-phk 1.500 orang. Perusahaan obat Merck & Co menghapus 7.200 posisi dan Lembaga keuangan National City Corp turut menutup 4.000 pekerjaan. Sedangkan Xerox Corp melakukan hal yang sama dengan jumlah 3.000 pekerjaan. Fidelity National Financial Inc. mengumumkan 1.000 phk, menutup sebagian kantor, mengurangi 10 % gaji dan memangkas 50 % dividen.Populan Inc. induk dari Banco Popular akan memangkas 600 karyawannya.
Pengaruh dari tingginya angka pengangguran menyebabkan hilangnya kemampuan membayar cicilan mortgate (cicilan kredit perumahan). Kasus kredit mortgate yang macet melonjak mencapai 70 % pada kuartal ke tiga.
Commerce Department melaporkan pembiayaan sektor konstruksi turun sebesar 0.3 % pada September. Sementara sektor perumahan jatuh sebesar 1.3 % sedangkan realisasi proyek pemerintah turun sebesar 1.3 %.
Seperti dalam pidato kemenangannya, Obama hanya memerlukan dua hal, yaitu : waktu untuk bisa keluar dari krisis dan “menteri-menteri bintang” dalam kabinetnya yang bisa membawa Amerika Serikat keluar dari bencana.
Itupun kalau Obama selamat dari incaran para pembunuh. Pada masa kampanye saja, pihak keamanan AS sudah berhasil membongkar rencana pembunuhan yang dilakukan oleh dua pemuda kulit putih neo-Nazi, Daniel Cowart (20) dan Paul Schlesselman (18). Selain itu, Thomas Robb, direktur nasional Knights of the Ku Klux Klan juga mengirimkan ancamannya melalui rekaman video yang menyatakan perang rasial bila Obama menjadi presiden. Dinas Rahasia AS mencatat selusin ancaman pembunuhan yang serius terhadap Obama – Presiden AS terpilih ke 44 yang nota bene merupakan presiden berkulit hitam pertama.
Nopember 2008
Incoming search terms for the article:
Posted: January 13th, 2009 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: israel, palestina | 1 Comment »
Sudah hampir beberapa minggu ini, setiap saat informasi tragedi Gaza hadir di dalam ruang keluarga. Isi informasi bisa dikatakan seragam, kecanggihan mesin perang Israel yang meluluhlantakan setiap nurani yang menyaksikannya. Jet-jet tempur F-16I dan Helikopter serang AH 64-Apache menembakkan peluru kendali ke sasaran yang telah ditentukan dengan akurat.
Di darat, arteleri IDF (Israel Defence Force) menembakkan peluru penghancur ke seluruh bagian kota Gaza. Untuk mengkoreksi kordinat tembakan, dipastikan Israel menempatkan pointer di Gaza. Dipastikan pointer dapat berupa helikopter maupun mata-mata Israel yang bergerilya di Gaza. Akibat pemboman yang masif, baik dari serangan udara, darat maupun dari kapal perang Israel, menghasilkan puing-puing kota dan asap hitam kehancuran yang memenuhi udara.
Sementara dari pihak Hamas, tanpa ada payung udara berupa radar dan peluru kendali darat ke udara yang memadai, menyebabkan pesawat-pesawat tempur Israel merajalela dalam menghancurkan target di darat dengan leluasa. Rudal darat ke darat yang dilepaskan pihak Hamas tidak memberikan hasil yang menghancurkan karena hanya bersifat psikologis.
Di layar kaca, disuguhkan hampir setiap waktu di ruang keluarga selain menampilkan kisah sukses proses penghancuran kota Gaza, juga memperlihatkan lembaran hitam tragedi kemanusiaan yang membuat trenyuh dan menggedor rasa solidaritas. Coba simak apa yang ditampilkan : tentang anak-anak korban perang yang menangis dengan wajah bersimbah darah, atau tentang seorang Bapak yang kehilangan seluruh anggota keluarga karena rumahnya hancur terkena bom Israel. Mayat-mayat penduduk kota yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan kehancuran gedung-gedung disepanjang sisi jalan itu. Rumah sakit yang sibuk menerima korban-korban baru, tanpa ada support obat-obatan dan tenaga medis yang memadai.
Kondisi Gaza memang mirip kondisi : kehancuran Hirosima dan Nagasaki yang di bom atom oleh Amerika pada akhir Perang Dunia II ditambah dengan tragedi kemanusian Ethiopia beberapa tahun lalu digabung dijadikan satu.
Sehingga logis, bila respon dari sebagian besar penduduk dunia adalah sama. Memprotes serbuan tentara Israel yang menimbulkan korban di pihak sipil, memprotes blokade Israel karena rumah sakit-rumah sakit tidak memiliki tenaga medis dan obat-obatan yang memadai untuk mengobati korban perang, hingga pada respons untuk membuka pendaftaran jihad bertempur melawan tentara Israel di tanah Palestina. Apakah ini tidak berlebihan ?
Untuk mengalahkan tentara Israel di medan perang Gaza tidak cukup dengan semangat. Keberhasilan pejuang Hezbollah mengalahkan tentara Israel di Lebanon, karena mereka mendapat pelatihan yang ketat dan disiplin, boleh dikatakan sebagai pelatihan pasukan komando. Pejuang Hezbollah membentuk unit-unit tempur yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang independen. Mereka menguasai medan tempur dan dengan mental juang yang kuat, sehingga dengan modal senjata serbu dan senjata anti tank, mereka berani berhadapan dengan pasukan komando Israel yang didukung oleh persenjataan canggih seperti Main Battle Tank Merkava, tank paling handal di dunia. Padahal dalam setiap pergerakan tempurnya, tentara Israel selalu didukung oleh tembakan bantuan baik dari satuan alteleri maupun tembakan dari pesawat tempur secara on call.
Minggu pertama Januari 2009
Tulisan ini bisa dilihat di www.dimastidano.wordpress.com
Incoming search terms for the article:
Posted: May 6th, 2008 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Resensi Buku | Tags: kenangan, prajurit | No Comments »
Jujur saja, pertama kali saya mendapatkan buku ini karena terdapat tulisan kecil dikulit buku : “Karya fiksi yang menggetarkan jiwa dan ditulis dengan indah” – THE ASSOCIATED PRESS.
Waktu itu saya berpikir, apakah mungkin cerita perang di Vietnam ditulis sebagai karya sastra ? Cerpen The Things They Carried ternyata mendapat penghargaan National Magazine Award, sedangkan novelnya sendiri yang diterbitkan pada tahun 1990 dipilih oleh para editor New York Time Book Review sebagai buku terbaik tahun itu.
Tim O’Brien, si penulis buku ini, menumpahkan pengalaman perangnya di Vietnam sebagai anggota dari prajurit infantri dari kesatuan Alpa Company bukan dalam bahasa teknis perang, tetapi dituturkan dalam bahasa yang indah dan kelihatannya ditulis dengan jiwa-nya.
Di dalam buku ini, tidak akan ditemui tentang taktik perang seperti strategi pertempuran anti gerilya yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dalam menghadapi perlawanan tentara VC (Vietcong – sebutan untuk pihak tentara komunis).
Tidak ada taktik regu atau peleton dalam melakukan penyergapan atau taktik pertempuran jarak pendek yang biasa dihadapi dalam perang di Vietnam.
*****
Buku The Things They Carried -Kenangan Seorang Prajurit, yang diterbitkan oleh PT Serambi Ilmu Semesta, berisi 22 cerita pendek. Cerpen yang tampil dihalaman pertama tentu saja dengan judul : The Things They Carried, yang diterjemahkan menjadi : Barang Bawaan Mereka.
Awal keterlibatan Timmy dalam perang yang kelam itu ditemui dalam cerpen yang berjudul : Di Sungai Rainy.
Pada cerpen ini, Timmy menceritakan tentang pergulatan hatinya ketika mendapatkan surat panggilan wajib militer.
“Perang bukan levelku. Dunia sudah ada dalam genggamanku – siswa terbaik di kelas, predikat summa cum laude, ketua organisasi kemahasiswaan, dan beasiswa penuh untuk pascasarjana di Harvard”.
“Aku ingat amarah yang berkecamuk dalam perutku, yang kemudian mereda menjadi rasa kasihan pada diri sendiri, dan lalu mati rasa”.
Diceritakan, untuk menghindari wajib militer, akhirnya Timmy kabur ke perbatasan Kanada. Selama enam hari, Timmy mengalami pergolakan batin hebat antara menyeberang ke Kanada atau kembali ke kota asal untuk mengikuti wajib militer.
Selama enam hari Timmy tinggal disebuah pondokan Tip Top Lodge, bertemu dengan pemilik pondokan Elroy Berdahl, orang tua yang arif.
Pada hari ke enam, Elroy mengajak Timmy berperahu untuk memancing di sungai Rainy yang berbatasan dengan Kanada. Timmy menulis dalam cerpennya :
“Aku ingat menatap Elroy, lalu menatap tanganku, lalu Kanada. Garis pantainya tampak penuh dengan semak dan pepohonan. Aku bisa melihat buah yang tumbuh di semak. Aku bisa melihat tupai di atas pohon birch dan burung gagak yang menatapku dari batu besar di tepi sungai. Begitu dekat – dua puluh meter – dan aku bisa melihat jalinan rumit dedaunan, tekstur tanahnya, buah pohon pinus yang cokelat. Dua puluh meter. Aku bisa saja melompat dan berenang demi mencari kehidupannya. Dalam tubuhku, dalam dadaku, aku merasakan tekanan yang amat kuat. Bahkan sekarang, saat menuliskan ini, aku masih bisa merasakan tekanan itu.
Apa yang akan kau lakukan ?
Yang bisa kulakukan hanyalah menangis. Menangis perlahan, bukan tangisan keras, hanya menangis tersedu-sedu. Sepertinya dari semua tempat, dari pohon, air dan langit, kepiluan sebesar dunia sedang menekanku, kepiluan yang berat.
Aku mencoba membulatkan tekadku untuk meloncat keluar perahu.
Aku mencoba, tak bisa.
Itulah yang paling menyedihkan. Dan demikianlah aku duduk di haluan perahu sambil menangis.
Tangisanku sekarang menjadi tangis yang keras dan nyaring”.
*****
The Things They Carried, kisah master piece dalam buku itu bertutur tentang barang bawaan para prajurit ketika melakukan operasi tempur. Selain membawa perlengkapan militer, ternyata mereka membawa beban lainnya.
“Mereka membawa semua beban emosional sebagai orang yang mungkin akan mati. Kesedihan, ketakutan, cinta, kerinduan-semuanya tak bisa dilihat, tapi semua hal yang tidak nyata itu punya massa dan berat jenis sendiri, semuanya punya berat yang bisa dirasakan. Mereka membawa ingatan yang memalukan. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tidak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, atau sembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, karena beban ini tak pernah bisa diletakkan. Beban ini menuntut kesimbangan dan postur tubuh yang sempurna. Mereka membawa reputasi mereka. Mereka membawa ketakutan terbesar seorang tentara, yaitu ketakutan untuk terlihat memalukan. Orang membunuh, dan juga mati, karena mereka malu untuk tidak membunuh. Inilah yang sebenarnya membawa mereka dalam peperangan, tak ada hal yang positif, bukan impian kebanggaan atau kehormatan, hanya untuk menghindari malu karena kehilangan kehormatan”.
******
Perang tidaklah selalu tentang kengerian dan kekerasan. Terkadang beberapa hal boleh dikatakan tampak indah. Misalnya, aku masih ingat seorang bocah laki-laki berkaki plastik. Aku ingat bagaimana ia meloncat-loncat mendekati Azar, lalu minta sebatang cokelat – “GI nomor satu, ” kata si bocah – dan Azar tertawa sambil memberikan cokelatnya. Ketika bocah itu meloncat pergi, Azar berdecak dan berkata, ” Perang memang jahat.” Ia menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Satu kaki, sunggu jahat. Orang yang menembaknya pasti kehabisan peluru”
Cerita ini akan ditemukan pada cerpen berjudul : Sisi Lain dari Perang.
*****
Coba simak tulisan Timmy dalam cerpen yang lain : Bagaimana Cara Menceritakan Kisah Perang yang Sesungguhanya.
“Mungkin saja pada intinya, perang hanyalah nama lain untuk kematian. Namun, setiap tentara bisa bercerita – bila ia berkata jujur – bahwa kedekatan dengan kematian membawa pula kedekatan dengan kehidupan. Setelah tembak menembak sengit, selalu ada kepuasan luar biasa bahwa kita masih bisa merasakan hidup. Pohon yang hidup. Rumput, tanah- semuanya. Semua benda di sekeliling kita sungguh hidup, termasuk juga diri kita, dan perasaan hidup itu akan membuat kita gemetar. Kita merasakan keberadaan kuat jiwa raga kita-diri kita yang sejati, sosok manusia yang kita cita-citakan dan kemudian bisa kita wujudkan hanya dengan menginginkannya”.
*****
Tak berlebihan bila Peter S. Presscott dari Newsweek mengomentari buku ini :
“…O’Brien telah menemukan gaya bercerita yang tepat untuk mengisahkan perang ini : gaya yang membeberkan begitu banyak perasaan, namun tidak cengeng dan tetap terjaga lewat tulisannya yang ringkas dan cukup banyak menampilkan penggalan kejadian yang jenaka ….”
*****
30 April 2008
Tulisan ini bisa dilihat pada website : www.greenlinerancage.com
Incoming search terms for the article:
Posted: January 29th, 2008 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: hiburan, laptop, tukul, tv | No Comments »
Tukul memang lucu dan menghibur. Itu yang membuat orang mau menonton acara Empat Mata.
Sebenarnya siapa sih yang mau menonton wajah “ndeso”, tapi nekad mewawancarai artis cantik ? Tapi justru, kontradiksi ini yang menjadi magnet bagi penonton setia-nya.
Tapi Tukul memang cerdas, format acara Empat Mata dibuat serba kontradiktif dan paradoksal. Tukul “menentertawai diri sendiri” , sementara artis yang menjadi tamu-nya berpenampilan glamor dan intelek.
Konsep acara Empat Mata adalah membuat kontradiktif ini menjadi komedi. Mungkin sudah menjadi trademark acara ini. Tukul memerankan dirinya sebagai orang dari desa yang lugu, tetapi harus mengimbanginya tamu-tamu acaranya dengan berusaha mengaktualisasikan sebagai pria metroseksual. Tukul nampak selalu berusaha menjadi “pria yang selalu menjaga estetika penampilan, imaje dan gaya hidup”.
Yang terjadi adalah komedi yang meng- eksploitasi keluguan Tukul sebagai orang “ndeso” versus Tukul yang “berusaha gaul”. Usaha ini yang menjadi titik sentral dari kelucuan-kelucuan yang timbul dan memancing penonton untuk tertawa.
Superiority Theories
Teori ini kemukakan oleh seorang profesor philosopy, D. H. Monro dari Monash University. Orang sering tertawa karena melihat ketidak beruntungan orang lain (disandvantage atau misfortune). Dalam teori ini, orang tertawa karena merasa berada dalam posisi “superior”.
Teori ini dikembangkan dari teori yang pertama kali dikemukakan oleh Thomas Hobbes (1588-1679). Hobbes mengatakan bahwa :”kita mentertawakan atas ketidak beruntungan (misfortunes) orang lain”.
Bila dikaitkan dengan acara Empat Mata, maka penonton dikondisikan pada posisi “Superior”, sedangkan Tukul Arwana pada posisi ”misfortune”. Menurut teori ini, penonton tertawa karena “misfortune” yang “diperankan” oleh Tukul. Penonton menjadi terhibur karena melihat “ke-sial-an” yang menimpa Tukul.
Kembali ke Laptop
“Masak sih, Tukul saja punya laptop, kita nggak punya. Tapi pertanyaannya apakah betul masing-masing anggota bisa mengoptimalkan itu dengan baik. Saya sangsi,” cetus seorang anggota DPR, sepertiyang dikutip oleh Detikcom pada bulan Maret 2997 lalu.
Pernyataan diatas bukan bagian dari acara Empat Mata. Tetapi benar-benar sebuah pernyataan seorang anggota DPR ketika muncul gonjang-ganjing rencana pemberian laptop seharga Rp 21 juta ke setiap anggota Dewan. Rencana ini kemudian dibatalkan akibat tekanan dari masyarakat.
Masyarakat akan meng-kaitkan masalah laptop dengan acara Empat Mata dengan salah satu ” trademark-nya” adalah Laptop. Wajar saja dalam menentang program pembagian laptop ke anggota DPR, masyarkat akan membandingkan Tukul sebagai seorang komedian dengan anggota DPR yang notabene adalah wakil rakyat yang terhormat. Masyarakat telah melihat kontradiktif : sementara kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit, anggota DPR akan mendapat Laptop dengan harga yang sangat mahal.
Contoh diatas adalah suatu keberhasilan dari suatu pementasan sebuah acara komedi, selain keberhasilan untuk menghibur masyarakat. Sebuah acara komedi seperti Empat Mata dikatakan berhasil bila berhasil melakukan pendidikan kepada masyarakat, selain membuat penontonnya tertawa dan terhibur.
Mudah-mudahan Tukul Arwana tidak berubah. Mudah-mudahan acara Empat Mata tetap dalam format yang sama. Mudah-mudahan penonton tetap terhibur. Mudah-mudahan rejeki-nya Tukul tetap lancar. Amin.
******
(artikel ini bisa dilihat di www.greenlinerancage.com )
Incoming search terms for the article:
Posted: January 25th, 2008 | Author: Dimasti Dano | Filed under: Opini | Tags: Anne Mulcahy, bangkrut, Xerox | 1 Comment »
Ketika Anne Mulcahy ditunjuk menjadi CEO, Xerox sudah mulai tenggelam dalam kebangkrutan. Hutang perusahaan mencapai US $ 17 milyar dan selama 6 tahun berturut-turut Xerox selalu menderita kerugian. Yang paling menyedihkan, unit Xerox yang berada di Mexico pada saat itu sedang di investigasi oleh Securities and Exchange Commission.
Melihat beratnya kondisi Xerox saat itu, banyak orang terkejut dengan penunjukkan Anne Mulcahy sebagai CEO. Saat itu, pasar saham bereaksi negatif, saham Xerox langsung jatuh 15 persen. Mungkin pasar tahu kalau Anne Mulcahy memang tidak dipersiapkan untuk menduduki jabatan itu.
Kejujuran dan Kepercayaan
Anne Mulcahy masih ingat, ketika Warren Buffet (pemilik saham mayoritas dan CEO pada holding company Berkshire Hartaway) berkata : “Sebenarnya anda tidak dipromosikan. Anda diterjunkan dalam perang”.
Untuk memenangkan perang tersebut, langkah awal yang diambil Anne Mulcahy dan tim adalah dengan memperkuat likuiditas perusahaan. Memotong capital expenditur sebesar 50 persen; mengurangi sales, general dan administration expenses sebesar sepertiga dari total expenses; memotong hutang hampir setengahnya. Tetapi pada waktu yang bersamaan, Anne Mulcahy tidak menyentuh sepeser pun anggaran biaya Research and Development (R &D). Anne Mulcahy telah memutuskan untuk memperkuat core business dengan lebih fokus terhadap inovasi. Bagi Anne Mulcahy, dalam kondisi terburuk seperti apapun, investasi (dalam inovasi) harus tetap dilaksanakan.
90 hari pertama, Anne Mulcahy melakukan perjalanan untuk mengunjungi berbagai kantor cabang. Selama waktu itu, ia hanya mendengarkan dan mendengarkan setiap orang tentang apa yang salah dengan perusahaannya. “I think if you spends as much time listening as talking, that’s time well spent”, kata Anne Mulcahy.
Kejujuran dan kepercayaan adalah modal dalam melakukan komunikasi efektive, terutama dalam kondisi krisis. ”Pada kondisi krisis, anda harus menginformasikan kepada karyawan perusahaan tentang kondisi sebenarnya yang anda ketahui dan mereka harus tahu bahwa anda mempunyai strategi untuk menghadapi kondisi tersebut. Yang paling penting, anda harus menjelaskan, apa yang dapat mereka lakukan”.
Dengan kondisi yang kondusif, Anne Mulcahy dapat dengan mudah mereduksi tenaga kerja di Xerox dari 96.000 orang menjadi 60.000 orang pada tahun 2000. Bahkan, Anne Mulcahy turut membantu mencarikan pekerjaan bagi 70 % bagi tenaga kerja Xerox yang terkena program pemutusan hubungan kerja.
Proses Transformasi
Anne Mulcahy telah menempatkan tenaga kerja sebagai mitra strategis perusahaan. Perspektif karyawan telah dirubah, dari sekedar alat produksi yang harus tunduk dalam teori ekonomi, disimbolkan dalam angka-angka penentu produktivitas suatu line produksi atau digambarkan sebagai angka-angka dalam laporan keuangan seperti halnya alat produksi lainnya, menjadi sederajat dengan para pengambil kebijaksanaan dalam perusahaan. Melalui pendapatnya (hasil berpikir kreatif-nya), pekerja telah ikut menentukan keberhasilan perusahaan dalam mencapai objective yang telah ditetapkan .
Tetapi sebelumnya, Anne Mulcahy telah melakukan positioning dan repositioning untuk mendapatkan tim yang terbaik bagi perusahaan. ” You may have the right people on the bus, but in the wrong seat. They can be posistioned and respositioned for the good of the company”. Bila semuanya telah sesuai dengan yang diinginkan, maka anda siap dengan semua perubahan positif, katanya.
Tahap yang paling krusial sebenarnya adalah tahap membangun organisasi yang kuat, fleksibel, adaptif dan kompetitif. Organisasi yang kuat, karena Anne Mulcahy telah membuat karyawan merasa telah dilibatkan dalam menyelesaikan krisis. Karyawan telah diberi peran dan dihargai untuk berkontribusi terhadap perusahaan.
“Pengalaman saya di Xerox, bahwa krisis telah menjadi motivator yang kuat. Motivasi yang menggerakan anda untuk memilih keputusan yang mungkin tidak akan pernah dipikirkan bila dalam kondisi lain. Motivasi ini memaksa anda untuk mengintensifkan fokus, daya kompetisi untuk mencapai status : the best in the class. I want to do everything I can to make sure that we don’t lose that now that we’re back on track”, katanya.
Berkat sentuhan humanisme Anne Mulcahy, sekarang Xerox telah kembali on track.
*****
(Artikel ini bisa dilihat di www.greenlinerancage.com 28 Agustus 2007)
Incoming search terms for the article: