<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rising News &#187; atmonadi</title>
	<atom:link href="http://kolumnis.com/author/atmonadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kolumnis.com</link>
	<description>news - articles - hot info</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 02:48:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Silence Of The &#8220;Ryan&#8221;</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 23:47:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmonadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[mutilasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[pembunuhan berantai]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[psikopat]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[<p style="30px;"><em>Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you</em>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="30px;"><em>Hannibal Lecter: First principles, Clarice. Simplicity. Read Marcus Aurelius. Of each particular thing ask: what is it in itself? What is its nature? What does he do, this man you seek?<br />
Clarice Starling: He kills women&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No. That is incidental. What is the first and principal thing he does? What needs does he serve by killing?<br />
Clarice Starling: Anger, um, social acceptance, and, huh, sexual frustrations, sir&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No! He covets. That is his nature. And how do we begin to covet, Clarice? Do we seek out things to covet? Make an effort to answer now.<br />
Clarice Starling: No. We just&#8230;<br />
Hannibal Lecter: No. We begin by coveting what we see every day. Don&#8217;t you feel eyes moving over your body, Clarice? And don&#8217;t your eyes seek out the things you want? </em></p>
<p style="30px;"><em>(kutipan dari salah satu dialog di Film <a title="Film Silence Of The Lams" href="http://www.imdb.com/title/tt0102926/quotes" target="_blank">Silence Of The Lambs</a>, 1991)</em></p>
<p>Masih ingat kan film &#8220;Silence Of The Lambs&#8217; (SOTL, thn. 1991)? Itu novel Thomas Harris yang dibuat jadi film dan dibintangi artis keren yang sangat populer beberapa tahun yang lalu. Bahkan saking populernya, film SOTL yang tidak membosankan itu masih sering di putar di TV Swasta Indonesia yang memang hobi mengulang-ulang film lama. Sekuel paling baru dari film itupun sudah beredar belakangan ini yaitu Hannibal Rising yang mengisahkan sosok lahirnya tokoh Hannibal Lecter yang mempunyai latar belakang tragis Perang Dunia ke-2.</p>
<p>Dengan menggunakan search engine anyar <a title="Resensi Cuil.Com" href="http://atmoon.blogdetik.com/2008/07/28/cuil-dot-com/" target="_blank">CUIL.COM</a>, saya coba menelusuri  konteks dan arti &#8220;Silence Of The Lambs&#8221; yang beberapa tahun yang lalu novel maupun filmnya sangat laris di AS sana . Hasilnya tidak begitu menggembirakan, meskipun memberikan informasi juga yang erat kaitannya dengan terminologi Silence Of The Lamb secara sosial -psikologis.</p>
<p>Ada beberapa artikel yang ditampilkan resumenya saja berhubung kita harus berlangganan kalau ingin mengakses artikel lengkapnya . Namun, dari beberapa tulisan itu tersirat kalau Silence Of The Lambs erat kaitannya dengan suatu simbolisme keadaan psikologis seseorang, keluarga atau masyarakat yang terpinggirkan, sampai akhirnya mencapai suatu   kondisi ektreem yang memaksanya melakukan suatu tindakan tanpa nilai sama sekali kecuali absolusitas dari keinginan dan hasratnya sendiri yang condong berlebihan dan egosentris. Anehnya, pribadi maupun keluarga demikian nampak secara lahir mempunyai kecondongan yang berlebihan untuk &#8220;nampak&#8221; tampil baik  di  permukaan, baik dengan kamuflase sosial maupun keagamaan.</p>
<p>Dalam film SOTL, kiasan Silence Of The Lambs nampaknya justru dilekatkan kepada hampir semua tokohnya, baik agen FBI yang diperankan Jodi Foster, sosok psikopat yang gemar menguliti wanita gemuk dengan julukan Buffalo Bill, maupun Hannibal Lecter yang sengaja berperan sebagai guru dari tokoh Agen FBI dan tokoh psikopat yang menjadi &#8220;public enemy number one&#8221; setelah menculik anak seorang senator yang terkenal yg menjadi ikon  keberhasilan masyarakat secara umum. Peran Hannibal Lecter sebagai Mahaguru Psikopat justru menjadi kunci pembuka dan penutup dari masalah yang muncul dalam diri masing2 tokoh, baik yang elitis seperti Agen FBI maupun Si Pembunuh  (dalam film SOTL digambarkan sebagai  mantan pasien Hannibal Lecter) yang ternyata keduanya merupakan produk tipe keluarga yang sama, yaitu keluarga  yang dimarjinalkan namun mempunyai lintasan pemecahan masalah yang berbeda.</p>
<p>Yang satu menjadi Agen FBI dengan pendidikan baik, yang serius dan ambisius, dan yang lainnya menjadi sosok pembunuh berantai yang mencoba menggugat wujud dirinya sendiri sebagai lelaki yang mempunyai cita-cita &#8220;ingin menjadi&#8221; wanita justru dengan menghianati kaum  &#8220;wanita sebenarnya&#8221; (di film seluruh korbannya adalah kaum wanita). Sedangkan Hannibal justru digambarkan dengan cara yang lebih elitis lagi sebagai psikolog yang <a title="Psikopat" href="http:http://atmoon.blogdetik.com/2008/07/23/psikopat///" target="_blank">psikopat</a> dan tidak segan-segan memangsa siapa saja, termasuk orang yang dikenalnya dengan baik. Karakter Hannibal Lecter adalah simbolisasi dari kelompok elit  intelektual yang akhirnya &#8220;menghianati idealisme dan wacananya&#8221;  sebagai produk perkembangan nilai etis dan moral yang dikembangkannya. Ia pun muncul menjadi penghancur nilai etis dan moral itu sendiri dengan menjadi &#8220;kanibal&#8221;. Sosok Hannibal mewakili keputusasaan egosentris intelek yang justru gagal ketika berada di puncak ketinggian ketika hendak mengenali keterbatasannya sebagai manusia yang berpikir dan berperasaan. Hannibal bukan ingin tetap berada di dalam sistem, ia justru menganggap jadi pembuat dan pemilik sistem sehingga menjadi geer dan jatuh dalam egosentrisme  absolut dengan menjadi pemangsa yang cerdik seperti serigala berbulu domba. Ia adalah tipe penggembala sekaligus pemangsa.</p>
<p>Kedua tokoh utama di film tersebut bagi Hannibal Lecter tidak lain adalah anak-anak domba yang setengah putus asa dan berupaya mengatasi keputusasaan itu dengan ketangguhan dan kelemahan  karakter dirinya masing-masing yang notabene dipengaruhi oleh pendidikan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Yang satu (tokoh agen FBI) berhasil masuk ke sistem yang diyakini kebenarannya yaitu menjadi Agen FBI yang tangguh  dan yang lainnya terperosok dalam ilusi dan ketidakberdayaannya sampai akhirnya melampaui batas dan dengan sadar memutuskan diri berada di luar sistem yang diakui secara umum dengan melakukan pembunuhan berantai kepada gadis-gadis yang berciri sama, tubuh montok, punya cukup lemak dan kulit bagus , untuk dibunuh, dikuliti dan kulit tubuhnya dibuat menjadi jubah kebesaran dirinya yang berilusi di hadapan cermin menjadi  &#8221; wanita tulen&#8221;.</p>
<p>Lantas, apa yang dimaksud Silence Of The Lambs sebenarnya? Kalau dilihat dari konteks psikologis yang mewarnai film SOTL tsb, penulisnya nampak memang sangat akrab dengan kondisi masyarakat dan perkembangannya di AS, yang boleh jadi sebenarnya kondisi yang bisa ditemukan dimana saja di dunia, termasuk di Indonesia. SOTL adalah simbologi pergulatan dan perjuangan hidup dengan atau tanpa norma sama sekali untuk mencapai apa yang diinginkan. Disini yang dipertentangkan sebenarnya dua keluarga yaitu keluarga besar dan keluarga kecil. Keluarga besar adalah aturan hukum positif yang berlaku dimana semua orang yang tinggal didalam keluarga tersebut harus patuh. Keluarga kecil adalah keinginan diri atau cita-cita dan impian yang hendak dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang, misalnya suatu keluarga normal didalam masyarakat untuk diakui eksistensinya. Jadi ada suatu kewajiban dari suatu cita-cita atau harapan dari keluarga kecil jika ingin diakui sebagai bagian suatu keluarga besar yaitu harus patuh. Namun, ketika keluarga kecil atau keinginan diri itu berbenturan dengan sistem karena kelemahan wataknya sendiri, maka yang muncul adalah pembangkangan dan pemberontakan total dimana titik ekstremitasnya adalah tidak adanya norma dan nilai yang harus dipatuhi, baik kepada diri sendiri , orang lain, aturan keluarga besar, maupun kepada Tuhan. Individu atau keluarga kecil itupun menjadi Sang Pembangkang.</p>
<p>Sang Pembangkang sendiri  menyadari (jadi ia tidak gila dalam arti tidak waras, namun waras dan sadar ketika melakukan perbuatannya), untuk bisa eksis didalam sistem keluarga besar, sementara ia sendiri sudah tidak mengakui hukumnya, ia harus melakukan penyelabuan, kamuflase, ataupun penyamaran umum sehingga apa yang ingin dikehendakinya tercapai tanpa harus punya kewajiban maupun tanggung jawab untuk mematuhi hukum keluarga besar itu yang tak lain adalah hukum positif, sosial kemasyarakatan, maupun keberagamaan. Bagi orang lain, maka ia akan nampak bagai  domba jinak yang elok karena nampak tidak bermasalah dengan hukum-hukum itu. Namun bagi dirinya, hukum itu hanya sekedar wacana semata, sedangkan aktualisasinya nol besar. Kondisinya akan semakin parah bilamana asumsi absolusitas mutlak dirinya  itu mempunyai pembenaran, misalnya karena tidak adanya kejujuran dan keadilan, banyaknya penyelewengan maupun ketidaksesuaian antara wacana dan praktek dari individu ataupun masyarakat umum dimana ia hidup yang mestinya patuh dengan hukum keluarga besar (misalnya hukum negara RI) (di film SOTL sipembunuh menemuikan hal ini justru di sosok Hannibal yang notabene konsultan psikologisnya).</p>
<p>Kondisi demikian nampaknya menjadi kondisi yang bisa dialami  oleh siapa saja, dari kalangan mana saja. kasus Pembunuhan Berantai Ryan yang menghebohkan Indonesia belakangan ini nampaknya dapat kita pandang dengan cara yang lebih terperinci dan luas, bukan sekedar kriminalitas biasa ataupun sekedar perilaku seksual yang menyimpang, hiburan dadakan semata atau sekedar berita  bagus yang dapat diblow-up oleh media masa.</p>
<p>Apa yang terjadi belakangan ini dengan kehebohan yang diperbuat oleh &#8220;Silence Of The Ryan&#8221; hanyalah suatu gejolak liar yang muncul dari sudut2 gelap kehidupan Bangsa Indonesia. Hal ini dapat menjadi tanda kebolehjadian bahwa banyak kalangan masyarakat di Indonesia yang mengalami suatu gejala psikologis yang kronis dimana nilai etis dan moral hanya sekedar menjadi pajangan semata atau sekedar teori semata.</p>
<p>Kasus Ryan sebenarnya dapat dijadikan suatu pijakan bagi masyarakat Indonesia untuk mulai bercermin. Jangan-jangan apa yang dilalukan Ryan sejatinya bayangan dari hasrat &#8220;Silence Of The Lambs&#8221; dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang disodori oleh berbagai distorsi realitas mulai dari bencana Tsunami Aceh, Kasus Lapindo, Kerusakan LIngkungan, Korupsi yang nampak semakin nyata dan terbuka melibatkan kelompok elit masyarakat , hasrat ini berkuasa dan merasa pantas jadi &#8220;Satrio Piningit&#8221; yang memimpin RI, dan masalah sosial kemasyarakatan lainnya yang sudah menyentuh keadaan psikologis masyarakat yang semakin ektrim dan kurang memiliki nurani. Kondisi ini kalau dibiarkan memang akan menyebabkan lahirnya bangsa Yajou dan Majou alias Yajuj Majuj alias Bangsa Yang Gemar Menunggangi Kuda Hawa Nafsunya sendiri.</p>
<p>Dari kasus &#8220;Silence Of The Ryan&#8221; ini, di lingkup keluarga dan masyaraklat kecil hendaknya masyarakat harus lebih mulai jujur, lebih kritis, membuka diri dgn membangun empati dan nurani yang lebih peka. Karena kepekaan nurani adalah radar pertama yang akan mengungkapkan adanya ketimpangan sosial dan perilaku didalam masyarakat yang tidak wajar, baik secara individual maupun berkelompok. Tidak sadarnya masyarakat di sekitar rumah Ryan tentang keganjilan keadaan Ryan dan Keluarganya nampak sangat jelas dalam kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan ini (misalnya: dimana bapak dan ibu Ryan sampai-sampai rumahnya bisa menjadi kuburan masal dalam rentang bulan juli 2007 sampai Juli 2008?). Kepolisian, seperti dikutip Koran Tempo hari ini (29/7) , malah menengarai kalau Ryan tidak sendirian. Kecurigaan Polisi saat ini terfokus pada orang tua Ryan yang nampak tidak shock serta kakak Ryan yang menggunakan motor korban Ryan tanpa merasa aneh. Bahkan di Koran Tempo, Ryan mengaku &#8220;Ada keluargaku yang melakukan itu semua. Aku hanya melindungi mereka&#8221;.</p>
<p>Mudah-mudahan kasus yang &#8220;lagi-lagi&#8221; menggemparkan Bangsa Indonesia ini bukan sekedar jadi berita besar ataupun gosip simpang siur yg numpang lewat. Tapi menjadi pelajaran bagi kita semua supaya tetap sadar, jujur, dan memiliki keadilan untuk menjalani kehidupan ini tanpa mengabaikan apa yang kiya yakini sebagai kebenaran yang harus dipatuhi.</p>
<p><em>&#8220;Semua manusia itu dilahirkan dalam keadaan fitri, ibu bapak dan lingkungannyalah yang akan menjadikannya jahat atau taqwa&#8221; (kata gue, menurut suatu hadis Rasulullah Muhammad SAW dan Al Qur&#8217;an, see QS 91:7-10)</em></p>
<p>Bks, 28/29/7/2008</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="film kanibal women">film kanibal women</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hanibal lecter adalah">hanibal lecter adalah</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter">hannibal lecter</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="Hannibal Lecter qoutes">Hannibal Lecter qoutes</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter quotes">hannibal lecter quotes</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/" title="hannibal lecter wujud dalam filam">hannibal lecter wujud dalam filam</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.351 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/07/31/silence-of-the-ryan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lingkaran Setan Jahiliyah: Eksklusifitas, Kekerasan dan Solidaritas Jahiliyah</title>
		<link>http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/</link>
		<comments>http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 05:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>atmonadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[akkbb]]></category>
		<category><![CDATA[al quran]]></category>
		<category><![CDATA[eksklusifitas]]></category>
		<category><![CDATA[fpi]]></category>
		<category><![CDATA[gajah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jahiliyah]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[kesaktian Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[solidaritas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/</guid>
		<description><![CDATA[<p><font size="2"> &#8221;Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan A</font>&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"> &#8221;Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan Allah), mereka punya mata tidak untuk melihat (Tanda-tanda Kebesaran Allah) dan mereka punya telinga tidak untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai hewan bahkan lebih sesat, mereka itulah orang-orang yang lalai(lengah).&#8221; (QS.7:179).</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Arial">Jahiliyah adalah satu kata yang mempunyai banyak arti. Secara literal, kata yang dikutip dari bahasa Arab dengan akar kata “Jahala” ini menurut beberapa penafsiran dapat diartikan secara harfiah sebagai “kebodohan” dari nilai-nilai kebenaran. Kebodohan yang dimaksud bukan “bodoh” sebagai “tidak tahu”, tapi lebih banyak “bodoh” tapi tak mau menerapkan “nilai-nilai kebenaran” yang sudah disampaikan sebelumnya (dalam hal ini di Arabia pra-Islam adalah kebenaran menurut tradisi Yudeo Kristen yang akhirnya malah banyak ditelikung oleh para penganutnya dari kaum Yahudi). </font><font face="Arial"></p>
<p align="justify"><font face="Arial"><span id="more-145"></span></font></p>
<p><font face="Arial">Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online ternyata kata “jahiliyah” dianggap belum menjadi bagian bahasa Indonesia meskipun sudah menjadi bagian dari kosakata di berbagai artikel, tulisan, ataupun pembicaraan. Tidak ada penjelasan ketika kita masukkan kata “Jahiliyah” di situs KBBI yang ada adalah kata dasarnya yaitu “Jahil” yang diartikan sebagai bodoh; tidak tahu (terutama tentang ajaran agama). </font></p>
<p></font><font face="Arial">Kiasan arti “jahiliyah’ seringkali disebut untuk merujuk kepada suatu masa yang disebut &#8220;kegelapan&#8221; atau &#8220;darkness&#8221; atau sesuatu yang diselimuti ketidakjelasan, baik sebab maupun akibatnya. Menurut literatur Barat, kata “Jahiliyah” sering dijadikan referensi untuk identifikasi masa sejarah di Arabia yang tidak jelas keadaannya atau “abad kegelapan ala Arabia”. Secara lebih spesifik, Sayyid Qutb mengartikan Jahiliyah sebagai “ketidaktahuan akan petunjuk ilahi&#8221; atau &#8220;kondisi ketidaktahuan akan petunjuk dari Tuhan&#8221;. </font><font face="Arial">Umumnya, penggunaan kata Jahiliyah merujuk pada keadaan bangsa Arab pada masa masyarakat Arab pra-Islam yaitu sebelum diturunkannya al-Qur&#8217;an kepada Nabi Muhammad SAW. Pengertian khusus kata jahiliyah karena itu sering dilekatkan pada keadaan seseorang yang tidak memperoleh bimbingan dari Islam dan al-Qur&#8217;an sebagai pedoman dan ukuran kualitas dari tatacara untuk menjalani kehidupan.  </font></p>
<p><font face="Arial">Menurut hemat saya, kalau dibandingkan antara satu pengertian dengan pengertian lainnya, meskipun sudut pandangnya beda, sebenarnya kata “Jahiliyah” merujuk pada suatu keadaan sosial yang meliputi individu maupun kelompok, atau suatu kaum , atau suatu masyarakat dimana saja (jadi  bukan hanya di Arab) dimana faktor yang diutamakan bukanlah berdasarkan pertimbangan sesuatu yang mengikat dengan adil dan seimbang baik secara individu maupun kolektif dan terverifikasikan secara ilmiah maupun intuisi yaitu akal pikiran dan hati. Dalam bahasa Arab, akal pikiran tidak lain adalah Aql yang berarti sesuatu yang mengikat atau mengendalikan supaya tidak melampaui batasan-batasan yang jelas. Sedangkan hati seringkali disebutkan sebagai Qalb tempat dimana Cahaya Pengetahuan Ilahiyah mampu mengartikan dan menaknai kebenaran dengan<em> ilmul yaqin, ainul yaqin, dan al-haqq al-Yaqin</em>. Hal ini tentu saja kelak setelah diuraikan dan dijabarkan akan berkaitan dengan penggunaan suatu konsensus bersama yang dipatuhi secara formal sebagai batasan dan ukuran kesahihan oleh banyak orang, dengan berbagai suku bangsa maupun keadaannya, baik miskin maupun kaya, bangsawan maupun rakyat jelata dan harus dipatuhi. Jadi arti “Jahiliyah” erat kaitannya dengan penegakkan hukum yang adil dan seimbang dalam suatu masyarakat yang tertata dengan suatu ikatan khas misalnya suatu “agama” atau “keyakinan” yang dipatuhi secara mutlak karena dasarnya bukan lagi logika maupun intuisi tapi “keimanan sebagai anugerah dan hidayah Ilahi yang menjadi sistem keyakinan”. Karena itu, “Jahiliyah”  dapat juga diartikan sebagai suatu gambaran masyarakat yang tidak mengindahkan aturan yang berlaku dan disepakati.  </font></p>
<p><font face="Arial">Dalam banyak penerapannya di kemudian hari dari akar jahal  menjadi Jahiliyyah ini maka penggunaan kata maupun istilah Jahiliyah erat kaitannya dengan suatu ungkapan yang berhubungan dengan masa kegelapan; masa dimana kebodohan, amarah, pergerakan sektarian, komunal, ataupun solidaritas sosial hanya disandarkan pada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Baik kelompok itu berupa suku, kelompok perampok, bajak laut, pemberontak, tentara bayaran, para pedagang, para pengantar barang, pengembara berkelompok yang campur baur, maupun kelompok yang lebih besar yang terdiri dari kabilah-kabilah atau suku-suku yang tadinya bercerai berai. Karena itu, penggunaan kata Jahiliyah erat kaitannya dengan kondisi psikologis atau akhlak dari seseorang atau suatu kaum yang merefleksikan perbuatan-perbuatan yang tercela dan mempunyai kecondongan merugikan. Baik merugikan dirinya sendiri, maupun merugikan masyarakat banyak karena sandaran utama kejahiliyahan adalah kepentingan pribadi semata atau egoisme semata.</font></p>
<p><font face="Arial"><strong>Transformasi Dari Kejahiliyahan</strong> </font></p>
<p><font face="Arial">Kejahiliyahan akan mengalami transformasi setelah ada setitik cahaya yang mulai muncul. Tentunya menerangi kegelapan bagai kelap kelip bintang yang meledak (Supernova) sekian juta juta juta tahun yang lalu yang cahayanya baru sampai di mata, menggerakkan neuron-neuron di otak menjadi buah-buah hikmah, dan menjadi suar di hati yang diselimuti kegelapan untuk menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat. Baik manfaat itu dirasakan di dunia yang fana maupun akhirat kelak, yang tak terbayangkan bentuknya kecuali dari fakta-fakta nyatanya yang dipantulkan di dunia menjadi aturan main Pencipta yang dikenali oleh manusia berakal pikiran dengan hati yang jernih. Titik terang yang muncul mulai menerangi kegelapan itu pun kemudian semakin membesar. Karena sifat cahaya memang membesar ke segala arah, maka penghapus kejahiliyahan adalah Cahaya Ilahi. RA Kartini dengan manis kemudian mengungkapkannya sebagai &#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221;.  </font></p>
<p><font face="Arial">Kenyataan demikian tidak lagi memerlukan bukti, dalil maupun fakta yang harus dicari-cari lagi. Adanya cahaya akan menghapuskan kegelapan. Mulai dari penciptaan alam semesta sampai &#8220;Game&#8221; komputer genre &#8220;Rise Of Nations&#8221; buatan Microsoft, cahaya yang membuka kegelapan merupakan suatu kenyataan sehari-hari. </font></p>
<p><font face="Arial">Meskipun begitu, sejarah ternyata mencatat juga kalau tidak semua cahaya yang menerangi kegelapan bisa menjadi suluh petunjuk. Karena boleh jadi kelompok yang diterangi cahaya itu adalah kelompok orang-orang yang buta sekaligus dalam kegelapan misalnya cahaya lampu diskotik yang gemerlap-gemerlip malah bisa membuat orang lupa diri. Buta dalam kegelapan karena itu bukan buta secara harfiah semata dimana matanya tidak bisa melihat cahaya. Tapi yang gawat adalah buta fisik, buta matahatinya dan buta pikirannya. Kalau buta fisik, mungkin tak terlalu membahayakan, tapi kalau buta matahati dan pikirannya akan muncul dua kemungkinan yaitu kekerasan dan amarah secara individual maupun kemudian meluas menjadi kekerasan dan amarah karena dipupuknya ekslusifitas jahiliyah, solidaritas jahiliyah, solidaritas masa kegelapan yang berbahaya dimana sandaran utamanya adalah OTOT, DARAH, dan EGOSENTRISME ala Fir&#8217;aun. </font></p>
<p><font face="Arial">Baik berbahaya dalam skala lokal, maupun nasional, buta jenis terakhir ini nampaknya melanda di semua kalangan masyarakat modern di Indonesia. Dan bukti untuk menyatakan kesimpulan demikian sebenarnya sudah lama ada namun enggan diakui, apalagi dielaborasi lebih jauh untuk menghapuskannya atau mencari pemecahan masalahnya, tapi malah dibiarkan berlarut-larut seperti virus yang menggerogoti Ibu Pertiwi. </font></p>
<p><font face="Arial"><strong>Kesaktian Pancasila Versus Kejahiliyahan</strong> </font></p>
<p><font face="Arial">Peristiwa 1 Juni 2008 yang sering disebut KEKERASAN itu tak lain adalah produk  KEKERASAN JAHILIYAH, EKSKLUSIFITAS JAHILIYAH DAN SOLIDARITAS JAHILIYAH dari banyak pihak yang keliru menempatkan permasalahan Umat Islam dalam kerangka nasional NKRI. Namun, sayangnya, EKSKLUSIFITAS JAHILIYAH DAN SOLIDARITAS JAHILIYAH ini tak pernah dibahas di koran dan TV meskipun sangat nyata telah terjadi dan dibiarkan seolah-olah tak terjadi di NKRI ini yang mempunyai dasar ideologis berupa sila-sila yang terkait erat dengan pokok-pokok utama dari pengungkapan tabir suatu kaum dari <em>kejahiliyahannya</em> yaitu Pancasila.  </font></p>
<p><font face="Arial">Dampak peristiwa 1 Juni 2008, di hari Kesaktian Pancasila itu sebenarnya membuktikan saja kalau masyarakat INDONESIA masih banyak berada di alam JAHILIYAH. Tidak perduli ia mewakili satu agama maupun satu nilai yang menodai nilai lainnya yang telah dipolitisir menjadi jargon politis, kejadian yang terjadi sebelumnya, di hari itu dan sesudahnya hanya satu bukti nyata kalau banyak lapisan di masyarakat ini mudah terjebak dalam dilema KEJAHILIYAHAN baik dalam bentuk KEKERASAN, EKSKLUSIFITAS MAUPUN SOLIDARITAS JAHILIYAH yang nyata-nyata dipertontonkan oleh kelompok marjinal dan kalangan yang mengaku intelektual, beradab dan berbangsa, dan berkeyakinan kepada Allah, Yang Maha Esa.   Ancam mengancam dan dukung mendukung sesudahnya tidak lebih dari pamer WATAK KEJAHILIYAHAN yang masih melekat diberbagai kalangan di Indonesia, menelanjangi karakter elit dan rakyat kebanyakan sesungguhnya yang seringkali mudah terjebak ke dalam kegelapan zaman JAHILIYAH dengan berkelompok-kelompok, berseragam ala tentara, berseragam ala malaikat, dan melakukan kekerasan jahiliyah, mengira dirinya eksklusif tapi jahiliyah, dan menyerukan solidaritas jahiliyah dengan ancaman-ancaman yang hanya mungkin ada di zaman jahiliyah alias Zaman Kegelapan. </font></p>
<p><font face="Arial">Produk akhir dari semua karakter jahiliyah itu adalah <strong><em>kekacauan mental dan pikiran dari seluruh lapisan masyarakat</em></strong>. Kekacauan ini dapat menimpa kalangan  yang berprofesi sebagai presiden, cendikiawan, kiai, pedagang, tentara, sampai tukang becak dan pengangguran. Di kalangan elit, ciri kekacauan mental dan pikiran ini ditengarai dengan semakin lemahnya kemampuan elit-politik, agamis maupun kalangan intelek menempatkan masalah pada posisi yang tepat secara seimbang dan proporsional. Hal ini diungkaplan oleh Ketua PBNU ketika mengomentari masalah AHMADIYYAH dengan kekebasan berkeyakinan yang telah salah tempat namun dipolitisir dari akar masalah pokoknya yang berhubungan dengan sendi-sendi keyakinan suatu Agama yang dalam hal ini adalah Agama Islam yang pokok-pokoknya sederhana dan jelas. Tak perlu ada tafsir yang mengecohkan kalau saja orang jujur beragama Islam karena dasar pokoknya sebagai manusia yang beriman dan mukminun dalam Islam sudah begitu terang, jelas, dan sederhana. Tak perlu profesor , doktor, kiai sepuh, atau wali-wali yang berpakaian aneh untuk menerima Islam. Asalkan orang jujur dan yakin dengan tulus tentunya tak ada kesulitan apapun untuk mengetahui dasar pokok ajaran Islam sebagai suatu kebenaran. Dan tentunya, bagi yang meyakini Islam dengan aturan yang baku sah-sah saja untuk menolak, membubarkan dengan halus atau paksaan semua ajaran yang menyisip dan menodai ajaran Islam yang paling fundamental misalnya prinsip dasarnya berupa Syahadat dan Pengakuan atas nabi Muhammad SAW sebagai Utusan terakhir dari Allah SWT sebagai penutup Wacana Fundamental kehidupan manusia di Planet Bumi dinodai, atau bahkan lebih berani lagi secara keliru dengan mengubah isi al-Qur’an atau dengan menambah-nambahkannya sesuai kepentingan eksklusifnya sendiri. </font></p>
<p><font face="Arial"><strong>NKRI Perlu Metode Yang Lebih Integralistis dan Holistik </strong></font></p>
<p><font face="Arial">Kekacauan mental dan pikiran dengan menerapkan metode yang bersifat reduksionis ketika mengkaji masalah sosial belakangan ini nampak menjadi berbahaya karena mereduksi masalah sosial hanya sebatas masalah mekanistik semata. Akibatnya ada kecondongan mereduksi dan mengkotakkan masalah yang muncul  dalam lingkup kepentingan politik-kekuasaannya sendiri. Kasus 1 Juni 2008, Ahmadiyyah, masalah energi, kericuhan pilkada, pemilu 2009, dan lain sebagainya sering dianggap oleh banyak elit intelektual tidak saling berhubungan. Mereka lupa kalau <em>masalah sosial beda dengan masalah fisika </em><em>mekanika</em> yang dapat direduksi dan diisolir untuk menghasilkan suatu alat atau mesin.  </font></p>
<p><font face="Arial">Masalah sosial adalah masalah manusia yang dinamis dan integralistik sehingga tidak dapat diisolasi dan direduksi seolah satu kejadian sosial tidak saling berhubungan dan tidak relevan membicarakannya dalam lingkup integralitik. Apalagi kalau masalah itu melibatkan suatu keyakinan beragama, maka pendekatannya bukan sekedar Integralistis semata, tetapi juga holistik dimana faktor yang terkait dengan keyakinan tersebut harus dijadikan sebagai ukuran utama. Ideologi suatu negara tidak relevan untuk digunakan sebagai pelindung atau sandaran ketika menyelesaikan masalah didalam SATU keyakinan yang sahih. Ideologi negara hanya bisa digunakan sebagai sandaran ketika konflik keyakinan muncul diantara dua keyakinan yang berbeda misalnya konflik Islam vs Kristen; atau konflik yang jelas sekali perbedaan pokoknya sebagai suatu sistem keyakinan dan keberagamaan, yang jelas-jelas telah mengganggu stabilitas negara. </font></p>
<p><font face="Arial">Di dalam konflik internal suatu agama yang diakui dalam suatu negara, misalnya di kalangan Umat Islam mengenai Ahmadiyyah serta penyimpangan lainnya, ideologi negara mesti ditempatkan sebagai penengah yang adil bukan sebagai alat pemberangus sesuai dengan kenyataan yang ada dan telah diakui secara sahih menurut sumber primer Islam yaitu Al Qur’an, sunnaturasul  bukan hanya dengan sumber sekunder, tersier atau tafsir atas tafsir sebagai sesuatu yang baru dan diada-adakan padahal mempunyai potensi yang merusak fondasi keyakinan yang sudah menjadi kehidupan umat yang meyakininya. </font></p>
<p><font face="Arial">Penalaran, argumentasi maupun model reduksionis mekanistik tidak sesuai untuk memecahkan masalah sosial yang komplek, dinamis, dan tak terduga karena didalamnya ada varibel dominan yaitu “manusia dan perilakunya” dengan saling pengaruh efek-domino yang harus disatukan untuk mendapatkan pola-pola perubahan yang nyata serta cara mengantisipasinya. Jadi masalah sosial yang muncul di NKRI hendaknya jangan diisolir sebatas kepentingan masing-masing yang sifat dan karakternya menjadi ciri-ciri masyarakat jahiliyah yang lebih mengutamakan ego kekanak-kanakannya sendiri, alias ego Ahmad si gajah tunggangan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka&#8217;bah.  </font></p>
<p><font face="Arial">Memecahkan masalah sosial masyarakat dengan cara reduksionis, kekanak-kanakkan, dan sarat egosentrisme komunal hanya akan melahirkan solusi dari anak-anak yang teler karena dicekoki dengan pil koplo. Tak ada hasil apapun kalau cara-cara kekanakan digunakan selain kejahiliyahan-kejahiliyahan baru yang dilaburi bedak-bedak kemunafikan dari intelektualisme imitatif yang dangkal dan tidak berwawasan luas  kecuali sekedar pamer kesombongan  &#8220;ini pemerintahanku, ini golonganku, ini pikiranku, aku yang paling terkenal dan hebat, aku banyak temannya, aku banyak duitnya, dan bla..bla..bla&#8230; omongan penjual obat lainnya&#8221;. Bahkan yang lebih parah sifat kekanak-kanakkan ini jika dibiarkan akan menjadi sifat yang manja dan suka “<em>wadul</em>” atau mengadu ke “<em>pihak luar</em>” yang tidak berhubungan dengan permasalahan pokoknya. Akibatnya konflik pun menjadi penuh tipu daya kebohongan dan tidak karuan. Kalau sudah begini, potensi merusak yang mestinya diisolir akhirnya malah mengundang konflik yang lebih besar, bahkan boleh jadi bisa mengancam kedaulatan dan eksistensi suatu negara.  </font></p>
<p><font face="Arial">Masalah sosial di NKRI, khususnya yang melibatkan Umat Islam, hendaknya diselesaikan dengan realitas akhlak mulia dari ciri pembelajar yang diberkahi dari si Ahmad yang kekanak-kanakkan yang <em>telah bertransformasi menjadi Nabi Muhammad SAW</em> sebagai figur “<em>Manusia Muhammad sebagai  Insan Kamil</em>” yang dewasa dan sadar sebagai Rahmat Bagi Semua Alam guna membangun kehidupan lebih yang berkualitas secara lahir maupun batin dengan panduan yang benar dalam Islam yang lurus di jalan <em>Shirathaal Mustaqiim, jalan Pengetahuan Tauhid Yang Luas, jalan Knowledge Base Society, bukan jalan Ghairil (Selain Allah) dari kaum berwatak Jahiliyah (dengan segala pengertian yang mungkin dari arti dan makna “kejahiliyahan” itu sendiri sebagai watak yang tidak terpuji)</em>. </font></p>
<p><font face="Arial">Atmnd114912, Bekasi 10/6/2008, direvisi tgl 11/7/2008.</font><font face="Arial"> </font><font face="Arial">Rujukan tentang topik Jahiliyah dari berbagai sudut pandang dapat dibaca di: </p>
<p>1. Jahiliyah, artikel di <a href="http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/13/op5.htm">http://www.balipost.co.id/BALIPOSTCETAK/2002/9/13/op5.htm</a> </p>
<p>2. Pengertian Jahiliyah, artikel di <a href="http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=96">http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=96</a> </p>
<p>3. Siapa masyarakat Jahiliyah, artikel di <a href="http://pojokkata.wordpress.com/2007/06/29/siapa-masyarakat-jahiliyah/">http://pojokkata.wordpress.com/2007/06/29/siapa-masyarakat-jahiliyah/</a> </p>
<p>4. Jahiliyah Moderm, artikel di <a href="http://members.tripod.com/~bimcrot/messages/jamod.html">http://members.tripod.com/~bimcrot/messages/jamod.html</a> </p>
<p>5. Jahiliyah, wikipedia <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jahiliyah">http://id.wikipedia.org/wiki/Jahiliyah</a>  </p>
<p>6. Man and Jahlyah (Ignorance), artikel di <a href="http://home.swipnet.se/islam/articles/jahiliyah.htm">http://home.swipnet.se/islam/articles/jahiliyah.htm</a> </p>
<p>7. Hukum Menggunakan Istilah Jahiliyah Terhadap Masyarakat Muslim, artikel <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/727/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/727/slash/0</a></p>
<p></font></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="PENGERTIAN KOLUMNIS">PENGERTIAN KOLUMNIS</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="sejarah zaman jahilliyah">sejarah zaman jahilliyah</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="sejarah zaman jahiliyah">sejarah zaman jahiliyah</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="pengertian zaman jahiliyah">pengertian zaman jahiliyah</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="apa arti eksklusifitas">apa arti eksklusifitas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="pengertian solidaritas">pengertian solidaritas</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="Pengertian Solidaritas sosial menurut KBBI">Pengertian Solidaritas sosial menurut KBBI</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="penjelasan lingkaran setan kemiskinan">penjelasan lingkaran setan kemiskinan</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="perbuatan kesombongan jahiliyah modern">perbuatan kesombongan jahiliyah modern</a></li><li><a href="http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/" title="solidaritas nkri">solidaritas nkri</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 3.617 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kolumnis.com/2008/06/10/lingkaran-setan-jahiliyah-eksklusifitas-kekerasan-dan-solidaritas-jahiliyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
