Posted: June 9th, 2009 | Author: Andi Sumangelipu | Filed under: Opini | No Comments »
Pernahkah anda mendaki gunung? mungkin ya, mungkin juga belum. Namun kita tahu bahwa seorang pendaki, di awal memulai pendakian di kaki gunung, sudah barang tentu puncak sudah tervisualisasi dalam benak dan pikirannya. Keinginan mencapai puncak adalah suatu tujuan. Seorang pendaki baru puas jika sudah mencapai puncak. Dari ketinggian puncak sebuah gunung menciptakan suasana yang begitu sulit diucapkan dengan kata-kata. Selain keindahan panorama alam, berdiri di atas puncak suatu gunung, sadar ataupun tidak, ada sebentuk keindahan yang mengalir dalam diri kita yang mewakili kebesaran Tuhan yang tiada henti-hentinya. Begitu banyak pujian dan rasa syukur yang terucap mengalir dengan berbagai bahasa hati yang terkadang kita sendiri tidak memahami bentuknya. Pencapaian titik puncak membuat kita lupa akan sulitnya medan pendakian yang menanjak serta berbatu cadas yang terkadang harus membuat kita merayap, memanjat di tengah hujan badai, hawa dingin dan terik panas matahari.
Kepuasan yang tercipta saat mencapai titik puncak membuat kita seakan-akan lupa dengan proses perjalanan yang rumit yang bisa memakan waktu berhari-hari, tak jarang diperhadapkan dengan berbagai macam halangan dan hambatan baik berupa cuaca yang buruk maupun kemungkinan gangguan binatang buas serta kekurangan bekal bahan makanan.
Sejenak jika dipikirkan, hambatan-hambatan yang berbagai macam dalam perjalanan itu saja, dapat membuat hati kita mengurungkan niat untuk melakukan suatu pendakian.
Pendakian mencapai puncak suatu gunung, tidak ada bedanya dengan pencapaian puncak spiritual kita. Dalam mendaki puncak spiritual menjalaninya tentu saja kita akan diperhadapkan banyak hambatan berupa cobaan dan ujian dari Tuhan. Titik puncak adalah simbol dari suatu ketinggian derajat spiritual atau maqam seseorang, dan inilah yang ingin dicapai oleh setiap manusia dalam menempuh perjalanan spiritualnya.
Dalam menempuh perjalanan spiritual mencapai puncak, seorang pesuluk atau katakanlah para pencari Tuhan sebelum melakukan perjalanan terlebih dahulu melakukan persiapan-persiapan tertentu demi kelancaran suatu perjalanan. Sebagaimana seorang pendaki gunung, seorang pesuluk harus memiliki gambaran mengenai gunung yang akan didaki, jika sebelumnya belum pernah mendaki gunung maka diperlukan seorang guide atau pembimbing. Katakanlah pembimbing ini disebut seperti Rasul, Nabi, Mursyid, Avatar atau mungkin kyai, pendeta, rahib dan sebagainya. Selain itu peta perjalanan dalam hal ini adalah Syariat. Secara bahasa syariat berarti jalan, petunjuk jalan agar tidak tersesat di jalan. Jika nanti tersesat kita mesti kembali lagi ke peta syariat. Utnuk melanjutkan perjalanan ke puncak.
Dalam mendaki gunung. Tujuan sama. Yaitu mencapai puncak. Dalam hal ini adalah Tuhan. Orang boleh berbeda dalam memilih jalan, syariat, tarikat, mashab ataupun agama, namun tujuan sama yaitu puncak Tuhan. Ada yang menuju puncak dengan jalan berputar mengelilingi lereng gunung sampai akhirnya mencapai puncak. Ada yang memulai dari sebelah Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Pun sampai di puncak.
Sebahagian orang ada yang merintis, melintas, atau membuka jalan-jalan baru (tarikat baru, ajaran baru) dengan tetap berlandaskan dengan “kompas Tuhan” dan peta ketuhanan yang sudah digariskan oleh Tuhan melalui Nabi – nabi-Nya yang sampai kepada suatu kaum. Dan manusia pun menuju puncak.
Dalam perjalanan pun tidak semata-mata terus berjalan tanpa henti. Tapi ada pos-pos tertentu, kita mesti singgah untuk beristirahat. Bisa berupa sekedar duduk istirahat, tidur, makan dan minum (berhubungan dengan urusan duniawi) karena ini bisa menjadi bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Meskipun begitu, namun sebahagian kecil orang (orang istimewa), yang sudah makan garam melintasi gunung, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk istirahat dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Ada juga yang hanya sekali atau dua kali saja singgah istirahat kemudian berjalan lagi. Orang – orang inilah yang sudah diliputi akan kerinduan dengan suasana puncak ketuhanan. Diantara orang-orang istimewa ini, yang sudah sering melakukan perjalanan, yang sudah berkali-kali naik-turun gunung, ada juga yang mampu membawa “suasana puncak” di setiap pos-pos perjalanannya, sehingga dimana pun dia berada, dia senantiasa merasakan suasana seperti jika sudah berada di titik puncak gunung. Sudah tak ada lagi perbedaan baginya. Kenikmatan yang dirasakannya di puncak dapat pula dia nikmati di kaki-kaki maupun di lereng-lereng gunung. Sebegitu nikmatnya, hal yang sama dia rasakan pun jika menempuh perjalanan dengan jalan berbeda-beda, jalan berliku-liku dan kadang tersesat jauh ke dalam hutan. Baginya tak ada lagi sesat, tidak ada lagi kebuntuan. Kerapnya melakukan perjalanan sehingga dia mengenali benar setiap Inci gunung tersebut, di mana ada jalan buntu, dia sudah tahu betul, dia sudah rasakan betul, karena pernah menjalaninya. Baginya, tidak ada lagi beda antara puncak dan kaki gunung. Tidak ada lagi beda antara jalan buntu ataupun jalan yang lurus. Toh dia sudah membawa puncak gunung itu dalam dirinya. Orang seperti ini pastilah orang yang sudah pernah merasakan dan mencapai titik puncak berkali-kali.
Jika dipikir-pikir, orang seperti saya terutama(penulis) lebih memilih jalan yang sudah ada, dan yang lurus-lurus saja, yang sudah dibuat dan dirintis oleh para pendaki ulung sebelumnya. Selain tidak berani menempuh resiko yang fatal jika merintis jalan baru, juga karena takut tak akan pernah merasakan suasana puncak karena terlalu lama menempuh suatu perjalanan yang dikarenakan terlalu seringnya singgah beristirahat di dalam suatu perjalanan ataupun terlalu lama beristirahat di setiap persinggahan dalam perjalanan atau bahkan mungkin terlalu sering mendapatkan jalan buntu dan terlalu sering tersesat dijalan. Sehingga, jangankan mencapai puncak berkali-kali, waktu habis (umur habis) sebelum pernah merasakan dan mencapai bagaimana titik puncak itu. Sehingga orang seperti diri saya, yang masih terlena dengan suasana istirahat (duniawi) dalam pos-pos perjalanan, hanya bisa berusaha untuk memaksimalkan proses-proses dalam perjalanan. Syukur-syukur jika bisa sampai pada titik puncak, jika tidak, maka saya hanya bisa menciptakan suasana seolah-olah beginilah puncak itu, “seakan-akan” puncak, atau mencari tahu suasana puncak itu seperti apa dari para pendaki gunung yang sudah berkali-kali ke puncak gunung.
Dan saya hanya bisa bernyanyi: “naik-naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali, kiri kanan kulihat ada banyak pohon cemaraaa…”.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 16th, 2009 | Author: Andi Sumangelipu | Filed under: Opini | Tags: istiqamah, kalbun, qalbun | 5 Comments »
Qalbun dan kalbun memiliki kemiripan dalam penyebutan namun sangat jauh berbeda dalam makna.
Qalbun yang dalam bahasa Arab adalah ”qalb” berarti Hati sering pula dalam bahasa kita sebut qalbu. Seakar dengan Qalb, dikenal juga kata “qallaba-yuqallibu” yakni membolak-balikkan. Sebagaimana artinya, hati manusia bersifat berubah-ubah dan mudah dibolak-balik.
Hati adalah cerminan dari sebuah rumah. Rumah spiritual manusia. Jika kita ingin hidup tenang, maka sebuah rumah harus sakinah, tenang, bersih, dan suci. Jauh dari hal-hal berisik bahkan mungkin yang berbisik. Hati senantiasa dijaga agar bening dan hening. Tidak ada gemerisik di dalamnya. Ya, ini tentu sulit dan diperlukan tekad dan usaha yang keras untuk bisa istiqamah.
kalbun atau kalb dalam bahasa arab berarti anjing. Lantas apa hubungan anjing dengan hati?
Mungkin anda pernah mendengar atau sekedar membaca potongan sebuah Hadits yang kurang lebih bunyinya begini:
“Tidaklah masuk malaikat ke dalam rumah yang memelihara anjing di dalamnya”
Orang boleh saja menerjemahkan Hadits diatas secara harfiah. Namun sejumlah orang yang memelihara anjing penjaga atau anjing berburu akan serta-merta protes kepada kita. Sedikit banyaknya Hadits ini telah memberikan efek yang kuat bagi ummat Islam untuk tidak memelihara anjing. Termasuk banyaknya Hadits yang menjelaskan mengenai najis yang ada pada anjing. Sebenarnya memelihara anjing tidaklah dilarang dalam Islam. Adapun najisnya, kita telah diajarkan pula bagaimana cara untuk menbersihkan najis jilatan anjing yakni dengan jalan mencucinya sebanyak tujuh kali dan diselingi dengan satu kali gosokan tanah. Hal ini menunjukkan bahwa suatu saat ada orang Islam yang nanti akan berurusan dengan anjing dalam pekerjaannya.
Dulu anjing sangat berguna bagi orang untuk menggembala ternak seperti kambing, kuda atau domba dsb.
Meskipun anjing memiliki prilaku yang selalu ribut, menyalak, menggonggong dan terkadang menggigit. Namun anjing adalah makhluk yang cerdas yang setia pada tuannya sehingga mudah dilatih untuk keperluan tertentu.
Di era kekinian fungsi anjing selain penjaga rumah, juga dimanfaatkan oleh aparat keamanan sebagai anjing penjaga dan anjing pelacak. Menggonggong dan menggigit jika ada tamu tak diundang. Lagi-lagi anjing dapat memberikan kontribusi yang besar bagi kepentingan manusia. Jika dipikir-pikir anjing tidaklah sehina isu najisnya yang cenderung menjijikkan. Karena terkadang dia melakukan hal-hal mulia bagi manusia.
Dalam Al-qur’an ada anjing yang dimuliakan Allah SWT karena telah mendampingi sekelompok pemuda yang lari menyepi mempertahankan keyakinan mereka dari raja yang zalim pada saat itu. Dan kemudian mereka lebih dikenal sebagai “áshabul kahfi” karena mendiami sebuah gua dan ditidurkan selama tiga abad lamanya. Ada anjing masuk surga, ini memang lucu tapi ini terjadi dan pasti. Allahu wa’lam Bisshawab.
Mari kita kembali kepada hadits diatas. Jika melihat konteksnya, penulis cenderung lebih memaknainya sebagai Hadits yang bermakna kiasan.
Yakni sebagaimana sebelumnya kita ketahui bahwa hati adalah sebuah rumah. Yaitu rumah spiritual manusia dan Malaikat (energi positif, energi ruhiyah, energi Ilahiyah) tidak akan memasuki rumah (hati) jika kita memelihara anjing (yang senantiasa menggonggong, menyalak, berisik, berburuk sangka, mendengki, iri hati, dendam di dalamnya). Sehingga dapat dikatakan bahwa janganlah kita memelihara sifat-sifat anjing dalam rumah hati kita. Sifat anjing manusia adalah penyakit-penyakit hati seperti dendam, buruksangka, iri hati, dengki, dan semua penyakit-penyakit lainnya yang tidak nampak dan bersamayam dalam hati. Hati senantiasa berkecamuk, berisik dan menggonggong dari dalam hati. Jika demikian terjadi pada kita, bisa jadi Qalbun (hati) kita sudah menjadi Kalbun (anjing). Nauuzubillah minzalik!.
Incoming search terms for the article:
Posted: February 6th, 2008 | Author: Andi Sumangelipu | Filed under: Opini | Tags: doa, ikhlas, tuhan | 11 Comments »
Menerima sesuatu tentu lebih mudah dibandingkan memberi. Seperti itu pula sebuah pepatah mengatakan “tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Berada di posisi “diatas” berkonotasi kepada yang lebih mulia. Maka mulialah orang-orang yang senantiasa membiasakan diri untuk memberi. Memberi sesuatu kepada orang lain adalah sesuatu yang berat. Sementara dalam keseharian kita senantiasa dituntut untuk memberi. Baik dari sudut tuntunan agama, maupun pertimbangan tuntutan hidup sosial.
Memberi sesuatu kepada orang lain bisa berupa apa saja. Harta benda, jasa, atau sekedar senyum tulus, dsb. Suatu agama atau keyakinan senantiasa menganjurkan penganutnya untuk memberi sebagai salah satu bentuk ibadah atau darma dan pengabdian. Memberi sesuatu kepada orang lain juga merupakan salah satu cara membangun jaringan hablun minal annas dan menciptakan silaturrahim. Memberi menjadi suatu penyeimbang dalam kehidupan sosial secara moril maupun materiil.
Bersedekah, berinfaq, berzakat, memberi hadiah dan bantuan jasa adalah varietas wujud dari memberi. Sukarela, tulus, ridho, ikhlas adalah sesuatu yang harus melandasi “memberi” agar dia bernilai, baik secara sosial maupun spritual. Sehingga sebahagian orang menganggap percuma suatu pemberian jika tidak dilandasi dengan hati ikhlas.
Sebenarnya bagaimanakah ikhlas itu? Jika melihat pengemis di pinggir jalan, lalu memberinya sejumlah uang atau apa saja yang ada pada kita atas dasar rasa iba dan kasihan misalnya. Itu masih sangat manusiawi. Dan belum tentu masuk kategori ikhlas. Memang terkadang kita mengenal ‘ikhlas’ atau kerelaan hati sebagai wujud cerminan dari rasa iba atau kasihan. Pernahkah kita memberi sesuatu kepada seseorang tanpa harus tahu kita kasihan atau tidak? May be yes..,may be not!
Seorang ahli hikmah mengatakan bahwa memberi sesuatu lantaran adanya sebab, seperti kasihan, prihatin, iba dsb, itu belum bisa dikategorikan sebagai ikhlas. Namun tidak lebih sebagai suatu bentuk kerelaan atau ketulusan hati saja yang bisa menjadi sebagai pemuasan hawa nafsu ego kasihan atau ego iba kita. Namun memberi atas dasar rasa kasihan atau iba pun itu sudah cukup baik. Terlebih lagi jika kita bisa berlaku ikhlas.
Berlaku ikhlas memang berat. Jika dalam memberi sesuatu masih mudah, ringan dan enteng berarti kita belum masuk dalam kategori ikhlas tapi baru sekedar rela atau tulus. Dalam memberi sesuatu kepada orang lain terkadang muncul rasa berat dalam hati kita karena berbagai faktor dan alasan. Alasan itu bisa disebabkan kurangnya biaya hidup, Tanggal tua, Lagi membutuhkan. Namun tetap saja mencoba menyisihkan untuk memberi meskipun sedikit karena dilandasi semata-mata atas nama Tuhan. Dan rasa berat itu kita ikhlas-kan meskipun masih terkesan disabar-sabarkan. Inilah yang lebih dimaksudkan sebagai ikhlas. Sekali lagi karena dia berat.
Ada perbedaan antara ikhlas dan tulus. Ikhlas itu, merelakan sesuatu yang terasa berat. Tulus itu adalah kerelaan hati karena faktor adanya rasa senang atau tidak ada beban. Ikhlas memiliki kedudukan atau derajat yang tinggi di mata Tuhan. Sehingga salah-lah orang yang mengatakan: percuma saja melakukan ini-itu jika tidak ikhlas. Persepsi orang selama ini terbalik, jika orang terlihat berat membantu atau memberi sesuatu disebut ‘tidak ikhlas’ dan begitu pula sebaliknya. Berbuat ikhlas meskipun berat, seorang mukhlis senantiasa dilandasi dengan nama Sang Maha Pencipta.
Ikhlas merupakan solusi positif menghadapi kondisi bangsa yang carut marut oleh berbagai bencana, yang diakibatkan oleh campur tangan manusia sendiri ini. Melalui bencana ini pun kita masih digebleng oleh Tuhan untuk menjadi orang yang ikhlas dalam menerima segalanya. Termasuk di dalamnya ikhlas memberi bantuan kepada korban banjir misalnya. Bencana pada bangsa ini telah membuka lebar bagi penduduknya untuk berlaku ikhlas. Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas.
Incoming search terms for the article:
Posted: January 27th, 2008 | Author: Andi Sumangelipu | Filed under: Opini | Tags: agama, islam, sunni, yesus | 1 Comment »
Ini sungguh ironis. Tidak hanya bangsa ini tapi juga setiap bangsa di belahan bumi ini yang selalu mendengung-dengungkan kaifiyah toleransi antar pemeluk agama namun sejauh ini tetap saja tidak berhasil. Kenapa?. Kerusakan yang diakibatkan oleh perbedaan agama, keyakinan, kepercayaan, mashab, aliran, tarekat, ideologi atau apa sajalah yang berbau spiritual, jauh lebih besar dampaknya jika dibandingkan dengan kerusakan yang timbul karena perbedaan suku, kelompok, partai atau mungkin jenis kelamin. Konflik tak berujung antara Palestina dengan Israel misalnya, Islam Syiah dan Sunni di Irak, Islam dan kristen di Serbia, kristen-Sikh di India, dan jangan lupa di Indonesia. Agama telah menyulut konflik.
Seharusnya , tanpa komitmen, wacana dan segala kaifiyah, nilai luhur agama secara natural diharapkan dapat memberikan dan menciptakan kedamaian dan toleransi.
Agama dalam hal ini belum berhasil memberikan kebahagiaan, membentuk moral, dan keberadaban bagi ummatnya. Sehingga inilah yang mungkin ditangkap oleh Freud bahwa secara keseluruhan agama telah gagal. De facto memang A-gama, de jure malah gama. Jika sudah begini, sehingga sebahagian orang lebih memilih untuk tidak memilih agama. Agama yang diharapkan dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian, malah menciptakan ketidaktentraman bagi pemeluknya. Sehigga jika ditanya tentang agama, seseorang lebih merasa aman jika menjawab “i’m spiritual but not religious.” Tak perlu beragama, yang penting “percaya”.
Sebahagian negara membolehkan warganya untuk tidak memeluk agama apapun. Agama dianggap tidak begitu penting. Dan tidak memberikan begitu banyak keuntungan. Sehingga Ayu Utami dalam bukunya “Si Parasit Lajang” mengatakan: “disini (Indonesia,pen), beragama mungkin tak membawa keuntungan, tapi tidak beragama membawa kerugian sosial.” Begitu satire namun sangat jujur. Ada kesan bahwa agama di Indonesia hanya digunakan untuk keperluan birokrasi saja, dan ini sangat lucu meskipun bukan komedi.
Rasulullah SAW. Pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “ya Rasullullah,apakah agama itu?” Rasulullah SAW. Bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Dia bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kirinya,”apakah agama itu?” Dia bersabda,”akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “apakah agama itu?” Rasulullah SAW. menoleh kepadanya dan bersabda,”belum jugakah kau mengerti? Agama itu akhlak yang baik. Sebagai misal, janganlah engkau marah”(Al-Targhib wa Al-Tarhib 3:405).
Hadits diatas, menyegarkankan kembali ingatan kita kepada tujuan dasar kenapa kita beragama. Yakni, Akhlak yang baik!. Good attitude!. Budi pekerti!. Perbuatan baik!. Agama mengarahkan kita kepada nilai-nilai ibadah utama yakni bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Bukankah tujuan utama diutusnya Nabi SAW. untuk menyempurnakan akhlak?!
Berbuat baik dan berbudi pekerti luhur juga tertuang dalam sabda Sang Buddha bahwa ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, salah satu diantaranya yaitu ajaran Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan. Dalam ajaran buddha dhamma diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagai salah satu darma, bukan itu saja, tapi juga mengajak manusia serta menghindarkannya dari bentuk kejahatan.
Begitupun kaum nasrani meyakini : Lalu Yesus berkata kepada mereka; “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Perjanjian Baru, Lucas 6:9)
Yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan (Perjanjian Baru, Roma 2:7)
Jika melihat ayat-ayat diatas, semuanya memiliki kandungan perintah untuk berbuat baik sesama manusia. Lalu kenapa agama belum dapat memberikan kedamaian bagi manusia? Ada apa dengan agama? Ini seperti orang yang masuk mesjid pulangnya nyolong sandal. Seakan-akan petuah-petuah agama tak mempan lagi bagi pemeluknya. Jika ajaran agama dianggap benar, berarti ‘oknum’ pemeluknya yang kurang atau tidak memahami ajaran agamanya. Bahkan pertikaian antar agama dianggapnya benar dengan dalih membela agamanya. Padahal agama sendiri tak menginginkan pertikaian dengan alasan apapun. Memang benar bahwa suatu konflik adalah sunnatullah. Hukum sebab-akibat. Hukum alam. Tapi bukan berarti konflik harus terjadi pada perbedaan agama. Kalaupun konflik harus terjadi, konflik itu seharusnya tidak bersifat fisikal. Karena mengingat muatan agama itu tadi. Memberikan nilai-nilai luhur. Nah, Apakah yang akan kita perbuat jika konflik itu masih saja meruncing?
Dahulu, konflik-konflik yang tidak bisa lagi ditolerir melahirkan banyaknya kelompok-kelompok atau mungkin pribadi-pribadi dari suatu agama yang lebih memilih untuk ber-uzlah ataupun ber-khalwat mengamankan keimanan dan kejernihan hati mereka agar tidak ternodai dan melenceng dari kemurnian ajaran agamanya.
Uzlah ataupun khalwat pernah dikerjakan oleh para Nabi saat mengemban tugas membimbing ummatnya. Seperti khalwatnya Nabi Muhammad SAW. ke goa hira di saat penduduk Mekkah berada pada puncak kekakafiran yakni melenceng dari agama Ibrahim, Musa, dan Isa pada waktu itu. Nabi SAW, selalu melakukan itu di waktu-waktu tertentu untuk menjaga kegelisahannya terhadap kondisi ummatnya yang mengkhawatirkan. Dan kemudian di tempat itu pulalah pertama di turunkannya wahyu.
Sekelompok pemuda juga pernah melakukan khalwat dengan menyepi di goa karena ingin menyelamatkan keimanan mereka dari penguasa yang lalim pada saat itu. Sehingga kemuliaan mereka itu dipuji-puji dan diabadikan Allah SWT. dalam Al-Qur’an dengan sebutan Ashabul Kahfi. Bahkan mereka ditidurkan lebih dari tiga abad lamanya agar kaum setelahnya dapat mengambil pelajaran.
Begitu banyak hamba Allah SWT yang telah dimuliakan dalam Al-Qur’an maupun Kitab-kitab terdahulu seperti Injil, Taurat, Zabur dsb, karena telah menjaga kesucian hati mereka. Ada yang disebutkan namanya ada pula yang disamarkan dengan sebutan Hambaku yang mulia” dalam Firman-NYA. Seorang Sidharta Gautama misalnya mencapai pencerahan dalam khalwatnya dan kemudian menjadi Nabi atau Budha, juga karena senantiasa menjaga kesucian hatinya. Sehingga ajarannya pun masih ada sampai sekarang ini.
Sehingga muncullah banyak Hamba-hamba Allah SWT. di generasi berikutnya yang senantiasa melakukan khalwat demi menjaga dan menyebarkan ajaran-ajarannya yang berorientasi pada kebersihan hati dan ketauhidan. Banyak dari mereka kita sebut sebagai kaum Sufi, Pendeta yang menempuh jalur kependetaan, Rahib, dan para Biksu.
Dalam dunia moderen saat ini pun masih banyak orang-orang seperti mereka, yang lebih mementingkan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Mutlak berlandaskan kepada kesucian hati dan akhlakul karimah kepada sesama manusia. Dan menghindari segala perselisihan, konflik, pertentangan, buruk sangka, fitnah dan menyebarkan kedamaian.
Sebagai manusia sibuk, kitapun dapat melakukan uzlah atau Khalwat pada diri kita sendiri dengan merenungi kekuasaan Tuhan, meng-uzlah-kan hati kita setiap saat dari segala hal-hal yang bisa mencemarinya. Semoga Tuhan pencipta langit dan bumi ini senantiasa melindungi kita semua terutama bagi orang-orang yang selalu menyebarkan kebaikan-kebaikan kepada sesama manusia, dan seluruh makhluk. Amien!
(Tulisan ini juga dimuat pada http://ansulsketsa.blogspot.com)
Incoming search terms for the article: