Akhir Cerita Panggung Sandiwara

Lakon sandiwara

Pemilu legislatif 2009 sudah lewat, sejarah mencatat. Manusia Indonesia telah berpartisipasi menentukan arah besar perubahan bangsanya. Rakyat akhirnya dapat mengakhiri keresahan serta kecemasan yang selama ini menghantui mereka. Keresahan yang timbul karena terganggunya hari-hari mereka oleh permainan melelahkan itu. Lain hal dengan kecemasan yang muncul dari ketidakrelaan jika negeri ini jatuh pada tangan para pemimpin yang tak punya ketetapan dan keteguhan hati nurani.

Sedikit menarik ke belakang, mencoba merangkai perjalanan panjang perubahan yang telah terjadi di negeri ini. Pasca reformasi bergulir, dunia politik Indonesia ternyata menempatkan masyarakat sebagai orientasi utama pasarnya (modern customer oriented). Mereka telah mengenal lebih jauh apa yang dinamakan marketing concept (customer driven organization). Terlihat dari iklan politik yang semakin banyak muncul, kebebasan dan keterbukaan mengemukaan pendapat, banyaknya jumlah partai, dan rakyat yang semakin cerdas memilih.

Namun sayang, para politisi dan elit negeri ini tak juga kunjung cerdas untuk secara baik memaknainya. Kondisi politik Indonesia yang baru saja kita nikmati kemarin, tak bedanya dengan sebuah lakon. Aktornya adalah para politisi yang membangun skenario untuk menciptakan cerita atau persepsi tertentu (narrative) dengan pilihan sikapnya. Mempertontonkannya kepada khalayak yang bisa saja dirinya sendiri. Hampir di setiap kedipan mata, selalu muncul wajah-wajah tak bernyawa yang terus menyapa. Mereka membentuk sebuah diorama baru di tengah kehidupan masyarakat yang juga sudah terlanjur penat dengan bentuk sandiwara-sandiwara lainnya.

Itulah politik kasual. Semakin hari sejak dimulai masa kampanye, para politisi semakin sibuk untuk memperebutkan hegemonitas semu yang dibangunnya sendiri. Dalam panggung itu, mungkin sudah tak lagi dikenal sebuah kebajikan sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Kapasitas substansial dari idealisme yang dimiliki oleh para calon legislator tersebut bukan lagi menjadi hal yang penting diketahui oleh masyarakat. Seakan menjadi tontonan masal pembodohan terhadap rakyatnya sendiri. Manakah yang sedang terjadi, prosedur demokrasi, kosmetika demokrasi, atau bahkan, kebohongan demokrasi?

Disonansi kognitif

Disonansi kognitif (cognitive dissonance) atau ketidaknyamanan yang terjadi di tengah hiruk pikuknya kampanye politik itu dirasa telah menjadi sebuah hal yang wajar. Harus diakui, masyarakat mungkin merasa tidak nyaman karena mendapat kerugian dari aktivitas politik itu. Terlebih bagi mereka yang telah skeptis dan juga apatis, potret perpolitikan pasti membuat kekecewaan semakin memuncak. Disonansi tersebut semakin dirasakan dan bisa jadi telah menyebar luas di masyarakat.

Masalah sebenarnya bukanlah siapa yang menjadi sasaran, tetapi bagaimana dan untuk apa semua ini dilakukan. Konflik atau disonansi pasti akan timbul ketika para elit berusaha mengambil keuntungan di tengah ketidakadilan yang mereka ciptakan sendiri. Aktivitas politik yang baik seharusnya memerlukan penetapan sasaran yang tidak hanya melayani kepentingan golongannya sendiri, tetapi juga kepentingan masyarakat yang dijadikan sasaran baginya. Namun sampai hari ini, ternyata penetrasi untuk menaklukkan pasar masih menjadi tujuan dan fokus utama sebagian besar politisi kita. Sungguh ironis, bukan kepentingan negara melainkan tak lebih dari kepentingan lingkar golongannya sendiri.

Jika pada pemilu 2004 belanja iklan kampanye menembus angka Rp 3 triliun. Hari ini, biaya untuk memasarkan diri para partai dan elit politik diperkirakan mencapai 20 triliun, naik hampir tujuh kali lipat. Tapi ironis, rakyat justru merasakan efek negatif. Karena transparansi, akuntabilitas, dan kecerdasan penggunaan besarnya anggaran tersebut tetap saja masih jauh dari alam pikiran para politisi negeri ini.

Sejak awal, mereka seharusnya dapat membaca nilai persepsi masyarakat dengan baik. Mereka adalah calon pemimpin yang sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang akan dipimpinnya. Persepsi itu akan menentukan bagaimana masyarakat memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi yang membentuk gambaran dunia dalam dirinya. Para politisi harus lebih banyak memberikan nilai lebih bagi masyarakat. Karena, kepercayaan (trust) tidak dapat dibangun dengan sekedar janji-janji kosong.

Mengapa kepercayaaan begitu penting? Kepercayaan tersebut merupakan kunci untuk membangun harapan dan keyakinan masyarakat. Mereka harus benar-benar mengantarkan kepercayaan yang dijanjikan. Lebih dari sekedar safari kekuasaan apalagi meneriakkan slogan dalam semboyan iklan. Mereka harus peka, mampu membangun paradigma dan pemahaman publik, berorientasi pada kepentingan umum serta mampu mentransfer ide, gagasan, konsep, program, sikap dan kebijakan secara integral kepada masyarakat.

Kepala tegak

Para pemain politik seharusnya sudah sejak dulu merubah paradigma mereka sendiri, bahwa perjuangan ini bukanlah sebuah panggung sandiwara. Tidak artifisial semata. Sebuah sandiwara yang berhasil memedihkan mata dan memekakkan telinga kita. Hanya dengan langkah perjuangan yang memiliki kedalaman visi, masyarakat akan jauh lebih menghargai. Edukasi dan pembangunan psikologis masyarakat akan secara langsung membuat mereka yang tak peduli menjadi mengerti untuk bersama menikmati perjuangan ini.

Pemilu 2009 yang baru saja terjadi, harus menjadi saksi atas hadirnya perubahan sejati penuh arti. Cukup bagi kita semua berkawan dengan kekecewaan. Mereka, yang mulutnya berbusa dengan tangan yang selalu bergentanyangan kemana saja, semoga telah benar-benar berhasil kita dilemparkan ke kantong sampah, kita benamkan ke lumpur hitam. Agar mereka diam lalu mati tak bertenaga.

Jika kita masih memiliki mimpi dan harapan akan kejayaan Indonesia, maka berpartisipasi kemarin menjadi jawabannya. Perjalanan perubahan Indonesia masih amat panjang. Jarak begitu jauh, jalanpun tak berkesudahan. Mari tegakkan kepala, tatap dunia, bijaksanakan hati. Jadilah masyarakat optimis yang terbangun atas dasar karakter dan nilai positif. Tak cukup hanya dengan teriakan, karena pesta ini butuh pembuktian.

Sejarah yang akan memastikan hadirnya pahlawan sejati. Mereka yang mampu membawa Indonesia lebih sejahtera dalam drama kebenarannya. Akhirnya, kita semua akan dapat menikmati akhir cerita dari panggung sandiwara ini, dengan bukti nyata yang tak sekedar janji belaka. Kita tunggu siapa pemenangnya.

Leave a Reply