Mari Menghitung Ulang Pemilu 2009

Posted: March 7th, 2009 | Author: hmcahyo | Filed under: Opini | Tags: | 5 Comments »

Pelaksanaan pemilu 2009 sudah semakin dekat, hingar bingar berita dan sensasi parpol menyesaki ruang nyata dan media massa. Manuver-manuver politik yang dilakukan para petinggi parpol telah mengalahkan isu-isu penting di negeri ini!

Miris!

Mungkin itu satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana pelaksanaan pemilu 2009 berlangsung dan apa yang terjadi sesudahnya!

Saya secara pribadi tidak terlalu berharap banyak atas hasil pemilu tahun ini. Saya lebih memilih menyiapkan diri saya untuk kecewa daripada berharap terlalu berlebihan. Karena menurut hitung-hitungan rasional saya, sepertinya mustahil akan ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi jika dikaitkan dengan kesejahteraan rakyat… hmmm masih jauh panggang dari api!

Saya frustasi?

Tidak juga! Karena mungkin saya masih akan menggunakan hak politik saya untuk memilih. Karena dengan menggunakan hak tersebut saya masih punya peluang untuk sekedar komplen kepada calon penguasa negeri ini kelak, siapapun yang memimpin!

Tapi kali ini saya cuman ingin mengajak anda menyadari betapa pemilu 2009 ini adalah hajatan termahal – very-very high cost — dan terkonyol yang dilakukan oleh orang indonesia!

Ya terkonyol !

Hanya orang yang waras saja yang tahu bagaimana menggunakan uang dengan baik dan tidak mubazir! Apalagi jika anda melihatnya dari sudut pandang ajaran agama!

Coba sekarang lihat di sekitar lingkungan anda, betapa biaya pemilu ini begitu mahal daripada tahun-tahun sebelumnya!

Coba lihat betapa para caleg-caleg menghambur-hamburkan uangnya untuk sekedar bernarsis ria . Bahkan konon di sebuah surat kabar anak pemimpin negeri ini telah menghamburkan miliaran rupiah hanya untuk memasang gambar dirinya di daerah-daerah pemilihannya.

Dan benar-benar konyol karena pada surat suara nanti tidak ada gambar mereka sedikitpun! Sementara di lain pihak banyak calon pemilih yang buta huruf dan tidak mau ribet mencari nama-nama mereka diantara deretan ratusan nama caleg yang ada di lembar surat suara yang lebarnya konon sebesar koran harian…

Hmmm tidakkah mereka berpikir?

Atau sudah dicabutkah pikiran waras mereka?!

Ironi!

Ya ironi! Dan bahkan tindakan mereka itu adalah cruel joke , degelan yang menyakitkan!

Betapa tidak menyakitkan?

Sementara banyak orang kesusahan untuk sekedar mencari makan setiap harinya sementara mereka menghambur-hamburkan begitu banyak uang hanya untuk menjadi sampah sistemik yang menjejali mata kita sepanjang jalan!

Tidakkah menyakitkan?

Ketika di poster-poster mereka menyatakan akan menurunkan harga BBM, membuka lapangan pekerjaan dan menjamin kesejahteraan serta janji-janji lainnya, sementara di bawah poster-poster mereka berteduh anak-anak putus sekolah yang mengais-ngais rezeki di jalanan?

***

Pemilu ini benar-benar very, very high cost accident! – kecelakaan sejarah yang benar-benar mahal.

Pemilu kali ini adalah catatan sejarah betapa euforia politikus kita dalam memaknai kebebasan ini tidak jauh beda dengan anak-anak TK yang baru saja mendapat hukuman dari sang guru untuk sekedar diam beberapa saat dan kemudian diperbolehkan istirahat dan berbuat sekehendaknya!

Tidak tahukan bahwa pesta yang mereka selenggarakan ini begitu banyak memakan biaya, tenaga dan waktu bangsa ini untuk berbuat yang lebih produktif?

Tidak percaya?

Sebuah koran di Jawa Timur beberapa waktu lalu memberitakan bahwa untuk pilkadal gubernur negara telah menyia-nyiakan uang sebesar 1,3 trilyun! Untuk melaksanakan pilkada sebanyak 3 kali putaran!

Padahal biaya itu belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh para cawagub, baik yang menang apalagi yang kalah! Dan saya yakin jumlah itu akan menjadi dua kali lipatnya!

Menyedihkan!

Padahal dana untuk pendidikan di Jawa Timur saya yakin jauuuuh lebih kecil dari pada dana yang dikeluarkan untuk pelaksanaan pilkadal tersebut!

Aneh memang!

Pemerintah kita sangat enggan untuk mengganggarkan lebih banyak agar warga negaranya bisa lebih pandai dan beradab, sehingga kesadaran berpolitiknya semakin baik!

Mubazir!

Tidakkah mereka berpikir bahwa 40% lebih warga negara tidak menggunakan hak pilihnya dalam pilkadal di berbagai tempat!

Tidak tahukah mereka bahwa yang tidak menggunakan hak pilihnya itu bukan orang-orang yang tidak berpendidikan?

Tidak sadarkah mereka bahwa mereka yang memilih abstain adalah mereka yang tidak mampu dibujuk dengan serangan fajar ketika waktu pemilihan tiba?

Itu baru pilkadal!

Bagaimana dengan pemilu 2009?

Lebih banyak biaya!
Yang paling nyata adalah waktu pemilihan semakin lama, karena kertas suara semakin besar dan meribetkan, sementara pemilih masih direpotkan untuk mencari nama caleg fovoritnya dan itu dilakukan empat kali, untuk DPRD, DRPD I, DPRD Pusat dan DPD!

Menurut informasi konon dibutuhkan waktu antara 10 s/d 15 menit per orang di bilik suara!

GILA!

Padahal di TPS saya dengan 2 bilik suara ada sekitar 200 pemilih. Jika semua orang datang dan antri maka waktu yang dibutuhkan adalah 100 x 15 menit = 1500 menit atau sama dengan 25 jam!

Melelahkan!

Setelah itu kegilaan berikutnya adalah penghitungan suara!

Kalau pada pemilu yang lalu, ketika yang dihitung hanya suara parpol saja membutuhkan waktu yang lama di tiap TPS, maka saya yakin pemilu ini akan semakin lama, prediksi saya bisa sampai 24 jam lebih petugas TPS harus menghitung suara yang masuk!

Mencemaskan!

Tahukan anda bahwa sampai sekarang KPU belum menyediakan aturan yang jelas tentang sah tidaknya suara?

Dari informasi yang saya ketahui sampai saat ini, adalah sah jika suara hanya dicentangkan di gambar parpol, meski tidak di calegnya!

Lha kalo begitu buat apa ada aturan suara terbanyak yang menang?

Lantas suara-suara yang masuk melalui parpol – bukan melalui caleg – itu hendak dikemanakan?

Dikasihkan caleg yang nomor urut paling atas?
Jelas gak adil!

Dibagi rata?!
Halah dagelan apalagi ini?!

Belum lagi sosialisasi tentang cara pencoblosan pencentangan yang sah!

Kemarin saya dengar aparat desa mengeluh karena keterbatasan tenaga mereka untuk sosialisasi tentang masalah ini ke warganya!

Seorang caleg mengeluh, karena dia berasal dari dapil yang orangnya banyak buta huruf!

Hmmm… aneh memang negara ini! Sesuatu yang belum siap dipaksakan untuk dilaksanakan!

Dengan begitu banyak permasalahan pra-pemilu, maka tidak mustahil terjadi lebih banyak permasalahan sesudah pemungutan suara nanti!

Masih ingat demo-demo anarkis terhadap KPU di beberapa daerah terkait dengan ketidak puasan hasil pilkadal?

Apalagi pemilu kali ini!

Akan semakin banyak – khususnya caleg – tidak puas dengan hasil penghitungan suaranya?

Kalau sudah begitu?

Siap-siaplah kita untuk kecewa dengan hasil pemilu 2009!

Siapkah anda?


5 Comments on “Mari Menghitung Ulang Pemilu 2009”

  1. 1 Ahmad Bustanul Ar said at 12:04 am on March 26th, 2009:

    Solusi cerdas mengatasi pemilu yang mahal
    1. mengadakan pemilihan tingkat RT saja, baru calaon RT diajukan ke RW,
    2. Tk RW diajukan ke tk desa dst
    3. pemilihan langsung hanya tingkat RT untuk tingkat RW sampai pusat cuku p di undi.
    Keuntungan
    1. Kita tau benar tentang watak, watek watuk e Calon , krn dari RT kita sendiri
    2. kalo tingkat RW ke atas di undi, tentu dalam meilih wakil kita akan benar2 serius tidak krn uang
    3. hemat biaya……….
    …………………..CERDAS KHAN>>>>>>>>>>>>>>>>>>

  2. 2 riri said at 1:48 pm on March 26th, 2009:

    sebelum pemilu juga saya udah kecewa ko mas

  3. 3 Bappilu Partai Golkar ’09 said at 3:48 pm on March 31st, 2009:

    Miris memang, tapi semuanya harus kita laksanakan.

    Bappilu Partai Golkar ’09´s last blog post..Golkar: Partai Sejuta Saksi

  4. 4 Den Mas Klowor said at 4:29 am on May 11th, 2009:

    Partai yang berpengalaman ( curang ) tinggal kirim&bayar saksi sebanyak-banyaknya bisa dipastikan masuk 10 besar, itulah cermin pemilu di indonesia tercinta

  5. 5 Den Mas Klowor said at 4:32 am on May 11th, 2009:

    Cara ini ternyata manjur untuk menyusupkan teroris intelektual ke legislatip, seperti di wilayah Banten contoh konkritnya


Leave a Reply