Politik Dua Titik Nol
Posted: February 1st, 2009 | Author: Ardhi Ridwansyah | Filed under: Ardhi Ridwansyah, Kolom | Tags: pemilu 2009, politik | 3 Comments »Apa arti embel-embel “dua titik nol” di atas? Setahuku, ”2.0” pertama kali dipopulerkan oleh Tim O’Reilly sebagai ajektif dari kata ”web”. Jika di awal kemunculannya internet menandai revolusi dunia informasi, maka sekarang keberadaan internet menandai sebuah cara baru bagi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik. Jika web 1.0 adalah ”information age”, maka web 2.0 adalah ”participation age”. Jika di era web 1.0 informasi mengalir secara vertikal dari para pengelola web ke penikmat dunia maya, maka di era web 2.0 aliran informasi tersebut telah menjadi horizontal. Blog, Wikipedia, serta Facebook adalah beberapa prasasti yang menandai lahirnya era ini.
Kedahsyatan horizontalisasi ini ternyata tidak hanya berhenti di dunia maya. Daniel Lyons dan Daniel Stone dalam sebuah artikelnya di Newsweek menyebut Obama sebagai Presiden 2.0 karena kesuksesannya menggalang pendukungnya untuk menjadi sukarelawan kampanye, baik secara on line atau pun off line. Bandingkan dengan McCain yang masih bertumpu pada gaya-gaya kampanye vertikal satu arah.
Tahun 2006 Majalah Time membuat sebuah gebrakan yang cukup mengejutkan ketika menetapkan Person of The Year-nya: YOU! Ya, YOU! Anda! Horizontalisasi via teknologi web 2.0 telah menjadikan Anda memiliki akses lebih besar untuk berpartisipasi dalam perubahan wajah dunia.
Welcome to Politic 2.0 !
Lalu seperti apakah era politik 2.0 itu? Ada banyak isu yang bisa diangkat terkait subyek ini, namun saya cenderung tertarik untuk menyorot satu fenomena: kerepotan partai politik dalam menghadapi informasi-informasi yang horizontal (baca: menyamping).
Dalam organisasi apapun, umumnya informasi-informasi kritis yang bersifat menyamping dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang. Ini sangat wajar. Setahuku, perusahaan sekaliber General Electric sekalipun sampai memiliki kebijakan khusus mengenai mekanisme pengaduan atas pelanggaran business ethic-nya. Seorang karyawan tidak dibenarkan untuk menyebarkan kritik secara horizontal; bergosip ria dengan rekan sejawat mengenai “borok” perusahaan ataupun bos di kantor. Bisa dibayangkan apa jadinya jika rumor-rumor yang dapat merongrong kewibawaan manajemen perusahaan dibiarkan berkembang tanpa penanganan.
Di era web 2.0 seperti sekarang ini, ancaman yang lebih merepotkan perusahaan justru datang dari luar, tepatnya dari karyawan perusahaan yang telah keluar. Karena secara structural mereka tak lagi terikat dengan aturan perusahaan, maka kritik-kritik menyamping pun menjadi sulit dikendalikan. Yang lebih merepotkan, kritikan semacam ini seringkali lebih pedas dan ”berisi” karena dilontarkan oleh pihak yang tahu ”dalamnya” perusahaan.
Parpol dan Oposan Maya
Fenomena yang kurang lebih sama juga berlaku di dunia politik. Partai-partai mungkin sudah terbiasa jika ada kadernya yang ”desersi”. Namun jika ada satu saja di antaranya yang kemudian menasbihkan dirinya sebagai ”oposan sejati”, aktif berkoar-koar lewat canggihnya piranti teknologi, maka ceritanya akan berbeda.
”Bukankah di Indonesia orang yang melek internet baru beberapa gelintir saja?”
Hmm…jumlah pengguna internet di Indonesia sebenarnya bisa dikatakan cukup tinggi. Hingga akhir 2007 saja tercatat angka 25 juta dengan pertumbuhan per tahun sekitar 20%.
Jika angka tersebut masih terkategorikan ”segelintir”, maka bagaimana jika ditambahkan asumsi berikut ini. Dari segelintir orang tadi, sebagian besar adalah kader-kader inti partai Anda. Secara kuantitatif barangkali mereka tidak signifikan, tetapi secara kualitatif merekalah yang sebenarnya paling berkontribusi bagi jatuh-bangun pasang-surutnya partai. Merekalah orang-orang yang rela bekerja tanpa mengharapkan imbalan materi dan kedudukan. Singkat kata, merekalah kader partai dalam artian yang sebenarnya.
Jika segmen ini menjadi target horizontalisasi informasi yang dianggap menyimpang oleh partai, maka efeknya tak akan sesederhana kena influenza.
Partai politik di negeri ini umumnya tak begitu ambil pusing dengan serangan-serangan opini dari para blogger yang anti kepadanya. Namun tetap saja ada perkecualiannya. Jika seorang desersir berhasil menggalang amunisi di dunia maya untuk melancarkan kritik-kritik tajam kepada partai, maka mau tak mau partai yang gerah akan mulai mengambil langkah.
Dahulu, partai bisa menerapkan strategi marketing secara vertikal melalui teknik yang disebut ”positioning”. Mengklaim diri sebagai partai paling ini dan itu. Namun kini, di era marketing web 2.0 (Pakar marketing Hermawan Kartajaya menyebutnya dengan istilah ”New Wave Marketing”), praktik positioning mengalami pergeseran. ”Clarifying”, demikian Pak Hermawan Kartajaya mengistilahkan bentuk transformasi dari positioning.
Ya, di era politik 2.0 Anda perlu melakukan klarifikasi. Berdialog dengan pihak-pihak yang antipati, mencoba beradu argumentasi.
Menghadapi kritik dari mantan kader partai akan lebih mudah jika partai Anda ”lurus-lurus” saja. Namun jika penyimpangan platform serta ideologi partai bertebaran di mana-mana, maka klarifikasi akan menjadi suatu tugas yang sangat berat. Kritikus partai Anda di dunia maya akan memiliki segudang amunisi untuk ditembakkan. Para kader inti yang masih bertahan pun akan terancam.
Jika partai Anda menghadapi posisi semacam itu, menerima segenap kritik sebagai perbaikan internal adalah langkah awal yang bijaksana. Putarlah haluan jika memang diperlukan. Dan semoga para penebar kritik akan berbalik menjadi advocate partai Anda.
Jika tetap bersikukuh, barangkali partai Anda perlu meniru resep pemerintah China ketika mencoba meredam akses berita seputar Tibet oleh warga negaranya. Diciptakanlah avatar berbentuk polisi yang muncul secara acak di layar-layar monitor warga, sehingga secara psikologis tercipta kesan seolah-olah pemerintah senantiasa pasang mata di dunia maya. Adam B. Kushner menyebutnya Repression 2.0
fotomu itu mbok ya diganti toh mas
maksudnya, mbok-mbok atau mas-mas? jadi bingung (garuk2 kepala)
baguslah…dengan begini bangsa kita akan bertumbuh ke arah yang lebih baik,karena kontrol publik semakin mudah dan simple,hehehe….salam kenal