Seni ,idealis dan bisnis

Posted: November 14th, 2008 | Author: Ilhamdi | Filed under: Blog Menulis | Tags: , , | No Comments »

Sebuah acara diskusi pada malam hari selasa mengeteghakan bagaimana posisi media dalam mencermati pemberitaan saat ini.Berbagai isu diangkat mulai dari mencoba mendramatisasi sebuah berita ,tengan bagaimana proses kerjaaan sebuah media .tentang bagaimana “visi “ media itu ,tentang baigaimana media memberikan sebuah pendidikan .Tokoh yang hadir saat itu diantaranya adalah Imama Prasojo ,pakar sosiologi UI ,KArni Ilyas pemred tv one ,Bambang Harymurti dari dewan Pers .Agus Dibyo pengamat media ,Uni Lubis dari atvsi dan beberapa nama yang tidak saya ingat ,tapi mereka dari beberapa media juga seperti kompas ,republika ,metro tv ,sctv dan juga dari komisi penyiaran Indonesia ,Sayang dari semuanya tidak hadir wisnhnutama dari trans corp,rosssiana silallahi dari sctv ,serta dari mnc gropu yang membidani rcti,tpi dan global tv ..Masalah aygn pertama diangkat adalah tentang “keberpihakan “ beberap media elektronik ketika kasus hukum mati amrozi cs ,diangganp terlalu berlebihan.Pakar sosiolog Imam Prasojo malah mengkritik dari sisi social masyarakat yang ada saat tv one mengangkat tema yang membuat “pemikiran”,perbedaa” menjadi sesuatu hal yang besar .Imam mencotohkan ketika istri dari amrozi diwawancara adalh kubu yang mendukung jihad dalam arti mereka tersendiri ,di lain pihak tv one juga mewawncarai beberapa korban dari bom bali ,menurut Imam hal ini sebenarnya semakin membuat masyarakat sem,akin skeptis dalam menyikapi masalah.Masalah ayng dimulai dari masalah kekerasan.Seharusnya media berperan lebih edukatif,lebih objektif.Untuk hal ini gw setuju bangaet sama Imam ,tapi masalahnya mas Imam ,gak ada yang objektif di dunia,sangat sulit dicari harga dari sebuah keadilan ,sesuatu yang benar – benar fair …..sesuatu yang benar – benar semua pihak bisa merasa bahagia .Gak ada .Kecuali hati kita masing – masing yang buisa merasakan hal itu.

Hal ini langsung dibantah keras oleh Karni Ilyas dari tv one ,menurut mereka itulah proses kerja mereka selama itu adalah media elektronik.Para pemirsa atau konsumen akan lebih suka menyaksikan berita yang live report ,mereka lebih suka straight lines yang benar – benar terjadi saat itu.Hal ini didukung oleh beberpa media elektronik yang hadir pada acara diskusi tersebut seperti Uni Lubis atvsi dan dari Metro tv.Tapi beberapa kritikan lahir dari pengamat media ,Bambang Harymurty dari dewan pers.Well buat mas Bambang …bapak yang satu ini masih sama seprti saat saya ikut diskusinya pada tahun 2005 lalu di kampus pusat UII cik Di tiro .Selain itu yang paling cukup tepat dalam menegahi ini adalah orang dari kpi ,dengan bijak dia buat pernyatan “ semua dan apa yang dilakukan oleh media itu adalah hak mereka ,itu adalah pilihan mereka ,tapi tidak ada salahnya mencoba untuk tetap tampil objektif dan menciptakan balancing dalam pemberitaan .Well dari semuanya itu masing – masing terlihat seperti menciptakan apa yang mereka mau dari media mereka.Seni mereka dalam emmainkan [pola ,program ,tulisan ,gambar kamera ,berita dan hal – hal yang mereka lakukan seperti biasanya.Beberapa pengamat media atau pun kritikus meida tak kalah bersaing dalam hal ini “ sisi idealis “ mereka mulai mereka kembangkan degan melancarkan krtik – kritik terhadap berita – berita yang di luncurkan oleh media ,mulai dari masalah amrozi cs ,kekerasan ,dan segala – segalanya.

Sayang tidak ada yang berani membuka ,bagaimana sisi bisnis mereka ,tak dapat dipungkiri lagi sekarang rating sebuah acara ikut terpengaruh oleh iklan .Soal ini hanya Krni Ilyas yang buka suara.Sisanya ? Media di tuntut sebagai arus informasi,hati nurani rakyat ,atau apa pun tagline yang mereka bangun ,jika memang inigin menciptakan balbancing yang tentunya edukatif ,sudah saatnya juga media menjelaskan sisi bisnisnya.Hal ini bukan terletak pada pemegang dana seperti yang dikritk oleh mas Imam dari UI ,tapi kita ambil bagian sederhananya .dalam proses iklan media elektroni tentunya iklan yang masuk bisa dipengaruhi oelh acara apa ayng akan mereka buat ? apakah acara itu menarik perhatian pemirsa ? Sebuah perusahaan dalam mengiklankan produknya tentu tidak main – main ,mereka tentunya tidak mau menghamburkan uang begitu saja untuk memasang wajah produk mereka di telvisi,sedangkan televise itu tidak banyak ditonton oleh pemirsanya,atau sebuah acara itu kurang diminati masyarakat.Ok kita ambil contohnya ,kasus amrozi cs memang menyita banyak perhatian ,.tragedi bom yang menewaskan sekitar 200 orang ,terjadi di pulau bali ,setelah ditangkap eksekusi mati yang terus tertunda – tunda,selain image islam yang sekarang semaikn dianggap skpetis ,sebuah berita yang sebenarnya memang laku untuk dijual ,selalu ditunggu pemirsanya ,karena secara lanmgsung atau tidak langsung akan berdampak pada sentra kehidupan mereka masing – masing .Nah sekarang tinggal bagaimana sebuah media mengemas acara itu masing – masing secara menarik agar pemirsa memilih media mereka untuk dinikmati.Hubungannya dengan bisnis ,tentu saja ini adalah ladang uang bagi media ,iklan yang berloba masuk dengen program acara yang dikemas menarik ,sumber informasi yang menarik dan hal – hal lainnya .Karni Ilyas bilang ,sebenarnya kalau mau untung bikin aja tv entertain ,itu pasti laku ,kalo bikin media yang kayak kami gini ,rugi….,well buat penulis gak, .masa seh “ media rugi “ jika medianya bukan media entertainment ?

Permasalahan ini lah yang sebenarnya terjadi ,di satu sisi media menampilkan seni mereka ,baik itu lewat tulisan ,gambar kamera ,foto ,angel kamera atau video dan hal – hal lain sebagai teknisnya.Sementara itu idealisme media yang tercermin dalam bentuk visi juga harus tetap jalan .Semuanya itu pun harus “berhadapan “ pula dengen sisi bisnis.Seperti yang terltulis tadi diatas tidak ada yagn benar – benar objektif ,tentang apa ,bagaimana yang harus kita lakukan .Tapi itu pilihan .Seperti ayng dikemukan oleh salah satu anggota disukusi dari KPI ,bahwa apa yang dilakukan media saat ini itu adalah pilihan mereka ,sekarang tinggal bagaimana mereka meng –create menjadi sesuatu yang imbang .Dan buat penulis tentunya juga harus edukatif agar semkin mencerdaskan masyrakat Indonesia .

Seni ,idealis dan bisnis ,mana yang objektif ?

Incoming search terms for the article:



Leave a Reply