Kutukan Republik
Posted: October 24th, 2008 | Author: Zainal A. Hidayat | Filed under: Opini | Tags: kutukan, republik | No Comments »Kemalangan seringkali begitu cepat menggantikan keberuntungan. Itulah yang diratapi masyarakat AS sekarang. Bagaimana tidak, Presiden George W Bush mewarisi surplus anggaran 128 miliar dollar AS saat menggantikan Bill Clinton. Amerika Serikat menikmati keajaiban “new economy” dengan ditandai peningkatan produktivitas seiring perkembangan internet. Kini di penghujung kekuasaannya, utang AS melesat menjadi hampir 10 triliun dolar AS; dan kemuraman menyelimuti seluruh negeri akibat krisis keuangan yang amat dalam.
Sebagian orang lantas percaya, saat dikelola seorang presiden dari Partai Republik, cahaya AS sebagai kekuatan ekonomi dunia kerap berubah redup. Sejarah mencatat, depresi besar pada 1930-an kian parah saat Herbert Hoover naik tampuk kekuasaan. Periode tersebut sering diingat sebagai era “worst president” dalam keyakinan publik AS.
Kini, dengan semakin dekatnya waktu pemilihan presiden banyak yang cemas hal serupa akan terulang kembali. Tak hanya warga AS, barangkali dunia pun berharap agar tidak terkena “Kutukan Republik” ini.
Anti Intelektualisme?
Muncul spekulasi bahwa terpilihnya Paul Krugman, profesor di Princeton dan juga kolumnis The New York Times, sebagai peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2008 karena ia “tekun” mendiskreditkan kebijakan Presiden Bush. Namun Krugman berkilah, nobel memang diberikan kepada intelektual, dan menurutnya a lot of intellectuals are anti-Bush.
Jeffry Sach menulis sebuah artikel dengan nada getir berjudul “The American Anti-Intellectual Threat”. Menurutnya, peranan AS yang menjadi sumber instabilitas global ketimbang sebagai penyelesai masalah, salah satunya yang paling kuat adalah karena anti-intelektualisme. Peristiwa paling mencolok adalah ketika Sarah Palin– mengutip Bill Liddle—seorang gubernur sebesar kabupaten di Indonesia dipinang sebagai cawapres dari Partai Republik mendampingi McCain.
Bagi kebanyakan cerdik pandai AS, dewasa ini bukan ambruknya perekonomian yang dikhawatirkan. Sebab, meski kapitalisme (neoliberalisme) sedang terpojok, tetapi keyakinan dan optimisme bahwa perekonomian cepat atau lambat akan pulih kembali tidak sedikitpun tergantikan. Bagi mereka, AS akan bangkit lagi sebagaimana Korea Selatan melesat dengan pertumbuhan ekonomi tinggi pascakrisis 1997-1998.
Namun tak dibantah, masa depan generasi muda AS memang dalam pertaruhan. Kemungkinan besar mereka akan kalah bersaing dengan sebayanya dari China dan India di masa mendatang. Sebabnya, di masa Bush AS membelanjakan lebih banyak dana untuk peperangan ketimbang anggaran pendidikan. Tetapi, Sarah Palin menyebut perang yang menurut sebuah perhitungan menghabiskan 3 triliun dollar AS dan menyebabkan ribuan korban jiwa itu sebagai “tugas dari Tuhan”.
Seperti banyak negara yang menghadapi persoalan fundamentalisme, para pemilih AS bukan menolak manfaat dari kemajuan teknologi yang dihasilkan sains modern. Namun mereka kerap menolak bukti-bukti ilmiah (produk intelektual) dalam penentuan kebijakan publik. Akibatnya, peperangan dianggap semata perintah tuhan dan bukannya diletakkan sebagai kegagalan politik dan menggalang kerjasama global.
Dalam hal ini, barangkali pemilih di Indonesia jauh lebih dewasa karena sudah tidak gampang terpikat dengan tawaran yang sekedar berlabel agama. Tetapi di AS, ditambah bangkitnya sentimen ras selama masa kampanye, tak mustahil jika gairah fundamentalisme yang tak harmonis dengan sains itu, sekali lagi dimanfaatkan dengan cerdik oleh kubu Republik.
Keseimbangan Baru
Namun, banyak jajak pendapat sekarang mengunggulkan Barack Obama. Jika menang, selain akan menjadi presiden AS kulit hitam pertama, kandidat presiden dari Partai Demokrat itu sekali lagi akan membawa peruntungan AS ke jalan kapitalisme negara pasca limbungnya kapitalisme swasta.
Bagaimana Obama menghindar dari kutukan? Tantangannya adalah bagaimana ia meramu kesetimbangan antara peran pasar dan negara. Satu-satunya opsi adalah menstabilkan sistem finansial dengan regulasi yang lebih kuat. Patriotisme ekonomi juga akan lebih banyak menjadi pilihan termasuk dengan membatalkan sejumlah kesepakatan perdagangan bebas. Dan problem “ekonomi obesitas”, di mana masyarakat kelewat konsumtif, akan diimbangi dengan kenaikan pajak.
Banyak pihak mengingatkan bahwa masalah fundamental AS juga tergantung pada sejauhmana kemampuan melakukan penghematan energi dan menemukan teknologi baru untuk mengikis ketergantungan energi dari luar. Produksi etanol besar-besaran yang menyebabkan krisis pangan dan ikut memantik pemanasan global disarankan tidak perlu dilanjutkan. Dalam kampanyenya, Obama memang menjanjikan membuka ladang minyak baru secara terbatas.
Tetapi dunia masih harus sabar menanti: apakah Barack Obama sungguh-sungguh menjadi change we can believe in bagi perekonomian global empat tahun ke depan.
Leave a Reply