Santun dan Musium (?)

Posted: August 5th, 2008 | Author: Zulfikar Akbar | Filed under: Lain-lain | Tags: | No Comments »

…Saat engkau belum mampu membahagiakan saudara-saudaramu, janganlah engkau sakiti mereka. Agar kelak tidak menjadi manusia yang dikutuk jiwa-jiwa yang suci

Memang, sering bahwa sikap santun hanya bermain pada tataran imajinasi. Saya sendiri adalah bagian dari orang yang pernah menjadi korban dari imajinasi indah itu.

Bayangkan anda menyapa sesorang dengan ramah, lantas anda justru di semprot, apa yang akan terbetik di benak anda? Sah saja kalau anda amarah menyikapi hal demikian, atau anda barangkali memilih untuk mendiamkannya. Namun, ini menjadi sebuah simbul, kita sedang berada dimana.

Kawan saya mengatakan,”jika sebuah sikap buruk harus dibalas dengan keburukan pula, apa bedanya kita dengan mereka?”.

Kelimat ini terasa sejuk di hati, kendati sempat panas kala menerima keadaan seperti yang saya ilustrasikan di atas.

Ini tentang kita, ini tentang realitas, dan ini tentang sisi-sisi manusiawi yang akan kita temui disekeliling. Mungkin saat di terminal bis, di halte, atau mungkin di acara hajatan tetangga sebelah.

Anyway, kita sedang merangkak pada topik kebesaran jiwa, kita adalah manusia yang memiliki jiwa yang besar, berjiwa besar, dan sikap kita dalam menghadapi semua itu sebagai indikator. Adalah hal yang nisacaya, salju akan memancarkan aura sejuk, dingin. Mutlak harus diragukan saat onggokan ’salju’ pancarkan hawa panas yang membuat gerah.

Ah, membicarakan hal ini terkadang saya malu sendiri, karena bagaimanapun, tempo hari pernah juga menghadapi hidup dengan ‘wajah sangar’.



Leave a Reply