Alternatif “Negawatt”
By Zainal A. Hidayat at 27 July, 2008, 1:42 pm
Tak putus dirundung kriris energi. Beginilah nasib Indonesia kini. Setelah rakyat dipaksa antre minyak tanah dan elpiji, lalu dihajar kenaikan BBM, sekarang giliran pemadaman listrik kian meluas.
Kenapa Indonesia nyaris menjadi “republik gulita”? Menurut Wapres Jusuf Kalla, keadaan ini diakibatkan ekonomi yang tumbuh pesat. Selain itu, Wapres mengakui terjadinya pemborosan pemakaian daya listrik di mana-mana (Kompas.com, 27/6/08).
Di banyak negara berkembang, hampir selalu muncul dua masalah kembar. Pertumbuhan ekonomi dibarengi, inefisiensi pemakaian energi dan melebarnya kesenjangan ekonomi.
Harga listrik amat murah bagi golongan menengah-atas, tapi sebaliknya terasa sangat mahal bagi lapisan bawah masyarakat. Akibatnya, insentif berhemat, justru hanya muncul pada kelompok terbawah yang pemakaian energinya amat minim.
Intensitas energi – jumlah energi dibutuhkan untuk menghasilkan tiap dollar output — lebih rendah di negara-negara di mana harga listriknya tinggi. Bukan sebuah kebetulan jika Denmark menjadi negara dengan harga listrik tinggi sekaligus menjadi ekonomi yang efisien-energi (Economist, 8 Mei 2008).
Sulitnya berhemat
Ibarat pepatah, sektor kelistrikan bangsa ini sudah besar pasak daripada tiang. Dalam situasi demikian, potensi penghematan sulit terlihat dan diwujudkan. Sebabnya, energi mengambil porsi kecil saja dalam anggaran perusahaan atau rumah tangga. Apalagi, di kantor-kantor pemerintahan yang birokrasinya masih macet dan dijangkiti korupsi.
Distorsi dalam pemakaian energi seringkali amat pelik dan berurat-akar. Bagi kalangan bisnis, investasi dalam instalasi penghemat energi tak terlalu menarik karena mereka cenderung untuk menggenjot pendapatan ketimbang mengurangi biaya. Para pengembang bangunan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan perumahan, tak perlu repot mengeluarkan investasi besar karena tagihan listrik akan ditanggung penyewa/pembeli.
Di sisi lain, konsumen pun senang karena mendapat harga lebih murah meski minus pengefisien energi. Sedangkan dalam keadaan normal, perusahaan listrik juga mendorong konsumen agar mengonsumsi listrik sebanyak mungkin.
Semua benang kusut tersebut harus ditangani agar masalah laten kelistrikan terurai. Pengalihan waktu operasi industri ke Sabtu dan Minggu seperti tertuang dalam surat keputusan bersama (SKB) lima menteri, tidaklah cukup. Langkah lain yang perlu diambil adalah menghilangkan informasi asimetris, yakni agar gedung baru, perumahan, ataupun barang elektronik, yang dibeli konsumen memenuhi syarat efisiensi energi yang lebih baik.
Upaya penghematan mutlak diperlukan, sebab selain membutuhkan waktu lama, membangun pembangkit listrik baru juga meminta biaya amat besar, bahkan sering dengan jalan menambah utang.
Megawatt vs Negawatt
Dunia menyepakati hemat energi adalah salah satu jalan memelihara bumi. Namun, perubahan–perubahan dalam menyikapi semakin terbatas dan mahalnya sumber energi, mesti masuk akal pula secara ekonomi. Tidak mengurangi hak publik, dan tidak kontraproduktif terhadap perekonomian.
Alternatif yang kini kembali menemukan momentum baru adalah menciptakan pembangkit virtual “negawatt” yang gagasannya diperkenalkan Amory Lovins (1989). Dengan metode ini, peningkatan suplai listrik dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pada peralatan yang ada atau mengurangi konsumsi sementara waktu, ketimbang membangun pembangkit baru yang mahal.
Pada saat beban puncak, konsumen mengurangi konsumsi listrik; contohnya dengan mengurangi suhu pendingin udara di pusat perbelanjaan. Hasil penghematan inilah yang dapat “dijual” kepada pihak lain dengan perjanjian yang disepakati bersama dengan otoritas energi.
Secara teoretis negawatt dapat diaggregasi dan sebuah “pasar” otomatis muncul untuk memperdagangkan produk tersebut. EnerNOC, sebuah perusahaan Kanada, berhasil mengagregasi 796 megawatt kontrak negawatt dan sukses listing bursa saham. (The Star, 6/8/07).
Efisiensi energi sering disebut sebagai “bahan bakar kelima”. Untuk menciptakannya, dibutuhkan bekerjanya prinsip ekonomi dan bukannya sekadar instruksi pemerintah. Di banyak negara, tantangan inilah yang kemudian meciptakan peluang munculnya perusahaan jasa energi (ESCos) untuk membantu perkantoran dan rumah tangga mengurangi tagihan listrik mereka. Di AS, bisnis ini sekarang tumbuh 22 persen per tahun dengan omset 3,6 miliar dollar AS.
Alternatif ini cukup realistis misalnya untuk mendorong penghematan di bangunan-bangunan publik seperti kantor pemerintah, sekolah, rumah sakit, dan universitas. Yang diperlukan hanyalah dukungan kredit perbankan yang akan dilunasi dari hasil seluruh penghematan tersebut.
Krisis kelistrikan sudah memakan banyak korban. Karena itu, jangan lagi pengusaha, buruh, dan masyarakat, dibuat lunglai dengan kebijakan-kebijakan jangka pendek yang tidak hati-hati dan merugikan.
Zainal A. Hidayat , Menulis opini antara lain di Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia.
Semua Tulisan Zainal A. Hidayat
Blog:

No comments yet.