Dear Readers,
Menurut saya batas antara rendah hati dan rendah diri sangatlah tipis. Orangtua kita mengajarkan bahwa manusia yang rendah hati lebih disayang Tuhan. Ok, that’s nice. Tapi apakah rendah hati artinya harus senantiasa merendah di setiap ada kesempatan? Saya sering gemas kala bertemu dengan orang-orang yang mungkin maksudnya mau ‘terlihat rendah hati’ tapi justru jadi terlihat tidak percaya diri, yang menjawab pujian dengan: ‘Saya biasa saja’ atau ‘Ah, jelek begini kok dipuji’…(walaupun dalam hatinya mungkin dia berkata lain).
Bukankah jawaban tersebut sebenarnya mengganjal di hati dan di kuping (menjurus menyebalkan)? Apakah jika menjawab dengan ucapan terima kasih memberi kesan kalau kita terlalu mencintai diri sendiri? Toh tidak ada pinalti untuk meng-iya-kan pujian dengan ucapan ‘Wow, terima kasih!’ Takut dibilang terlalu percaya diri? Kalau percaya diri, is that a bad thing anyway? Di mana batasnya?
Saya yakin setiap individu yang mencintai setiap pemberian Tuhan kepadanya dan berani dengan lantang mengakuinya pasti mempunyai spirit yang berwarna cerah dan berirama merdu.
Sungguhlah menyenangkan jika kita semua dapat berteriak tanpa takut dihakimi, “Yes, I love myself!”
From the heart,
Maggie H. Eddy