Teologi Matahari

By Zulfikar Akbar at 14 July, 2008, 5:08 am

Saat matahari tenang berayun di atap langit, sebenarnya ia juga berbicara. Ia berbicara tentang, betapa indah hidup dengan memberi. Terkadang kita dibuat tercenung saat tertoleh ke sisi lemah yang kita miliki.

2 pilihan saja yang bisa menjadi alternatif jika kita ingin tegas, hanya melihat ke kondisi minus kita ataukah mengangguk secara jujur juga kepada banyak hal yang ada didalam diri.
Mungkin yang terkandung hanya pergumulan perenungan, namun dan pergumulan renung itupun ada banyak hal yang bisa di kaitkan ke ketapel pilihan sikap, dan selanjutnya dilontarkan ke sasaran.

Thok, hanya keberanian dalam memilih.
Sedangkan kalau berbicara tentang kesempurnaan. Jelas, alam telah dengan santunnya menjelaskan, kita tidak pernah menyandang atribut keparipurnaan. Dan Tuhan pun tidak mendesak hamba-Nya harus menjadi paripurna, hanya Ia mengajarkan tentang banyaknya ruang kemungkinan yang terdefinisikan sebagai: kemungkinan. Kesalahan kita yang seringkali menjebak akal dan kekuatan niat pada garis ketidakmungkinan. Dan kemudian kita hanya berdiri saja sehingga mereka yang menunggu pun terbiarkan berpakaian dengan lumut keputus-asaan.

Teruslah merogoh kedalam, menyimak dengan nurani:”apakah yang mungkin kuberikan?” dan, berikan itu.

Benar, dimensi realita yang kemudian terhidang ke nampan keputusan adalah tidak sesimpel itu. Tetapi, pelajaran umum yang telah lama dikenal sering bicara, 1000 mil perjalanan juga diawali dengan 1 langkah pertama.

Tataplah matahari, ia dengan ikhlas membagi panasnya hingga kita kuat untuk melukis senyum tadi pagi. Besok ia akan kembali datang dan kita kembali perkasa arungi samudera ke benua mana orang-orang butuhkan manusia-manusia agung, bijak dan tak pernah terobsesi berhenti dari memberi. Karena mereka disana tidak selalu meminta suguhan gemerincing rupiah saja. Mungkin kita bisa ajak mereka berbicara tentang strategi, strategi perang yang belum berhenti ini. Kelak, dari dalam kubur kau terbaring, senyummu akan pancarkan cahaya intan ke bumi. Reward Tuhan yang paling mengerti memberi harga sepadan untuk setiap pemberian.

(Sebuah Tulisan yang Terinpirasi oleh Bro’ Adi Nasir Ahmad, Ukht Asty Lathifa Sofie)

Categories : Lain-lain
Zulfikar Akbar

Zulfikar Akbar , Bekerja di Pers dan LSM di Aceh, sekarang berdomisili di Jeuram-Nagan Raya dan Suak Sigadeng-Meulaboh. Tertarik dengan persoalan-persoalan sosial, sastra, psikologi, filsafat dan politik
Semua Tulisan Zulfikar Akbar
Blog: http://fickar.multiply.com,http//:ficklaotze.wordpress.com



No comments yet.

Leave a comment

Note: This post is over 4 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.