Globalisasi, Dehumanisasi, dan Persoalan Ruang Sosial

By Aprio Rabadi at 7 May, 2008, 3:47 am

Entah posisi mana yang diambil, tetapi yang pasti globalisasi adalah sebuah gejala yang saat ini sungguh tidak bisa dielakkan (inevitable). Televisi dan koran membawa berita dari segala sudut dunia, bukan hanya berita perang, tapi juga berita olahraga, fashion, musik dan sebagainya. Orang kini bisa marah, sedih dan gembira terhadap peristiwa yang tidak mereka lihat sendiri, penggemar Manchester United dan David Beckham di China hanya bisa menangis tersedu sedu melihat bintang pujaannya pindah ke Real Madrid, orang di Amerika seolah kembali pada suasana 11 September ketika melihat ribuan orang berunjuk rasa pasca ledakan di Madrid, sementara itu ribuan produk produk yang tidak dibuat di tanah air mebanjiri rak rak dan etalase toko. Mereka didatang kan dari seluruh penjuru dunia, mulai dari sepatu, tas, baju, celana, minuman kaleng, ayam goreng hingga mobil mewah. Sementara disudut lain  harga saham di London, Frankfrut, Tokyo, dan New York membuat orang tak bisa tidur atau sakit jantung karena harga sahamnya melonjak lonjak.

Globalisasi telah menjadi kekuatan yang membutuhkan respons tepat karena ia memaksa suatu strategi bertahan hidup (survival strategy) dan strategi pengumpulan kekayaan (accumulative strategy) bagi berbagai kelompok dan masyarakat. (Featherstone,1991). Proses ini membawa pasar menjadi kekuatan dominan dalam pembentukan nilai dan tatanan sosial yang bertumpu pada prinsip prisip komunikasi yang kian padat dan canggih. Pasar telah memperluas orientasi masyarakat dan mobilitas sehingga batas batas sosial budaya selain meluas juga mengabur akibat berubahnya orientasi ruang dalam masyarakat (Apparaduai, 1994).

Selain arus orang dan barang, arus informasi merupakan suatu keuntungan dan sekaligus suatu ancaman yang sangat berbahaya. Marshall Goldsmith (1998) menunjukkan tiga ciri masyarakat global yang terbentuk akibat proses ekspansi pasar, yang merupakan tahap ketiga dari proses perubahan sosial. Transformasi tahap ketiga tersebut bertumpu pada differensiasi (perbedaan) dan memiliki potensi hadirnya perbenturan nilai nilai dalam masyarakat. Mempertegas ciri yang telah disebutkan Goldsmith adalah : Diversitas (perbedaan), pembentukan nilai jangka panjang (long term values), dan hilangnya humanitas (dehumanisasi). Goldsmith juga menambahkan bahwa komunikasi global akan melahirkan jaringan yang tidak terhitung, yang menghubungkan manusia dalam satu pikiran global (global mind).

Persoalan humanitas menjadi penting dalam konteks global, bukan hanya akibat proses teknologisasi yang terjadi secara besar besaran, tetapi juga karena interaksi tatap muka yang yang cenderung menghilang dari waktu ke waktu (ini seperti diurai oleh Milton Friedman dalam Lexus and The Olive Tree, bahwa di balik hubungan yang efisien itu terdapat satu ruang interkoneksitas sosial yang membuat individu terasing). Realitas media misalnya, akan menjadi suatu dunia yang tanpa sadar mengasah dan menumpulkan kemanusiaan kita. Media melahirkan jarak baru dengan realitas sosial yang sesungguhnya, sehingga proses empati menjadi persoalan besar dalam konteks semacam itu. Ruang ruang sosial juga semakin sempit sejalan dengan terbentuknya ruang ruang elektronik (electronics space) yang lebih efisien. Penduduk kehilangan intensitas interaksi sosial akibat pola alokasi waktu yang berubah dan cenderung berhadapan dengan barang elektronik ketimbang dengan kelompok atau komunitasnya. Individu yang semakin teralienasi dari kelompok sosialnya menyebabkan nilai dan pemaknaan menjadi relatif dan terdeferensiasi (Irwan Abdullah,1999). Hubungan personal menjadi kurang penting sejalan dengan menghilangnya empati emosional dalam diri individu individu.

Sadar atau tidak inilah fenomena sosial dan kebudayaan yang terjadi di abad 21, Globalisasi telah menciptakan berbagai bentuk deteritorialisasi kebudayaan yaitu tercerabutnya kebudayaan dari teritorialnya, untuk kemudian berputar dalam ruang kapitalisme global tanpa henti, lewat berbagai medianya. Globalisasi ekonomi, informasi, dan kebudayaan telah menyebabkan lenyapnya batas batas ruang, teritorial, suku, agama, bangsa dan negara. Ruang ruang itu dibentuk oleh elemen elemen yang baru, yang pada titik perkembangannya akan menciptakan segmentasi ruang, duplikasi ruang, dan akhirnya halusinasi ruang (Yasraf Amir Piliang, 2004)        

Berkaitan dengan ruang global tersebut Deleuze dan Guattari melihat bahwa sudah sejak jaman primitif manusia terfragmentasi dalam berbagai cara, berbagai model dan berbagai arah segmentasi. Pertama, kita akan terfragmentasi secara binary (pasangan), mengikuti model oposisi pasangan (oposisi binary) dalam kelas kelas sosial semisal hitam putih, wanita pria, barat timur, dan sebagainya. Kedua, melalui fragmentasi sirkular (cirkular), seperti : individu / keluarga / tetangga / RT RW / Desa / Kecamatan / kota / daerah / Negara / jagad raya. Ketiga, terfragmentasi secara linier seperti : balita / anak anak / sekolah / kerja  dan sebagainya.

Arus hasrat dan kapital yang mengalir secara global menciptakan sekaligus deteritorialisasi dan duplikasi ruang tanpa henti, ketika duplikasi ruang itu menyebar pada tingkat global yang dikontruksi secara sosial untuk mengikatkan diri pada image sebagai perekat sosial. Perkembangan sistem komunikasi global (pasar bebas, hyper market) akan  menciptakan berbagai halusinasi  ruang sosial. Electronics space membuat semakin banyak orang kini berinteraksi, berkomunikasi, atau bersosialisasi  tidak lagi berada dalam teritorialnya, tetapi berada dalam halusinasi teritorial yang terbentuk (televisi, cyberspace, teleshopping, teleconference).

Proses globalisasi telah melahirkan differensiasi yang luas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas. Etnis dan agama secara teoritis menjadi kurang penting karena mulai digantikan oleh ikatan ikatan baru sebagai akibat pergeseran identitas dan makna diri dalam lingkup sosial dan kultural.                                                        

 

Categories : Lain-lain


No comments yet.

Leave a comment

Note: This post is over 6 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.