Rasisme Islamophobia berkedok Kebebasan

Oleh Harry B. Santoso • 7th Apr, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:400 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Perkembangan Islam termasuk pesat di Eropa. Statistik tahun 2002 menyebutkan populasi Muslim di Belanda mencapai 4.41%, yaitu 695.600 dari total penduduk 15.760.225 (Maréchal, 2002). Statistik tersebut juga menyatakan bahwa perkiraan jumlah Muslim di Eropa tahun 2002 mencapai 13.150.695 – 14.318.695 dari total penduduk Eropa yang jumlahnya 450.702.615. Khusus untuk Belanda, tercatat populasi Muslim tahun 2005 yang lalu berjumlah 945.000 atau 5.8% dari total populasi 16.300.000 (Statistics Netherlands, 2005). Sementara itu, beberapa waktu yang lalu Vatikan mengeluarkan buku tahunan setebal 2.000 halaman yang menyebutkan bahwa jumlah Muslim di dunia saat ini sudah mencapai 19% dari total 6.5 milyar penduduk dunia (Republika, 31 Maret 2008).

Sebagaimana telah luas diberitakan, setelah sekian lama ’ditunggu’ akhirnya Geert Wilders berhasil menyebarkan film Fitna yang penuh fitnah. Rupanya Wilders tak terlalu menghiraukan fakta keberadaan Muslim yang sangat besar itu. Wilders sepertinya gusar melihat integrasi Muslim di tanah Eropa terutama di Belanda. Dalam sebuah wawancara dia mengatakan bahwa tujuannya adalah ‘preserving Dutch identity and Dutch values‘ – inilah mengapa ia menolak berlanjutnya proses imigrasi (Zimbio, 2008). Dalam sumber yang sama dia juga mengatakan tentang kaitan Islam dan kebebasan di Belanda, ‘including to act against a backward culture like that of Islam, an ideology which in my view wants to take our freedom away from us.’ Sementara dalam wawancara dengan Spiegel Online International ketika ditanya masalah toleransi beragama dia menyatakan: “For me, Islam is a vision of a society that defines all forms of interpersonal behavior — from inheritance to criminal law. This ideology endangers our values. I hate it, I don’t hate Muslims” (Spiegel, 2008).

Lupakah Wilders dengan kontribusi Islam dan kaum Muslim terhadap perkembangan Eropa saat ini? Kaum Muslim telah membantu Eropa keluar dari era Dark Ages dan Middle Ages menuju level keilmuan yang lebih tinggi, pengetahuan tentang medis, astronomi, dan mekanik (Hussein, Dr. F, 2007). Saat ini pun tidak sedikit kontribusi generasi Muslim Eropa di berbagai bidang.

Mandulnya ”Dialog Peradaban”

Wilders berani membuat Fitna dengan mengatasnamakan kebebasan. Padahal semua orang pun tahu tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini. Kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan  orang lain. Begitu mungkin istilahnya. Kita baru bisa berbuat bebas sebebas-bebasnya kalau kita hidup sendiri di dunia ini dan itu adalah hal yang mustahil.

Para penghina Islam khususnya di Eropa kini berupaya menyerang simbol-simbol akidah umat Islam. Esensi dari pembuatan Fitna tidak lain tidak bukan adalah ekspresi kebencian terhadap Islam. Sebelum Fitna, ada film Submission buatan Theo van Gogh. Ternyata tidak cukup menggunakan film untuk melakukan penghinaan terhadap Islam. Masih segar informasi penghinaan atas Nabi Muhammad SAW dalam bentuk kartun Nabi. Koran Jyllans-Posten memuat kartun tersebut pada tahun 2005. Awal tahun 2008 ini, kasus serupa diulangi lagi dengan pemuatan kartun dengan kondisi lebih parah dan memprihatinkan. Kartun Nabi dimuat belasan media yang tersebar di beberapa negara Eropa.

Yang menarik untuk kita perhatikan adalah upaya penghinaan ini tentunya dilatarbelakangi sikap tertutup para penghina terhadap kaum Muslimin di negaranya. Bukankah sudah ratusan ribu hingga jutaan kaum Muslimin yang saat ini tinggal di Eropa? Namun mengapa para penghina Islam ini tidak mengedepankan dialog intelektual? Sebagian mereka bagian dari pers. Sebagian pula berada di parlemen. Takut tersungkurkah mereka dalam berdialog? Bukankah mereka adalah orang-orang terdidik dan para intelektual?

Dialog peradaban yang seringkali digagas Barat terbukti mentah dalam tataran implementasi. Hal ini terlihat dari beberapa kasus penghinaan terhadap Islam tanpa bisa dibendung. Pemerintahan di beberapa negara Eropa seakan ‘berlindung’ di balik isu kebebasan yang mereka agungkan. Atas nama kebebasan itulah mereka bersikap terkesan ‘membiarkan’ ketika salah seorang atau kelompok warganya melakukan penghinaan terhadap Islam atau agama lain. Responnya tidak preventif. Terlihat ‘hanya’ komentar yang dilontarkan setelah semua penghinaan terjadi. Bukankah justru tugas Pemerintahlah –institusi yang memiliki kekuasaan untuk menghentikan segala kemungkinan buruk akibat perbuatan-perbuatan tak bertanggung jawab yang mengganggu keharmonisan dalam peradaban. Bukankah ongkos sosialnya sangat tinggi atau tidak terpikirkan sama sekali ongkos ini?

Reaksi yang Rasional

Kasus-kasus penghinaan terhadap Islam, Nabi SAW dan Al Quran yang muncul akhir-akhir ini bukanlah kasus kealpaan seseorang, namun upaya penghinaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kerja keras. Dilakukan tak cukup sekali, namun telah berkali-kali. Pemerintahnya pun tidak mengambil tindakan tegas untuk mencegahnya.

Fitna menuai kecaman pedas hingga kutukan dari seluruh penjuru dunia. Respon pun mengalir. Tegenfilm dibuat sebagai respon untuk Fitna. Produsernya seorang Muslim Belanda asal Turki, Ersin Kiris bersama seorang Belanda, Vincent van der Lem. Respon juga muncul dari mantan PM Malaysia, Mahathir Mohammad yang mengeluarkan statemen pemboikotan produk Belanda. Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono, melarang peredaran Fitna dan mencekal sang pembuat film, Wilders bila berkunjung ke Indonesia. Upaya membawa Wilders ke Mahkamah Internasional sebagai ’penjahat peradaban’ juga mengemuka.

Berbagai reaksi tersebut cukup rasional mengingat tindakan Wilders sudah terlampau melewati batas. Nabi SAW adalah uswatun hasanah kaum Muslim. Sangat tidak pantas seorang non-Muslim apalagi Muslim melakukan penghinaan terhadap beliau. Islam memang agama yang cinta damai, namun bukan berarti Islam bisa dilecehkan karena ’kelemahlembutannya’. Islam juga memiliki hak untuk menjaga kemuliaannya. Kaum Muslim pun pada dasarnya bisa bersikap tegas untuk melindungi keyakinannya dari segenap penodaan. Sebagaimana halnya bila agama lain dihina. Diamkah penganutnya?

Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk saling menghina, kesana kemari menyebar fitnah dan kebencian. Dengan ajaran Islam itulah, akhirnya sejarah mencatat bahwa kekuasan Islam mampu menjaga pluralitas beragama. Eksistensi masyarakat Madinah, langgengnya tiga agama di Spanyol dan Palestina di zaman Umar bin Khattab, ra membuktikan hal itu.

Barat harus mulai banyak belajar tentang Islam. Tiba saatnya pula bagi Barat menghentikan Islamophobia mereka. Dialog demi masa depan peradaban yang cemerlang diperlukan untuk menghilangkan syak prasangka dan stereotip yang menyesatkan. Jangan sampai apa yang terjadi saat ini akan semakin memperdalam amarah dan memupuk dendam tak berkesudahan. Di sisi lain kaum Muslim juga harus terus memperkokoh ukhuwah Islamiyah serta mampu lebih gencar lagi mendakwahkan bagaimana Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam. Say No to Racist!

Artikel Terkait:

Bookmark this article! [?]

BlinkbitsBlinkListsBlogLinesBlogmarksBuddymarksCiteULikeCo.mmentsDel.icio.usDiggDiigo

FarkFeed Me LinksFurlGoogleLinkagogoma.gnoliaNetvouzNewsvinePropellerRawsugar

RedditRojoSimpySphinnSpurlSquidooStumbleUponTailrankTechnoratiYahoo

Tagged as: , ,
Harry B. Santoso

Harry B. Santoso , staf akademik di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Sejak tahun 2003 telah aktif dalam berbagai kegiatan di bidang e-Learning seperti menulis untuk konferensi baik nasional maupun internasional, koordinator seminar e-Learning, serta memberikan tutorial untuk berbagai instansi tentang Learning Management System dan pengembangan e-Learning content. Saat ini aktif juga di Lab Digital Library & Distance Learning Fasilkom UI. Bidang penelitian yang diminati adalah distance & e-Learning, teknologi pembelajaran, kognitif & pembelajaran, serta personalisasi pembelajaran.
Email Penulis | Semua Tulisan Harry B. Santoso
Website: http://staff.blog.ui.edu/harrybs

1 Komentar »

  1. Melihat reaksi yang sedemikian beragam saat ini terkait tersebarnya Film Fitna(h), saya sedikit sedih. Sekalipun kita berhak melawan dan memberikan reaksi keras, saya masih tetap berharap saudara seiman selalu ingat bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin yang mengedepankan perdamaian. Nabi sendiri telah mengajarkan betapa seluruh hinaan bahkan lemparan kotoran para kaum kafir dibalas dengan kesabaran. Aksi pengrusakan di beberapa kantor perwakilan negara Belanda, menorehkan kesucian Islam itu sendiri. Ada baiknya penyikapan ini senantiasa diiringi dengan aksi dakwah yang memberikan pelurusan atas tuduhan sekaligus sebagai cara pembelajaran bagi orang-orang yang belum memahami Islam itu sendiri. .

    .Salam Damai.

Tanggapi artikel ini

Note: This post is over 4 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.