Ketiput dan Mujarobat ala Andrea Hirata

Oleh Ria Fariana • 21st Mar, 2008 • Kategori: Ria Fariana •Dilihat:607 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Ketiput dan Mujarobat adalah dua istilah yang dicetuskan oleh Andrea Hirata, si Laskar Pelangi. Saya tak akan terkejut bila nantinya kedua istilah ini akan mengikuti kepopuleran pencetusnya sebagaimana karya-karya Andrea yang lain. Apalagi dengan jam terbang yang bisa dibilang cukup padat setelah novel tetraloginya (Maryamah Karpov masih ditunda penerbitannya) laris manis, maka Ketiput dan Mujarobat kemungkinan juga mengikuti di setiap panggung Andrea duduk dan berjumpa fansnya.

Ketiput adalah singkatan dari ketiban semaput. Julukan ini ditujukan untuk buku-buku yang secara fisik tebal-tebal sehingga membuat teler pembaca di Indonesia yang terkenal masih minim budaya membacanya. Karena tebal, siapa saja yang secara tak sengaja tertimpa buku jenis ini pastilah semaput atau pingsan. Sebuah ironi kata-kata untuk menterjemahkan istilah semaput ini. Bisa jadi semaput karena tertimpa beban berat buku dalam arti sebenarnya, tapi bisa juga semaput karena sudah merinding dan teler duluan hanya dengan memandang ketebalan si buku.

Mujarobat adalah istilah yang dipakai Andrea Hirata untuk menyebut buku-buku jenis ‘how to’ semisal cara cepat menjadi kaya, cara cepat dapat jodoh, bagaimana cara beternak ikan koki dan lain-lain. Buku-buku inilah yang disebut-sebut Andrea sebagai buku laris di Indonesia khususnya di Surabaya. Ketika kota lain selalu kehabisan stok buku Laskar Pelangi yang lebih banyak bercerita tentang pendidikan dalam bahasa fiksi, Surabaya cukup adem ayem saja dengan angka penjualannya sekitar 1000 eksemplar. Usut punya usut ternyata buku mujarobat lebih digemari daripada genre lainnya terutama bacaan berbau sastra.

Saya tak langsung percaya begitu saja. Ketika membuka Jawa Pos edisi hari Minggu, saya berusaha memperhatikan dengan seksama genre buku apa sih yang laris? Dan perkataan Andrea Hirata tidak terlalu salah. Meskipun begitu, apa yang salah dengan laris manisnya buku yang mendapat julukan mujarobat tersebut?

Dalam sudut pandang saya, larisnya buku meski dengan genre mujarobat tetaplah patut dihargai. Dengan kondisi masyarakat Indonesia yang masih rendah taraf pendidikannya (ingat, bahkan wajib belajar 9 tahun pun perlu dicanangkan), gairah membaca sudah mulai menggeliat itu saja sudah cukup bagus. Dibandingkan dengan budaya lisan yang sudah mengurat-akar pada bangsa ini, bukan hal mudah untuk membudayakan tulisan apalagi yang bermutu di tengah mereka.

Genre sastra yang sering disebut Andrea Hirata sebagai buku bagus dan bermutu selain buku-buku fisika, biologi, sains dan sudah pasti ekonomi karena memang bidangnya, buku mujarobat seakan-akan seperti tenggelam ditelan pamor buku-buku jenis lainnya. Selain karena dari segi harga terjangkau, buku mujarobat ini memang mujarab sebagai selingan masyarakat kita di tengah makin susahnya hidup di tengah himpitan alam kapitalisme ini.

Harga minyak tanah dan minyak goreng semakin hari semakin melangit di luar ambang batas rasional. Subsidi pelayanan kesehatan juga dipangkas oleh pemerintah daerah dengan alasan untuk menutup biaya operasional. Pendidikan semakin mahal meskipun juga tak menjamin didapatnya lapangan kerja setelah lulus. Maka sungguh, buku mujarobat memang mujarab bagi mereka.

Saya jauh lebih menghargai mereka yang membaca buku mujarobat daripada yang memilih tidur dan ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Jangankan membeli buku mujarobat, penjual pepaya langganan saya hanya mampu mendapatkan secarik koran kuning saja sambil menunggu pembeli datang. Selembar bulletin mingguan yang berisi ajakan untuk berpikir kritis terhadap situasi sekitar, saya berikan. Pada awalnya, ia mengeluh berat. Hanya selembar, tapi efeknya persis ketiput di atas. Tapi itu semua masalah kebiasaan. Setiap minggu saya berikan bulletin-buletin lain yang mencerdaskan yang jauh lebih mending daripada genre mujarobat.

Inilah gambaran mayoritas masyarakat kita. Sehingga saya sangat bisa memahami apabila buku mujarobat mempunyai banyak fans. Yang memprihatinkan adalah apabila buku mujarobat menjadi candu terlebih bagi mereka yang duduk di bangku universitas. Sesekali bolehlah membaca mujarobat sebagai selingan. Karena bagaimana pun sekedar mengetahui selera masyarakat umum tak ada salahnya. Yang salah adalah mereka yang sudah level mahasiswa, pasca lagi, tapi jangankan mujarobat, membaca buku pun tidak suka. Isi tas bukan buku atau tumpukan bulletin ilmiah, melainkan kosmetik, kaca kecil dan pernik-pernik kecantikan lainnya. Ironis!

Sedangkan bagi jenis satunya, menghabiskan waktu dengan lirik sana-sini, menimbang dan mengukur setiap gadis yang lewat jauh lebih mengasyikkan daripada berdiskusi ilmiah berdasarkan argumentasi dan rasionalitas. Sehingga tak heran bila buku mujarobat itu yang menjadi pegangan. Sepertinya pola hidup yang biasanya ada di stiker-stiker ‘kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga pas benar dengan cita-cita mereka. Sehingga buku semisal cara menggaet lawan jenis, cara kaya dengan cepat, masuk surga tanpa hisab, menjadi sasaran.

Akhirnya, memang butuh sebuah proses untuk merubah masyarakat lisan menjadi literer. Apalagi hingga ke tataran haus akan bacaan bergenre berat semisal sastra. Di sinilah peran penulis-penulis muda semisal Andrea Hirata, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa dan lain-lain hadir untuk menjembatani sastra yang berat dengan masyarakat awam yang buta sastra. Bukan jamannya lagi sastra hadir untuk membuat kening berkerut. Tapi sastra seharusnya hadir untuk memberi warna baru yang mencerahkan kehidupan. Hingga pada saatnya nanti, istilah ketiput dan mujarobat akan hilang dengan sendirinya ketika masyarakat mulai melek budaya literer. Semoga.

Artikel Terkait:

Bookmark this article! [?]

BlinkbitsBlinkListsBlogLinesBlogmarksBuddymarksCiteULikeCo.mmentsDel.icio.usDiggDiigo

FarkFeed Me LinksFurlGoogleLinkagogoma.gnoliaNetvouzNewsvinePropellerRawsugar

RedditRojoSimpySphinnSpurlSquidooStumbleUponTailrankTechnoratiYahoo

Tagged as: , ,
Ria Fariana

Ria Fariana , sedang berguru pada sang maestro sastra, Budi Darma. Selain berguru, penulis juga menjadi guru pada SMP Islam Al Amal, sekolah khusus untuk anak yatim dan fakir miskin.
Email Penulis | Semua Tulisan Ria Fariana
Website:

1 Komentar »

  1. Setuju sekali dengan opini Ria, mengubah masyarakat dengan tradisi lisan menuju masyarakat bertradisi baca tulis memang tidak semudah membalik telapak tangan. Namun upaya Ria untuk memberikan bahan bacaan kepada penjual pepaya langganannya adalah awal yang baik.
    Perlu kita pikirkan bersama bagaimana metode yang ces pleng untuk mendongkrak minat baca dalam masyarakat kita.

    Minat baca seharusnya dikembangkan oleh keluarga-keluarga dan dimulai sejak anak-anak atau bahkan diawali sejak balita. Dalam hal ini peran orang-tua menjadi motor penggerak upaya pendongkrakan minat baca. Namun lagi-lagi kendala muncul di ruang keluarga kita, karena telah muncul sang pendongeng penyebar tradisi lisan yang makin canggih. Bila dahulu kala tradisi kelisanan disebarkan oleh nenek-nenek kita dengan dongeng , sekarang peran kelisanan itu digantikan oleh sang pendongeng elektronik televisi.

    Pemerhati minat baca masyarakat semakin frustasi karena mendapati dunia kita menjadi semakin jauh dari tradisi baca, tulis. Boro-boro memiliki tradisi meneliti, membaca saja sulit. Masyarakat lebih senang mendengar, bergunjing (bergosip) sebagaimana tercermin dalam acara infotainment yang semakin menjamur di televisi kita.

    Yang menjadi pertanyaan, kapan kita mau dan akan berubah?

Tanggapi artikel ini

Note: This post is over 5 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.