Perlukah jatah wanita di legislatif?
Oleh Irman N. • 18th Feb, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:231 views •Kirim:
Email This Post
Di “Kilas Politik & Hukum”, Kompas 14 Februari 2008 tertulis bahwa dalam RUU Pemilu Legislatif yang sedang dibahas, daftar caleg harus memberikan porsi setidaknya 30% kepada kaum wanita. Hmmmm…..saya langsung pikir ada berapa % populasi petani dan buruh(seperti saya) di Indonesia, ada berapa populasi kaum miskin disini?populasi orang Sunda?Jawa?…tapi apakah mereka berhak secara proporsional meminta jatah juga di legislatif? kalau menurut demokrasi boleh saja, soal disetujui tidaknya itu masalah nanti.
Sebenarnya saya tak pernah keberatan kalau wanita, buruh, petani, orang suku ini itu, seorang Doktor lulus dengan Summa Cum Laude atau hanya lulusan SMU, atau tentara jadi wakil saya, yang penting cerdas, dan amanah. Waktu mbak Mega dizolimi di tengah tahun 90-an, dengan sepenuh hati saya mendoakan keselamatan dan mendukung beliau. Tak perlu ada patokan jatah wanita di legislatif pun saya akan senang hati memilih seorang wanita kalau dia mampu.
Yang saya khawatir justru kalau jatah ini ternyata tak bisa dipenuhi partainya dengan wanita yang berkualitas sehingga akhirnya mirip perusahaan Ali Baba di Malaysia yang mensyaratkan jumlah saham minimal untuk bumiputera bagi perusahaan terbuka…..yang penting masuk dulu jatahnya, kualitas gimana nanti. Atau malah lebih parah lagi, nanti orang Sunda, Jawa meminta jatah secara proporsional berdasarkan populasi. Atau golongan petani dan buruh yang selalu terpinggirkan minta jatah juga secara proporsional. Atau kaum miskin?….ya ampun, bukannya kita sudah sepakat (setidaknya antara saya dan teman sendiri, mudah-mudahan anda pembaca juga ikut) kalau kita hanya mau yang profesional untuk ditempatkan di jabatannya. Kita sudah capek 10 tahun kena krisis, dan capek lihat anak busung lapar, anak jalanan, anak mati karena telat berobat, bapak bunuh diri karena tekanan ekonomi, tentara mati dalam tank yang sudah sangat tua dsb. Sekarang fokus ke bereskan masalah dasar bangsa daripada kepentingan golongan saja.
Percayalah, saya tekankan lagi, kalau orangnya sangat bagus berkualitas tanpa minta jatah pun, orang akan memilih mereka……tak percaya? contoh mbak Mega, bu Nursyahbani K, bu Atut Chosiyah, bu Khofifah, bu Miranda Gultom, bu Sri Mulyani, bu Mooryati Soedibyo, mbak Angelina Sondakh, dan terlalu banyak contoh lain untuk ditulis sebagai contoh kaum wanita yang profesional dan sangat disegani yang sekarang duduk di legislatif dan eksekutif dipercaya memperjuangkan nasib kita. Mereka tumbuh dari sikap dan kemampuan mereka yang hebat, bukan karena terpaksa memenuhi jatah.
Mohon maaf kaum wanita, atau anggota DPR terhormat yang telah bersusah payah memperjuangkan ini. Saya sangat menghormati pendapat dan usaha keras anda memperjuangkan golongan anda, tapi saya juga ingin menggunakan hak berpendapat saya untuk tak setuju dengan model penjatahan seperti itu yang justru bisa kontra produkstif terhadap kaum wanita, dan lebih besarnya bangsa yang sedang sakit ini. Kalau memang ingin lebih banyak wakil golongan kita yang terwakili di DPR, lebih baik kita unjuk kemampuan sehingga orang melihat kelebihan kita, bukan karena latar belakang golongan kita.
Mudah-mudahan golongan lain tak ikut-ikutan memperjuangkan jatah mereka di legislatif. Kalau tidak, mau dibawa kemana DPR/DPRD kita??
Artikel Terkait:Irman N. , kerja di swasta dan selalu ingin berkomentar soal kehidupan sehari-hari.
Email Penulis | Semua Tulisan Irman N.
Website:
