Gelar: Reinkarnasi Feodal Gaya Baru
Oleh Ria Fariana • 12th Feb, 2008 • Kategori: Ria Fariana •Dilihat:372 views •Kirim:
Email This Post
Pramoedya Ananta Toer sangat membenci feodalisme Jawa berkedok priyayi yang menurutnya sangat menghinakan martabat kemanusiaan seorang anak manusia. Bahkan karena menyuarakan kebenciannya dalam bentuk karya-karya sastra, ia rela mendekam di penjara bertahun-tahun lamanya. Menginjak zaman kekinian, akankah ‘perjuangan’ Pramoedya menemukan bentuknya?
RM singkatan dari Raden Mas dan Rr kepanjangan dari Raden roro adalah ciri mudah untuk dikenali. Pada zaman feodal dulu, wong cilik akan langsung tertunduk-tunduk di depan mereka yang menyandang gelar tersebut. Jangankan membantah kata-katanya, memandang mata si empunya gelar pun wong cilik tidak mungkin berani melakukannya. Posisi darah biru dengan embel-embel gelar ini merajai jagad nusantara dengan cukup digdaya.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, zaman pun tak lagi sama. Gelar RM dan Rr di depan nama seseorang, menjadi bahan lelucon di sekolah ketika nama yang bersangkutan tercantum di presensi siswa. Bukan segan yang ada, panggilan Pak Raden dan Bu Raden menjadi fenomena jamak mulai tingat SD hingga bangku kuliah. Sebagian kecil dari mereka masih bangga dengan panggilan tersebut, meskipun nadanya sang pemanggil sangat mencemooh. Namun sebagian besar berlalu dengan wajah merah karena tempelan gelar tersebut pada namanya.
Feodalisme tak lagi laku di masyarakat kita. Benarkah? Bila feodalisme adalah diartikan sebagai sebuah kekuasaan yang bercokol di tengah masyakarat kita dan mendapatkan pengagungan, maka kita akan mendapati fenomena baru dalam hal ini.
Undangan pernikahan, mulai dari sampul hingga isi, semua memberi unsur feodalisme baru ini. ‘Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama gelar’ sudah kita dapati di bagian depan kartu undangan. Jangan menganggap enteng masalah ini. Karena ada sebuah kejadian seseorang tidak menghadiri undangan karena si pengundang salah menulis gelar yang diundang. Bagian dalam berupa isi, juga tak lepas dari fenomena ini.
Seorang teman memberi saya undangan yang sangat sederhana. Sederhana karena saya tahu keduanya mempunyai deretan gelar yang cukup bergengsi dan tak terhitung banyaknya. Tapi saya jadi bingung ketika mendapati undangan yang mirip sekali dengan undangan yang ditujukan pada saya namun berbeda di panjang baris nama mempelai wanita dan pria. Aha, ternyata saya tahu bahwa ada deretan gelar tercantum di undangan tersebut yang berbeda dengan yang saya pegang. Ternyata undangan itu tidak sesederhana yang saya duga. Hanya memang bagian yang diberikan pada saya, entah dengan memakai pertimbangan apa, berbeda dengan yang diberikan pada teman saya yang isi dalamnya full gelar panjang bak semut sedang berbaris.
Karena cintanya dengan gelar, ada seorang teman yang sangat mensyaratkan calon istrinya bergelar minimal dokter. Ia hanya bisa jatuh cinta dengan perempuan bergelar dokter. Teman yang satu lagi tak kalah dahsyat, ia mensayaratkan calon suaminya minimal harus S2. Ternyata cinta pun harus tunduk pada gelar. Begitu pun para calon mertua lebih sering bertanya pada sang calon menantu dengan pertanyaan ‘punya gelar apa berani melamar anak saya?’
Saya pun menoleh pada bangku universitas. Dari namanya saja sudah menggambarkan sebuah keindahan akan makna, universe. Pola pikir juga seyogyanya mengikut keagungan sebuah nama. Tapi jangan salah. Teryata di salah satu kelas, terdapat seorang mahasiswi yang kurang setuju dengan pendapat salah satu dosen. Ia pun memberikan argumen dengan beberapa bukti data ilmiah. Sebuah diskusi sehat seharusnya terjadi di ruang kelas bernama universitas. Tapi faktanya, mahasiswi tersebut sempat mendapat ancaman nilai degan feodalisme gaya baru dimunculkan ‘siapa anda coba-coba mau mendebat profesor seperti saya.’
Ternyata masyarakat kita masih dilingkupi feodalisme meskipun dengan gaya baru berupa gelar. Sehingga tak heran, calon bupati, gubernur hingga caleg ramai-ramai belanja gelar untuk dicantumkan di baliho ketika saat pemilihan tiba. Lalu bermunculanlah program-program pendidikan tingkat tinggi yang memberi hadiah gelar bergengsi dengan imbalan sejumlah nilai nominal tertentu. Kuliah di hotel mewah, datang pun dengan mobil serta busana kelas wah, dan Cuma beberapa jam pertemuan saja. Itu pun lebih sering diinterupsi oleh dering telepon karena banyak klien yang telah menanti.
Melihat fenomena di atas, tak bisa dipungkiri ada rasa bangga sekaligus prihatin menjadi campur aduk. Bangga ketika banyak lapisan masyarakat telah menyadari pentingnya pendidikan ditandai dengan laris manisnya deretan gelar menempel pada sebuah nama. Mulai dari undangan pernikahan hingga selebaran untuk pencoblosan. Tapi pada saat yang sama, keprihatinan pun meruyak di hati ketika gelar tersebut bisa dibeli dengan mudah serta bea murah. Gelar menjadi sebuah prestis untuk menempati posisi tertentu dalam masyarakat dengan menafikkan kualitas. Bahkan gelar juga menjadi alat penjajahan baru bila ia dipakai untuk membungkam suara kebenaran bila yang menyampaikan adalah seseorang nihil gelar. Bila begini kondisinya, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Pram bila ia hidup kembali?
Artikel Terkait:Ria Fariana , sedang berguru pada sang maestro sastra, Budi Darma. Selain berguru, penulis juga menjadi guru pada SMP Islam Al Amal, sekolah khusus untuk anak yatim dan fakir miskin.
Email Penulis | Semua Tulisan Ria Fariana
Website:

Membaca tulisan ibu Ria, saya seakan terbawa pada realitas kehidupan Islam masa lampau. Betapa banyak saat itu, seseorang yang saat ini kita kenal dengan sebutan ulama, ternyata menguasai banyak bidang ilmu lain. Tak hanya ahli di bidang fiqh atau agama, tetapi juga mumpuni di bidang kedokteran, astronomi, matematika, musik, dan lainnya. Tak kurang filsafat pun dikuasai.
Saat itu belum ada gelar doktor ataupun profesor. Tapi melihat warisan keilmuan mereka, gelar profesor pun menurut saya belum cukup. Entah sudah terpaut berapa ratus tahun, tapi nama ilmuwan sekaliber Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali, Al Farabi, Al Kindi, Ibnu Khaldun, dll tetap harum hingga kini. Kemungkinan besar ini akibat keikhlasan mereka dalam berbagi.
Kita pun patut merenungkan, sistem kehidupan seperti apakah nian yang mampu melahirkan tokoh-tokoh besar itu.
Salam,
–harry b. santoso
Terimakasih bu Ria. Kebetulan saya punya 3 gelar di depan dan belakang nama saya. Satu bawaan feodalisme dari ortu, dan 2 dari hasil kuliah saya. Saya berusaha selalu tak mencantumkan ketiganya, karena bagi saya orang hanya akan mencintai kita kalau kita punya sikap yang elok. Orang menghargai karya kita karena hebat, dan bukan karena titel sarjana kita. Di lingkungan kerja saya, orang justru akan mencibir kalau kita membanggakan almamater dan gelar kita, karena budayanya justru melihat hanya hasil kerja nyata dan perilaku. Mungkin ini contoh bagus bahwa budaya kantor saya tak melihat sama sekali gelar, tapi apa kontribusi anda terhadap tim dan kantor, yang dengan tegas akan ditanya langsung sang atasan setidaknya ketika meng evaluasi kita. Saya juga melihat banyak perusahaan, lokal dan asing yang berbudaya seperti ini.
Wassalam,
Irman