Asrama Mahasiswa: Mozaik yang Butuh Sentuhan
By Veri Nurhansyah Tragistina at 28 January, 2008, 4:25 am
Kini, pendidikan bukanlah barang konsumsi monopoli kaum perkotaan saja. Jauh dari itu, masyarakat pedesaan pun bergelimang keinginan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Zaman telah membuat mereka (dan kita) berangsur mengubah orientasi hidup dari orientasi “kini” menjadi “masa depan”. Kita semakin tersadar akan pentingnya menanam benih investasi masa depan bernama pendidikan.
Kondisi ini membuat banyak orang yang hidup di pelosok pergi merantau, mencari sumber ilmu di perkotaan. Realitas geografis kerapkali menakdirkan sarana pendidikan—terutama pendidikan tinggi hanya berdiri megah di perkotaan. Selain itu, distribusi kualitas sarana dan prasaran pendidikan pun seringkali tidak memihak masyarakat pelosok. Akhirnya banyak orang di negeri ini harus rela meninggalkan tanah leluhurnya untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi.
Proses mobilitas regional seperti ini seringkali merajam pikiran dan jiwa pelakunya. Disparitas sosio-ekonomi-kultural antara desa dan kota, membuat perantau mengalami kegoncangan budaya (culture shock). Hal ini diperparah oleh berbagai masalah yang datang menerpa ketika menjejakkan kaki di kota, salah satunya masalah akomodasi.
Kebutuhan akan tempat tinggal ini menjadi elemen yang vital dalam menunjang kehidupan akademis seseorang. Tanpa akomodasi yang aman dan nyaman, maka kehidupan akademis seseorang menjadi bahan tanya.
Atas berbagai pertimbangan itulah, banyak Perguruan Tinggi (PT) di negeri ini yang bergerak untuk membangun Asrama Mahasiswa, Universitas Indonesia (UI) misalnya. UI pertama kali memilki asrama mahasiswa ketika mendapat hibah bantuan gedung di Jalan Otto Iskandar di Nata Jakarta Timur (kelak disebut Asrama Wisma Rini). Kemudian seiring dipindahkanya sebagian besar kampus UI ke Depok, maka pada tahun 1999 birokrat kampus membangun Asrama Mahasiswa di Depok. Asrama kampus UI Depok ini terus mengalami penambahan dan renovasi hingga tahun 2007 jumlah kamar terus bertambah hingga angka 1500 kamar.
Selain UI, banyak kampus di negeri ini yang membangun asrama mahasiswa di lingkungan akademisnya. Tercatat perguruan tinggi seperti IPB, UNPAD dan STT Telkom Bandung melakukan pembangunan asrama mahasiswa ini. Bahkan kementrian Perumahan Rakyat pun merespon tren ini dalam salah satu programnya hingga tahun 2015 nanti.
Tren pembangunan Asrama Mahasiswa yang semakin populer tentu membawa efek positif dalam perkembangan dunia pendidikan di negeri ini. Eksistensi asrama diyakini dapat mereduksi kegundahan yang menerjang mahasiswa atau pelajar yang berasal dari daerah. Selain itu, keberadaan asrama sangat penting dalam menunjang proses pembelajaran. A.W. Astin seperti dikutip Tung-Lian Chen dan Yao Hsien-Lee dalam risetnya di Taiwan (2006), berpendapat bahwa keberadaan asrama mahasiswa menjadi input yang penting dalam proses aktivitas pembelajaran mahasiswa. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa dengan adanya asrama mahasiswa ini mahasiswa menjadi lebih mudah dan intim dalam menggunakan berbagai macam resources di lingkungan universitas.
Keragaman Identitas
Dalam lingkup yang lebih luas, keberadaan asrama mahasiswa ternyata memberikan manfaat lebih dari sekadar penyedia tempat tinggal semata. Realitas menunjukkan bahwa penghuni asrama berasal dari berbagai latar, baik daerah, suku hingga kebiasaan individual. Hiruk-pikuk keragaman tersebut dipaksa untuk berkompromi dengan tata letak kamar asrama yang berimpitan. Akibatnya, setiap orang harus menyesuaikan identitasnya dengan keragaman di sekitar.
Fenomena ini memberikan angin segar pada diskursus kebangsaan di negeri ini. Selama ini, kita seringkali dihadapkan pada kenyataan bahwa masyarakat mudah untuk terpecah belah oleh perbedaan identitas. Taruhlah konflik Ambon, Poso ataupun konflik pilkada di Sulsel. Konflik berlatar agama, etnik dan politik tersebut telah banyak meregang nyawa manusia-manusia Indonesia yang potensial.
Di tengah maraknya praktek ilusi identias (Amartya Sen, 2007) tersebut, asrama menjadi tempat pembiasaan hiruk-pikuk keragaman identitas mahasiswa. Mahasiswa sebagai garda terdepan reformasi dan suksesor bangsa masih mejadi golongan minoritas di negeri ini. Survey BPS menunjukkan bahwa baru 3 % warga Indonesia yang mampu mengenyam pendidikan hingga pendidikan tinggi.
Kondisi asrama mahasiswa yang bagai mozaik bangsa tentu sangat bermanfaat bagi pengembangan jiwa kepemimpinan golongan minoritas ini. Mahasiswa akan terbiasa menghadapai realita plural atas bangsanya. Ragam agama, etnisitas dan dialek di asrama akan mampu menumbuhkan jiwa toleran dan kebersamaan dalam membangun bangsa kelak. Selain itu, dengan kondisi seperti itu identitas kebangsaan mahasiswa akan terbentuk mengalahkan identitas primordial sehingga sangat bermanfaat bagi kepemimpinannya kelak.
Kondisi ini diharapkan akan menghasilkan efek menetes (tricke down effects) kepada masyarakat. Selama ini, mahasiswa masih menjadi tulang punggung intelektual masyarakat. Sederhananya apa yang dibicarakan mahasiswa merupakan suatu yang berharga bagi masyarakat. Saat itulah, mahasiswa perlu menyampaikan pentingnya mengelola perbedaan dalam balutan rasa kebangsaan agar tidak ada lagi konflik seperti di Ambon, Poso dan Sampit.
Pelajaran Jeanne Clery
Namun berbagai signifikansi di atas akan mentah jika asrama ini tidak diberdayakan dengan semestinya. Signifikansi sosio-kultural-spiritual tersebut perlu ditopang oleh sentuhan pengelolaan sistem keamanan dan sarana fisik lainnya. Bagaimanapun sisi kenyamanan mahasiswa menjadi harga mati dalam diskursus asrama ini.
Pada tahun 1986, Jeanne Clery, mahasiswi University of Betlehem, Pensylvania (AS) meregang nyawa di kamar asrama akibat mendapat penyiksaan dan pemerkosaan. Kejadian ini disinyalir akibat rendahnya sistem keamanan yang diterapkan di asrama universitas tersebut. Sehingga, kamar-kamar di asrama tersebut mudah diakses orang yang tidak bertanggungjawab.(Lihat Lynzy Wright, M.A., Legal Criminalist. Jeanne Clery and Campus Suicide©. American Asociation of Suicidiology, 2003)
Kejadian memberikan hikmah dalam diskursus pemberdayaan asrama mahasiswa. Pascakematian Clery, University of Betlehem menerapkan sistem Security Service and Technologies (SST) untuk mengontrol akses masuk ke asrama. Manfaatnya, mahasiswa menjadi lebih aman dan nyaman ketika tinggal di asrama.
Di Indonesia, aspek ini seringkali dilupakan. Taruhlah Asrama UI Depok, perangkat keamanan di asrama UI belum memberikan rasa aman bagi penghuninya. Banyak mahasiswa yang dirajam rasa pilu karena kehilangan handphone, laptop atau bahkan jemuran pakaian. Sistem keamanan rendahan (low security standard) ini seringkali membuat tidak betah penghuninya.
Selain itu, aksesibilitas asrama dengan resource kampus seringkali terlampau jauh. Asrama mahasiswa di Indonesia seringkali dibangun di wilayah “belakang”, jauh dari pusat keramaian dan masyarakat. Padahal mahasiswa sebagai kaum intelektual mutlak turun dari menara gading agar pengetahuannya tidak lapuk dimakan rayap.
Pola tata letak asrama di Yale University (AS) mungkin dapat menjadi rujukan. Di sana, asrama dibangun di pusat kota dan mengitari perkampungan masyarakat yang luas. Akibatnya, mahasiswa di sana dapat dengan mudah berinteraksi untuk melakukan penelitian atau sekadar mencari makan.
Sudah semestinya berbagai signifikansi asrama mahasiswa yang begitu penting itu dimaksimalkan. Signifikansi ini mutlak dikolaborasikan dengan pegelolaan sistem keamanan dan sarana fisik secara profesional. Menjadi kerugian besar, jika banyak mahasiswa yang enggan tinggal di asrama hanya karena “gerah” akan kenyamanannya dan keamananya.
Veri Nurhansyah Tragistina , Mahasiswa biasa pada Ilmu Administrasi Niaga FISIP UI.Punya keinginan untuk eksis menulis demi mengekalkan ketakjuban saya pada dunia.
Semua Tulisan Veri Nurhansyah Tragistina
Blog: http://verinurhansyah.wordpress.com

No comments yet.