Agama Malah “gama”
Oleh Ansul Djamien • 27th Jan, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:461 views •Kirim:
Email This Post
Ini sungguh ironis. Tidak hanya bangsa ini tapi juga setiap bangsa di belahan bumi ini yang selalu mendengung-dengungkan kaifiyah toleransi antar pemeluk agama namun sejauh ini tetap saja tidak berhasil. Kenapa?. Kerusakan yang diakibatkan oleh perbedaan agama, keyakinan, kepercayaan, mashab, aliran, tarekat, ideologi atau apa sajalah yang berbau spiritual, jauh lebih besar dampaknya jika dibandingkan dengan kerusakan yang timbul karena perbedaan suku, kelompok, partai atau mungkin jenis kelamin. Konflik tak berujung antara Palestina dengan Israel misalnya, Islam Syiah dan Sunni di Irak, Islam dan kristen di Serbia, kristen-Sikh di India, dan jangan lupa di Indonesia. Agama telah menyulut konflik.
Seharusnya , tanpa komitmen, wacana dan segala kaifiyah, nilai luhur agama secara natural diharapkan dapat memberikan dan menciptakan kedamaian dan toleransi.
Agama dalam hal ini belum berhasil memberikan kebahagiaan, membentuk moral, dan keberadaban bagi ummatnya. Sehingga inilah yang mungkin ditangkap oleh Freud bahwa secara keseluruhan agama telah gagal. De facto memang A-gama, de jure malah gama. Jika sudah begini, sehingga sebahagian orang lebih memilih untuk tidak memilih agama. Agama yang diharapkan dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian, malah menciptakan ketidaktentraman bagi pemeluknya. Sehigga jika ditanya tentang agama, seseorang lebih merasa aman jika menjawab “i’m spiritual but not religious.” Tak perlu beragama, yang penting “percaya”.
Sebahagian negara membolehkan warganya untuk tidak memeluk agama apapun. Agama dianggap tidak begitu penting. Dan tidak memberikan begitu banyak keuntungan. Sehingga Ayu Utami dalam bukunya “Si Parasit Lajang” mengatakan: “disini (Indonesia,pen), beragama mungkin tak membawa keuntungan, tapi tidak beragama membawa kerugian sosial.” Begitu satire namun sangat jujur. Ada kesan bahwa agama di Indonesia hanya digunakan untuk keperluan birokrasi saja, dan ini sangat lucu meskipun bukan komedi.
Rasulullah SAW. Pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “ya Rasullullah,apakah agama itu?” Rasulullah SAW. Bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Dia bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi SAW. dari sebelah kirinya,”apakah agama itu?” Dia bersabda,”akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatanginya dari belakang dan bertanya, “apakah agama itu?” Rasulullah SAW. menoleh kepadanya dan bersabda,”belum jugakah kau mengerti? Agama itu akhlak yang baik. Sebagai misal, janganlah engkau marah”(Al-Targhib wa Al-Tarhib 3:405).
Hadits diatas, menyegarkankan kembali ingatan kita kepada tujuan dasar kenapa kita beragama. Yakni, Akhlak yang baik!. Good attitude!. Budi pekerti!. Perbuatan baik!. Agama mengarahkan kita kepada nilai-nilai ibadah utama yakni bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Bukankah tujuan utama diutusnya Nabi SAW. untuk menyempurnakan akhlak?!
Berbuat baik dan berbudi pekerti luhur juga tertuang dalam sabda Sang Buddha bahwa ada empat hal yang berguna yang akan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi sekarang ini, salah satu diantaranya yaitu ajaran Kalyanamitta: mencari pergaulan yang baik, memiliki sahabat yang baik, yang terpelajar, bermoral, yang dapat membantunya ke jalan yang benar, yaitu yang jauh dari kejahatan. Dalam ajaran buddha dhamma diperintahkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia sebagai salah satu darma, bukan itu saja, tapi juga mengajak manusia serta menghindarkannya dari bentuk kejahatan.
Begitupun kaum nasrani meyakini : Lalu Yesus berkata kepada mereka; “Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Perjanjian Baru, Lucas 6:9)
Yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan (Perjanjian Baru, Roma 2:7)
Jika melihat ayat-ayat diatas, semuanya memiliki kandungan perintah untuk berbuat baik sesama manusia. Lalu kenapa agama belum dapat memberikan kedamaian bagi manusia? Ada apa dengan agama? Ini seperti orang yang masuk mesjid pulangnya nyolong sandal. Seakan-akan petuah-petuah agama tak mempan lagi bagi pemeluknya. Jika ajaran agama dianggap benar, berarti ‘oknum’ pemeluknya yang kurang atau tidak memahami ajaran agamanya. Bahkan pertikaian antar agama dianggapnya benar dengan dalih membela agamanya. Padahal agama sendiri tak menginginkan pertikaian dengan alasan apapun. Memang benar bahwa suatu konflik adalah sunnatullah. Hukum sebab-akibat. Hukum alam. Tapi bukan berarti konflik harus terjadi pada perbedaan agama. Kalaupun konflik harus terjadi, konflik itu seharusnya tidak bersifat fisikal. Karena mengingat muatan agama itu tadi. Memberikan nilai-nilai luhur. Nah, Apakah yang akan kita perbuat jika konflik itu masih saja meruncing?
Dahulu, konflik-konflik yang tidak bisa lagi ditolerir melahirkan banyaknya kelompok-kelompok atau mungkin pribadi-pribadi dari suatu agama yang lebih memilih untuk ber-uzlah ataupun ber-khalwat mengamankan keimanan dan kejernihan hati mereka agar tidak ternodai dan melenceng dari kemurnian ajaran agamanya.
Uzlah ataupun khalwat pernah dikerjakan oleh para Nabi saat mengemban tugas membimbing ummatnya. Seperti khalwatnya Nabi Muhammad SAW. ke goa hira di saat penduduk Mekkah berada pada puncak kekakafiran yakni melenceng dari agama Ibrahim, Musa, dan Isa pada waktu itu. Nabi SAW, selalu melakukan itu di waktu-waktu tertentu untuk menjaga kegelisahannya terhadap kondisi ummatnya yang mengkhawatirkan. Dan kemudian di tempat itu pulalah pertama di turunkannya wahyu.
Sekelompok pemuda juga pernah melakukan khalwat dengan menyepi di goa karena ingin menyelamatkan keimanan mereka dari penguasa yang lalim pada saat itu. Sehingga kemuliaan mereka itu dipuji-puji dan diabadikan Allah SWT. dalam Al-Qur’an dengan sebutan Ashabul Kahfi. Bahkan mereka ditidurkan lebih dari tiga abad lamanya agar kaum setelahnya dapat mengambil pelajaran.
Begitu banyak hamba Allah SWT yang telah dimuliakan dalam Al-Qur’an maupun Kitab-kitab terdahulu seperti Injil, Taurat, Zabur dsb, karena telah menjaga kesucian hati mereka. Ada yang disebutkan namanya ada pula yang disamarkan dengan sebutan Hambaku yang mulia” dalam Firman-NYA. Seorang Sidharta Gautama misalnya mencapai pencerahan dalam khalwatnya dan kemudian menjadi Nabi atau Budha, juga karena senantiasa menjaga kesucian hatinya. Sehingga ajarannya pun masih ada sampai sekarang ini.
Sehingga muncullah banyak Hamba-hamba Allah SWT. di generasi berikutnya yang senantiasa melakukan khalwat demi menjaga dan menyebarkan ajaran-ajarannya yang berorientasi pada kebersihan hati dan ketauhidan. Banyak dari mereka kita sebut sebagai kaum Sufi, Pendeta yang menempuh jalur kependetaan, Rahib, dan para Biksu.
Dalam dunia moderen saat ini pun masih banyak orang-orang seperti mereka, yang lebih mementingkan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Mutlak berlandaskan kepada kesucian hati dan akhlakul karimah kepada sesama manusia. Dan menghindari segala perselisihan, konflik, pertentangan, buruk sangka, fitnah dan menyebarkan kedamaian.
Sebagai manusia sibuk, kitapun dapat melakukan uzlah atau Khalwat pada diri kita sendiri dengan merenungi kekuasaan Tuhan, meng-uzlah-kan hati kita setiap saat dari segala hal-hal yang bisa mencemarinya. Semoga Tuhan pencipta langit dan bumi ini senantiasa melindungi kita semua terutama bagi orang-orang yang selalu menyebarkan kebaikan-kebaikan kepada sesama manusia, dan seluruh makhluk. Amien!
(Tulisan ini juga dimuat pada http://ansulsketsa.blogspot.com)
Artikel Terkait:Ansul Djamien , Pernah mengenyam kehidupan pondok pesantren moderen IMMIM (Makassar) selama 6 tahun, Alumni Fakultas Teknik Mesin/Industri Universitas Hasanuddin (Makassar), bekerja Pada Indonesian Research and Development Institute (IRDI) / Harian Jurnal Nasional (Jakarta).
Email Penulis | Semua Tulisan Ansul Djamien
Website: http://ansulgumam.blogspot.com

Agama - agama telah banyak meminta korban darah dan air mata,sangat bertetangan dengan hati nurani yng paling dalam yaitu cinta kasih yang diberikan Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Ironisnya yng terjadi begitu banyak kekerasan dan kebencian berdsarkan agama dari pada rasa Nasionalisme. Menjadi pertanyaan : Siapakah yang mengendalikan agama-agama ini?Siapakah yng bertangguing jawab atas semua itu?
Apakah itu kehendak ” Tuhan”?