Minyak dan Gaya Hidup

Oleh Zainal A. Hidayat • 23rd Jan, 2008 • Kategori: Opini •Dilihat:343 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Gaya hidup bermobil adalah aspirasi hampir setiap orang. Mobil berbahan bakar minyak dipilih untuk berbagai keperluan. Dari pergi ke tempat kerja, mengantar anak sekolah, pelesir tiap akhir pekan, hingga mengantar jenazah ke kuburan.

Era kejayaan mobil berlangsung sejak lama. Daniel Yergin– dalam The Prize; The Epic Quest for Oil, Money, and Power – menulis, the automobile is the idol of modern age. Pada awal abad ke-20, mobil merupakan simbol status, memberi sensasi berkendara, mengundang decak kagum, dan bagus untuk menarik perhatian wanita. Saat itu, registrasi kendaraan di AS meningkat dari 8000 pada 1900 menjadi 902.000 pada 1912.

Di negara kita, pertumbuhan industri otomotif amat fenomenal. Penjualan mobil tetap laris manis meski harga BBM naik berkali-kali. Kemacetan yang makin menggila, juga tak melepas orang dari gaya hidup bermobil. Satu abad berlalu, namun aspirasi orang terhadap mobil tetap sama.

Mengundang Petaka
Mobil adalah contoh betapa wajah dan adat istiadat masyarakat modern, amat bergantung pada produk minyak. Hanya dalam semalam, Winston Churchill berubah pikiran. Untuk meningkatkan daya sergap kapal perang Inggris, dia mengganti batu bara dengan minyak.

Tak diragukan, minyak memang menghasilkan kecepatan dan kepraktisan. Namun di lain pihak, minyak juga menimbulkan dominasi dan distrosi. Pulau Jawa telah lama memiliki infrastruktur kereta api dan jumlah penduduknya yang padat cocok untuk transportasi jenis ini. Namun, sejak Orde Baru perkembangannya mengalami stagnasi berkepanjangan.

Sebaliknya, transportasi darat yang rakus BBM dinomorsatukan. Lebih tiga dekade, penduduk menikmati insentif agar menganut gaya hidup ke mana pun dengan mobil. Harga BBM terus dipertahankan murah. Orang bisa pergi dari ujung barat Sumatera hingga Nusa Tenggara dengan melintasi jalan raya. Malang tak bisa ditolak, ketika kini dihadapkan pada realitas harga minyak tinggi, jalanan sudah kelewat sesak sedangkan moda transportasi lain tak terurus.

Petaka akibat minyak ada di mana-mana. Timur Tengah pada abad pertengahan, merupakan pusat ekonomi dan ilmu pengetahuan selama ratusan tahun. Tetapi ketika minyak dalam jumlah besar ditemukan di sana, negara-negara Arab justru mengalami kemunduran peran. Meminjam istilah Fareed Zakaria, minyak telah menghambat inovasi dari dalam (homegrown inovation).

Oil Rich, Science Poor. Demikian bunyi laporan majalah sains bergengsi Nature (November 2006). Negara Teluk mengimpor semua know how yang dibutuhkan agar minyak terus mengalir dari perut bumi. Riset tak dikembangkan, bahkan sekadar untuk mencari teknologi desalinasi yang dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan air. Begitupula dengan riset reproduksi unta sebagai olahraga favorit di tanah Arab.

Dengan alasan ini, usulan delegasi Indonesia agar negara-negara yang tergabung dalam OPEC menyisihkan rezeki minyak untuk pendidikan (oil for education), sebenarnya ibarat menggantang asap. Bagi negara kaya minyak, “emas hitam” dipandang menjamin kemakmuran dan tak mensyaratkan kecerdasan.

Di negara Teluk, minyak cukup dipakai untuk “membeli” rakyat dengan secuil kesejahteraan. Sebagian lagi untuk membayar polisi dan tentara agar selalu siaga menggebuk mereka yang menuntut perubahan. Dan porsi terbesar, dipakai mendanai proyek mercusuar dan membiayai gaya hidup para pangeran, seperti memesan “Istana Terbang” Airbus A380.

Mengubah Gaya Hidup
Aeilko Jans Zijlker adalah orang yang pertama kali menemukan dan mengeksploitasi minyak di Sumatera pada 1880. Sejak itu, pencarian dan pengeboran minyak di Indonesia terus menerus mengandalkan kecerdasan dan modal bangsa lain.

Di sisi lain, kini pemerintah tampak mereduksi persoalan krisis minyak terbatas pada beban subsidi. Indikasinya, pemerintah akan memaksakan “kenaikan harga” dengan meniadakan pasokan premium dari pompa bensin di jalur padat serta jalan protokol Jakarta dan Surabaya.

Tak ada jaminan cara ini akan berjalan mulus dan efektif. Apalagi, langkah itu sama sekali tidak menyentuh akar masalah sesungguhnya. Konsumsi minyak akan tetap tinggi jika industri otomotif tidak pernah diarahkan memproduksi dan memasarkan mobil berbahan bakar non-minyak (hibrid).

Pilihan bagi Indonesia memang kian sedikit. Cadangan minyak bumi diketahui semakin menipis. Dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan ditambah gaya hidup masyarakat yang belum lepas dari pengaruh emas hitam itu, cadangan tersisa di perut bumi tak akan cukup memenuhi kebutuhan domestik.

Namun demikian, sedikit minyak seharusnya membuka peluang Indonesia lebih makmur. Banyak bukti, sumber daya alam bukanlah faktor kunci yang menentukan kinerja ekonomi. Episode pembangunan di negara-negara Asia Timur secara tegas menunjukkan hal itu.

Saatnya, pemerintah dan masyarakat menanggalkan gaya hidup dan alam pikiran yang terdistorsi oleh minyak.

Artikel Terkait:

Bookmark this article! [?]

BlinkbitsBlinkListsBlogLinesBlogmarksBuddymarksCiteULikeCo.mmentsDel.icio.usDiggDiigo

FarkFeed Me LinksFurlGoogleLinkagogoma.gnoliaNetvouzNewsvinePropellerRawsugar

RedditRojoSimpySphinnSpurlSquidooStumbleUponTailrankTechnoratiYahoo

Tagged as: , , ,
Zainal A. Hidayat

Zainal A. Hidayat , Menulis opini antara lain di Kompas, Media Indonesia, dan Seputar Indonesia.
Email Penulis | Semua Tulisan Zainal A. Hidayat
Website:

Tanggapi artikel ini

Note: This post is over 7 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.