Kala Sakit Jadi Mahal di Amerika
By Bimo Ario Tejo at 23 January, 2008, 7:50 pm
Pagi tadi seperti biasa saya berjalan kaki ke tempat kerja menyusuri lapisan es yang sudah tiga hari tidak mencair. Seperti saya ceritakan sebelumnya, lapisan es seperti ini bisa sangat berbahaya. Dan itu terbukti kemudian.
Melintas di tempat parkir, terdengar jeritan minta tolong. Dua meter dari tempat saya berdiri, terhalang oleh badan mobil, seorang wanita setengah baya terduduk sambil memegangi kakinya. Saya bertanya, “What’s wrong, mam?” Jelas dia baru saja terpeleset di atas es. Saya pegang lututnya, terasa tonjolan tulang yang sangat ketara. Bisa jadi tulangnya tergelincir, atau malah patah.
Jelas ini sangat gawat. Saya tawarkan untuk memanggil ambulan. Wajah nyonya itu tampak ragu-ragu. Saya tidak ngeh. Saya tetap memanggil ambulan yang datang 5 menit kemudian bersama polisi. Tiga orang paramedis mengangkat si nyonya ke atas ambulan dan pergi ke rumah sakit. Saya masih tidak ngeh. Kenapa dia kok ragu-ragu memanggil ambulan?
Saya baru sedikit paham duduk persoalannya ketika kawan saya, yang sudah lama tinggal di Amerika, bercerita bahwa dulu dia harus membayar 700 US dollar untuk layanan ambulan. Padahal sebagai international student jelas dia dilindungi oleh asuransi kesehatan. Kalau sudah dilindungi asuransi tetap harus bayar ratusan dollar, bagaimana yang tidak punya asuransi?
Saudara-saudara, lima puluh juta warga Amerika hidup tanpa asuransi kesehatan, dan mereka bisa bangkrut sewaktu-waktu jika sampai masuk rumah sakit. Lima puluh juta warga Amerika ini terkadang ada yang lebih memilih mati ketimbang harus masuk rumah sakit. Biaya rumah sakit adalah penyebab bangkrut nomer wahid di Amerika.
Terkejut?
Amerika Serikat adalah satu-satunya negara maju yang tidak memiliki perlindungan kesehatan universal (universal healthcare) untuk seluruh rakyatnya. Biaya kesehatan di Amerika sangat mahal, dan satu-satunya jalan untuk terhindar dari kebangkrutan adalah dengan membeli asuransi kesehatan yang sebenarnya juga tidak murah.
Tetapi, memiliki asuransi tetap tidak menjamin seseorang untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Walaupun sudah membayar premi, dengan berbagai alasan pihak asuransi bisa saja menolak membiayai layanan kesehatan yang seharusnya layak kita terima. Baru-baru ini perusahaan asuransi Cigna HealthCare menolak membiayai operasi transplantasi liver terhadap seorang gadis Amerika, Nataline Sarkisyan (17 tahun). Penolakan itu mengundang kecaman publik yang berdemonstrasi di depan kantor pusat Cigna. Lima belas menit didemo, Cigna buru-buru mengubah keputusannya. Terlambat. Jam 5.50 sore 20 Desember 2007, Nataline meninggal hanya beberapa jam setelah Cigna memutuskan untuk membiayai operasinya.
Mungkin terdengar aneh. Asuransi dikelola perusahaan swasta yang berorientasi mencari keuntungan, dan Amerika menyerahkan urusan kesehatan rakyat kepada badan swasta yang tujuannya mencari profit! Only in America!
Michael Moore, sutradara film yang dikenal sangat anti-Bush, tahun lalu merilis film dokumenter Sicko. Film ini secara jelas membongkar kebobrokan sistem layanan kesehatan di Amerika. Yang membuat orang terbelalak, di film itu Michael Moore mengajak beberapa warga Amerika yang sakit-sakitan untuk berobat gratis di Kuba! Tak hanya itu, Michael Moore juga mengajak kru film untuk meliput sistem kesehatan universal di Inggris, Perancis, dan Kanada.
Asal muasal sistem asuransi kesehatan di Amerika juga diungkap dalam Sicko. Michael Moore membuka sebuah rekaman perbincangan di tahun 1971 antara Presiden Richard Nixon dan John Ehrlichman mengenai sistem layanan kesehatan Amerika. Dalam rekaman itu terdengar ucapan John: “…semakin sedikit layanan yang diberikan, mereka (perusahaan asuransi) semakin banyak meraup duit.” Dan Nixon berkomentar singkat: “Fine.”
Jika ada waktu, anda wajib menonton Sicko agar tahu bahwa banyak warga Amerika sendiri yang tidak mampu meraih American dream.
Dalam babak pendahuluan pemilu presiden Amerika saat ini, isu universal healthcare ini menjadi topik debat utama. Hillary Clinton datang dengan usulan universal healthcare, yang dulu sempat ia lontarkan di tahun 1993 ketika masih menjadi First Lady, tapi kandas karena kuatnya lobi pebisnis kesehatan di dalam Kongres AS. Walaupun usulan Hillary ini cukup brilian, saya ramalkan implementasinya tetap tidak akan bisa menandingi sistem NHS (National Health Service) di Inggris atau Jerman sebagai tempat lahirnya universal healthcare tertua di dunia. Kuatnya lobi bisnis di tubuh pemerintahan Amerika tetap tidak bisa dibongkar oleh seorang Hillary Clinton. Perusahaan asuransi swasta tetap tidak akan dibubarkan, seperti terang-terangan dinyatakan oleh Hillary.
Jadi, untuk saat ini saya tetap harus hati-hati berjalan di atas es…
Bimo Ario Tejo , Warga negara Indonesia. Menempuh pendidikan sarjana kimia di Universitas Indonesia. Doctor of Philosophy di bidang bioteknologi dari Universiti Putra Malaysia (d/h Universiti Pertanian Malaysia). Bekerja sebagai postdoctoral researcher di Malaysia dan University of Kansas, USA.
Semua Tulisan Bimo Ario Tejo
Blog: http://bimotejo.blogspot.com

wah..artikel ini sangat bikin saya ‘nanar’. luar biasa!. saya sudah punya ‘tabungan’ penyakit yg sewaktu-waktu bisa memberikan ‘bonus’.
orientasi kedokteran INDONESIA itu kemana ya? jangan ke AMERIKA ya…